NILAI-NILAI KEMANUSIAAN DAN PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono *

/1/
Tak pelak, sudah beribu tahun, bidang agama, filsafat, ilmu dan teknologi, pendidikan, dan lain-lain menjadikan manusia dan kemanusiaan menjadi aksis [poros] ajaran, pemikiran, pengajaran, pengkajian, dan perekayasaan. Sejak semula kehadiran agama-agama memang bagi manusia, bukan bagi Tuhan, sehingga ajaran dan pemikiran agama-agama selalu berporos manusia dan kemanusiaan. Agama-agama sarat atau penuh dengan pesan-pesan universal bagi kemanusiaan.

Demikian juga filsafat [terlebih-lebih filsafat manusia dan etika!] telah menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai subjek pemikiran semenjak berabad-abad Sebelum Masehi meskipun alam semesta juga memukau para pemikir atau filsuf. Misalnya, jauh sebelum abad Masehi, pemikiran bangsa Sumeria, Mesir, Persia, Cina, India, dan Yunani berpusat pada manusia dan kemanusiaan sehingga sosok ideal manusia dan kemanusiaan terumuskan atau tergambarkan dalam khazanah pemikiran berbagai bangsa tersebut.

Lebih lanjut, ilmu menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai fokus, sasaran, objek, dan atau tujuan pemikiran, pengkajian, dan perekayasaan. Pemikiran, pengkajian, dan perekayasaan ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu kemasyarakatan, dan ilmu-ilmu kebudayaan [dalam perspektif Weberian atau Habermasian] selalu dihajatkan dan diabdikan bagi manusia dan kemanusiaan: memahami dan memudahkan kehidupan manusia di samping memartabatkan dan memuliakan manusia. Perekayasaan teknologi juga diniatkan dan dihajatkan bagi tercapainya harkat dan martabat manusia. Bahkan pendidikan dihajatkan untuk humanisasi, pembentukan manusia sebagai manusia.

Semua itu menunjukkan bahwa sejak dahulu kala manusia dan kemanusiaan telah menjadi titik tolak, poros, pusat, dan atau sasaran ajaran dan pemikiran agama, pemikiran dan pengkajian filsafat dan ilmu, perekayasaan teknologi dan pendidikan, dan lain-lain. Seiring dengan itu, patah-tumbuh dan layu-berkembang berbagai perspektif, sudut pandang, dan atau corak pandangan, bahkan ajaran-ajaran untuk melihat sekaligus menempatkan manusia dan kemanusiaan dalam bingkai keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan serta kealaman.

Sebagai contoh, perspektif teologis atau religius dan filosofis sering memiliki perbedaan ajaran, pemikiran, dan parameter manusia dan kemanusiaan yang diharapkan; meskipun sering pula seiring. Demikian juga sudut pandang filosofis dan ilmiah sering berbeda dalam melihat, menempatkan, dan merumuskan manusia dan kemanusiaan. Lebih lanjut, corak pandangan keagamaan, kefilsafatan, dan keilmuan sering berbeda dan kadang-kadang sama dalam menempatkan dan menggambarkan sosok manusia dan kemanusiaan terutama idealitas manusia dan kemanusiaan. Misalnya, corak pandangan pra-humanisme, humanisme, transhumanisme, dan posthumanisme berbeda dalam melihat, menempatkan, dan menyosokkan manusia dan kemanusiaan. Demikian juga humanisme ateis atau sekular dengan humanisme teistik atau teologis memiliki corak pandangan berbeda-beda: humanisme ateis atau sekular mengedepankan dan membela kemanusiaan tanpa agama yang sayangnya sekaligus terjebak dalam kemanusiaan tanpa manusia [karena Tuhan telah disingkirkan]; namun humanisme teologis atau teistik yang mengedepankan dan menjunjung kemanusiaan dengan kehadiran Tuhan kadang-kadang terjebak pada kemanusiaan tanpa manusia [karena dihilangkan eksistensi dan otonominya].

Tidak mengherankan, hingga sekarang telah tersedia demikian banyak atau beraneka ragam ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan dalam kehidupan manusia. Di antara demikian banyak atau aneka ragam ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan tersebut, adakah benang merah yang diterima oleh semua ajaran, pemikiran, dan praksis kemanusiaan?; adakah kemanusiaan universal?; adakah nilai-nilai universal kemanusiaan di antara berbagai struktur, sistem, dan sumber nilai kemanusiaan?

Catatan pendek ini memosisikan diri pada pandangan atau pikiran bahwa ada benang merah atau saripati universal tentang substansi dan keberadaan manusia sekalipun bersumber dari bermacam-macam agama, paham filsafat, corak ilmu, dan kebajikan personal, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bermartabat, luhur, mulia, dan agung. Dengan perkataan lain, berbagai ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan mempercayai bahwa ada martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia sehingga pada dasarnya kemanusiaan bersangkutan dengan pikiran, perasaan, dan tindakan yang membuat martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia tetap terjaga dan berkembang; jangan sampai manusia berada dalam kondisi animalitas [kebinatangan], apalagi kebendaan [bagai robot dan mesin].

Lebih lanjut, hal tersebut mengimplikasikan bahwa ada nilai-nilai kemanusiaan yang universal atau kemanusiaan universal yang melampaui segala lokalitas [kebudayaan lokal, kearifan lokal, ras dan etnis, ideologi, dan lain-lain] sekalipun bersumberkan macam-macam ajaran agama, paham filsafat, corak ilmu, dan kebajikan personal. Sekalipun memiliki perbedaan sistem, struktur, dan relasi nilai kemanusiaan dalam berbagai kebudayaan dan peradaban, keuniversalan nilai kemanusiaan telah dikemukakan oleh banyak pihak, di antaranya adalah Amstrong (2012), Crisp (2007), Nasr (2002), Steiner (2004), dan Hardiman (2012).

/2/
Taksonomi atau klasifikasi nilai-nilai kemanusiaan yang dipandang universal telah dikemukakan berbagai ahli atau bermacam pihak. Dalam Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih (2012), Amstrong menyatakan ada 12 (dua belas) nilai kemanusiaan yang menjadi kaidah emas kehidupan berbelas kasih, yaitu (a) mampu berbelas kasih, (b) mampu melihat dunia sendiri, (c) mampu berbelas kasih pada diri sendiri, (d) mampu berempati, (e) mampu memberi perhatian penuh, (f) mampu bertindak positif, (g) menyadari betapa sedikit pengetahuan kita, (h) mampu berbicara penuh kasih dengan sesama, (i) mampu peduli untuk semua, (j) memiliki pengetahuan berguna bagi sesama, (k) mampu membuat pengakuan, dan (l) mampu mencintai musuh.

Sementara itu, dalam The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (2002), Hossein Nasr menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pesan universal Islam adalah (i) kasih sayang dan rahmat, (ii) cinta, (iii) kedamaian, (iv) keindahan, (v) keadilan, dan (vi) tanggung jawab. Dalam pada itu, Schwartz dalam Basic Human Values (2006) mengemukakan bahwa nilai dasar universal kemanusiaan meliputi (i) kendali-diri, (ii) stimulasi, (iii) hedonisme, (iv) prestasi, (v) kuasa sosial, (vi) keamanan bersama, (vii) konformitas, (viii) tradisi, (ix) penuh tolong-menolong, dan (x) universalisme. Sekolah Togoolawa menggolongkan nilai kemanusiaan universal menjadi (i) cinta, (ii) kebenaran, (iii) kedamaian, (iv) aturan hak-hak, dan (v) tanpa kekerasan.

Selanjutnya, dalam konteks pluralisme dan multikulturalisme, banyak pihak terutama para pakar menyatakan bahwa toleransi [tenggang rasa] dan kesetaraan merupakan nilai yang menjadi sumbu kelangsungan pluralisme dan multikulturalisme. Lebih jauh, dalam konteks humanisme berlandasakan Islam, Gus Dur menekankan nilai ketauhidan, keselamatan bersama, dan kebebasan bersendi ketuhanan sebagai nilai dasar martabat manusia. Berbagai taksonomi tersebut menunjukkan bahwa sekalipun diakui dan disepakati ada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, cakupan nilai-nilai kemanusiaan di antara berbagai taksonomi berbeda-beda.

Sejarah kehidupan dan kebudayaan manusia memberitahukan bahwa gagasan, pemikiran, dan praksis kemanusiaan sebagai poros martabat, kemuliaan, dan atau keagungan manusia tidak serta-merta atau tidak otomatis menciptakan manusia bermartabat, mulia, dan agung; dan tidak serta-merta mewujudkan rupa kemanusiaan yang diharapkan atau dicitakan. Sebagaimana dikemukakan oleh Hardiman (2012), kesadaran, gagasan, pemikiran, dan praksis kemanusiaan justru menimbulkan kemanusiaan tanpa Tuhan dan atau kemanusiaan tanpa manusia.

Tindakan dan atau usaha berbagai pihak atau pelbagai kelompok menegakkan kemanusiaan justru mengakibatkan mati surinya kemanusiaan atau hancurnya kemanusiaan. Ateisme, puritanisme, kolonialisme, totalitarianisme, dan terorisme alih-alih mampu mewujudkan martabat dan keagungan manusia, malah justru mendehumanisasi manusia. Hal itu menunjukkan bahwa tindakan dan usaha mewujudkan martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia sebagai representasi kemanusiaan telah menempuh jalan terjal yang penuh persoalan, bahaya, ancaman, dan atau tantangan.

Sekarang dan lebih-lebih pada masa akan datang persoalan, bahaya, ancaman, dan atau tantangan terhadap manusia dan kemanusiaan semakin mengentarkan, bahkan mengerikan. Sekarang bukan hanya dehumanisasi dan robotisasi [mesin-isasi] manusia mengancam kehidupan manusia, melainkan juga kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan manusia berada dalam bahaya, ancaman, dan atau tantangan luar biasa. Tragedi kemanusiaan yang menggentarkan manusia makin masif terjadi di berbagai belahan dunia, misalnya di Semenanjung Balkan, Timur Tengah, dan bahkan di beberapa daerah negeri kita. Kejahatan kemanusiaan juga makin kerap menampar hati manusia. Bencana-bencana alam dan sosial juga kian mendera umat manusia di bumi kita.

Pada satu sisi hal tersebut disebabkan oleh keterbelakangan hidup manusia, kebodohan akal manusia, kesempitan pikiran manusia, dan ketertutupan nurani manusia. Namun pada sisi lain hal tersebut diakibatkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh manusia dan hasrat homo homini lupus manusia. Tidak mengherankan, sekarang kemanusiaan dalam bahaya, ancaman, dan tantangan sehingga diperlukan pembelaan dan perlindungan kemanusiaan pada satu sisi dan pada sisi lain diperlukan pengembangan kemanusiaan. Menurut Hardiman (2012), kini saatnya manusia membela kembali kemanusiaan. Kata Gus Gur (2013), manusia harus terus-menerus memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan yang diidamkan karena kemanusiaan merupakan manifestasi ketuhanan. Dengan demikian, demi kelangsungan dan keberlanjutan manusia di dunia, sekarang perlu dilakukan penyelematan kemanusiaan.

/3/
Penyelamatan atau pembelaan dan perjuangan terhadap kemanusiaan tersebut perlu dilakukan dengan cara melindungi, menyebarluaskan, menumbuhsuburkan, dan membatinkan nilai-nilai kemanusiaan universal kepada manusia termasuk bangsa Indonesia semenjak dini. Semua lapangan kehidupan manusia menjadi ruang atau arena penyebarluasan dan penumbuhsuburan nilai-nilai kemanusiaan universal. Dalam hubungan ini lapangan pendidikan menjadi ruang atau arena sangat penting bagi penyebarluasan, penumbuhsuburan, dan pembatinan nilai-nilai kemanusiaan agar manusia menjadi manusia [menyandang sifat-sifat manusia, bukan kebinatangan dan kebendaan].

Untuk itu, pendidikan perlu difokuskan sebagai proses pemanusiaan; pendidikan sebagai proses pembebasan manusia dari sifat-sifat bukan manusia; pendidikan sebagai proses penyadaran akan kemanusiaan. Di sinilah perlu dikembangkan pendidikan bertujuan atau bersasaran nilai-nilai kemanusiaan yang boleh saja dilabeli pendidikan humanistik, pendidikan humanis-spiritual, pendidikan humanis-sekular, dan atau pendidikan pascahumanistik (posthumanistic).

Pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan berarti pendidikan yang berhaluan martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia. Pendidikan yang bersasaran terciptanya manusia bermartabat, luhur, mulia, dan agung. Proses pendidikan yang menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sumbu proses pembelajaran, pengajaran, dan pemelajaran. Proses pendidikan yang sanggup menyingkirkan hal yang memerosotkan dan menghancurkan kemanusiaan.

Sudahkah pendidikan kita menjadi pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan dan berhaluan kemanusiaan demikian? Komodifikasi, MacDonaldisasi, robotisasi, dan bermacam-macam bentuk dehumanisasi sekarang sedang terjadi; paling tidak mengepung proses pendidikan nasional kita. Demikian juga, akibat kepanikan moral, moralisasi berlebih-lebihan proses pendidikan nasional kita telah menimbulkan regimentasi dan segregasi manusia Indonesia dan kemanusiaan universal.

Oleh karena itu, sekarang sudah saatnya pendidikan nasional difokuskan kembali pada pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan universal supaya pendidikan nasional kita memiliki kontribusi penting bagi penyelamatan kemanusiaan pada satu sisi dan pada sisi lain mewujudkan manusia Indonesia berkemanusiaan universal. Untuk itu, pendidikan harus dijadikan taman atau kebun pembibitan, penyemaian, penumbuhan, dan penyuburan kemanusiaan.

/4/
Pendidikan sastra Indonesia khususnya pembelajaran sastra Indonesia di jenjang pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah sangat strategis sebagai taman atau kebun pembibitan, penyemaian, penumbuhan, dan penyuburan kemanusiaan universal agar para peserta didik menjadi manusia-manusia bermartabat, luhur, mulia, dan agung yang sanggup menjunjung kemanusiaan dan menghormati manusia pada satu pihak dan pada pihak lain mampu menjadikan kemanusiaan universal sebagai pemandu dan penjaga kehidupan bersama. Di sinilah pembelajaran sastra Indonesia dapat menjadi tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan pada satu pihak dan pada pihak lain dapat menjadi proses penyemaian nilai-nilai kemanusiaan sehingga peserta didik memiliki martabat dan keagungan sebagai manusia.

Untuk itu, penting dikembangkan pembelajaran sastra Indonesia berparadigma nilai-nilai kemanusiaan universal. Pengembangan pembelajaran sastra Indonesia berparadigma nilai-nilai kemanusiaan universal dapat ditempuh dengan 2 [dua] cara atau strategi. Pertama, dengan strategi integrasi dan sinergi nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran sastra Indonesia seturut dengan kurikulum yang sedang berlaku. Hal tersebut dapat dilakukan secara multidisipliner, transdisipliner, dan interdisipliner. Dalam konteks ini diperlukan reorientasi, reposisi, dan refokus pembelajaran sastra Indonesia. Dikatakan demikian karena pembelajaran sastra Indonesia sekarang kurang jelas orientasi dan posisinya: sebagai wahana pembentukan karakter-moral bangsa, pembentukan sikap keilmuan [ilmiah] atau pembentukan kemampuan berbahasa-bersastra semata? Kedua, dengan strategi redesain, reformulasi, dan restrukturisasi profil pembelajaran sastra Indonesia.

Menurut hemat saya, desain, formula, dan struktur profil pembelajaran sastra Indonesia sekarang kurang menguntungkan untuk menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan universal karena terbelenggu atau terhegemoni ambisi membentuk karakter-moral anak-anak bangsa pada satu sisi dan pada sisi lain hasrat membentuk insan ilmiah [yang desain dan modelnya kurang kokoh]. Kompetensi [baik kompetensi inti maupun kompetensi dasar] sastra Indonesia kurang memihak dan memberi ruang sastra Indonesia secara memadai. Bahan ajar berupa sastra Indonesia sulit dikembangkan untuk menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan universal. Demikian juga model pembelajaran sastra Indonesia tidak leluasa untuk menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di antara dua strategi tersebut, strategi integrasi dan sinergi nilai kemanusiaan lebih mudah dilakukan oleh pelaksana kebijakan pembelajaran sastra Indonesia. Strategi redesain dan reformulasi pembelajaran sastra Indonesia lebih sulit dilakukan karena mengharuskan penyusunan ulang kebijakan kurikulum sastra Indonesia, yang berarti melibatkan para penyusun kebijakan pembelajaran sastra Indonesia. Terlepas dari strategi mana yang menjadi pilihan, agar mampu menjadi tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan, pembelajaran sastra Indonesia harus dijauhkan dari komodifikasi, MacDonaldinasasi, robotisasi, hegemoni, dan formalisme berlebihan dalam proses pendidikan. Pembelajaran sastra Indonesia perlu dijadikan lebih imajinatif dan inspiratif agar peserta didik mampu melakukan refleksi, kontemplasi, dan sublimasi nilai-nilai kemanusiaan, yang selanjutnya sanggup membatinkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri dan hidup peserta didik di dalam masyarakat.

Pembelajaran imajinatif dan inspiratif sastra Indonesia niscaya mampu menyemaikan nilai kemanusiaan universal karena peserta didik berkesempatan melakukan pembatinan dan penjiwaan nilai kemanusiaan yang terepresentasi dalam sastra Indonesia. Sudahkah pembelajaran sastra Indonesia sekarang berlangsung imajinatif dan inspiratif? Tampaknya, imajinasi dan inspirasi kini tersingkirkan oleh [apa yang disebut] pendekatan lain.

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *