MENJIWAI KETERAMPILAN MENULIS

(Mukadimah Teruntuk Calon Penulis Pemula)
Anton Wahyudi *
JP Radar Mojokerto, 5 Apr 2020

SALAM. Di tengah melejitnya pemberitaan tentang korona di berbagai media, saya ingin menyampaikan mukadimah sederhana ini. Mukadimah yang saya tulis ringkas dan ingin saya tujukan kepada ‘mereka-mereka’ (para calon penulis pemula) di jagat raya.

Sejatinya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh ‘mereka-mereka’ para calon penulis pemula agar bisa menjiwai penguasaan keterampilan menulisnya. Oleh karena, semua calon penulis pemula yang mampu atau berhasil menjiwai penguasaan keterampilan menulisnya pastilah akan menjadi modal utama ‘menjadi suatu kebiasaan atau rutinitas’ yang bersifat alamiah untuk dirinya sendiri. Menjadi semacam ‘dorongan’ atau energi positif, menjadi rutinitas, dan rasa tanggung jawab tinggi, yang pada akhirnya bisa membudaya pada dirinya sendiri. Ketiga hal yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh ‘mereka-mereka’ para calon penulis pemula tersebut saya sederhanakan sebagai berikut.

Pertama, perlu dipahami oleh setiap calon penulis pemula –bahwasannya proses utama dari kegiatan menulis harus didasari dengan cinta setulus-tulusnya. Cinta yang harus memperhatikan beberapa hal penting sebelum melangkah menulis. Beberapa hal penting itu antara lain (1) penguasaan rencana topik yang akan ditulis, (2) kepiawaian dalam mengontrol ritme emosional saat menulis, dan (3) kecendikiaan calon penulis pemula dalam hal pengekspresian kebahasaan.

Penguasaan seluruh item tersebut pada hakikatnya harus ditanamkan kuat oleh setiap calon penulis pemula. Ditanamkan secara mendalam dan harus bisa bersifat seumur hidup (mau belajar menulis sepanjang hayat). Dalam artian yang sederhana, semakin calon penulis pemula itu rajin atau gemar untuk menulis dan semakin ia bisa memotivasi dirinya agar bisa menjadi penulis aktif atau produktif, maka pastilah ia akan semakin matang dalam menulisnya. Baik matang dalam hal berolah berpikirnya, berolah rasanya, maupun olah berbahasa. Ketiga hal inilah yang pada hakikatnya harus dikuasai oleh setiap calon penulis pemula sebagai pijakan atau tumpuan dasar untuk memaksimalkan keterampilan menulisnya.

Kedua, dalam proses belajar menulis pada dasarnya setiap calon penulis pemula –mau tidak mau– akan dihadapkan pada langkah-langkah atau tahapan dalam menulis. Baik berupa tahapan pramenulis, tahapan menulis, tahapan perbaikan atau merevisi tulisan, hingga tahapan untuk mempublikasikan atau menerbitkan hasil tulisannya. Sejatinya, seluruh tahapan-tahapan itu harus dilaluinya (harus selalu ditekuni) oleh setiap calon penulis pemula dengan disertai keyakinan yang kuat dan sungguh-sungguh.

Dan, pastinya, semua tahapan yang dilaluinya tersebut akan membutuhkan proses dan waktu. Setiap sesi kerja kreatif penulisan pastilah jua membutuhkan tahapan itu, hanya saja ada sedikit pembedanya. Salah satu hal yang bisa membedakannya adalah ‘jikalau ia seorang penulis pemula (penulis baru) pastilah ia akan memerlukan waktu lebih banyak daripada penulis yang dikategorikan sebagai tingkat menengah (penulis sudah andal). Tinggal bagaimana sang calon penulis pemula mau memahami serta mau proaktif terus belajar (praktis terus-menerus) dalam menulis.

Ketiga, perlu dipahami oleh calon penulis pemula –bahwasannya keterampilan menulis merupakan ‘sebuah media atau sarana’ untuk merepresentasi diri sendiri. Dan, setiap representasi diri sendiri tentunya pastilah mempunyai harapan atau tujuan yang jelas. Utamanya adalah tujuan yang erat kaitannya dengan keterampilan dalam menegosiasi guna menggapai transaksi. Menegosiasi transaksi yang umumnya merupa seperti halnya suatu tekanan atau beban bagi si calon-calon penulisnya. Entah itu beban karena tugas sekolah, tugas perkuliahan, tugas lantaran pekerjaan, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, anggapan dasar terhadap menulis sebagai sarana menegosiasi guna mendapatkan transaksi itu pastilah akan selalu dilandasi keperluan untuk mencapai suatu tujuan-tujuan tertentu. Dan, suatu tujuan yang hendak dicapai itu tidak akan terealisasi jikamana ‘mereka-mereka’ (calon penulis pemula) tidak mau giat dan terus belajar dalam menguasai keterampilan menulisnya.

Sebagai penutup tulisan mukadimah sederhana ini, saya ingin mengajak ‘mereka-mereka’ calon penulis pemula, terkhususnya mengajak diri saya sendiri. Marilah kita senantiasa berupaya terus membiasakan menjiwai keterampilan menulis. Marilah kita selalu mencoba membiasakan rutinitas menulis untuk berbagi kebaikan dan kebahagiaan antarsesama. Marilah kita terus belajar membiasakan menulis bertahap demi tahap. Menulis tentang apa saja. Menulis yang terdekat dari diri kita sendiri. Menulis yang bisa memberikan kebermanfaatan serta kebahagiaan untuk sesama. Agar kebiasaan menulis itu selalu mengakar dan menjadi suatu kebiasaan yang bersifat naluriah. Menjadi candu atau rutinitas yang bisa menyegarkan laju pikiran kita. Selalu cinta menulis. Selalu jiwailah keterampilan menulis. Selamat menulis diiringi semangat dan kebahagiaan. Semoga bermanfaat!

____________________
*) Anton Wahyudi, Pengampu Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI Jombang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *