Satu Lawan Banyak

Rinto Andriono *

Gwan sêmbah niréng hulun, kapurba risang murbèngrat, yéka kang asung mring wadu, mawèh boga sawêgung, masih ring dêlahan. Gwan kanang amujwèngwang, ring jêng nataningrat, dutèngrat hutama manggiha nugraha, tarlèn siswa sagotra kang huwus minulya.

Tembang di atas adalah syair suluk pembuka, yang dilantunkan oleh Dalang untuk menggambarkan suasana jagat pakeliranJagat pakeliran adalah semesta kecil yang sengaja diciptakan Dalang sebagai latar untuk menjalankan sebuah lakon wayang. Dalang akan menyanyikan syair ini pada saat pembukaan adegan wayang kulit, Pathet Enem sebutan untuk babak pembuka ini. Syair ini akan membersamai irama Gendhing Patalon yang halus mengantar pemirsa pada suasana bathin yang reflektif.

Aku sudah duduk bersimpuh di jajaran para sinden, tepat di sebelah kiri kelir pertunjukan wayang. Setiap kali Gendhing Patalon dilantunkan, aku selalu seolah ikut memohon kepada semesta. Syair suluk Pathet Enem ini secara gamblang melantunkan kepasrahan mendalam kepada Sang Akarya Jagat.

“Gwan sêmbah niréng hulun,” lantun Pak Dalang.

Hatiku seolah menyahut, “Adalah tempat hamba menyembah hingga sirna segala keakuan.”

“Masih ring dêlahan,” Lanjut Pak Dalang dengan suara yang sangat dalam.

Sampai disitu, hatiku merasakan hangat, ”Dialah yang mengasihi hingga akhirat nanti.”

Aku sudah hafal bila akhirnya Pak Dalang akan memungkasi suluknya dengan syair, “tarlèn siswa sagotra kang huwus minulya.”

Aku merasakan bahwa takdirku telah ditentukan-Nya, “Sebagai bagian dari insan terpilih yang sudah mendapatkan kemuliaan.”

Pada saat itu, aku menoleh ke kelir yang seolah menjadi seperti semesta dalam pertunjukan malam ini, namun sebenarnya hanyalah kain putih yang direntang hingga menjadi layar yang terkembang, tempat beradunya adegan demi adegan. Pak Dalang tengah memainkan bayangan dengan Wayang Gunungan. Wayang Gunungan yang ditatah dengan banyak lubang, telah meloloskan sebagian cahaya blencong malam ini. Bayangan wayang gunungan menjadi seperti lukisan indah di kelir yang menggambarkan keagungan semesta. Di bawahnya hijau pupus batang pisang segar, seolah melambangkan bumi yang lestari.

“Aku menyukai pekerjaanku sebagai sinden, sayang,” kataku pada kekasihku waktu itu, “kelir membuatku bisa bermimpi gratis tentang semesta yang luas dan bumi yang hijau.”

“Tetapi bertahan melek sepanjang malam, apakah itu juga yang kau inginkan?” sahutnya.

“Aku selalu tidur besok siangnya! Jangan kuatir, sayang.”

“Aku tidak bicara tentang sekarang, aku bicara kelak kalau kamu sudah punya anak.”

“Khan ada kamu, kita bisa berbagi tugas, bersalin peran, seperti wayang.”

“Tapi….” Sepertinya kekasihku belum tuntas dengan alam bawah sadarnya yang maskulin. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa laki-laki dan perempuan bisa bertukar peran dalam pekerjaan dan tugas domestik.
****

Gendhing Patalon adalah tembang yang sangat syarat makna. Gendhing ini membuka pertunjukan wayang dengan sangat halus dan santun.    Asal mula kata wayang adalah Ma Hyang, yang artinya menuju Tuhan, Roh atau Dewa. Dalam perkembangannya, wayang mengantongi tambahan makna sebagai bayangan, karena seni pertunjukan ini memberi kesempatan bagi penontonnya untuk bercermin. Dahulu, kami, para sinden, akan melipat daun sirih ketika gendhing ini dinyanyikan. Kami memaknai sebagai perlambang, bahwa kesombongan kami pun terlipat tak berdaya ketika berhadapan dengan Sang Pencipta.

“Sekarang tidak ada yang membawa sirih ya?” tanya Tiwi, sinden paling senior, sambil tersenyum.

“Sekarang yang penting bawa paketan, Bu,” kata Mimin sinden transgender dengan kenes-nya, “buat streaming!”

“Waaah, sinden milenial!” kataku menyindir.

Para Dalang sekarang pun sudah mempersingkat Gendhing Patalon, gendhing ini hanya sekedar menjadi tanda bahwa pertunjukan sudah dimulai. Para penonton akan menjadi riuh di depan dan dibelakang kelir. Mereka berebut tempat, yang tidak kebagian tempat akan menghabiskan paket data-nya dengan Youtube saat Limbukan dan GaraGara nanti. Dari seluruh rangkaian pertunjukan wayang, hanya dua itu yang mereka nanti. Saat Pak Dalang dan para sinden menghibur pemirsa dengan tembang dan gurauan pelepas lara. Sekarang mereka bisa memuaskan lidah di pinggir lapangan. Kopi panas dan pisang goreng merupakan teman menunggu yang sempurna. Tidak ada yang menyimak makna Gendhing Patalon. Makna menguar tanpa bekas di udara malam yang dingin lembab.

Aku menyimak adegan demi adegan, dalam pertunjukan kolosal ini, setiap adegan disebut jejer. Yang pertama dimainkan adalah jejer Pathet Enem, lantas jejer Paseban Jaba yang mengisahkan adegan asal-muasal konflik. Seharusnya jejer ini didahului oleh jejer Kedhatonan yang dialognya lebih intim dan mendalam. Namun itu sudah kelamaan bagi penonton sekarang. Pertunjukan akan sepi bila masih mempertahankan pakem yang dulu, mereka menyebutnya Gagrak Lawasan. Gagrak Lawasan menjalankan skenario yang lebih halus dan lambat, memang ini rangkaian adegan yang menyajikan cermin tiga dimensi bagi penonton. Pak Dalang sekarang sudah banyak mengurangi jejer agar pertunjukannya tetap digemari penonton, yang ingin segera memperoleh katarsis di adegan Limbukan dan Gara-Gara.

Aku menjadi teringat masa kami masih pacaran dulu. Waktu itu aku masih sekolah di SMKI dan kekasihku sudah kuliah di UGM. Kami berkenalan saat Bienalle di Yogyakarta, aku melantunkan Tembang Mocopat dan dia bereksperimen dengan instrument digital. Waktu pertunjukan kami saling beradu punggung, aku baru selesai setelah itu dia mulai. Aku sudah sejak di SMKI menjadi sinden Pak Dalang. Pak Dalang sangat memperhatikan karakter pesinden-nya, karena itu bisa menjadi jawaban bagi penonton yang ingin mendapatkan hiburan. Dia bercita-cita hendak menggegerkan panggung dengan enam sinden yang berbeda-beda karakter saja. Oleh karena itu, Pak Dalang sudah mendidik kami sedari dulu, waktu yang tidak sebentar.

Kami memang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ibu Tiwi yang paling senior membawakan karakter lucu dan pragmatis. Mimin sinden transgender selalu membawakan diri sebagai banci panggung yang serba hiperbolis. Ada Tanti yang genit dan manja. Ayu yang bersuara emas dengan jangkauan nada hingga tiga oktaf, Tania yang menguasai dialek dan lagu-lagu Gendhing Jawa Timuran hingga Madura. Lian yang mahir dengan tembang berdialek Banyumasan hingga Sunda. Dan aku yang katanya gemulai membawakan fragmen tari Jawa setiap menyanyi solo sesuai permintaan penonton yang sudah nyawer atau memberi tips.

“Gerakanmu yang lembut adalah sihir bagi penonton, kau pertahankan itu!” kata Pak Dalang suatu ketika saat latihan.

“Nggih, Pak.” kataku.

Kowe adalah senjataku kalau penonton sudah histeris karena panggung sudah kelewat panas.”

“Ya, Pak.” kataku sebagai murid yang takzim waktu itu.

Ben sinden lainnya yang membakar panggung, tapi penonton membutuhkanmu untuk menemukan sejuk,” ujar Pak Dalang, “aku akan selalu mengakhiri pertunjukan dengan yang sejuk.”
****

Pak Dalang adalah sutradara pertunjukan yang piawai. Dia begitu memahami emosi penonton dan bisa memanipulasinya agar penonton betah berlama-lama menghadap kelir, baik secara off-line di lapangan pertunjukan atau secara on-line di kanal-kanal Youtube Pak Dalang. Penggemarnya hingga puluhan ribu penonton. Mereka memijit tanda suka pada kanal tersebut. Candaan, gurauan dan makian sarkasme kadang terlontar berdampingan dengan pepatah petitih yang adi luhung. Kontradiksi ini yang paling dinikmati penonton, mereka sangat senang ketika kata-kata yang satir meluncur dari mulut Pak Dalang.

Para penonton adalah pejuang-pejuang kehidupan yang kelelahan. Mereka membutuhkan hiburan. Mereka membutuhkan pelampiasan. Hidup telah begitu kejam. Hidup telah merampok mereka dengan hasrat konsumsi berlebihan. Tanah-tanah pusaka warisan leluhur telah berubah menjadi rupiah demi keinginan anak sulung untuk menunggangi Honda baru, demi hape anak bungsu tetap terkoneksi setiap hari dan entah demi apa lagi untuk kepuasan hidup ibu-bapak. Hidup dengan hasrat konsumsi berlebihan telah mengadu sesama mereka. Pertikaian begitu sinis dan terbuka. Hanya untuk bisa mengkonsumsi sesuatu yang melambangkan ketinggian posisi sosialnya.

Konsumsi adalah sebuah kekalahan yang mencandu. Konsumsi menjual masa depan guna membeli kesenangan hari ini. Kekalahan demi kekalahan ini telah mereka sadari betul, sehingga mereka membutuhkan pelampiasan, mereka membutuhkan Bagong untuk membenarkan hidup mereka yang pragmatis, mereka membutuhkan Mimin, si banci panggung untuk sekedar di-bully beramai-ramai, guna membangkitkan perasaan jumawa dari para pecundang sekaligus pejuang kehidupan, mereka membutuhkan para sinden untuk dikomentari pantat dan payudaranya sekaligus dipuji keindahan suaranya, dari umpatan dan ejekan itulah mereka memperoleh rasa kemenangan sebagai pelipur lara sesaat. Itulah rupa penonton hari ini. Mereka membutuhkan hiburan dalam pertunjukan wayang untuk katarsis.

Namun, sebagai pelaku budaya adi luhung, selain Pak Dalang menyadari kebutuhan penonton agar bisa katarsis, beliau juga menyadari bahwa mereka harus dihantarkan ke suasana reflektif yang meditatif. Aku yang mendapatkan tugas berat itu. Tugasku adalah mendinginkan suasana hati penonton yang sudah mencapai katarsis.

“Kalau sudah sampai disitu, aku akan memberi tanda dengan kepyak-ku ini, lantas kamu maju untuk nembang gendhing yang berirama sejuk,” kata Pak Dalang kepadaku, ”lalu menarilah dengan sepenuh hatimu, ibaratkan dirimu adalah Dewi Shinta yang sedang dibakar Prabu Rama untuk membuktikan kesuciannya, alih-alih kesakitan Dewi Shinta justru menari pada saat itu.”

Setelah Dewi Shinta diculik Rahwana, Rama berhasil membebaskannya. Rama kemudian membunuh Rahwana dengan bantuan Hanoman si Monyet Putih. Namun setelah penculikan itu, ego kelelakian Rama terusik. Rama ingin mencobai kesucian cinta Dewi Shinta dengan menyuruh Dewi Shinta membakar diri. Bila Shinta tidak terbakar maka berarti cinta Shinta masih suci. Cinta Shinta tidak tergoyahkan oleh rayuan Rahwana. Demikian kisah Shinta Obong.

“Nggih, Pak,” meskipun aku tidak begitu setuju dengan analoginya tentang Dewi Shinta, “mengapa hanya Shinta yang harus membuktikan kesucian cintanya pada Prabu Rama? Bukankah mereka sama-sama saling terpisah dan sama-sama bisa mendua? Lantas untuk apa dia menyelamatkan Shinta, bila hatinya terhadap Shinta pun masih meragu?”

“Pandanglah penonton dengan hati teguh, menarilah dari dalam hatimu,” nasihat Pak Dalang, “bila hatimu menari maka tubuhmu akan mengikutinya.”

Batinku, “Di dalam kelir, cinta pun masih berpihak kepada lelaki, meskipun aku membenarkan nasihat Pak Dalang, tentang yang hatiku juga harus ikut menari.”

Di situ aku kembali teringat akan kekasihku. Dua tahun lalu kami menikah. Dua tahun lamanya, separuhku telah menjadi penuh. Aku merasakan kesempurnaan dari pernikahan kami. Benar-benar seperti siang bertemu dengan malamnya secara harafiah. Aku yang bekerja sebagai sinden di malam hari, menikahi suamiku yang bekerja membuat perangkat lunak pesanan di siang hari. Kini anak kami baru saja lahir. Kami memberinya nama Lintang Panjer Sore. Dialah yang akan selalu menyandingkan malam bersama siang pada suatu sore yang indah. Dialah sore kami.

“Bisakah kau berhenti menembang dan menari?” tanya kekasihku pada suatu ketika.

“Artinya aku tidak usah menjadi sinden lagi?” aku ganti bertanya.

“Ya, kau bisa di rumah dan mengasuh Sore.” kami memanggil anak kami dengan Sore.

“Itu berat, sayang, keluarga kita baru saja mulai, Sore baru saja lahir, masa depan tidaklah menentu dan itu harus diperjuangkan,” sergahku, “kita bisa berjuang bersama?”

Alarm di hatiku menyala ketika mendengar itu. Sepertinya kekasihku mulai terusik ego kepemilikannya. Pria adalah mahluk teritorial seperti singa jantan yang menandai wilayahnya dengan mengencinginya. Krisis yang dialaminya adalah krisis teritorial. Dia memahamiku sebagai miliknya yang berada di dalam wilayahnya sehingga dia harus menjaganya.

“Apakah kau terganggu dengan komentar orang-orang saat kami live streaming?”

Pertunjukan Pak Dalang memang selalu disandingkan dengan live streaming-nya. Penontonnya hingga ribuan dari berbagai pelosok bumi. Sering kali aku mendapatkan saweran dari penonton di Taiwan dan Hongkong melalui transfer. Para tim live streaming sudah menyediakan rekening untuk para penyawer. Pertunjukan harus berdamai dengan internet. Pak Dalang harus melayani penonton sebaik mungkin. Komentar-komentar penonton saat live streaming rupanya telah mengikis perasaan kekasihku.

“Eh, ya. Dan itu tidak baik buat Sore!” kilahnya.

“Aku akan cuti sampai Sore tidak lagi melulu minum ASI.”

“Ya, setelah itu lalu siapa yang mengasuhnya?”

“Kita bisa bergantian mengasuhnya.”

“Tapi aku ayahnya, aku harus bekerja.”

“Sayang, lihatlah semesta harapan kita, masih panjang dan luas,” kataku, “kau bisa saja lantas sakit dan tidak bisa bekerja lagi, kita harus siap dengan risiko itu, toh aku bekerja buat kita juga, buat Sore kita.”

“Tapi dimana-mana, anak diasuh ibunya.”

“Sayang, sekarang anak yang bertumbuh kembang sehat adalah anak yang diasuh bapak dan ibunya secara seimbang.”

Kekasihku membisu, aku tahu bathin masa lalunya berkecamuk, beradu dengan keyakinan barunya, keyakinan yang masih tipis tersusun dari nilai-nilai yang baru saja dikenalinya.
****

Aku ingat salah satu lakon yang jarang dimainkan oleh Pak Dalang. Lakon itu mengisahkan Betari Durga. Betari Durga adalah sosok yang kontroversial. Dia lahir sebagai bayangan, yang akhirnya bisa mengejawantah dalam tubuh fisik, berkat bantuan Betara Manikmaya alias Betara Guru. Ketika masih menjadi sosok bayangan, Betari Durga memiliki kelamin ganda. Setelah berhasil mewujud, jadilah dia bersosok perempuan yang berjulukan Dewi Uma.

Konon, Sang Dewi, sebagaimana tergambarkan dalam kisah, sebagai perempuan bertangan banyak, yang sedang memegang beragam benda. Benda-benda tersebut menggambarkan kualitas feminin dan maskulin sekaligus. Yang maskulin, misalnya, senjata cakra, cambuk dan api. Sementara yang feminin, misalnya, air, padi dan kapas. Kualitas itulah yang sejatinya dimiliki oleh perempuan, sebelum akhirnya dikondisikan oleh budaya dan kuasa. Itu persis seperti gambaran oleh Dewi Uma saat masih berbentuk bayangan dan pengkondisian oleh kuasa adalah konstruksi yang membatasinya setelah ia bertubuh fisik.

“Jadi kau ingin seperti Dewi Uma?” tanya Mimin si sinden transgender ketika aku berkeluh kesah tentang rasa keberatan kekasihku.

“Iya”

“Kau ingin menjadi Dewi Uma atau Betari Durga?”

“Sama saja,” sahutku, “Dewi Uma dan Betari Durga adalah sosok yang sama.”

“Ya tidak. Kalau jadi Durga kau tidak akan bisa menari lagi.” canda Mimin.

“Ahhh…kau becanda melulu, aku serius.”

“Kalau kau sudah bosan, aku mau lho.”

“Dasar Mimin gatal!”

Bagaimana kejadiannya, sehingga Dewi Uma kemudian menjelma kembali menjadi raseksi Betari Durga juga unik. Yang pasti, Durga sering diposisikan sebagai pelindung bagi yang tertindas, yang dilemahkan dan yang terabaikan. Bisa jadi, dia mensimbolkan keteguhan hati bagi yang berputus asa dan bernestapa. Bukankah itu kualitas yang sekarang dibutuhkan oleh kaum marginal? Menjaga bara secara spartan! Konon, Dewi Uma adalah satu-satunya sosok perempuan yang bisa menandingi keperkasaan Batara Guru di Kayangan. Kuatnya kualitas Dewi Uma ini justru membuat Batara Guru berhasrat!

“Kau ingat bagaimana kisah asmara Dewi Uma?” Tanya Mimin kali ini mimiknya serius.

“Dalam senja Swargaloka yang indah, Dewi Uma dan Batara Guru berpesiar menggunakan Lembu Andhini,” begitu yang aku tahu.

“Senja yang merah kesumba membakar hasrat Batara Guru,” lanjut Mimin genit, “dia ereksi, ahhh, nggak tahan.”

“Namun itu ditolak oleh Dewi Uma,” kataku.

“Ya, tidaklah baik membiarkan hasrat bersimaharaja di atas diri,” sahut Mimin.

“Ini yang aku sukai, kualitas hasrat melawan kualitas pengendalian diri mereka berdua kemudian sama-sama menjelma menjadi sosok rasaksa dan raseksi,” aku begitu menyukai bagian kisah yang ini, karena kekuatan budi Dewi Uma pun bisa berubah menjadi raseksi untuk mengimbangi hasrat Betara Guru.

“Sperma rasaksa perwujudan hasrat Batara Guru kemudian tertumpah ke laut, dan berubah menjadi Batara Kala, si biang keladi gerhana matahari dan bulan,” sahut Mimin, “andai saat itu aku sudah lahir pasti tak akan kubiarkan tumpah!”

“Hahaha, kau porno sejak dalam pikiran!”

“Sperma Batara Guru, Booo, khan sayang, itu bibit unggul lho.”

“Aku selalu ingin Dewi Uma mengejawantah di dalam diriku,” pungkasku, “aku selalu rindu kualitas Dewi Uma.”

“Ya, kau sekarang menjadi dia,” kata Mimin serius, “kau berada pada situasi dimana kau harus mulai seteguh Dewi Uma.”

Mimin menggenggam tanganku sebagai sesama perempuan. Kami saling menguatkan.
****

Limbukan adalah adegan yang paling ditunggu oleh pemirsa. Adegan ini dimainkan oleh dua sosok wayang perempuan bernama Limbuk dan Cangik. Mereka adalah dua sahabat karib para putri dengan kesetiaan tanpa batas. Bila jejer kedhatonan masih ada, maka Limbuk dan Cangik akan hadir di situ sebagai sahabat terdekat para putri, namun karena tuntutan penonton, saat ini tanpa jejer kedhatonan tiba-tiba Limbuk dan Cangik hadir begitu saja di kelir. Penonton mungkin sudah lupa atau jarang yang tahu, siapakah sebenarnya Limbuk dan Cangik itu. Mereka sebenarnya adalah sosok Ponokawan bagi para putri kerajaan. Bila Ponokawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah abdi para ksatria, maka Limbuk dan Cangik adalah abdi para putri.

Namun telah terjadi pergeseran makna pada Limbukan sekarang. Limbukan dimaknai sebagai main-main saja. Di sini, penonton akan bersenang-senang dengan menikmati kepiawaian para sinden. Di sini penonton juga bisa mentertawakan Pak Dalang. Jika pada adegan sebelumnya, Pak Dalang sebelumnya berperan sebagai pemapar sabda maka saat Limbukan, beliau berperan sebagai Joker yang akan mengumpan lawakan dan candaan kepada sinden, penabuh gamelan dan penonton. Pada bagian ini, para sinden akan melantunkan tembang sesuai permintaan para penonton. Kadang, Pak Dalang pun akan mengajak penonton ke panggung atau penonton tertentu dengan kepiawaian menari Kuda Lumping dan mental tahan malu, akan ikut mengiringi para sinden menari bersama.

Empat sinden akan membuka adegan Limbukan dengan berdiri menari dan menyanyi bersama.

“Pang-pung pang-pung pang-pung pang-pung.”

“Ketipung naruntung rebana mbarung.”

“Tali temali angering lari.”

“Cikat-cikut gumregut trangginas trampil.”

“Suling njempling angliling trus sumanding.”

“Nyoto dadi srono bareng lan wiromo.”

“Pang-pang pung pang-pang pung ketipung naruntung.”*

Mereka menari dengan kenesnya. Seolah kompak dengan hasrat para penonton untuk segera beriang-riang. Senyum gadis-gadis sinden itu terpulas di bibir. Mereka mengundang senyum yang sama dari para penonton. Malam menjelang tengah malam yang gelap dan dingin mendadak benderang. Siang riang hangat mendadak datang. Hati siapa pun berbunga-bunga, meski besok pagi kembali bekerja dengan kantuk yang dibawa serta. Hanya semalam ini siapa pun merasa kaya meskipun cicilan belum ada yang lunas. Penagih hutang masih mengintai di balik kelokan siap menyita motor yang sudah telat dicicil tiga bulan.

“Kita hadir dimana ini, Mbok?” tanya Limbuk.

“Kita hadir di Pedukuhan Kwagon, pedukuhan budaya yang sebentar lagi hendak menjadi tuan rumah Ngayogjazz 2019.” terang Cangik.

“Itu, Panjenengane Bapa Djaduk Ferianto juga hadir, beliau yang mau bikin Ngayogjazz.”

“Wah, bungah sing tanpo upama ya, Mbok!”

“Iyo.”

Pada adegan Limbukan, Pak Dalang bebas menyapa siapa saja. Termasuk beliau mengucapkan terimakasih kepada pihak pengundang pertunjukan. Dalam pertunjukan kolosal ini, semua pihak terlibat secara spiritual dalam pementasan. Penanggap wayang melambangkan Sang Hyang Maha Widhi. Pak Dalang mengusung lambang sebagai Trimurti. Para wayang melambangkan titah manusia di bumi persada. Gedebog pisang tempat menancapkan wayang melambangkan bumi atau bantala. Blencong lampu minyak tanah di belakang dalang adalah matahari. Gamelan, para penabuh, sinden dan perangkat pertunjukkan lainnya membawa lambang sebagai segala rupa kebutuhan manusia untuk hidup sementara di bumi.

Seperti bertumbuhnya kebutuhan hidup kita juga, perangkat pertunjukan semakin lama semakin banyak, bahkan terlalu banyak untuk sekedar hidup atas nama kenyamanan yang membuat lena.

“Wayang sekarang berbeda.” kata Tiwi, sinden yang sudah empat dasawarsa menyanyi.

“Kenapa, Bu?” tanya Lian yang dari barat.

“Wayang menjadi tergantung paketan, penontonnya perlu paket data buat nonton sementara pertunjukannya juga perlu paket data agar bisa ditonton, sekarang semua butuh eksis.” ujar Tiwi.

“Ini khan bagian dari perlambang, Bu, bahwa kebutuhan kita sekarang sudah semakin banyak.” sahutku.

Setelah berucap demikian, pikiranku menjadi teralih pada Sore anakku. Aku risau dengan nasib pencukupan kebutuhannya kelak. Aku tidak lagi memperhatikan Limbukan. Malam ini dia tidak lagi tidur bersama bapaknya. Sore tidur bersama ibuku sejak kekasihku mengajukan gugatan cerai. Baru dua tahun, penuhku akan segera kembali menjadi separuh. Suamiku sudah tiga bulan ini tidak pulang dengan satu tuntutan.

“Akalku menerimamu bekerja jadi sinden tetapi hatiku tidak bisa menerima pekerjaanmu, aku tidak tahan dengan sapaan genit penonton.” kata suamiku.

Aku mahfum, para penonton sebagian besar adalah laki-laki, mereka memiliki kebebasan keluyuran di malam hari mencari hiburan. Beberapa penonton on-line adalah perempuan namun di belahan bumi yang lain, yang saat pertunjukan berlangsung masih bisa menikmati Matahari.

“Tapi itu dua wilayah yang berbeda, sayang, penonton itu di wilayah pekerjaan, sementara di wilayah pribadi, hanya ada aku dan kamu.”

“Aku tidak tahan dipanggil Pak Hana.”

“Aku pun dipanggil Bu Tejo, apa bedanya?”

Aku bernama Hana dan suamiku bernama Tejo. Di dunia yang patriarki ini sebutan “Pak” dan “Bu” otomatis diikuti dengan nama suami. Itu adalah kelaziman dan suamiku terusik ketika kelazimannya terganggu, karena kelaziman itu melambangkan penguasaannya atas aku.

“Bagimu itu tidak masalah, tapi bagiku itu masalah!” bentak suamiku.
****

Adegan demi adegan berlalu tanpa perasaan. Giliranku datang, aku menembang Caping Gunung. Pak Dalang melirikku tajam, beliau tahu hatiku tidak ikut menari. Aku tidak berani menatapnya. Aku tahu aku salah, tidak sepenuh hati aku menari. Tetapi hatiku sedang menangis. Dia bergeming waktu kuajak menari. Dia sedang menuntaskan dukanya. Dia sedang kuatir dengan masa depan anaknya. Dia sedang menyesalkan suaminya, yang masih terganggu egonya ketika simbol-simbol kelaziman dipertanyakan.

Aku menyanyi seperti memutar rekaman tanpa penjiwaan sama sekali. Aku sedang terlarut di dalam pertanyaan tentang nasibku. Tanpa aku sadari waktu sudah lewat tengah malam. Jejer Pathet Sanga baru saja dimulai. Pathet Sanga dibuka dengan adegan Gara-Gara. Dunia digambarkan sedang sekarat. Para pandhita tidak mampu mengucap mantra. Sang raja tidak berdaya hanya memohon kepada Dewa. Namun Dewa sedang bersedih karena terkena pageblug juga. Keadaan pakeliran persis seperti hatiku, Gara-Gara.

“Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip.” demikian suluk Pak Dalang.

“Seperti itu juga gejolak hatiku.”

“Katon lir kincanging alis risang maweh gandrung.” seru Pak Dalang.

“Tampak seperti gerak alis saat kasmaran, ah itu dulu.”

“Sabarang kadulu wukir moyag-mayig.” papar Pak Dalang.

“Gunung-gunung tak lagi berpijak seperti hatiku.”

“Saking tyas baliwur lumaris anggandrung.” suara Pak Dalang serak.

“Mungkin dulu, kami memutuskan menikah dari hati yang kacau.”

“Dhuh Sang Ri Sumitra, tanlyan paran reh kabeh sining wana, nangsaya maringsun.” pungkas Pak Dalang.

“Iya, itulah lakon hidupku, segala rupa warna isi kehidupan sekarang tidak lagi berpihak padaku.” aku tertunduk.

Sudah kehendak Sang Pencipta, Gara-Gara perlahan mereda. Seperti janjinya bahwa Dia akan mengasihi hingga akhirat. Muncullah Semar, sosok Dewa yang memanusia. Dia bagai sinar menembus kegelapan. Dia yang selalu berpesan sama di setiap kesempatan, kala hati sedang lara. Pesan itu adalah pesan pelipur bagi hatiku.

“Mbegegeg.” kata Semar.

“Daripada diam bersedih, anakku.”

“Ugeg-ugeg.” ujarnya.

“Bergeraklah jiwa dan badanmu.”

“Mel-mel sak dulito.” dia hendak meyakinkan.

“Berupayalah walau sedikit.”

“Langgeng.” pungkasnya.

“Lakumu itu akan abadi.”

Mantra ini seperti manjur bagi hatiku. Dia pun bergerak. Dia ikut menari dengan irama gendhing. Dia memandang teguh penonton. Aku Hana, sekarang menjanda karena keyakinanku.
****

________________________
Glosarium:

Jagat pakeliran: penggambaran dunia kecil dalam wayang.
Pathet Enem: babak pembukaan pada pertunjukan wayang.
Gendhing Patalon: iringan gamelan pembuka.
Kelir: layar dalam pertunjukan.
Suluk Pathet Enem: lagu pembuka.
Sang Akarya Jagat: sang Pencipta.
Suluk: tembang jawa.
Wayang Gunungan: wayang berbentuk gunung dan hutan.
Blencong: lampu minyak untuk memproyeksikan bayangan, sekarang diganti lampu sorot yang lebih terang.
Ma Hyang: asal mula kata wayang, artinya menuju Tuhan.
Kenes: genit.
live streaming/Streaming: siaran langsung di internet.
Limbukan: salah satu babak dimana banyak improvisasi hiburan.
Gara-gara: salah satu babak dengan pertunjukan hiburan yang dimainkan oleh para Ponokawan.
Jejer Paseban Jaba: adegan untuk menggambarkan asal muasal konflik.
Jejer Kedhatonan: adegan di sisi terdalam dengan dialog intim dan mendalam.
Pakem: pedoman.
Gagrak Lawasan: gaya pertunjukan jaman dahulu.
Nyawer: memberi tips.
Kowe: kamu
Ben: biar
off-line: di luar jaringan.
On-line: di dalam jaringan.
Hape: handphone.
Bully: pelecehan.
Kepyak: bunyi-bunyian tanda dari dalang.
Nembang gendhing: menyanyi tembang jawa
Swargaloka: surga
Panjenengane Bapa: Yang terhormat Bapak
Bungah sing tanpo upama: sangat bahagia
Sang Hyang Maha Widhi: Tuhan.
Trimurti: 3 dewa Hindu.
Bantala: bumi.
Gedebog: batang pisang.
Caping Gunung: judul tembang jawa.
Jejer Pathet Sanga: adegan saat krisis memuncak.
Pathet Sanga: situasi saat krisis memuncak.
Pandhita: Pemuka agama dan kepercayaan.

Tembang Limbukan:

“Pang-pung pang-pung pang-pung pang-pung.”
“Ketipung naruntung rebana mbarung.”
“Tali temali angering lari”
“Cikat-cikut gumregut trangginas trampil.”
“Suling njempling angliling trus sumanding.”
“Nyoto dadi srono bareng lan wiromo.”
“Pang-pang pung pang-pang pung ketipung naruntung.”*

Terjemahan:

“Pang-pung pang-pung pang-pung pang-pung.”
“Suara ketipung runtut dan suara rebana bergema. ”
“Tali temali mengikuti.”
“Bergegas rajin sigap terampil.”
“Seruling melengking melihat kesamping.”
“Nyata menjadi wahana Bersama yang serasi.”
“Pang-pang pung pang-pang pung suara ketipung runtut.”

_____________________
*) Rinto Andriono adalah seorang konsultan UNDP untuk Indonesia, dulu ia adalah seorang aktivis anti korupsi yang militan di GeRAK Indonesia. Pasca terserang stroke, ia kemudian mengambil keputusan untuk belajar menulis sastra di Akademi Menulis.

3 Replies to “Satu Lawan Banyak”

Leave a Reply to Sopril Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *