Membaca Novel Kambing dan Hujan


Ahmad Farid Yahya *

Penampilan Fisik

Covernya menarik dan seperti ada filosofi yang terkandung di dalam ilustrasi pada cover tersebut. Setidaknya begitulah kesimpulan pertama orang yang melihat covernya. Ada spot UV pada gambar pohon yang mirip bentuk jantung tersebut. Permukaan cover yang doff dengan spot UV pada gambar fokus membuat cover ini terkesan wah. Untuk ukuran cukup tebal viii+380 halaman. Ukuran buku ini 20,5cm pada tingginya, tetapi pada bagian lebar tak terlalu lebar. Berkisar 13 atau 14cm.

Mengenai desain cover ini, orang jadi penasaran dengan isinya. Digambarkan ada dua pohon di sisi kanan dan kiri. Pada sisi kanan ada seorang pria yang duduk merenung. Begitu juga dengan sisi kiri ada perempuan berjilbab yang duduk merenung. Ada satu pohon yang mati pada bagian tengah. Tapi semua pohon tersebut bermuara pada akar yang saling mengikat di bawahnya.

Ilustrasi perempuan berjilbab tersebut bisa membuat orang menebak background novel ini pasti bernuansa islam. Apalagi yang sudah mendengar desas-desus tentang novel ini. Orang akan berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang terpisahkan, padahal aslinya mereka berasal dari akar yang sama. Barangkali begitulah spekulasi orang-orang mengenai isi novel ini, dari melihat cover.

Sinopsis

Dibuka dengan perempuan yang menunggu kekasihnya di terminal bus, untuk kabur dari rumah karena cinta mereka tidak direstui. Lalu alur menjadi flashback ke awal masalah itu bermula. Pertama ke pertemuan mereka berdua; Mif dan Fauzia. Mif adalah anak dari orang yang dianggap tua atau dihormati oleh orang-orang utara. Maksudnya adalah kawasan desa bagian utara yang notabene orang Muhammadiyah. Sedangkan Fauzia adalah anak dari kiai yang paling disegani di selatan. Istilah untuk kawasan yang mayoritas Nahdatul Ulama.

Mereka berdua bertemu di sebuah bus. Mif mengenali Fauzia dan mengajaknya bicara. Dari saling tukar alamat email dan bukannya nomor telepon, mereka terus akrab. Sampai Mif mengirimkan tulisannya kepada Fauzia mengenai NU dan Muhammadiyah untuk meminta pendapatnya. Mif lulus kuliah di Yogyakarta dan kerja di sebuah penerbitan buku sejarah. Sedang Fauzia masih kuliah di Surabaya. Tulisan tersebut tak mendapat balasan dari Fauzia karena Fauzia sendiri merasa tak bisa berkomentar banyak. Sedangkan Mif mengirim tulisan itu ke Fauzia karena ia beranggapan bahwa Fauzia adalah anak dari kiai NU. Akhirnya Fauzia menanyakan pada Mif apakah ia melihat koran Jawa Pos hari itu? Karena sepertinya tulisan Mif dimuat di sana. Ternyata Fauzia mengirimkannya ke koran.

Hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya mereka memutuskan untuk lebih serius. Tapi pertentangan terjadi. Pada saat Mif dan Fauzia mencoba berbincang dengan orang tua mereka, Mahfud Ikhwan menyajikan flashback dari masa lalu kedua orang tua mereka. Ternyata orang tua Mif dan Fauzia dulu semasa kecil adalah teman dekat, bahkan sangat dekat. Bapak dari Mif, yang memiliki nama panggilan semasa kecil “Is” dan nama panggilan semasa kecil dari bapaknya Fauzia adalah “Mad” tetapi Is sering memanggilnya “Moek” panggilan akrabnya.

Judul Kambing dan Hujan diambil dari si Is ini. Yang oleh Moek diibaratkan Is itu seperti Kambing dan Hujan. Susah ditemukan hubungannya, kedekatannya, kenyambungannya. Istilah Kambing dan Hujan ini pun butuh perenungan lebih untuk memahaminya. Penulis memiliki kedekatan emosional dengan Kambing sehingga memunculkan istilah yang dipakai judul novel tersebut. Akan tetapi hubungan antara kambing dengan hujan tak terlalu jelas di dalam novel ini. Hanya sekali disebutkan sebagai pengibaratan seorang Is yang seperti kambing dan hujan. Sedikit membingungkan, dan barangkali filosofis.

Masa kecil Is adalah seorang penggembala kambing milik orang. Ia tak terlalu mampu untuk memiliki kambing sendiri. Sedangkan Moek adalah anak orang yang lumayan kaya. Mereka berteman akrab sekali sejak kecil. Tapi kemudian keadaan berubah ketika Moek melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren di Jombang. Is tinggal di desa dan tak mampu melanjutkan sekolah.

Setting waktu saat Moek dan Is kecil adalah sekitar tahun ’60-an. Tapi tak ada gonjang-ganjing mengenai PKI di desa yang hampir seluruh penduduknya Islam tersebut. Desa Tegal Centong.

Ketika Moek nyantri di Jombang, di desa Is belajar ngaji kepada Cak Ali. Di sini konflik di desa mulai terjadi. Cak Ali mengajarkan dan melakukan ritual-ritual keagamaan yang agak berbeda dengan yang biasa dilakukan di desa Tegal Centong. Seperti subuh tanpa qunut, salat id di lapangan, dan sebagainya. Kita tahu itu dengan nama Muhammadiyah. Namun saat itu belum berdiri Muhammadiyah di desa itu.

Orang-orang yang ngaji dengan Cak Ali dan beberapa rekan mereka membesarkan kelompok pengajian itu. Akhirnya banyak konflik terjadi antara warga desa dengan kelompok Cak Ali, yang salah satunya adalah Is. Ayah dari Miftahul Abrar. Tokoh utama laki-laki pada novel ini.

Moek yang mondok di Jombang, dijemput orang tuanya untuk pulang sebelum ia lulus. Demi menghadapi kelompok Cak Ali itu. Sebelumnya, telah berdiri kepengurusan ranting Nahdatul Ulama’ di desa Tegal Centong. Yang kemudian disusul juga dengan berdirinya kepengurusan ranting Muhammadiyah di Tegal Centong. Moek diajak pulang karena dinilai ia adalah orang yang paling tepat untuk bisa menandingi kemampuan agama Cak Ali dan kawan-kawannya. Selain untuk tujuan lain yaitu dinikahkan. Dengan seorang gadis yang masih familinya, yang disukai oleh Is sahabatnya. Namun masalah pernikahan ini tak terlalu serius karena Is juga tak ambil pusing dengan hal itu.

Pada intinya persahabatan antara Moek dan Is ini hancur sehingga mengakibatkan permusuhan diam-diam dari dua tokoh agama di desa Tegal Centong tersebut. Is tak menegaskan penolakan terhadap Fauzia. Begitu juga Moek ayah Fauzia tak menegaskan penolakan terhadap Mif. Hanya saja hubungan kedua keluarga ini sudah sangat canggung. Apalagi ditambah dendam kakak Fauzia terhadap Mifta. Yang ternyata Mif adalah salah satu dari gerombolan anak utara yang dulu pernah membikin kepla kakak Fauzia ini bocor.

Tapi semua persoalan itu akhirnya selesai ketika terjadi keributan di balai desa. Mif berkelahi dengan kakak Fauzia karena Mif dituduh komunis. Pada waktu itu kakak dari Fauzia membawa buku yang diedit oleh Mif di penerbitannya. Buku sejarah yang berbau kiri yang diberikan kepada Fauzia itu digunakan untuk mempermalukan Mif di depan umum dlam sebuah rapat karang taruna. Setelah perkelahian hebat itu, Moek dan Is atau Pak Fauzan dan Pak Iskandar didudukkan di rumah Pakde Anwar yang merupakan sanak famili dari kedua keluarga bersangkutan. Konflik akhirnya selesai di sini.

Endingnya, Moek dan Is duduk di Gumuk Genjik, sebuah tempat yang sering mereka datangi semasa kecil. Kali ini dalam umur yang begitu tua. Mencoba mengurai semua masalah. Memaafkan semuanya. Novel selesai dengan pernikahan antara Mifta dan Fauzia. Meski kakak Fauzia kurang setuju, tapi bisa dibujuk oleh Pak Fauzan dengan syarat: kolega partai dari kakak Fauzia tersebut diundang juga.

Ulasan, Kelebihan, dan Kekurangan

Mahfud Ikhwan adalah pria kelahiran Lembor, Kec. Brondong, Kab. Lamongan, Jawa Timur, yang menamatkan kuliahnya di jurusan Sastra Indonesia UGM, Yogyakarta. Novel pertamanya berjudul “Ulid” terbit tahun 2009. Kambing dan Hujan adalah novelnya yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Kambing dan Hujan adalah sebuah novel yang membuat pembaca seperti melepaskan buku tersebut hanya untuk menghela napas, makan, ibadah, buang hajat, dan tidur. Dan bisa jadi saat buang hajat pun novel tersebut masih dibawa ke WC.

Dari awal novel ini langsung mengusung konflik. Wajar saja. Karena novel ini awalnya dilombakan. Agar bisa memenangkan lomba tentunya novel harus sudah menarik dari awal. Pada novel ini konflik bukan hanya pada cerita. Akan tetapi konflik di dunia nyata yang memang ada. Itulah yang membuat novel ini menarik untuk diperbincangkan. Masalah yang diusung sangat sentimentil. Bahkan baru sampai halaman 20 saja konflik sudah kuat. Ketika gagasan sudah diutarakan, maka konflik dalam novel ini langsung terasa karena memang ada di dunia nyata dan dekat dengan kita. Jenis konflik nyata seperti ini sering diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer.

Novel Kambing dan Hujan memiliki ciri dialogis. Banyak dialog bertebaran di dalam buku yang lebih dari 380 halaman ini. Apalagi ditambah dengan seringnya penggunaan metode flashback.

Gaya penulisannya mirip dengan Andrea Hirata, di mana sub-bab-nya pendek-pendek dan tidak saling berhubungan dan atau ceritanya melompat-lompat lalu pada bagian akhir diketemukan dengan begitu eksentrik.

Cerita pada novel ini menarik. Karena tidak hanya berkisah tentang Mifta dan Fauzia–dua orang yang saling jatuh cinta, si tokoh utama. Tetapi juga bercerita tentang cerita-cerita yang berhubungan dengan mereka. Seperti masa lalu kedua orang tuanya. Hal ini membuat pembaca menunggu penyambungan kisah-kisah yang saling lompat plot dan sudut pandang ini pada bagian akhir di mana kisah Mif dan Fauzia ini bertemu dan didudukkan bersama dengan kisah-kisah orang tua mereka.

Entah Mahfud Ikhwan ini seorang NU atau Muhammadiyah (setahuku Muhammadiyah), yang perlu diacungi jempol di sini adalah penulis mampu mencapai dua sudut pandang ormas islam terbesar di Indonesia itu, dan bahkan bisa berada di titik tengah antara keduanya.

Ada sesuatu yang sedikit janggal pada novel ini. Tokoh Pak Fauzan/Moek/Bapaknya Fauzia diceritakan mondok di Jombang. Sedang latar desa pada novel ini adalah di pesisir Lamongan (Brondong) yang pada novel tersebut disebut sebagai Tegal Centong. Lamongan dengan Jombang jaraknya tak dekat. Apalagi dengan latar waktu tahun 60-an. Mengapa Pak Fauzan ini mondoknya di Jombang, bukan di Langitan-Widang-Tuban? Padahal Langitan lebih dekat dengan tempat tinggalnya, dan tak kalah terkenal. Jika ini fiksi, kupikir akan lebih masuk akal kalau mondoknya di Langitan. Kecuali ada alasan tertentu sebagai penekanan, tapi alasan spesifik tersebut tak dijelaskan. Mungkin hanya agar tokoh Pak Fauzan ini lebih kuat latar ke-NU-annya.

Sebenarnya permainan konfliknya bagus. Tapi bahkan konflik biasa/yang diusung sebagai background novel ini (NU dengan Muhammadiyah) sudah selesai pada tokoh Pakdhe Anwar. Salah satu tokoh dari Muhammadiyah yang menikah dengan gadis NU. Pakdhe Anwar ini sanak dari kedua keluarga yang berseteru. Kalau konflik cuma terbatas pada NU vs Muhammadiyah semestinya konflik ini sudah selesai. Sehingga kita lihat penulis meramu konflik yang lebih spesifik antara Is vs Moek, atau Pak Iskandar vs Pak Fauzan. Sahabat kecil yang ketika sudah dewasa menjadi bermusuhan. Tapi ini rancu ketika konflik berlanjut pada generasi selanjutnya, yaitu Mif dan Fauzia anak mereka. Otomatis konflik pada era selanjutnya ini akan kembali kepada konflik NU-Muhammadiyah, bukan konflik Pak Iskandar-Pak Fauzan. Sehingga, semestinya konflik Mif dan Fauzia pun selesai. Seperti banyaknya konflik-konflik serupa yang selesai di desa-desa lainnya. Penggambaran tentang sumber konflik utama juga kurang kuat alasannya. Lebih lagi ketika kakak dari Mif (sewaktu kecil) meninggal dunia sehingga membuat Pak Iskandar dan Pak Fauzan hubungannya sangat renggang bahkan sampai lahirnya Mifta dan besar kemudian mau menikah.

Tetapi, semua permasalah, kerancuan, dan kekurangjelasan konflik di atas dirasa beres jika ini diambil dari kisah nyata. Di halaman pembuka buku ini pun Mahfud Ikhwan juga menyatakan permintaan maafnya kepada orang-orang tua yang ceritanya dicuri dan dikacaukan.

Judul Buku: Kambing dan Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Penerbit Bentang
ISBN: 978-602-291-470-9
Edisi kedua, cetakan 1: April 2018
Tebal: viii + 380 halaman; 20,5 cm.

_____________________
*) Ahmad Farid Yahya, lahir di Desa Kebalankulon, Sekaran, Lamongan (LA) 9 Agustus 1996. Riwayat pendidikannya, MI Ma’arif NU Kebalankulon, SMP Negeri 3 Babat, MAN 2 LA, melanjutkan kuliah di UNISDA LA jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (angkatan 2016). Penerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) tahun 2018/2019, dan 2019/2020. Anggota BEM UNISDA periode 2019. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai, dan tulisan lain dimuat di berbagai media; Amanah, Suara KPK, Gelanggang FKIP, Radar Bojonegoro. Di buku antologi; Jejak yang Tertinggal (2017), Manunggaling Kawula Muda (2018), Memoar Purnama di Kampung Halaman (2019), Coretan Tinta Kecil (2019), Apa Kabar Lamongan? (2020). Dan buku tunggalnya; Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian (2020). instagram @ahmad.faridyahya.
https://sastrakelir.blogspot.com/2020/04/resensi-novel-kambing-dan-hujan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *