MENUNTUT ILMU (1)

Pertemuan dengan mahaguru sastra HB Jassin dan St. Takdir Alisjahbana


[Bersama HB Jassin di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin TIM]
Djoko Saryono *

Berburu ke padang datar
dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
bagai bunga kembang tak jadi

Bagiku, kehadiran dan peranan guru dalam menuntut ilmu tak tergantikan oleh sarana dan alat apa pun, bahkan oleh teknologi secanggih apa pun. Kenapa? Dalam menuntut ilmu atau pengetahuan, hubungan guru dan murid itu bersifat koeksistensial-humanistis, saling mengada-memanusia, bukan hanya bersifat transaksional dan instrumental, bukan sekadar pengalihan dan tawar-menawar ilmu, apalagi dol-tinuku (jual-beli) ilmu.

Memang aku bisa belajar ilmu atau menuntut ilmu melalui sumber dan media tertentu, misal melalui buku, jurnal, majalah, dan sumber atau media lain baik lisan, cetak maupun digital. Namun, kesempurnaan dan kelengkapan ilmu (bagiku) memerlukan kehadiran guru; karena bagiku guru itu “separuh nyawa” ilmu yang bisa kutuntut — guru sejati itu akar, hulu, dan mata air ilmu. Guru yang kumaksud di sini bukan (sekadar) pendidik profesional, melainkan setiap orang yang menguasai dan mumpuni ilmu tertentu berkat kecintaan dan komitmen luar biasa kepada ilmu itu. Dalam hidupku, setiap ilmu perlu punya akar, hulu atau mata air yang jelas dan bening yang berasal dari orang yang mumpuni dan menguasai.

Kepada orang-orang yang menguasai dan mumpuni ilmu tersebut aku tak segan dan tak lelah berguru dan menuntut ilmu secara sungguh-sungguh, tak setengah-setengah, agar hasilnya juga tak setengah-setengah (baca: hasilnya utuh dan sempurna). Bukan “berguru kepala ajar” yang hasilnya “bagai bunga kembang gak jadi”, aku merasa harus berguru “tak kepalang ajar” agar “bunga menjadi berkembang”. Sebab itu, dengan segenap konsekuensi, aku berusaha mendatangi, menghadiri, dan atau beranjangsana ke tempat-tempat orang “yang bagiku merupakan guru sejati”.

Dahulu, ketika rasa ingin tahu sastra Indonesia dan kehendak belajar sastra Indonesia amat kuat-besar, bisa dibilang berbuncah-buncah, aku terpukau dua sosok mahaguru sejati sastra Indonesia, yaitu HB Jassin dan St. Takdir Alisjahbana. Bagiku, keduanya bintang kejora atau mercusuar sastra Indonesia yang sangat pantas digelari “mahaguru sastra Indonesia sepanjang masa” — keduanya pengawal dan penjaga denyut nadi kehidupan sastra (dan bahasa) Indonesia. Sebagai bintang kejora atau mercusuar sastra Indonesia, cahayanya membuat nanar.

Hasrat bertemu, berbincang, dan menimba ilmu sastra Indonesia kepada keduanya jadi mimpi sejak menjadi murid sekolah menengah dan mahasiwa. Bagiku, sungguh tak cukup bila hanya membaca buku-buku keduanya (yang bagi menjadi pembimbing masuk ke rumah sastra Indonesia). Sebab itu, dengan berbagai usaha cara aku senantiasa berusaha menemui dan bertatap muka dengan keduanya. Kadang aku sendiri, kadang bersama orang lain (baca: kelompok).

Maka dari itu, kadang aku nekad naik bus ekonomi atau kereta api Matarmaja kelas ekonomi ke Jakarta dengan tujuan bertemu dan dapat mendulang pengetahuan sastra dari HB Jassin atau St. Takdir Alisjahbana. Tiba di Jakarta, tujuan utamaku hanya ke TIM terutama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan atau ke Universitas Nasional (UNAS) Pejaten guna bertemu St. Takdir Alisjahbana. Apalagi kalau ada seminar (yang relatif jarang, tak seperti sekarang yang bak cendawan di musim hujan) yang pembicara utamanya HB Jassin atau St. Takdir Alisjahbana, aku sering nekad berusaha ikut dan hadir. Kalau bisa memprovokasi orang lain untuk ikut ya bersama-sama teman, kalau tak ada yang bisa diprovokasi ya berangkat sendiri.

Dengan cara demikian, aku dapat bertemu dan menimba ilmu sastra Indonesia kepada dua mahaguru sastra Indonesia yang menyilaukan diriku. Bagiku, baik HB Jassin maupun St. Takdir Alisjahbana adalah mahaguru sastra Indonesia yang sangat rendah hati, berbesar hati ditemui siapapun, hangat jiwa, dan melayani dengan telaten kepada siapa pun. Nama dan reputasi menjulang kedua beliau tak membuatnya enggan menemui murid seperti diriku. Berhadapan dengan kedua mahaguru yang kaya raya pengalaman dan pengetahuan, aku benar-benar murid yang hanya bisa mematung menyimak uraian kedua beliau. Dalam sepanjang hayat keduanya, aku merasa beruntung karena beberapa kali berjumpa dan berbincang di tempat kerja kedua beliau (semoga Allah memberi tempat terbaik bagi kedua mahaguru sastra ini). Baik sendiri maupun bersama kawan, oleh kedua beliau, aku merasa disambut hangat, penuh suka cita, dan dimartabatkan sedemikian rupa sebagai murid. Kedua beliau juga melayaniku cukup lama, berbilang jam, dan tak tampak tergesa-gesa atau berharap tamunya yang pemula dan awam lekas pergi.


[Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Bu Riris Sarumpaet di ruang kerja beliau]


[Bersama-sama kawan diladeni berbincang-bincang oleh Sutan Takdir Alisjahbana di ruang kerja beliau di UNAS Pejaten]

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *