Guru Bahasa dan Sastra yang Cendekia-Literat


Djoko Saryono *

Dalam ingatan saya, dahulu dunia pendidikan bahasa dan sastra Indonesia banyak diisi oleh guru yang dapat digolongkan sebagai kaum cendekia dan kaum literati — dua golongan sosial yang memainkan peranan penting dan berarti dalam proses perjuangan dan pengisian kemerdekaan Indonesia. Selain mendidik atau mengajar (tak harus dipadankan dengan kata teach(ing), tapi asosiasikan dengan konsep ‘tunjuk ajar’ yang memuat makna adab dan budi pekerti), mereka tekun berpikir-bergagas, membaca, dan menulis buku secara otentik dan prolifik. Mereka tak hanya mereproduksi, mereplikasi atau menduplikasi pikiran-gagasan orang lain di dalam tulisan mereka. Mereka benar-benar mengkreasi dan memproduksi pikiran-gagasan berdasarkan realitas dan bacaan mereka yang dihela oleh pandangan dan sikap tertentu.

Dalam perjalanan bangsa dan perubahan zaman, seperti keadaan permukaan laut, tradisi guru bahasa dan sastra (Indonesia) yang mengisi golongan cendekia dan literati mengalami pasang-surut. Ringkas kata, guru bahasa dan sastra sebagai kaum cendekia dan kaum literati pernah pasang naik sehingga diperhitungkan zaman, tapi pernah pasang surut sehingga ditinggal zaman. Pada suatu masa, kita mendapati guru bahasa dan sastra (Indonesia) yang kebanyakan mendaur-ulang dan melayakan pikiran-gagasan yang sudah ada di samping kurang membaca dan menulis secara otentik dan prolifik. Ini akibat berbagai faktor struktural dan kultural yang menjerat dan menjepit ketat-kuat guru, bukan karena faktor personal-psikologis-sosial guru semata.

Walau demikian, sosok guru bahasa dan sastra sebagai kaum cendekia dan kaum literati tak padam sama-sekali. Tradisi berpikir-bergagas, membaca, dan menulis sebagai ‘tugas agung’ kecendekiaan dan keliteratan senantiasa ada penjaganya — maksudnya senantiasa ada guru yang mencemplungkan diri ke dalam peran kecendekiaan dan keliteratan dengan tekun-kuat berpikir-membaca-menulis secara otentik dan prolifik. Meskipun secara kuantitatif mungkin tak banyak (dibandingkan) jumlah guru bahasa dan sastra yang demikian, pada masa kiwari saya selalu mendapati guru bahasa dan sastra yang kreatif dan produktif berpikir, membaca, dan menulis secara otentik dan prolofik.

Di antara sekian banyak guru bahasa dan sastra yang rajin-tekun berpikir, membaca, dan menulis begitu otentik dan prolifik, saya ingin menyebut nama Prasetyo Utomo, Sudibyo Glendoh, M Shoim Anwar, A Iwan Kapit, Lubis Grafura, Tjahjono Widarmanto, dan Tjahjono Widijanto. Mereka itu contoh guru yang kini menjadi penjaga nyala tradisi kecendekiaan dan keliteratan di kalangan guru bahasa dan sastra. Dunia pendidikan persekolahan atau pembelajaran tanpa tradisi kecendekiaan dan keliteratan bisa menjadi monster yang membahayakan peradaban ke depan, dan mereka tak menginginkan hal tersebut terjadi. Maka mereka merawat kecendekiaan dan keliteratan dengan cara rajin berpikir-bergagas, membaca, dan menulis secara otentik dan prolifik. Karya-karya mereka memberi makna dan oksigen segar bagi kecendekiaan dan keliteratan di dunia pendidikan (pembelajaran). Bagi saya, merekalah para penjaga dan perawat tradisi pemikiran dan tradisi literasi di dunia pendidikan khususnya pembelajaran di habitus belajar paling depan, yaitu sekolah.

Kemarin saya girang sekali dan bahagia. Pasalnya, saya memperoleh hadiah tiga buku karya Tjahjono Widijanto, guru bahasa dan sastra Indonesia yang menjaga keliteratan dan kecendekiaan di jagat pendidikan. Tiga buku itu judulnya (1) Dari Kosmos ke Chaos, (2) Dari Jagad Wayang Hingga Perahu Lalotang, dan (3) Ajisaka dan Kisah-kisah tentang Tahta. Ketiganya buku otentik dan prolifik yang mencerminkan olah pikir-gagas yang didasarkan realitas dan bacaan yang kaya. Buku esai sastra berjudul Dari Kosmos ke Chaos mencoba membalik perspektif dan memuntir cara pandang pembaca karena kebiasaan kita berpikir dari chaos ke kosmos telah dibalik menjadi dari kosmos ke chaos. Buku esai budaya Dari Jagad Wayang Hingga Perahu Lalotang mengajak pembacanya berkelana ke pelbagai budaya lokal untuk dibersihkan dan didayakan bagi kepentingan masa kini. Kemudian buku antologi puisi Ajikasaka dan Kisah-kisah Tahta mengajak pembacanya menghikmati keperihan dan kenyerian memperjuangkan literasi yang berkelindan dengan kekuasaan.

Sudah begitu saja. Saya girang mendapat hadiah tiga buku sastra budaya karya Tjahjono Widijanto.

_______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *