CINTA YANG MEMBUNUH

Mashuri *

Aku menunggu telepon dari John dalam temaram lampu taman belakang rumah. Tapi yang kutunggu mirip musafir yang lupa jalan pulang. Hingga pukul 01.00, John tak kunjung menghubungiku. Padahal dalam kurun seminggu ini, tepat pukul 00.00, aku menemukan kedamaian, yang sempat raib dalam kalbu. Ibarat padang gersang, oase yang selama ini kering-kerontang mengeluarkan mata air baru dan membentuk kolam. Pembawa air itu adalah John. Ia begitu rajin meneleponku tiap dinihari. Kami berbicara seperti dulu. Intim, sahdu, dan mesra. Benih-benih kasih lama di hatiku pun tersemai. Padahal aku pernah menyakiti John. Aku telah menanam duri tajam di hatinya. Aku menanamnya sangat dalam.

“Dulu, aku terpaksa meninggalkanmu, John!” seruku, ketika John menelpon pertama kali. Aku tidak tahu, entah dari mana John mendapatkan nomorku. Karena sudah 10 tahun, kami berpisah, tanpa saling bertukar kabar. Apalagi aku sudah bertekad menyapih masa laluku.
“Ah, sudahlah, Carla. Aku memahami posisimu waktu itu. Dulu aku memang belum pantas mendampingimu karena aku masih pecundang. Aku rela kau bersanding dengan pria lain. Yang penting, kau bahagia,” tutur John.

“Tapi aku tidak bahagia, John! Mungkin ini karma, karena aku berlaku tidak setia kepada cinta kita!” sergahku.
Aku pun menumpahkan segala duka lara. John mendengarkan ratapanku mirip spon yang tak menolak segala rembesan luka.
Yup, aku memang memilih kawin dengan Sukampret, pria yang kuketahui belakangan berjiwa bangkrut. Ia setengah gila. Sebenarnya handai taulan sudah memperingatkanku, tapi ketika itu aku adalah kereta api cepat yang sedang melaju. Semuanya pun mundur teratur. Mereta tahu watakku.

Ketika kemalangan menimpaku, aku pun menanggung risiko sendiri, karena aku malu. Sungguh suamiku seorang maniak dan sontoloyo. Ia selalu membuatku lara, meskipun ia selalu menyatakan cinta. Ia suka menciderai tubuhku. Setelah ada darah keluar, ia akan menyembah dan mohon ampun padaku. Namun, ia akan mengulanginya lagi, dan minta maaf lagi. Setahun ini, kegilaannya semakin parah. Bermula dari masalah sepele. Tanpa pamit kepadanya, aku keluar rumah untuk makan bersama dengan Jonathan, seorang kawan lama.

“Setelah peristiwa dengan Jonathan, kegilaan Sukampret semakin parah, John. Ia sudah mulai sering ngomong sendiri. Mengunci pagar rumah dan tidak mengizinkanku keluar lagi. Bahkan, hampir setiap hari, aku menjadi sansak hidup. Ia terjangkit paranoid akut,” seruku.
John menghiburku. Dari nada suaranya, aku tahu ia sangat iba kepadaku. Ia mengatakan, ia berdosa besar bila tidak mengentaskanku dari jurang derita. Aku pun seperti seorang puteri dalam dongeng yang membutuhkan uluran tangan seorang pangeran dan John menjelma sebagai pangeran penolong itu yang datang dengan menunggang kuda putih, bersenjata pedang, dan perisai.

Pada malam selanjutnya, ketika John menghubungiku lagi, ia menawarkan jalan pembebasan. Aku merasa benar-benar telah meraih kembali kemudi cintaku yang terhempas dan kandas. Apalagi John menjanjikan taman penuh bunga dan arti sesungguhnya dari kata bahagia. John bersumpah akan membebaskanku dari kungkungan Sukampret. Kami akan hidup bersama sebagai sejoli dalam naungan cinta suci.
“Yang lalu biarlah berlalu, Carla. Yang penting, kita menatap masa depan. Aku tak rela bila hidupmu jauh dari bahagia, apalagi dirundung siksa! Kau yang tertusuk duri, aku yang merasa nyeri,” tutur John.

“Berarti aku akan terbebas dari Sukampret, John. Berarti kita akan keliling dunia, John! Kota-kota impianku!” tuturku, bungah.
“Asalkan kau bahagia! Kita akan ke tempat-tempat indah, penuh wangi bunga, bahkan yang belum pernah kau impikan, Carla!” seru John.
Aku pun berada di atas awan putih.

Namun, sekarang, John tak kunjung menelepon, meskipun jam sudah menunjuk angka 01.30. Batinku lebih dari sekadar gelisah. Ah, apakah John ketiduran? Tapi bukankah dalam seminggu ini, John selalu menepati janji, menelponku tepat waktu, dan sekalipun tak pernah ingkar? Bukankah John mengaku, ia kini merasa lebih bebas dan bahagia, apalagi setelah ia berpisah dengan isterinya? Ataukah sesuatu telah menimpa John di luar sana? Batinku mirip adonan kue yang terus diaduk.
Ketika kulihat angka jam sudah pukul 02.00, gelisahku pun memuncak. Aku bertekad menghubungi John lebih dulu. Aku tak ingin kekasih hatiku yang baru kembali itu tertimpa sesuatu. Aku pun menelpon.

“Halo, ini siapa ya?” aku kaget ketika terdengar suara perempuan dari seberang, seperti baru bangun dari tidurnya.
“Saya Carla. Maaf, saya kira ini nomor John?” seruku.
“Iya, ini nomor John. Saya isterinya,” seru perempuan dari seberang. Aku tercekat.
“Maaf, mengganggu. Maaf, telah membangunkan Anda dari tidur. Saya turut gembira bahwa kalian kembali bersama. O iya, apakah saya bisa titip pesan pada John? Mohon katakan padanya nanti pada saat ia bangun bahwa dinihari tadi aku menelponnya dan …,” tuturku.

Tapi tanpa menunggu aku selesai bicara, isteri John langsung menukasku, “Begini, Carla. Saya memang belum mengenalmu. Tetapi saya tidak dapat menyampaikan pesanmu pada John. Tujuh hari lalu John meninggal dunia.”

Aku seperti tikus mungil disambar elang raksasa. Kabar duka itu membuat jiwaku berantakan. Aku pun menangis histeris. Kenapa kesedihan demi kesedihan selalu merundungku, o nasib?
Ketika rasa sedih berangsur susut dari hatiku, aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar. Bila John sudah meninggal dunia tujuh hari yang lalu, kemudian siapa yang selama ini menghubungiku? Arwahnya? Aku tercenung. Lama.

Begitu sadar, aku pun memahami keadaanku sendiri. Ternyata aku juga sudah mati. 40 hari yang lalu. Aku dibunuh Sukampret. Kepalaku dibenturkan ke dinding berulang kali. Begitu ia tahu aku mati, ia menangis seperti anak kecil. Ia lalu membungkus jasadku dengan sprei, dan menanamnya di taman belakang rumah.

Yang aku tidak mengerti adalah keputusannya. Setelah mengubur jasadku dengan rapi, Sukampret bunuh diri. Ia memangkas kemaluannya sendiri.

On Sidokepung, 2020.

_______________
*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *