Membaca Animal Farm, George Orwell


Fatah Anshori *

Pada suatu malam ketika Pak Jones telah lelap bersama istrinya di kamar tidur. Para binatang di Peternakan Manor sedang menyaksikan orasi dari Major, seekor Babi tua yang paling di segani di situ. Ia berbicara tentang tirani manusia, tentang manusia yang hanya bisa menyuruh saja, tidak bekerja dan tidak menghasilkan apa-apa. Binatang-binatang lain di peternakan itu hanya takzim mendengarkan Major berpidato. Berbicara panjang lebar mengenai masa depan binatang, juga tentang kebebasan.

Ketika Major mati dan tubuhnya di kuburkan di kebun buah, jika tidak salah seperti itu, saya agak-agak lupa. Tapi setelah Si Major, Babi tua itu mati. Seluruh gagasan dalam kepalanya seperti telah di wariskan pada tiga Babi Snowball, Napoleon, dan Squealer. Ketiga Babi inilah yang nantinya akan memimpin pemberontakan di Peternakan Manor.

Pertama kisah ini sangat menyebalkan, dan beberapa kali membuat saya ingin masuk kedalam kisah itu dan mengajarkan pada binatang-binatang itu mana yang sebenarnya salah dan mana yang sebenarnya benar. Tapi beberapa saat kemudian saya tersadar, bahwa apapun bisa di buat seenaknya oleh penulis. Seolah-olah penulis mempunyai hak otoritas untuk melakukan apapun yang ia mau. Termasuk membuat aturan-aturan tidak masuk akal dalam sebuah cerita.

Ketika pemberontakan itu sudah berlangsung lama, dan dualisme kepemimpinan terjadi di situ. Antara Napoleon dan Snowball, dua-duanya tak pernah menjadi pemimpin peternakan yang memiliki pendapat yang sama, alias selalu berseberangan pendapat. Snowball adalah pemimpin yang benar-benar mempunyai niat untuk memperbaiki, ia membuat perkumpulan-perkumpulan sosial untuk memperbaiki tatanan masyarakat hewannya yang rusak. Meski usahanya kebanyakan tidak berhasil. Sementara Napoleon adalah pemimpin yang tidak pernah suka terobosan-terobosan yang di lakukan oleh Snowball. Ini terbukti ketika Snowball dengan susah payah membuat rancangan kincir angin untuk menyelamatkan hewan-hewan dari musim dingin panjang. Napoleon berpandangan itu sia-sia dan tak menghasilkan apa-apa. Pada suatu ketika saat Snowball sedang tidak di ruangannya. Napoleon masuk untuk melihat sketsa itu dan mengencingi sketsa kincir angin yang di gambar Snowball di lantai.

Itulah bentuk nyata bahwa keduanya saling berseberangan. Dan saya setuju jika novel itu di sebut novel bagus. Setelah membaca novel itu tiba-tiba saya menjadi lebih berani, dan mengerti langkah-langkah untuk melakuakan pemberontakan.

_______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya terpublikasi di Website Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *