Sastra Kelamin Penyair Madura : Ironi Sebuah Prolog


Imam Nawawi *

Sudah jamak diketahui, akhir abad 20 Indonesia menderita penyakit akut kesusastraan. Diperkenalkannya sastra feminisme di tengah rezim orde baru yang militeristik dan kebudayaan yang patriarkis.

Mau tidak mau, spirit feminisme Barat menjadi ruh kesusastraan baru kita di negeri majemuk ini. Jangan heran bila pro-kontra misal pada Ayu Utami, tokoh sastra selangkangan itu, menyita perhatian semua peneliti.

Pujian Sapardi Djoko Damono, Mangunwijaya, dan Umar Kayam atas kerja kebudayaan Ayu Utama seimbang dengan cibiran Pramoedya Ananta Toer dan W.S. Rendra (Hatley, 1999, “New Direction in Indonesian Women Writing,” dalam Asian Studies Review, 23 (4), hlm. 449-460).

Sebagian orang menyebutnya “sastra kelamin”, yang dalam tradisi ilmiah sekalipun obrolan tentang kelamin itu sendiri tidaklah tabu. Misal atas nama kajian saintifik.

Kitab-kitab agama pun menyediakan sajian khusus untuk membahas kelamin, dan etika-etikanya yang melegitimasi pembicaraan tentang kelamin menjadi absah, legitimit, saintifik, dan religius.

Sastra kelamin menjadi lebih bermartabat tatkala dibalut oleh kebudayaan, fakta-fakta sosiologis, dan nilai-nilai kearifan lokal. Seperti dalam puisi berjudul “Sajak Buah Pinang” karya Ahmad Muchlis Amrin ini.

Berangkat dari permainan filosofis tentang dirinya yang menemukan pohon dan kembang pinang dalam buah pinang, A.M. Amrin tidak sedang bicara asal-usul biologis sebuah pohon. Nyatanya ia hanya mau bicara persoalan sosiologis, tentang sosok perempuan yang “nginang”. Maksudnya, mengunyah buah pinang.

Perilaku sosial ini diperkuat melalui penuturan akan apa yang penyair gambarkan melalui tokoh “aku” yang meracik buah pinang bercampur sirih. Supaya sedikit dramatis pendekatan filosofis kembali digunakan, yakni ketika menjelaskan urat pada daun sirih itu bercabang pada Tuhan dan pada dirinya sendiri.

Perpaduan pendekatan filsafat kebudayaan, fakta sosial, dan realitas bilogis buah pinang dan daun sirih ini terus bertahan. A.M. Amrin bicara tentang takdir, luka, bahagia, harapan, usia, kulit keriput, bibir, tulang sumsum, melalui satu medium: pinang dan sirih.

Namun, semua itu bukan tujuan utama. Ide dan gagasan utama puisi ini tetaplah kelamin. Yakni kelamin yang diminta berulang-ulang, dan berkat racikan pinang sirih maka kelamin itu sepuluh kali lebih bertenaga dalam mencengkeram.

Selebihnya saya tak hendak membahas suasana puitik pergumulan tokoh “aku” dan “kau”, yang keduanya tenggelam dalam keheningan spiritual; tepatnya spiritualisme hedonis. A.M. Amrin mengalamis ekstase dalam lantunan nada “nang ning nang ning nong”.

Saya tidak melihat perkara lain selain kelincahan penyair dalam menunggangi ilmu-ilmu (filsafat, biologi, sosiologi, budaya, dan sastra) dalam puisi ini. Kelincahan yang terang-benderang dalam rangka menjelaskan bahwa buah pinang yang dimaksud bukan fakta biologis tumbuhan, tetapi fakta biologis seorang perempuan, yang digumul penuh syahwat.

Jika pun hendak dipahami sebagai bagian dari tumbuhan, buah pinang yang dimaksud mengarah pada fungsinya sebagai nutrisi pembangkit libido. Baik sebagai buah dari sebuah tumbuhan maupun perempuan, buah pinang tetap melahirkan lelaki jantan.

Kejantanan spiritual? Kejantanan filosofis? Kejantanan Kultural-Sosiologis? Tidak! Itu kejantanan syahwat, yang hanya cocok untuk kepentingan bergumul antara seorang lelaki dan perempuan.

Orang lain boleh terkecoh dengan kelihaian meracik nalar multidisipliner dari seorang Penyair Kelamin dari Madura ini, A.M. Amrin. Misalnya, seperti Presiden Cerpenis Indonesia, Joni Ariadinata, yang menyebut karya puisi ini sangat spiritual.

Namun, ketika kecenderungan A.M. Amrin hanya menjadi penunggang gelap atas seluruh disiplin ilmu yang dijadikan kerangka kerja pikirnya dalam memproduksi puisi ini, saya tidak akan terkecoh. Sekali pun Tuhan disebut berkali-kali, tetap saya tidak mau terkecoh.

Tuhan dalam “Sajak Buah Pinang” ini adalah diri sang penyair, yakni penyair yang sedang birahi akibat efek kimiawi dari pinang dan sirih. Karenanya, saya tidak heran bila melihat dalam puisi ini tentang birahi Tuhan atau Tuhan yang birahi.

Terakhir, A.M. Amrin memang sebelas dua belas dengan Ayu Utami. Hanya saja, jika Ayu Utama terang-terangan menunggangi realitas sosial-politik Orde Baru demi kepentingannya menyampaikan sastra selangkangan, A.M. Amrin lebih halus dan hati-hati. Itu hanya karena A.M. Amrin adalah orang Madura, yang kita semua akui sangat halus perangainya.

A.M. Amrin memang tidak mengkritik sebuah rezim tertentu. Ia hanya mencari diksi paling tepat yang mampu membawa spirit puisinya pada dimensi lain yang berbau kebangsaan dan nasionalisme. Yakni, Pesta Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang sering dimeriahkan dengan lomba panjat pinang.

Tetapi, sebagaimana Tuhan yang takluk pada birahi sang penyair, para pemanjat pinang pun harus lumat dalam birahinya. Birahi sang penyair sendiri. Birahi yang agar lebih tampak suci maka dibungkus dengan diksi Tuhan. Birahi Tuhan. Nauzu billah tsumma Naudzubillah.

Mari kita bersama menikmati “Sajak Buah Pinang” itu. Lupakan analisa recehan saya ini. Jika ada tulisan essai berikutnya untuk mengoreksi opini saya ini maka itu lebih baik. Karena Su’uzon apapun itu, dari siapapun itu, harus dibuang sejauh mungkin. Diupayakan sekuat tenaga.

SAJAK BUAH PINANG

a/
Dalam buah pinang
ada pohon pinang.
Pada pohon pinang
kutemukan kembang-kembang.
Dan, pada buah pinang
kau sambut perempuan nginang.

Nang ning nang ning nong

Aku meracik pinang
bercampur sirih berurat cabang;
satu ke dalam diri, yang lain
kepada tuhan.
Aku mengunyah racikan dan kutelan
semua yang telah menjadi bagian
bagi nasibku; luka dan bahagia.
Warna merah di bibirku
semoga meresap ke sumsum tulang.

Nang ning nang ning nong

O, buah pinang
Pada kulit yang kering menua
serabut-serabut menghapus harap.
Begitu dibelah dua
terasa sepuluh tahun lebih muda.

Karena aku nginang
kau minta berulang-ulang
sebab kelaminku terasa kering
dan sepuluh kali lebih cengkram.
Musnahlah kau di atas aku
aku di bawah kau;
kau-aku bergumul-gumul
di dalam hening;
hening di dalam nang
hening di dalam ning
hening di dalam nang
hening di dalam ning
hening di dalam nong.

Nang ning nang ning nong

b/
Dalam buah pinang
ada pohon pinang.
Pada pohon pinang
kutemukan kembang-kembang.
Pada buah pinang
kupetik buah pinang.
Dan, dari buah pinang
lahir lelaki jantan.

Nang ning nang ning nong

Bila kau racik pinang muda
bercampur madu
tambahkan saja telur kuningnya.
Maka akarmu akan menghunjam-hunjam
di kedalaman birahi tuhan
hingga lumas pemanjat pinang
di hari tujuh belasan.
Berhari-hari kau terngiang-ngiang;
terngiang-ngiang nang
terngiang-ngiang ning
terngiang-ngiang nang
terngiang-ngiang ning
terngiang-ngiang nong.

Nang ning nang ning nong

Bertahun-tahun kau mengulang-ulang
menanam satu di dalam aku:
kau-aku candu;
candu nang
candu ning
candu nang
candu ning
candu nong.

Nang ning nang ning nong.

Yogyakarta, Maret 2015
***

*) Imam Nawawi, lahir di Sumenep 1989. Sempat belajar di beberapa pondok pesantren seperti PP. Assubki Mandala Sumenep, PP. Nasyatul Muta’allimin Gapura Timur Sumenep, PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, PP. Hasyim Asy’ari Bantul Yogyakarta, PK. Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta, PP. Kaliopak Bantul Yogyakarta, dan PP. Al-Qodir Sleman Yogyakarta. Kini sedang menempuh pendidikan jenjang S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *