NYAI PUTHUT, PERMAINAN NINI THOWOK KHAS MALANG

Mashuri *

Permainan Nini Thowok mashur sebagai permainan rakyat yang melibatkan kekuatan magis. Mirip-mirip jailangkung, tetapi lebih njawani. Konon, asal muasalnya dari kawasan pinggiran di negerigung Yogyakarta dan Surakarta. Namun, ternyata Malang memiliki permainan serupa dengan Nini Thowok, yang menggunakan media boneka dengan melibatkan ‘dunia lain’. Masyarakat Ngalam, eh Malang, tempo doeloe menyebutnya dengan permainan Nyai Puthut.

Dulu, permainan tersebut biasa digelar tepat pada saat candrakirana, alias saat rembulan bersinar purnama. Untuk mengundang arwah datang, dikumandangkan mantra dalam bentuk tembang. Ada juga yang menyempurnakannya dengan iringan musik dari peralatan gamelan Jawa. Begitu arwah merasuki boneka, boneka yang sudah direkayasa sedemikian rupa dengan dandanan perempuan itu seakan-akan hidup, bahkan dapat meloncat-loncat. Meskipun terkesan menakutkan dan membuat bulu kuduk meremang, permainan tersebut termasuk media hiburan tempo doeloe, ketika radio, televisi, dan film masih berdiam di alam khayalan. Apalagi main game dan main medsos. Meskipun ngeri dan menakutkan, banyak orang yang ingin ikut ambil bagian dan ketagihan…

Sayangnya, permainan itu kini jarang dimainkan dan sangat sulit ditemukan orang yang memainkannya. Bisa dikatakan sulit kuadrat, karena saking sulitnya menemukannya. Meski demikian, baru-baru ini, saya mendengar ada seorang budayawan Malang yang masih cukup mahir memainkannya. Beliau adalah Mbah Yongky Irawan. Beliau melakukan semacam ‘revitalisasi’ pada permainan tersebut, lengkap dengan filosofinya.

Sebelumnya, nasib permainan ini pasang surut. Mirip permainan tradisional lainnya di dunia ketiga ketika modernisasi menjadi arus besar. Apalagi permainan ini agak bernuansa mistis. Berdasar penelusuran saya, tercatat pada 1993, permainan Nyai Puthut pernah dimainkan kembali, sebagai ikhtiar dokumentasi pada sejenis kearifan lokal. Lokasinya bertempat Di desa Kromengan, Malang. Dengan tujuan untuk mengingat warisan budaya lama. Hal itu karena permainan tersebut termasuk langka dan vakum lama. Pasalnya, dalam waktu yang cukup panjang, permainan ini ‘dilarang’ dan ‘haram’ dimainkan, terutama oleh kalangan agamawan. Pada saat itu, tercatat hanya ada tiga orang di desa tersebut yang mampu memainkannya.

Untunglah, permainan ini pernah menjadi bahan studi akhir seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang, dulu IKIP Malang, pada tahun 1995, yaitu Mohammad Nasikh Lil Sidi, dengan fokus objek studi pada tembang-tembangnya. Dengan kata lain, yang dikaji adalah tembang mantra permainannya yang menggunakan pola bunyi tertentu untuk mengundang makhluk astral dari dunia lain, yakni Nyai Puthut.

Permainan Nyai Putut ini belum diketahui asal-muasalnya, maupun sejarahnya. Kemiripan dengan Nini Thowok ‘hanya’ terletak pada asal-usulnya yang menyangkut seorang wanita tua. Meski demikian, ada perbedaan dengan Nini Thowok. Dalam permainan Nini Thowok, wanita tuanya bersifat baik hati, sedangkan Nyai Putut berasal dari wanita tua yang masih gemar berdandan, yang lekas marah dan tidak senang jika ada orang yang mengolok-olok dandanannya.

Sifat emosional tersebut menjadikan permainan Nyai Puthut demikian atraktif karena penonton dituntut untuk terlibat aktif. Ihwal pembawaan dan sifat Nyai Puthtut, dapat ditelusuri dari tembang mantranya, yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang dulu suka berdandan. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai pelacur. Ia kemudian meninggal dunia dan arwahnya dapat dihadirkan kembali untuk menari dengan media boneka. Dalam mantra disebut, ia pernah menjadi pelacur tetapi akhirnya menjadi bidadari. Pembaca ingin tahu mantranya? Wani piro? Paling-paling kalau saya kasih tahu, nanti dibuat main untuk mendapatkan nomor togel. Ups!

Permainan Nyai Putut dapat dimainkan oleh laki-laki atau perempuan. Dengan catatan, yang bersangkutan mendapatkan pewarisan mantra dan teknik memainkannya dari orang yang mampu sebelumnya. Kalau tidak ‘sambung ilmu’ begitu, dikhawatirkan ia hanya mampu mengundang tetapi tidak mampu memulangkan. Nah, ini yang bisa berbahaya. Permainan ini dapat menjadi seram dobel kuadrat lagi. Hiiii!

Sebelum memainkan atau ‘menghidupkan’ boneka Nyai Puthut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemain. Selain penguasaan tembang mantra, pemain harus menyisir rambut boneka dan memasang kaca di depannya. Pencahayaannya memanfaatkan pantulan sinar rembulan. Hal itu karena permainan ini biasa dimainkan ketika rembulan sedang bersinar sempurna, alias rembulan purnama. Oleh karenanya, pada tempo doeloe, permainan ini menjadi alternatif hiburan, bagi remaja dan orang tua. Adapun bagi anak-anak, mereka menggelar permainan rakyat lainnya yang cocok buat mereka, seperti gobak sodor, benthik, tekong, dan permainan lainnya.

Ketika arwah sudah datang setelah dipanggil dengan tembang dan merasuk ke boneka, boneka yang sudah didandani sedemikian rupa itu akan bergerak. Bahkan, ia akan semakin ndadi (menjadi-jadi) sesuai dengan reaksi penonton. Apabila penonton mengejek atau mengolok-oloknya, ia akan semakin aktif bergerak, bahkan bila emosinya memuncak, ia akan kumat, sampai melompat-lompat. Pertanda ia tidak suka atau sedang marah besar.

Ah, namanya juga perempuan, meskipun sudah menjadi arwah, kalau diejek dandanannya menor dan jelek, emosinya kambuh juga. Ups! Maaf.

On Sidokepung, 2020.

_______________
*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *