Catatan Usai Membaca Kronik Gladwaller, J.D. Salinger

Fatah Anshori *

Entahlah kenapa orang-orang gemar sekali berperang dari dulu hingga sekarang. Aku tidak tahu persis kejadian pada tanggal 22 Mei 2019 yang barusan terjadi di Jakarta, mungkin jika digolongkan kejadian itu juga termasuk perang, antara rakyat yang memperjuangkan suara mereka, melawan aparat pelindung negara, mungkin semacam itu. Jika memang perang memiliki indikasi: saling pukul, lempar batu, helm, gear motor, knalpot, letupan senapan dan pada akhirnya menghasilkan darah yang mengucur, kematian dan rasa sakit lalu dendam kesumat.

Semenjak mengenal sastra, aku jarang sekali duduk di depan televisi menyimak apa yang disajikan kotak persegi itu, juga sama sekali tidak mengikuti perkembangan politik di tanah air ini. Dan kebiasaan itu semakin memuncak usai lulus kuliah pada Oktober 2018. Aku sudah tidak pernah ke perpustakaan kampus, membaca Kompas, atau ke Pos Satpam untuk membaca Jawa Pos. Mungkin dari segala hal yang paling kurindukan dari kampusku adalah Kompas dan Jawa Pos dari mereka berdua aku mengenal ada tulisan-tulisan menyenangkan untuk dibaca, selanjutnya tentu saja bocah-bocah anti mainstream itu.

Dan sekarang setelah lulus kuliah aku melamar sebagai editor di sebuah penerbit buku lokal di kotaku—prakteknya aku tidak menjadi editor lebih tepatnya pekerja serabutan sesekali menjadi editor, penata letak, dan merangkap pendesaincover dadakan dan imbasnya aku jarang sekali menulis. Pemiliknya menerimaku tanpa syarat apapun, sebagaimana prosedur perusahaan-perusahaan besar melakukan seleksi pada pelamar. Ia menerimaku menjadi pegawai tetap asalkan aku mau belajar dan belajar menutupi kekuranganku dan memenuhi tuntutan badan usaha-nya. Dan di tempat itulah aku berada sepanjang pagi hingga sore, sesekali sampai melewati isya, keterlaluan memang, itu berlangsung setiap senin hingga sabtu.

Dan sesekali Rio—jujur dari dia-lah segala hal tentang negara aku dapatkan meski entah benar atau salah—, temanku itu mampir ke tempatku kerja mungkin setelah ia bosan bermain dengan ayam-ayam kesayangannya, aku merasa ia mencintai ayam seperti aku mencintai buku-buku, kami berdua bisa dikategorikan stadium obsesif kompulsif, sesuatu yang kita berdua anggap kearifan tapi di mata seseorang adalah sebuah kegilaan, begitu kata seorang tokoh yang aku lupa namanya, jika kau membaca Creative Writing, A.S. Laksana kau akan tahu.

Aku merasa, Rio berubah drastis dari seorang apatis pada politik menjadi obsesif kompulsif pada politik. Beberapa kali ia menunjukkan padaku akun-akun Instagram atau medsos yang mengungkap kebusukan para pelaku politik. Aku hanya mengangguk sebagai seorang yang awam, seraya berlagak kagum atau tercengang dengan informasi-informasi yang ia berikan agar ia tidak kecewa. Entahlah kadang aku berpikir, aku yang aneh atau dia yang aneh. Aku seolah tidak tertarik apapun kecuali buku yang berbau sastra. Dan aku hanya bertanya sewajarnya padanya yang sedang berapi-api menjelaskan beberapa kasus.

Namun, di akhir-akhir aku merasa kemanusiaan sudah tidak ada artinya, aku melihat sendiri beberapa hari yang lalu video di sebuah akun Instagram seorang penulis novel-novel religi, seorang demonstran yang tertangkap menjadi luapan emosi para aparat penegak hukum, mereka menendanginya dengan sepatu lars itu, memukulinya dengan tongkat atau pentungan, bahkan memukulkan popor senapan tanpa ampun ke demonstran yang sudah tidak berdaya itu. Suatu berita lain mengabarkan seorang anak kecil yang berniat membangunkan sahur terkena enam peluru nyasar dan akhirnya meninggal. Entahlah aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Media-media sosial seperti ribuan lebah yang bergerak sangat cepat. Sementara itu aku baru selesai membaca Kronik Gladwaller, Salinger. Cerpen-cerpen ini menurutku juga sedang membicarakan tentang perang, wajib militer, dan semacamnya terkait kejadian pada tahun 1941 ketika Jepang menyerang Pearl Harbor, di mana setiap warga Amerika Serikat waktu itu yang memenuhi kriteria harus mengikuti wajib militer, termasuk Salinger.

Dan dikatakan beberapa cerpen di sini terinspirasi dari pengalamanya mengikuti wajib militer. Aku mulai berpikir sebagaimana peristiwa-peristiwa besar, bersejarah seperti perang, pembunuhan massal, dan semacamnya sepertinya memiliki potensi besar untuk menjadi background sebuah cerita. Bayangkan sebuah peristiwa besar seperti masa kolonialisme Belanda di Indonesia. Akan selalu memiliki versi yang berbeda-beda tergantung siapa yang menjadi narator sebuah cerita tersebut.

Sangat berbeda dengan buku sejarah, mungkin buku sejarah hanya mengabarkan garis besar peristiwa itu saja. Namun peran fiksi, sastra adalah mengabarkan melalui mulut seorang narator yang akan menunjukkan pada kita peristiwa-peristiwa kecil yang dialami beberapa orang di balik peristiwa besar itu. Sejauh yang aku tahu, Faisal Oddang kerap melakukan ini pada beberapa cerpennya yang kebanyakan dimuat Kompas.

Dan di buku Kronik Gladwaller, barangkali J.D. Salinger melakukan hal yang serupa. Ia menulis peristiwa-peristiwa kecil di balik perang itu. Bagaimana perasaan seorang ayah ketika anaknya diterima masuk sebagai tentara, atau percakapan seorang tentara dengan rakyat biasa di sebuah ruang keluarga, hingga kisah asmara di balik perang seperti dalam cerpen Gadis Berpinggang Ramping pada Tahun 1941, menurutku ini yang paling menarik cerita tampak natural, dan dialog-dialog yang seolah sangat alami diucapkan dari mulut setiap tokohnya.

Selama membaca cerpen-cerpen ini aku seolah ingin mengerti budaya lokal di sekitar kita yang benar-benar menggambarkan kita, budaya urban, pedesaan, agama, adat dan tentu sesuatu yang lebih menggambarkan Indonesia. Sebagaimana Salinger dengan santai menggambarkan Amerika-nya.

________________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *