Menyoal Beberapa Hal dalam Novel Olenka


Sidik Nugroho

Pengantar

Saya berkenalan dengan karya-karya Budi Darma pada saat membaca buku kumpulan cerpennya Lelaki Lain dalam Secarik Surat yang diterbitkan Bentang Pustaka (September 2008). Buku ini dulunya pernah diterbitkan Bentang Budaya dengan judul Kritikus Adinan. Dari beberapa cerpennya yang saya baca, tampak Budi Darma lihai menciptakan tokoh-tokoh rekaan yang benar-benar hidup, sampai-sampai, meminjam kalimat yang dipakai oleh seorang penulis Kanada, tokoh-tokoh itu “begitu hidup … sampai seperti manusia sungguhan yang memerlukan akta lahir” (Kisah Pi, halaman 9).

Mungkin itulah salah satu kepiawaian Budi Darma, menciptakan tokoh-tokoh yang hidup, yang bukan perwujudan atau identik dengan dirinya sebagai pencipta atau pengarangnya. Nah, kali ini kita akan melihat Olenka, sebuah novel yang ditulisnya di Bloomington. Hal-hal lain apa yang menarik untuk ditelaah lebih jauh dari novel ini?

Demi kenyamanan membaca, saya menetapkan empat hal pembahasan yang saya anggap penting untuk diketengahkan. Pertama adalah para tokoh dan garis besar kisahnya. Kedua adalah sesuatu yang saya sebut sebagai “visi” Budi Darma lewat novel ini. Ketiga adalah pertimbangan dan pendapat saya atas kekurangan dan kelebihan novel ini. Terakhir adalah penelusuran saya yang lebih jauh atas proses kreatif Budi Darma dalam membuat novel ini. (Bagian terakhir ini saya buat utamanya bagi para pembaca yang ingin membuat novel sendiri — dan mungkin proses kreatif yang ditempuh Budi Darma dalam novel ini bisa dijadikan sebagai sebuah pembelajaran.)

Novel ini sudah ditelisik dengan cara yang jauh lebih mendalam, kritis, ilmiah, dan serius oleh banyak kalangan, utamanya kaum akademisi. Gunakanlah search engine untuk mencari ulasan atas novel ini, dan Anda pasti akan percaya. Nah, untuk apa tulisan ini dibuat lagi kalau sudah banyak yang membahas? Saya beranggapan ulasan atas suatu karya yang baik tak akan berhenti. Sebuah contoh sederhana saja: Shawshank Redemption, sebuah film lawas tahun 90-an, hingga kini menjadi film dengan peringkat tertinggi di situs IMDb (International Movie Database). Selalu ada orang-orang — yang sebagian besar tampaknya didorong oleh rasa cinta dan takjub terhadap film ini — yang memberikan ulasan penuh pujian dan nilai yang tinggi terhadapnya.

Demikian pula dengan novel ini. Namun, perlu dicatat, saya membuat ulasan ini bukan didasari rasa cinta dan takjub, namun lebih cenderung didasari oleh alasan pembelajaran mengulas sebuah karya dengan cara yang sedapat mungkin berimbang dan tak berlebihan. Demikian, selamat menyimak.

1. Tokoh-tokoh dan Garis Besar Cerita

Perhatian: Ada bocoran di akhir bagian ini (spoiler alert). Manakala pembaca hendak menikmati sendiri akhir kisah novel ini, saya menyarankan untuk tidak membaca dua paragraf terakhir bagian ini.

Semuanya berawal dari dalam lift. Fanton Drummond bertemu dengan Olenka bersama tiga anak jembel. Keduanya menjalin percakapan pendek. Pertemuan dan percakapan itu membuat Fanton selalu mengingat-ingat Olenka. Karena mereka tinggal di apartemen yang sama, di Tulip Tree, maka harapan Fanton untuk menemui lagi Olenka tercapai.

Kisah ini mulai menarik sekaligus rumit karena Olenka sudah menikah dengan seorang pria bernama Wayne Danton. Ia bahkan sudah memiliki seorang anak bernama Steven. Sosok Olenka dalam novel ini awalnya digambarkan begitu acuh atas segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Ia membawa buku ke mana-mana. Namun, perlahan tapi pasti, Budi Darma mengelupas jati-diri Olenka lewat hubungannya yang kian akrab dan romantis dengan Fanton.

Olenka yang suka membaca berbagai buku, ternyata juga amat lihai melukis sesuatu. Fanton, seorang yang suka membaca dan menulis, merasa cocok dengan Olenka. Tidak banyak penjelasan mengenai pekerjaan dan latar-belakang Fanton dalam novel ini, kecuali masa kecilnya yang yatim-piatu, dan pekerjaannya yang serabutan sembari sekolah dari SMP hingga kuliah. Bahkan setelah tamat kuliah, ia masih bekerja serabutan. Ia dikisahkan terlibat dalam pembuatan film Breaking Away yang tesohor pada masa itu, dan suatu kali dikisahkan mendapat bayaran yang besar dari menulis untuk sebuah majalah petualangan.

Pendekatan Fanton terhadap Olenka yang dibumbui beragam pemikiran dari buku-buku yang mereka baca dan diskusikan memperoleh jalan yang mulus untuk terus dilanjutkan menjadi sebuah kisah cinta terlarang. Fanton ingin memperistri Olenka. Fanton ingin memiliki anak. Namun, pada saat itulah Olenka meninggalkan Fanton. Ia bahkan meninggalkan suami dan anaknya ke sebuah tempat yang tak diketahui oleh semuanya.

Olenka meninggalkan semuanya karena merasa tak berbahagia dengan apa yang sudah ia jalani. Wayne, suaminya, yang adalah seorang penulis fiksi, seringkali berlaku seenaknya terhadapnya. Ia menyukai Wayne pertama kali karena pria itu punya bakat menulis. Olenka memberi Wayne ide membuat sebuah cerpen berjudul Olenka. Cerpen ini dimuat sebuah majalah sastra terkemuka dan kemudian masuk dalam sebuah antologi cerpen bergengsi.

Sejak saat itu Wayne suka mengaku-ngaku pengarang di mana saja dan kapan saja. Sebelum bertemu Olenka, lebih banyak cerpen dan novel-novelnya yang gagal. Wayne berubah menjadi sosok yang menjemukan di mata Olenka. Di mata Fanton, bakat Olenka melukis jauh lebih baik daripada bakat Wayne menulis. Dan Fanton menyukai ketenangan Olenka yang lebih suka menyembunyikan bakatnya yang besar. Namun Olenka telah pergi.

Kepergian Olenka membuat Fanton sangat berduka. Amarahnya jadi meledak-ledak. Pada bagian ini banyak dikisahkan pergulatan batinnya yang perih akibat kehilangan Olenka. Suatu hari ia mendapat kabar dari seorang teman Olenka yang bercerita bahwa suatu ketika Olenka pernah menyatakan akan pindah ke Chicago. Fanton pun melesat ke sana. Dalam perjalanan ia bertemu dengan dua orang wanita. Seorang di antaranya bernama Mary Carson (M.C.). Fanton jatuh hati padanya; sesaat Olenka lalu dari benaknya. Di pertemuan itu bahkan ia memberanikan diri meminang M.C. untuk menjadi istrinya, namun ditolak.

Hubungan Fanton dan Mary hanya berlangsung singkat. Saat itu, sebuah kabar buruk diterimanya: ayahnya meninggal. Ia harus meninggalkan Chicago, kembali pulang ke Pensylvania. Gairah asmara Fanton pupus lagi. Pergulatan batinnya yang kesepian dan merana pun dikisahkan kembali.

Setelah kembali lagi ke Bloomington, tak dinyana sebuah surat dari Olenka datang. Surat yang panjang, yang mengisahkan asal-usul Olenka sejak ia masih kecil, juga lebih jauh asal-usul pembuatan cerpen Wayne yang berjudul Olenka. Surat ini juga berisi kisah cinta Olenka yang terlarang bersama seorang wanita yang oleh Olenka namanya disamarkan menjadi Winifred.

Tak lama kemudian, sebuah surat lain menyusul. Kali ini dari M.C., sebuah surat kilat khusus. Surat yang sangat pendek, yang memuat isyarat tertentu. Di dalamnya ada kisah pendek tentang Jill Kilmont, seorang atlit ski yang hebat namun lumpuh total karena sebuah kecelakaan. Dari surat itu kemudian Fanton melacak keberadaan M.C. Nah, Fanton kemudian berhasil mendapati M.C., kali ini dengan kondisi yang cacat, akibat kecelakaan pesawat yang ia alami dalam perjalanan dari Chicago yang lalu.

Kisah ini hampir berakhir — Fanton meminang M.C. sekali lagi. Namun, M.C. tetap menolak pinangan itu. Kali ini bukan karena meragukan cinta Fanton, namun lebih cenderung karena M.C. tak ingin menjadikan Fanton sebagai juru rawatnya seumur hidup. Fanton kemudian berlalu dari M.C.

Dalam perjalanannya kembali menuju Bloomington, Fanton berpikir inilah waktunya untuk mencari Olenka lagi. Namun tak dinyana, saat itu ia menemui sebuah kabar yang menyiarkan berita: Olenka dikabarkan menjadi pemalsu beberapa lukisan yang hebat; ia ditemukan pingsan di kamar hotelnya dan sedang dibawa ke rumah sakit. Ia diduga oleh polisi kebanyakan meminum obat tidur; dan tak diduga sedang melakukan usaha bunuh diri. Sampai di sini cerita itu kemudian berakhir.

2. Visi Kepengarangan Budi Darma dalam Olenka

Visi tiap pengarang berbeda-beda. Seorang pengarang bernama Toni Morrison yang memenangkan hadiah Nobel lewat beberapa karyanya — yang terkenal salah satunya berjudul Beloved — menyatakan bahwa novelnya memuat tujuan politik. Dalam biografi ringkas yang ditulis oleh Kathryn VanSpanckeren, Toni menyatakan, “Aku tidak tertarik memanjakan diriku dalam sebuah kegiatan berimajinasi yang bersifat pribadi… ya, karya ini pasti politis.”

Pemenang Nobel yang lain, bernama Gao Xingjian, dalam pidatonya ketika menerima hadiah Nobel menyatakan sesuatu yang bertolak belakang: “… sastra itu hanya dapat menjadi suara individu, dan selalu seperti itu.”

Sepanjang sejarah, persoalan visi dalam bersastra memuat banyak perbedaan. Ada yang menggunakan sastra sebagai salah satu alat bagi tujuan perubahan sosial. Ada juga yang menulis suatu karya sastra karena suka menulis; sebuah seni menuangkan gagasan untuk mematangkan dan mendewasakan diri; atau sebutlah tindakan seorang penulis yang menjunjung tinggi atau memuliakan estetika bahasa.

Nah, di kutub manakah novel Olenka ini berada? Menurut hemat saya, Budi Darma, lewat novelnya ini, lebih cenderung berpijak pada kutub yang kedua. Keseluruhan kisah yang dijalinnya di sepanjang novel ini lebih banyak menyuarakan rentetan pemikiran seorang tokoh bernama Fanton Drummond. Budi Darma tak “tercium” menghembuskan suatu pemikiran atau ambisi mengubah sesuatu. Ia hanya berkisah; hanya menunjukkan kehidupan seorang pria yang jatuh-bangun dalam mencari belahan hati.

Andai saja Budi Darma tak mengemas novel ini dengan data dan bumbu-bumbu lain yang menarik, mungkin kisah cinta di dalam novel ini menjadi sangat klise: kisah cinta segitiga. Data dan bumbu-bumbu itu berupa kisah, pemikiran, dan renungan para tokoh filsafat, penyair, penulis dan pelukis. Seperti kelumpuhan M.C., misalnya. Selain mengaitkan kelumpuhan itu dengan Jill Kinmont, Budi Darma mengaitkannya dengan istri penyair kenamaan Robert Browning yang ia nikahi dengan diam-diam karena pernikahan mereka tak disetujui orang tua Robert. Istrinya itu lumpuh, namun Robert mencintainya. Saya menduga Budi Darma bisa menuliskan bagian ini karena pernah membaca riwayat hidup pengarang itu.

Bumbu lain adalah berbagai potongan surat kabar yang oleh Budi Darma dijadikan semacam ilustrasi dan diberi keterangan. Contohnya adalah kisah Margaret Trudeau, mantan istri Perdana Menteri Kanada Pierre Elliott Trudeau, yang mengaku pernah menggugurkan kandungannya saat ia berusia 17 tahun. Oleh Budi Darma, penggalan kisah itu dijadikannya sebagai pembentuk karakter Olenka. Di novel ini masa kecil dan masa muda Olenka ia sama-samakan dengan Margaret.

Ya, inilah sebuah novel dengan bumbu-bumbu yang membuatnya tampil bergizi dan lezat; walau ada juga beberapa bumbu yang nantinya akan kita telisik lebih jauh dalam timbangan buku di bagian ulasan saya selanjutnya.

Budi Darma menyatakan bahwa sebuah tulisan yang baik bukanlah tulisan yang kaya dengan tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi berisi sekian banyak kelebatan pikiran. Pernyataan ini tentunya bisa diterima dengan asumsi bahwa pembaca novel yang bersedia menamatkan Olenka akan menyukai pikiran-pikiran yang terus-menerus disuarakan. Porsi solilokui (percakapan dengan diri sendiri) yang dilakukan Fanton cukup banyak memenuhi lembar-lembar novel ini.

Pembaca novel ini adalah pembaca serius yang tak sekedar mencari hiburan, namun berpikir dan merenung mendalam menggerapai isi pikiran tokoh utama. Pembaca yang menyukai kisah pertarungan, fantasi, atau misteri, misalnya, tak bisa berharap mendapatkan kepuasan dari membaca novel ini.

Dalam hal inilah Budi Darma dengan tegas enggan berkompromi. Ia jujur dan terbuka dengan apa yang menarik minatnya untuk ditulis. Secara garis besar ia menawarkan renungan yang subtil dari tokoh dan kisah yang ia ciptakan, bukan cerita yang heroik atau fantastik. Ia tahu konsekuensi-konsekuensi yang bakal menjadi buah dari visinya dalam membangun kepengarangannya dalam novel ini.

3. Timbangan Novel

Terlepas dari visinya yang spesifik dan tertuang dengan mantap dalam menghadirkan bacaan bagi sidang pembaca kategori pemikir, Olenka memiliki beberapa kelemahan yang menurut saya bisa dihindarkan oleh Budi Darma. Keberatan saya sebagai pembaca novel ini pertama-tama berawal dari kesan yang timbul dalam hati saya kalau Budi Darma sedang pamer intelektualitasnya dalam beberapa bagian di novel ini.

Dari latar pembuatan novel ini — di Amerika dan saat Budi Darma sedang menempuh kuliah — sudah terkesan bahwa novel ini tentunya akan bergaya kebarat-baratan dan penuh bumbu penyedap berupa warisan seni dan intelektualitas Amerika. Pemikiran atau renungan pemikiran dari para filsuf, penyair, penulis dan pelukis yang hampir semuanya Amerika, yang sebagian besar ditambahkan dalam catatan kaki, malah menjadikan novel ini terkesan sebagai novel yang mirip sebuah karya ilmiah. Dalam beberapa bagian, saya merasa signifikansi bumbu penyedap itu amat kecil dalam membentuk novel ini.

Saya tidak tahu apakah ini menjadi salah satu hal yang justru yang membuat para juri di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) jatuh hati pada novel ini sehingga akhirnya Olenka menjadi pemenang utama dalam sayembara yang dihelat DKJ. Bagi saya, hal-hal itu agak mengganggu kenikmatan membaca novel ini.

Kedua, gangguan dalam pembacaan saya datang pada saat Budi Darma mengisahkan Fanton Drummond kehilangan dua dambaan hatinya, baik Olenka juga M.C. Pada bab-bab di bagian tengah novel ini rasa bosan mulai menghinggapi saya dalam mengikuti alur pemikiran Fanton yang berusaha dipetakan Budi Darma. Pemikiran Fanton berbelit-belit, kadang menjengkelkan, sehingga menimbulkan rasa malas untuk terus diikuti.

Fanton Drummond memang menjadi pencerita dalam novel ini. Isi pikirannya ia suarakan sejujur-jujurnya. Namun Fanton tampaknya terlalu lihai menilai gerak-gerik orang lain lalu menebak apa isi hati atau pikirannya. Kita semua mungkin pernah tahu sebuah kaidah bercerita bahwa bila si pencerita adalah tokoh utama, maka isi pikirannya yang harus terus disuarakan, bukan isi pikiran orang lain. Nah, Budi Darma sudah mengikuti kaidah bercerita itu dengan baik, namun terkesan sedikit kelewatan. Fanton tampak lihai menilai apa yang ada di benak kekasih-kekasihnya, juga beberapa tokoh lain, lewat gerak-gerik atau ekspresi tubuh mereka. Jadi, bisa dikatakan, suara si pencerita masih belum benar-benar tunggal — masih sedikit merangkap-rangkap.

Begitulah dua kekurangan yang saya rasa cukup mengganggu di dalam novel ini. Kelebihannya? Saya bisa menyusun dan menguraikan kelebihan novel ini dengan menilik proses kreatif pengarangnya.

Budi Darma mengaku menyelesaikan Olenka “… kalau tidak salah dalam waktu kurang dari tiga minggu.” Di tangan saya saat ini ada novel Olenka cetakan kedua tahun 1986 yang tebalnya 232 halaman. Mungkin Anda menganggapnya tak terlalu tebal bila memperhatikan besar dan jenis huruf yang dipakai oleh penerbit-penerbit novel sekarang. Namun, ini terbitan tahun 1986. Hurufnya kecil-kecil. Satu halaman novel ini bisa mewujud menjadi satu setengah hingga dua halaman novel-novel yang sekarang diterbitkan. Anda pernah membaca atau melihat sekilas buku karya Sindhunata berjudul Anak Bajang Menggiring Angin? Kurang lebih seperti itulah kepadatan huruf di halaman-halaman novel ini.

Budi Darma tentunya menyusun setiap bagian novelnya ini dengan tekun setiap hari dalam waktu kurang dari tiga minggu itu. Ia bercerita bahkan tengah menggarap kumpulan cerita Orang-orang Bloomington saat menggarap novel ini. Novel ini terdiri dari 4 bagian, masing-masing bagiannya memiliki jumlah bab yang berbeda. Total jumlah bab yang ada di novel ini adalah 45.

Semua bab yang digarap oleh Budi Darma tampaknya merupakan sesuatu yang spontan keluar dari pikirannya. Ia tak merencanakan membangun alur seperti ini atau seperti itu pada awal proses pembuatan novel ini. Kita menemukan lembar-lembar halaman novel yang berisi banyak gagasan hebat, juga ditambahi berbagai peristiwa yang terjadi di Amerika pada masa itu. Masa ketika para penginjil jalanan giat berkhotbah di tepi jalan mewarisi tradisi kaum Puritan seabad sebelumnya yang disindir dengan halus oleh novelis kawakan Nathaniel Hawthorne dalam novelnya The Scarlet Letter. Kegiatan mereka awalnya dianggap tak berarti oleh Fanton, namun kegigihan mereka membuatnya tersentuh juga suatu ketika.

Itu juga masa ketika balon Trans-Amerika Da Vinci diterbangkan dari negara bagian Oregon yang berada paling timur menuju negara bagian Virgina yang berada paling barat. Saat balon itu melewati kawasan apartemen Tulip Tree (tempat Fanton dan Olenka tinggal), Olenka meninggalkan Fanton yang menjadi kekasih gelapnya, juga Wayne suaminya dan Steven anaknya. Dan ketika balon itu mendarat di Virginia, cerita pun berakhir dan kisah tentang Olenka pun berhenti.

Dari sinilah kepiawaian Budi Darma terlihat. Ia membangun fiksi dalam bingkai realitas yang menyehari, yang benar-benar terjadi. Ia pandai memanfaatkan momen-momen yang terjadi dalam kehidupan di sekitarnya yang menarik, aktual, dan tentunya hangat untuk diperbincangkan, untuk membangun sebuah cerita yang pada akhirnya tampak membumi.

4. Lebih Jauh tentang Proses Kreatif

Dalam sebuah esai di buku Darah-Daging Sastra Indonesia, Damhuri Muhammad menyinggung Akmal Nasery Basral yang baru merilis buku kumpulan cerita berjudul Ada Sesuatu yang Bukan Aku di Kepalaku (yang pengantarnya ditulis oleh Budi Darma) sebagai pengarang yang terlalu lugu dan jujur. Bahkan Akmal dinilainya terlalu rakus membaca, berupaya menjelaskan segala hal yang ada pada cerpen-cerpennya pada pembaca. Padahal, menurut Damhuri, mana ada sih pengarang yang jujur?

Bukan hanya di buku kumpulan cerpen itu, tapi bila Anda pernah menyimak Imperia, novel karya Akmal, di bagian belakang novel itu akan Anda dapati dari mana saja Akmal mendapat ide membangun tokohnya. Nah, saya tidak tahu, bagaimana pendapat Damhuri bilamana membaca novel Olenka karya Budi Darma. Di bagian penutup, dengan cukup panjang Budi Darma menguraikan proses kreatif novel ini terbentuk.

Misalnya, bagaimana tokoh Olenka bisa ia ciptakan, dari pengarang siapa dan karya apa, ia sebutkan semuanya. Olenka adalah nama lain dari Olga Semyonovna. Olga ini ada pada cerpen karya Anton Chekov, seorang cerpenis Rusia. Cerpennya itu telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Darling. Budi Darma membacanya ketika masih remaja, dan ketika ia sedang studi di luar negeri nama itu terus menghinggapi pikirannya. Lahirlah tokoh itu.

Tentu, bagi seorang esais dan editor seperti Damhuri yang sudah malang-melintang merambah buku ini ke buku itu, tak perlulah penjelasan macam-macam apa latar belakang unsur-unsur pembentuk sebuah cerita. Bagi Damhuri, hal-hal semacam itu hanya akan membuat derajat bentuk sebuah karya fiksi menurun. Namun, bagi saya, dan mungkin juga bagi pembaca lainnya, penjabaran proses kreatif semacam ini dapat menjadi suatu sinyal bahwa pengarang sedang “bermurah hati” — kalau tidak bisa dibilang “jujur” — menunjukkan perjalanan proses kreatifnya.

Bagi saya, dengan membaca Olenka, saya mendapatkan penguatan sekali lagi bahwa menulis sebuah karya yang panjang membutuhkan totalitas. Siapa yang telah menguatkan keyakinan itu dalam diri saya sebelumnya? Paling tidak ada dua pengarang lain, yaitu Kate DiCamillo dan Stephen King. Kate pernah mengaku, ketika ia menggarap sebuah novel anak-anak, ia menulis dua halaman setiap hari pada hari Senin sampai Jumat. Ia menulis pada pagi hari sebelum berangkat bekerja ke toko buku.

Stephen King lain lagi. Dalam memoarnya ia menyarankan agar pembaca yang hendak menulis novel, menulis sebanyak mungkin dan hanya memperbolehkan diri berlibur satu hari seminggu. Ia bahkan mengaku tak peduli kalau hari itu hari Natal atau hari kemerdekaan Amerika, ia akan tetap menulis kalau ia memang sedang menulis sebuah cerita.

Itu pulalah yang saya pelajari dari Budi Darma. Bagaimana ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin di tengah padatnya aktivitas akademik, namun tetap bisa menghasilkan novel dalam jangka waktu yang pendek, lalu novel tersebut menjadi juara dalam sebuah lomba novel bergengsi, dan kemudian menjadi perbincangan di banyak kalangan setelah diterbitkan, bukanlah hal yang mudah ditiru siapa pun, namun harus jujur diakui diingini siapa pun. Nah, ini bukan keisengan yang mujur. Ini lahir karena penulis seperti Budi Darma tentunya mempunyai komitmen menulis yang tinggi, visi kepengarangan yang spesifik, dan pengalaman literer yang memadai.

Sidoarjo, 8-11 April 2010.
***

Pustaka yang Diulas:
1. Budi Darma, Olenka, 1986, Balai Pustaka – Jakarta

Pustaka Pendukung:
1. Damhuri Muhammad, Darah-Daging Sastra Indonesia, 2010, Jalasutra – Yogyakarta.
2. Kathryn VanSpanckeren, Subakti Gabriel (Editor), Garis Besar Kesusasteraan Amerika, tanpa tahun, United States Department of State.
3. Yann Martel, Tanti Lesmana (Penerjemah), Kisah Pi, 2005, Gramedia – Jakarta.
4. Zen RS (Editor), Pengakuan Para Sastrawan Dunia Pemenang Nobel, 2006, Pinus – Yogyakarta.

http://ulasansastra.blogspot.com/2010/04/menyoal-beberapa-hal-dalam-novel-olenka.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *