TEBARAN PERISTIWA KETIKA SENJA

(Membaca Sajak-Sajak Marhalim Zaini)


(Marhalim Zaini, foto dari nusantaranews.co, Sagang Online)
Taufik Ikram Jamil *

1
KAWAN saya Abdul Wahab, barangkali tidak berlebihan. Dalam sekeping suratnya berberapa waktu lalu, ia mengatakan, apakah tidak sebaiknya kalau seniman mulai berpikir tentang bagaimana setiap karyanya, si kreator berhasrat menerima, sehingga penikmatnya memberi–tidak hanya terbatas pada hasrat memberi dan penikmat menjadi penerima. Seniman tidak menjadi sesuatu yang merasa dirinya–walaupun hanya di dalam karya– sebagai pihak paling tahu serta menentukan wacana penikmat.

Selanjutnya, Wahab menulis, “Barangkali apa yang kukatakan itu sudah terlaksana, tetapi yang kumaksudkan adalah suatu tindakan seniman dengan suatu kesadaran kreatif tentang hal tersebut. Jadi, harapanku lebih kepada diri seniman itu sendiri yang hendaknya terbaca di dalam karya-karyanya.”

Maafkanlah Wahab, kalau Anda tidak sepaham, lalu akan mencercanya dengan seribu dalih dan helah. Tetapi dalam konteks semacam itu tanpa bermaksud membela Wahab, bukankah sahabat saya ini sebenarnya tidak meletakkan suatu karya sebagai suatu hasil berupa benda, sebaliknya memandang karya seni sebagai suatu proses yang begerak dari suatu proses ke proses lainnya sebagai suatu kesatuan dalam kehidupan. Secara sederhana, hal itu dapat dipahami sebagai semacam menu berkarya, sebelum karya seni tersebut muncul ke khalayak yang lebih luas dari penciptanya sendiri.

Syahdan, berhadapan dengan sajak-sajak Marhalim Zaini, apalagi setelah dihimpun dalam suatu buku di bawah tajuk “Langgam Negeri Puisi”, saya selalu teringat dengan isi surat Wahab itu. Sebagai pembacanya, sajak-sajak Marhalim, tidak pernah mengajak saya kepada suatu tempat yang bagaimanapun bentuk dan sifatnya. Kalau dalam rentang kehidupan manusia ada yang harus datang dan pergi, maka saya datang dan pergi oleh diri saya sendiri ke suatu tempat yang lain dibandingkan datang maupun pergi sebelumnya, setelah membaca sajak-sajak Marhalim. Suatu tempat yang saya tidak tahu bentuk dan sifatnya, tetapi jelas saya merasa datang dan pergi pada suatu rentangan lain dibandingkan rentangan yang saya lalui sebelumnya.

Mungkin, Marhalim sendiri tidak pernah berusaha untuk mengajak saya atau pembaca sajak-sajaknya yang lain untuk memasuki rentangan antara datang dan pergi itu menurut kehendaknya. Paling-paling, sajak-sajaknya berupa pipa yang menyalurkan rentangan datang dan pergi itu, sehingga ia tidak memiliki hak untuk memiliki setiap yang datang dan setiap yang pergi. Sajak-sajaknya menjadi perahu yang memiliki haluan dan buritan, kemudian dapat ditumpangi, tetapi hala pergerakan perahu tidak ditentukan oleh fisik alat angkutan tersebut, melainkan oleh penumpangnya sendiri.

Tidak mengherankan, kalau dalam sajak-sajak Marhalim, susah ditemui gugatan, apalagi hujatan. Himbauan bahkan terasa sangat sayup, itu pun muncul tatkala ada hubungan kontekstual antara penikmat dengan makna yang bisa dimunculkan dalam sajak-sajaknya. Dengan demikian, sajak-sajak Marhalim, membebaskan pengertian yang muncul dari karya sastra itu kepada pembaca berdasarkan pengalaman penikmat itu sendiri. Ini semuanya, tentu saja menyulitkan bagi pembaca yang terbiasa dengan sesuatu yang bersifat verbal, ketika karya seni dihantarkan sebagai utusan dari si penciptanya.

2
MENURUT hemat saya, Marhalim Zaini menyiasati semuanya itu dengan lebih banyak memaparkan segala sesuatu yang ingin disampaikannya melalui peristiwa-peristiwa daripada menyuguhkan suatu perkara. Ia menebarkan peristiwa seperti seorang pelukis mempergunakan berbagai macam warna sebagai medium ekspresinya. Ini menuntut pengamatan detil dengan mencari pengungkapan-pengungkapan baru yang sepadan dengan suasana yang hendak dihadirkannya.

Dalam sajak “Kabut Kintamani”, Marhalim menjejerkan peristiwa itu dari suatu gambaran umum yang kemudian menjurus pada ihwal lebih khusus, bahkan sampai pada persoalan relijiusitas. Disebutkannya keberadaan kabut di ketinggian yang mencuri angin, membekukan rumah-rumah menjadi gumpalan batu putih. Di sisi lain ada orang-orang mengencani waktu sambil merapatkan musim dingin, juga menguliti matahari dengan muka pucat pasi. Kabut menyergap dalam berbagai sendi kehidupan, “Di sini, kabut juga menghamili anak-anak kami!” tulis Marhalim.

Dalam kabut itu, ada juga senja, gunung, danau, tubuh telanjang, riuh anjing, dengus babi, jalan terjal, sesaji, dan doa. Selanjutnya, Marhalim menulis:

Serupa pohon-pohon kering yang berbaris menuruni
lembah, aku menghitung manusia yang menapaki
kabut, berpakaian kabut, dan menjunjung Tuhan-nya
yang berwarna kabut. Mereka melafalkan mantera
sambil menaburkan bunga-bunga kabut. Bagai deru
kereta, derap langkah kaki mereka menarikan kabut
dalam ekstase hidup menuju kediaman maut.

Begitu pun dalam “Amis Sajak, Kampung Bayang-bayang”:

Jalanan asing. Bau amis sajak, menggenang dalam
tambak. Ikan-ikan berkata, “Berenanglah siang dan
malam, menghirup alam dan Tuhan.” Orang-orang pun
mengerlingkan matanya, lalu merunduk, memburu dan
diburu. Berebut nasib dalam periuk legam, lingkaran
hidup yang hitam. Mungkin mereka bukan penyair,
berebut air dalam sungai yang mengalir.

Tengok juga sajak Marhalim yang berjudul “Laut Senja, Kota-kota Mengapung”, terutama pada bagian awal dari bait terakhir sebagaimana saya kutipkan di bawah ini:

Lalu hujan. Batas itu kini menyatu dalam lanskap biru. Air
menderas mencumbu laut. Aku cemburu. Kapal ini tak mampu
mengejar waktu. Alangkah berat manusia-manusia yang dibuntingi
masa lalu dan tak kunjung melahirkan generasi baru, tapi tahun-tahun
yang membatu. Aku pun membisu. Sejenak, kelelawar berkelebat
dalam ragu, di depan mataku, sktesa-sketsa mimpi menjelma
terali-terali besi, dan tiba-tiba aku seperti dihimpit sepi.
“Mabukkah yang menyebabkan aku begitu takjub pada laut?”

Kepada Wahab, saya menulis bahwa saya bisa mengakrabi peristiwa yang dibangun oleh Marhalim karena antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lain, terjadi dalam suatu suasana sejajar, sehingga dengan demikian, saya dapat menikmati sajak penyair ini dengan begitu tegas. Simbol yang digunakannya tidak berlompatan jungkir balik, sehingga imej yang muncul dari sajak-sajaknya terkesan sebagai suatu kreasi dengan ukuran-ukuran pasti.

Saya membenarkan Wahab yang dalam suratnya kemudian mengatakan bahwa Marhalim menebarkan peristiwa bukan demi peristiwa itu sendiri, tetapi tidak lebih daripada menjadikan peristiwa tersebut sebagai alat untuk mengemukakan gagasan maupun perasaannya dalam suatu persebatian alias persenyawaan yang jalin menjalin. Jadi, bukan peristiwa itu yang menjadi alas puisi-puisi Marhalim, karena peristiwa hanyalah suatu gejala. Ibarat sakit paru-paru, batuk adalah salah satu gejala dari adanya kelainan paru-paru, tetapi bukan sakit itu sendiri. Peristiwa dalam sajak-sajak Marhalim, setara dengan batuk dalam sakit paru-paru tersebut.

Cuma sebelum terlupa, patutlah dikatakan di sini bahwa peristiwa yang diciptakan Marhalim Zaini, tidak terbatas pada menjejerkan apa-apa yang kelihatan. Peristiwa dalam sajak-sajaknya juga muncul karena suatu kesan penyair terhadap sesuatu. Ia juga menggunakan kata-kata tunjuk dan perumpamaan untuk mengukuhkan bangunan peristiwa tersebut. Contohnya dalam sajak “Surat Cinta Beracun”, Marhalim menulis: Bacalah kecemasan ini, ketika cintamu membiak/ dalam kamar senja, sebelum matahari mengubur/ bekas kecupan di bibir kotamu.//

3
SAYA sadar bahwa pemaparan pada paragraf-paragraf di atas bukanlah sesuatu yang mutlak dalam sajak-sajak Marhalim, tetapi setidak-tidaknya hal-hal semacam itulah yang pertama kali saya tangkap ketika membaca sajak-sajak penyair ini. Marhalim terasa bebas menggunakan alat yang bernama peristiwa itu dan langkah-langkahnya tidak terkunci pada suatu gaya pengucapan. Ia bebas menonjolkan peristiwa pada setiap ruang dari sajak-sajaknya, bahkan dalam bentuk dan sifat yang beragam.

Membaca sajak-sajak Marhalim yang lahir di Bengkalis, Riau, dengan demikian, saya tidak ditawari untuk memasuki alam pikiran penyairnya secara sepihak yakni dari wawasan Marhalim sendiri. Pasalnya, dengan penonjolan peristiwa yang telah dikemukakan di atas, tubuh dari sajak-sajak Marhalim memberikan saran-saran dengan berbagai kemungkinan. Bukan suatu tema yang diperoleh dari membaca sajak-sajak Marhalim, tetapi ada suatu perasaan yang begitu luas dan tidak terwujudkan. Sesuatu yang kita rasa ada, tetapi tidak terwujud dalam suatu bentuk yang dapat kita raba. Kata “mungkin”, sangat merajai dalam upaya memberi makna pada sajak-sajak Marhalim.

Lalu padam. Peti mati inilah rumah kita
jagat yang legam, dan waktu tak bersisa.

Tapi belum juga sampai. Seperti malam
selalu memanjang di bathin kita.

Dengus nafasmu, juga degup jantungku,
kadang terasa kosong. Dan keperkasaan kita
adalah kemampuan menembus kekosongan
sampai ke sumsum waktu.

Sementara di ruang yang lain, setumpuk waktu
menunggu kita dengan teka-teki yang baru.

(Marhalim Zaini, Nocturno)

Melalui sajak-sajaknya, Marhalim terkesan ingin berbicara banyak hal. Tetapi dalam sangkar “mungkin” sebagaimana di katakan di atas, hal ihwal yang hendak dibicarakan Marhalim, memang di tangan pembaca dapat diperlebar dan dapat pula dipadatkan. Dari mana frase “lalu padam” dalam sajak di atas diawali, adakah suasana yang diawali oleh frase tersebut adalah sesuatu yang “hidup” atau “menyala”. Tetapi keadaan waktu itu adalah sesuatu yang gelap, namun mungkinkah kegelapan itu karena “kita” berada dalam “peti mati”. Lalu ke mana sosok dalam sajak itu pergi sehingga harus ada kalimat, “Tapi belum juga sampai.”

Cuma yang pasti, dalam sajak-sajaknya, Marhalim berbicara soal manusia dengan berbagai dimensinya. Interaksi antarmanusia, tak mungkin dielakkannya, bahkan terkesan amat begitu penting dalam sajak-sajak Marhalim. Adanya dialog dalam pengertian yang sesungguhnya yakni hubungan antarmanusia yang ditandai dengan bentuk penulisan, memperlihatkan bagaimana Marhalim memberi tanda khusus terhadap hubungan tersebut. Keindividuan, juga sesuatu yang wajar, sampai Marhalim berbicara soal kematian dan makna hidup setelah kematian tersebut. Coba perhatikan sajak yang bertajuk “Epitaf” di bawah ini:

Gelepak penghabisan burung-burung putih,
dan gugur kamboja menunggu nama-nama
Siramlah air ramuan bunga setaman dan
tenggelamkan di pasir pantai bertuliskan:
“Dermaga orang-orang karam.”

Asap dupa. Kemenyan duka. Harapan dan doa.
Tergantung di langit menunggu jawaban:
“Di mana Tuhan sembunyikan keputusan?”

Saya harus mengatakan bahwa sebagai penyair, Marhalim, tidak hanya terpaku dengan apa yang hendak dikatakannya saja, tetapi juga bagaimana ia mengatakan sesuatu. Untuk itu, seorang penyair memanglah harus mencari dan menemukan kata-katanya sendiri, lalu Marhalim telah melakukannya dengan butir-butir peluh kreativitas dan kerja keras. Tak hanya dengan menebarkan peristiwa dan kesan, pilihan kata-kata dalam sajak Marhalim, terlihat otonom, dalam pengertian bahwa ia coba memunculkan dirinya tanpa harus merasa terasing dengan keberadaannya.

Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa hampir dalam semua sajak-sajak Marhalim, ia coba menampilkan ungkapan-ungkapan baru, metafor-metafor baru, setidak-tidaknya frase baru. Tentu akan sangat panjang tulisan ini kalau hal tersebut saya ungkapkan satu persatu, tetapi memadailah saya katakan bahwa dari sajak pertama di dalam buku ini saja, upaya menampilkan ungkapan baru itu sudah diperlihatkan Marhalim. Sebagaimana anak sungai kita bertarung/ di ujung kuala, demi laut yang membentangkan/ hidup, lebih dari
sekedar gelombang mimpi (“Tersebab Laut”).

Terus-terang, saya sendiri amat terkesan dengan kalimat Marhalim, “Emak, rumah kita masih di senja?”(Surat Rindu). Dalam kalimat ini terlihat betapa masing-masing kata membuat jaraknya sendiri dalam suatu peristiwa. “Emak” bagaimanapun, bukanlah aku lirik dan “kita” menunjukkan adanya suatu penyatuan yang juga berarti keterpisahan antara dua individu atau lebih, sementara frase “masih di senja”, seperti mengheret perasaan kita untuk melihat betapa jauhnya waktu berlalu tanpa adanya perubahan nasib. Bisa juga berarti, waktu yang tidak bersahabat, dipadukan dalam kata “emak” dan “masih di senja”.

4
SAMPAI di sini, saya teringat perkataan Wahab ketika kami bertemu kembali beberapa waktu lalu dan dipertegaskannya dalam selembar surat. Meskipun masa kreativitas Marhalim membuncah di Yogyakarta, maung dan amis Riau, senantiasa merasuk ke dalam sajak-sajaknya. Kutipan di atas, “Emak, rumah kita masih di senja?” pada satu sisi memperlihatkan ikatan marwah tanah kelahiran dengan berbagai peristiwa di dalam diri Marhalim terasa begitu asin.

Barangkali “senja” dapat menyimbulkan makna keprihatinan mendalam, ketika orang tahu bagaimana tanah Riau terzalimi oleh kekuasaan yang conguk. Daerah ini telah memberikan bahasa dan minyaknya kepada Indonesia, tetapi Riau sendiri terpuruk dalam kemiskinan yang terstruktur. Penelitian-penelitian sosial ekonomi yang dilakukan berbagai pakar sejak pertengahan tahun 1980-an, misalnya oleh Prof Dr Mubyarto dari Universitas Gadjah Mada, memperlihatkan betapa masyarakat Riau termiskin di Sumatera sebelum Bengkulu. Dengan penghasilan nomor dua terbesar di Indonesia setelah Kalimantan Timur, kondisi ekonomi masyarakat Riau terpuruk pada nomor 17 dari 27 provinsi.

Pertanyaan yang terkandung di dalam kalimat tersebut, dengan sendirinya bukanlah pertanyaan yang memerlukan jawaban, tetapi merupakan penegasan suatu peristiwa atau suatu kenyataan. Jika diperpanjang, penegasan tersebut memiliki ekoran untuk suatu tindakan yang di dalam dunia kepenyairan menjadi semacam landasan kreativitas. Sosok semacam ini, senantiasa hadir di bawah ambang sadar, tetapi keberadaannya dapat ditelusuri dari awal.

Ungkapan-ungkapan yang digunakan Marhalim, juga memperlihatkan betapa nafas Melayunya menyembur dalam setiap kesempatan. Kata “melatung” dalam sajak “Amis Sajak, Kampung Bayang-bayang”, merupakan kata yang ekpresif Melayu untuk menunjukkan suatu kebusukan yang amat sangat. Begitu juga kata “hawanya” di dalam “Sunan, Kutahlilkan Sejarah”, kata “tercerai berai” dalam “Patung Ibu yang Tersalib”, dan banyak lagi. Kata-kata khas itu justeru selalu muncul pada sajak yang memiliki latar belakang di daerah lain, katakanlah semacam sajak dengan tajuk “Sunan, Kutahlilkan Sejarah” itu.

Pada sajak-sajak Marhalim Zaini juga, rekatan sejarah menjadi benang merah dari proses penciptaan sebagaimana halnya ditunjukkan oleh sastrawan-sastrawan dari Riau sejak dari masa yang jauh. Pada dirinya juga terlihat bahwa dengan sejarah, orang dapat meraih jati dirinya, mengkaji asal keberadaannya, sehingga dengan demikian, orang dapat bertindak menurut takaran sendiri. Apa yang disebut sastra mazhab Riau sejak abad ke-19 dengan sejarah sebagai salah satu alas kreativitas, juga menggelinding di dalam sajak-sajak Marhalim Zaini.

Seperti hendak mempertegas semuanya, bukan tanpa alasan kalau Marhalim memilih sajak “Langgam Negeri Puisi” sebagai judul buku sajaknya yang kedua ini. Di dalam sajak tersebut, ia memadukan semua pikiran dan perasaannya, harapan dan tangisannya, dalam rentangan sejarah yang bukan merupakan persoalan waktu, tetapi lebih bersifat pada serakan peristiwa. Selanjutnya sajak ini juga menjadi semacam kredo bagi hidupnya ketika Marhalim mengatakan:

Sungguh, dari jauh yang gelap, aku mengirim gumam,
“Telah kusetubuhi seluruh negeri di tubuhmu,
tapi sayang, aku tak bisa merangkainya
lebih dari bahasa puisi.”

Sungguh tidak pada tempatnya kalau menampilkan hal-hal demikian, karya-karya Marhalim disebut berdimensi subkultur dan karenanya bersifat local sebagaimana banyak disebut orang terhadap karya-karya yang memiliki warna serupa. Pasalnya, Marhalim berbicara soal manusia dan karenanya tetaplah universal. Adakah yang lebih penting di dunia ini daripada persoalan manusia?
***

___________
*) Taufik Ikram Jamil, sastrawan kelahiran Teluk Belitung, Bengkalis, Riau, 19 September 1963. Namanya dikenal luas melalui karya-karyanya berupa naskah drama, novel, dan cerita pendek yang dipublikasikan di berbagai media massa. Taufik merupakan salah satu penerima Anugerah Sagang, 1997. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di Bengkalis. Kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau, lulus 1987. Dia juga menekuni profesi sebagai wartawan di harian Kompas, 1988. Taufik merupakan pendiri Yayasan Membaca Pusaka Riau yang bergerak di bidang kesenian, kebudayaan, dan penerbitan, 1999. Tahun 2002, dia berhenti dari harian Kompas untuk mencurahkan pikiran dan ide-ide kreatif demi kemajuan seni. Di tahun itu juga, mendirikan dan mengetuai Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) di Pekanbaru, satu-satunya akademi kesenian di Sumatra. Kiprahnya di dunia seni kian mantap ketika diangkat menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) periode 2002-2007. Dalam dunia kesusasteraan, Taufik banyak menghasilkan karya yang telah dimuat dalam berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Pembaruan, Kartini, Horison, Kalam dan Ulumul Qur’an. Kumpulan puisinya yang pertama diterbitkan Tersebab Haku Melayu, kemudian menyusul kumpulan cerita pendek Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, dan roman Gelombang Sunyi.
http://riaunology.blogspot.com/p/blog-page_15.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *