Orasi Sastra – Kesaksian Personal

Darman Moenir *
Haluan, 27, 28, 29, 31 Agu 2015

SAYA berbahagia ber­­pidato sastra yang bersifat per­sonal pada hari ini, Sabtu, 22 Agustus 2015. Betapa lagi pidato ini harus dimulai dengan menyebut halaman Remaja Minggu Ini (RMI) Harian Haluan yang berawal pada 1976 dan ber­akhir 1999. Ruang ini jadi persemaian kelahiran sastra­wan dari Sumatera Tengah penggal kedua abad lampau. Pula, masa-masa itu menda­tangkan kenangan tersen­diri, sesudah dinamika Grup Krikil Tajam yang saya pim­pin pada 1973, berakhir. Sebelum RMI eksis, sudah ada halaman Budaya Ming­gu Ini (BMI) tiap Selasa.

Izinkan saya menjelas­kan, Haluan adalah salah satu surat kabar tertua di Indonesia, didirikan oleh H. Kasoema bersama Adaham Hasibuan dan Amarullah Ombak Lubis. Menurut Wi­ki­pe­dia, Ensiklopedia be­bas, edisi perdana Haluan terbit pada 1 Mei 1948 di Bukittinggi. Selama dan sehabis pergolakan PRRI, April 1958 sampai Mei 1969, surat kabar ini ber­henti terbit. Pada bulan Mei 1969 Haluan kembali bere­dar. Tercatat wartawan yang mengawaki Haluan, antara lain, H. Kasoema, Rivai Marlaut, Chairul Harun, M. Joesfik Helmy, Sjafri Segeh, Annas Lubuk, A. Pasni Sata, Rusli Marzuki Saria, Basri Segeh, Sy. Datuk Tuo. Pada generasi berikut muncul nama-nama Benny Aziz, Nasrul Djalal, Sjukril Sjukur, Azurlis Habib, Ersi Rusli, Darman Moenir, Masri Mar­­­­jan, Wall Paragoan, Yal­vema Miaz, Herman L., Mufthi Syarfie.

Sejak 1 November 2010, Haluan berada di bawah kendali pemodal baru, H. Basrizal Koto. Pada masa awal manajemen baru ber­tin­dak jadi Pemimpin Umum H. Basrizal Koto, Wakil Pemimpin Umum Zul Effendi, Pemimpin Re­dak­si Yon Erizon, Kepala Litbang Eko Yanche Edrie. Di masa ini Nasrul Azwar pernah menjadi Redaktur Seni Budaya, berbuat profe­sional. Untuk satu kata yang meragukan pun Mak Naih, demikian panggilan akrab Nasrul Azwar, meng­h­bungi penulis naskah. Ikut jadi redaktur Ismet Fanany, Rusdi Bais, Hendra Dupa. Ki­ni­ (2015) Pemimpin Umum/Penanggungjawab Zul Effendi dengan Pemim­pin Redaksi Yon Erizon.

Pada 1976, di tahun “RMI “ bermula, saya belum setahun bergabung di Ha­luan. Pada 18 Mei 1975 saya menikahi kekasih, Darhana Bakar (hadir pada acara ini, dan ke mana-mana kami sering berdua), dan saya meninggalkan “pekerjaan” guru bahasa Inggris di RP INS Kayu Tanam. Di INS, saya diajak A.A. Navis yang tahu saya menyelesaikan tingkat sarjana muda jurusan bahasa Inggris di ABA Pra­yoga Padang. Istri saya setuju saya bekerja di Haluan. Dan Pak Kasoema mau menga­jak saya dengan alasan, saya, lapeh makan, bisa berba­hasa Inggris, dan saya tamat Sekolah Seni Rupa Indo­nesia (SSRI) Negeri Padang. Mungkin saya dianggap tahu tata wajah surat kabar?

Pada tahun 1975 itu, Haluan mulai menggunakan cetak web offset tetapi huruf masih ketik timah. Pak A. Hamid, Pemimpin Peru­sahaan, minta saya meran­cang logo. Merujuk logo terdahulu, saya ajukan tiga. Satu diterima, dan itulah logo Haluan, persis, terpakai sampai kini. Ketika Basrizal Koto membeli Haluan, saya diajak rapat awal oleh Hasril Chaniago yang ikut mem­bidani. Usul saya untuk moto Haluan, Mencer­das­kan Kehidupan Masyarakat, diterima dan terpakai.

Kerja rutin-awal saya di Haluan adalah korektor, pembetul ketikan. Haluan pada waktu itu terbit delapan halaman. Kerabat kerja saya adalah Djasmani, Daswir Wahiduddin, Masri Marjan (kelak jadi wartawan andal, pernah jadi Ketua PWI Su­ma­tera Barat), Mufthi Syar­fie (kini komisioner KPU Sumatera Barat), Aldjufri Sjahruddin (dosen UNP), Armansjah Nizar (terkenal dengan sebutan Mang­ku­tak), Uzmil Argan, Indra Merdy (kelak jadi redaktur).

Sebagai korektor, tentu saja kami bukan saja mem­baca tetapi bahkan meme­riksa semua naskah yang diset sehingga, dengan demi­kian, saya tahu naskah-nas­kah yang disiapkan untuk RMI dan BMI oleh Redak­tur Budaya Rusli Marzuki Saria (RMS). Biarpun bebe­rapa tahun sebelum itu seca­ra pribadi saya sudah menge­nal Papa RMS, tetapi saya tidak mau mengusik naskah (sering disebut kopai, copy, maksudnya kopi) yang di­siap­kan dengan sungguh-sungguh, terencana, dan se­lek­tif. Otonomi dan karisma RMS sangat kuat, jujur, ter­pu­ji, tahan banting. Untuk Minggu, sudah ada sebundel naskah di ruang mesin cetak timah pada hari Kamis. Untuk Selasa, naskah disiap­kan dan mulai diketik Sabtu.

Ada puisi, cerpen, esai, kritik, dan vignet (ilustrasi). Seleksi dilakukan sendiri oleh RMS. Naskah masuk tiap hari, via pos atau diantar sendiri. Dan itu dikerjakan RMS selama 30 tahun lebih.

Sebagai korektor, dan sekali-sekali menulis berita, saya juga menyerahkan nas­kah sastra dan terjemahan sastra ke RMS tetapi untuk BMI. Saya pernah “antrean” dua tahun sebelum sajak-sajak saya dimuat, antara lain, Shelly Kecil yang saya terakan di bagian awal novel Bako (BP, Cetak Pertama 1983). Shelly Kecil kemu­dian me­nang Sayembara Menulis Puisi IKIP dan, 1973, dimuat di majalah sastra paling bergengsi, pada masa itu, Horison. Beberapa bulan sebelum pemuatan, sebagai salah seorang redak­tur, Sa­pardi Djoko Damono me­nyurati saya, bahwa sa­jak-sajak saya lolos seleksi, dan (akan) dimuat Horison. Dan Shelly Kecil mengan­tarkan saya ke Pertemuan Sastrawan Indonesia 1974 di TIM Ja­karta. “Sajak DM sudah ada di Horison,” ujar Navis mem­beri alasan me­nga­pa saya dan belasan sas­tra­wan dari Su­matera Barat diajak ke per­temuan itu. Semua biaya transportasi dan uang saku dicarikan dan disediakan Bang Navis. Itu­lah pertama kali saya meli­hat Monumen Nasional pa­da malam hari. Menak­jub­kan! Dan di per­temuan itu­lah saya, malu-malu, berja­bat tangan dengan W.S. Ren­dra, Ramadhan K.H., Slamet Sukirnanto, Darmanto Jat­man, Aspar Paturusi, dan mengintip tem­pat tinggal Taufiq Ismail, di mes, sebe­lah Wisma Seni (sekarang sudah tidak ada) di kom­pleks TIM. Pada per­temuan itu pula saya ber­kenalan dengan orang-orang seusia: Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Yudhis­tira Ardinoegraha, Adri Damardjo Woko, dan Ebiet G. Ade. Dan puluhan yang lain.

Ke rumah kontrakan RMS di Koto Marapak, Ko­-t­a Padang, saya beberapa kali bertamu, sehingga saya me­nge­nal istri RMS dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Ke sana saya belajar dan berdiskusi sastra, meminjam buku-buku sastra penting dan bundel majalah Horison (semua pinjaman kemudian saya kembalikan). Di tem­pat-tinggal RMS pula saya jumpa dan berkenalan de­ngan Navis yang, antara lain, mengusul agar saya banyak membaca, membentuk grup, dan menyatakan, kalau ingin jadi penulis jangan kaung, jangan menyiarkan karya di Padang ke di Padang saja. “Kalau perlu,” jelas Navis, “jual nama saya.”

Imbauan Bang Navis me­­mang saya lakukan, dan pada 1971, sebuah cerpen saya dimuat Indonesia Raya dengan Pemred Mochtar Lubis. Cerpen saya berjudul Nasib, tetapi oleh redaktur diubah jadi Gantungan su­dah Putus. Lima belas hari kemudian, nomor bukti pe­muatan dan wesel hono­rarium berjumlah besar sampai ke alamat kos saya. Pada 1970, setahun sebelum itu, dalam usia 18 tahun, cerpen saya bertajuk Senja Penentuan dimuat Haluan dengan Redaktur Minggu M. Joesfik Helmy.

Mengetahui ada cerpen saya dimuat di Indonesia Raya, wartawan junior Masri Marjan mewawancarai saya, dan memuat hasil wawan­cara itu di majalah hiburan, Selecta, 1972. Menjawab pertanyaan apa keinginan saya, kepada MM saya jelas­kan: semoga Hadiah Nobel Sastra jatuh ke tangan sastra­wan Indonesia. Dan sung­guh-sungguh pemikiran itu bersarang di benak saya setelah membaca sejumlah buku sastra bermutu, ter­ma­suk yang dipinjamkan RMS.

Ajakan Navis agar saya membentuk Grup Studi Sastra saya tunaikan, ya, dengan Krikil Tajam itu. Bersama A. Chaniago Hr., Asnelly Luthan, Harris Effen­­di Thahar, R. Lubis Zamaksjari, Sjahida Siddiq, Sjaiful Usmar, Zulfikar Said, Yalvema Miaz, Susian­na Darmawi, Bakhtaruddin Nasution, Sjaiful Bachri, Tabah R. Rawisati, dan satu-dua nama lain yang luput dari catatan saya. Tiap hari Minggu, hampir setahun, kami benar-benar studi sas­tra secara komprehensif, mendalam. Paling menge­sankan, grup itu mendapat atensi besar bukan saja dari Na­vis dan RMS tetapi juga dari Mursal Esten, Chairul Harun, Nasrul Siddik, Roes­tam Anwar, Zaidin Bakry, Bhr. Tandjoeng, Muslim Ilyas, M.S. Sukma Djaja, A. Pasni Sata, Wisran Hadi, Upita Agustine, M. Joesfik Helmy, Shofwan Karim Elha, Zaili Asril, Emma Yohanna, Bagindo Fahmy, Ridwan Isa, Makmur Hen­drik, Yanuar Abdullah, Ben­ny Azis, Sjukril Sjukur, Nasrul Djalal, Anas Kasim, Sabaruddin Abbas, Satni Eka Putra, Uzmil Argan, Alwi Karmena, Asril Joni, Zainul Basri, A. Karim (yang suka mengajukan per­tanyaan: ke mana kesu­sas­traan Indonesia diarah­kan?). Kepada mereka saya berutang besar.

Puncak kegiatan Krikil Tajam adalah “Malam Apre­­­siasi Sastra” yang dise­leng­garakan di Taman Me­lati pada 22 Desember 1973. Mengurus penye­leng­garaan acara, Asnelly Lu­than dan saya diinterogasi Laksus Pangkopkamtibda selama 48 jam, siang-ma­lam. Semua sajak yang akan dibacakan disensor, di­(per)­tanyakan. Semua data pribadi, foto-diri dari pel­bagai arah, sidik-jari, siapa induak-bako, siapa sahabat kental, direkam. Pak Mayor Kahfi dan Pak Mayor Hen­dro bersama anggota mere­ka, yang mengin­tero­gasi, berlaku simpatik, bah­kan membasai rokok ber­merek. Dan acara “Malam Apre­siasi Sastra” yang ber­lang­sung di bawah cahaya an­dang dan tidak boleh liwat dari pukul 23.00 WIB itu dihadiri lebih banyak oleh intel dan aparat bersenjata lengkap. Sehari sesudah pe­ris­tiwa, iven itu jadi berita. Ha­luan keluar dengan pojok Dr. Ronda: semoga dari da­e­rah ini lahir Rendra-Ren­dra baru. Indonesia Raya dan BBC London mem­­­beri­ta­kan se­hingga ka­bar itu me­na­sio­nal dan men­­­­dunia. Ti­dak ada kai­tan sa­ma se­ka­li, sebulan ke­mu­dian di Ja­kar­ta me­mang meledak Pe­ris­tiwa Ma­la­ri 1974 de­ngan ak­tor uta­ma Hariman Sire­gar.
***

DENGAN “pe­nga­laman” sastra se­perti itu, saya kian tertarik dengan ke­ha­diran “RMI 1976” na­mun, kesibukan rutin saya yang tidak bisa diundur-undur dengan pekerjaan menjadi korektor tidak me­mungkinkan saya bertemu dan berdiskusi banyak de­ngan para penulis pemula yang datang silih-berganti. (Hujan lebat, petir dan kilat membahana, puting beliung, ombak menggulung besar di Pantai Puruih, tidak boleh menghalangi kami untuk hadir di ruang koreksi).

Membaca pruf dan teks da­lam bentuk koran halaman budaya saya lakukan setiap terbit. Saya baca sajak-sajak itu, cerpen-cerpen itu, esai-esai itu, dan kritik-kritik itu. Kegemaran membaca ini saya pelihara sampai seka­rang.

Tiap pagi, sampai hari ini, selain buku-buku (usang dan baru), saya rutin mem­baca empat harian yang terbit di Padang (sesuai abjad: Haluan, Padang Ekspres, Pos Metro Padang, Singga­lang), satu dari Jakarta (Kom­­pas), satu majalah berita mingguan setiap pe­kan, dan satu majalah sastra setiap bulan. Di era internet, saya menyigi ruang-ruang budaya banyak koran, ter­masuk The New York Times. Dulu, saya pernah berlang­ganan The Jakarta Post, Newsweek, dan membaca The Archipel Journal. Saya membaca Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, pada suatu hari, mulai pukul 10.00 pagi, dan selesai pukul 02.00, dinihari. Tidak sebu­lan sesudah itu, Bumi Manu­siadilarang beredar. Saya membaca, membaca, mem­baca, menjaring makna. Per­nah saya melanggani bebe­rapa surat kabar khusus edisi hari Minggu saja, yang me­nye­diakan halaman budaya atau ruang sastra, terutama yang terbit di Jakarta.

Syukur, sekarang, kita merdeka, termasuk merdeka untuk membaca. Lebih awal, saya terpesona dan kagum, setiap jumpa Chairul Harun, saya selalu menampak di tangannya ada beberapa eksempelar koran dan buku. Bang Chairul mungkin ogah membawa Echolac atau tas seminar. Tetapi saya berke­simpulan, dia pembaca (bu­ku-buku dan surat kabar) berat. Di Manila, saya per­nah diajak Pak Mochtar Lubis bertamu ke rumah seorang Guru Besar untuk mendapatkan goreang talua bulek balado. (Lidah Padang begok saya tidak berterima menu makan manis-manis, bergizi dan berkalori tinggi, bertarat internasional itu.) Semua dinding lantai dasar dan lantai satu rumah besar itu penuh (rak) buku. Saya pun terpana menyaksikan orang asing, di ruang tunggu bandar udara, di waktu isti­ra­hat di kampus, selalu mem­baca, membaca dan membaca buku. Ke mana-mana, dalam tas mereka, ada buku bacaan. (Kini, tentu saja, banyak orang punya telepon genggam, dan de­ngan gawai, berselancar di dunia maya. Mereka juga membaca?)

Dan saya berusaha benar menjaga hubungan baik, silaturahmi, dengan para senior, sahabat seangkatan, dan yang berusia lebih mu­da. Untuk menyebut bebe­ra­pa, biarpun acap kena sarengeh, saya relatif dekat dengan suhu A.A. Navis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Mursal Esten, Moch­tar Lubis, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Danarto, Hamsad Rangkuti, Leon Agusta, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Dami­ri Mahmud, A. Rahim Qah­har, Husni Djamaluddin, bahkan juga Ismail Hussein di Malaysia, Djamal Tuki­min di Singapura, Fransisco Sionil Jose di Filipina. Tentu saja saya pernah berdiskusi dengan Umar Kayam, Umar Junus, Goenawan Moha­mad, Budi Darma, Toeti Heraty Noerhadi, Ikrana­gara, Radhar Panca Dahana, Nirwan Arsuka, Nirwan Dewanto, Afrizal Malna, Taufik Ikram Jamil, Adek Alwi, Isbedy Stiawan Z.S. Ke Jakarta, saya menyem­patkan diri singgah ke Jalan Bonang 17, atau ke kantor Yayasan Obor di Jalan Plaju, untuk berjumpa dengan Pak Mochtar Lubis. Ketika ke Padang, Mochtar Lubis bah­kan mampir ke Jalan Pasa­man II/170, Kompleks Pe­-rum­nas Siteba, Kelurahan Surau Gadang, Nanggalo, tempat tinggal saya. Istri saya menjamu Mochtar Lubis dengan teh manis, dan tum­bang ubi bakarambie. Sering Pak Mochtar Lubis mengi­ngatkan, bahwa penulis itu harus berani, jujur menyam­paikan kebenaran dan tidak menggadaikan apalagi men­jual (harga) diri. Tidak lupa pengarang Harimau Hari­mau itu memberi saya buku. Mochtar Lubis bahkan min­ta saya menerjemahkan no­vel The Moonson Country, nominator penerima Ha­diah Nobel Sastra, oleh Pira Sudham dari Thailand. No­vel itu saya terjemahkan dengan judul Negeri Hujan, dan diterbitkan Yayasan Obor (Jakarta, 1999). Pe­nyun­tingan terhadap terje­mahan saya langsung diker­jakan Mochtar Lubis.

Dari mereka dan pemba­caan sejumlah buku kemu­dian saya menerima pema­haman dan pencerahan, bah­­wa untuk berbuat kreatif, sekali lagi, berbuat kreatif, di bidang sastra itu memer­lukan kerja keras, bersung­guh-sungguh, berpeluh, ma­ti-matian, tidak mengenal lelah, banyak membaca dan berupaya memaknai kehi­dupan. Menemukan sesuatu yang baru, itulah ujud kon­kret kreativitas. Mengulang apa yang sudah dikerjakan M. Yamin, Amir Hamzah, Chairil Anwar atau Marah Roesli, Abdoel Moeis, Ar­mi­jn Pane, Hamka, Iwan Simatupang, dan seurut sas­tra­wan besar dan penting lain jadi sia-sia. Betapa lagi saya sempat membaca bebe­rapa karya Boris Pasternak, Yukio Mishima, Ernest Hemingway.

Konsep dan tesis penting dan mendasar ini pula yang sepuluh tahun belakangan saya sampaikan kepada pulu­han bahkan ratusan siswa, mahasiswa dan guru-guru bahasa Indonesia se-Suma­tera Barat yang saya dam­pingi ketika mereka mengi­kuti Program Pelatihan Me­nulis (Puisi, Cerpen, Novel, Esai) yang ditaja Balai Baha­sa Provinsi Sumatera Barat di berbagai kampus dan sekolah, dan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Pendamping lain adalah Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Upita Agustine, Gus tf Sakai, Har­ris Effendi Thahar, Maman S. Maha­yana, Jamal D. Rah­man, Joni Ariadinata, Iman So­leh, Yusrizal K.W., Ab­du­l­lah Khusairi, Zelfeni Wim­ra, Endut Ahadiat, Mu­ham­mad Ibrahim Ilyas, S. Met­ron Masdison, Syuhen­dri.

Di masa jadi korektor itu saya gamang apakah saya akan mampu menulis karya yang bagus? Kemudian saya juga sempat menyimak Al­bert Camus, Penerima Ha­diah Nobel Sastra 1957: “Setiap orang, dengan alasan yang kuat, setiap seniman, sastrawan, ingin diakui.” Lalu, apa kelak saya bisa diakui, diterima, dalam blan­tika sastra? Untuk itu, saya membatin, bahwa saya harus melahirkan karya bermutu, betapa pun relatif dan atau absurd ukuran bermutu itu! Saya memang tergila-gila sesudah membaca dan mem­­baca ulang kehebatan pan­tun, soneta, sajak-sajak mo­dern Indonesia, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Merantau ke Deli, Belenggu, Senja di Ja­kar­ta, Merahnya Merah, Godlob, ratusan bahkan ribuan puisi dan cerita pendek.

Di masa jadi korektor, di zaman BMI dan RMI itulah, saya menulis novel Gumam yang entah mengapa, berani-berani saja saya menyer­takan ke Sayembara Penulis Roman DKJ 1976. Ternyata ada 43 naskah roman yang menyertai, dan Gumam termasuk naskah (novel) yang layak diterbitkan seba­gai bacaan biasa. Tujuh nas­kah lain yang direko­men­dasi adalah Mata-mata (Su­par­to Brata), Di Atasnya Pepuingan (Tri Rahayu Pri­hat­mi), Jatuhnya Benteng Batu Putih (Mohayus Abu­komar), Maryati dan Ka­wan-kawannya (Suwarsih Djojopuspito), Keok (Putu Wijaya), Jembatan (Edi­ruslan Pe Amanriza) dan Warisan (Chairul Harun). Pada Sayembara 1976 itu tidak ada Juara I. Juara II diraih Upacara oleh Korrie Layun Rampan dan Juara III Pembayaran oleh Kowil Daeng Nyonri (Sinansari ecip, yang kelak juga saya kenal baik). Dewan Juri: H.B. Jassin, Ali Audah, Mh. Rustandi Kartakusuma, Do­dong Djiwapradja, dan M. Saleh Saad.

Gumam benar-benar me­­­le­­cut saya. Saya siasati dan pelajari lagi novel-novel bermutu, yang selalu dibi­carakan, didiskusikan, di­ang­gap terbaik. Empat tahun kemudian, 1980, saya kem­bali ikut Sayembara Penu­lisan Naskah Roman DKJ. Selama tiga tahun saya me­nu­lis Bako yang pada awal­nya hendak saya beri judul Mendiang atauSilsilah. Pe­ngerjaan Bako benar-benar berpeluh, lima kali ketik ulang, dengan mesin ketik biasa. Paling akhir, harus pakai lima lembar kertas karbon setiap kali mengetik rangkap enam. Dan penge­tikan harus diulang total dari baris pertama di halaman yang sama bila terjadi salah ketik di baris ke duapuluh. Salah ketik saja bisa diakali, bisa dihapus. Tetapi, celaka, ada kata yang tertinggal, atau ada frasa yang harus ditam­bahkan! Mana ada tip eks, mana ada laptop pada tahun itu. Betul-betul kerja keras! Sekarang? Menyunting nas­kah alangkah mudah. Dari halaman tujuh bisa langsung berpindah ke halaman tujuh puluh.

Dan, alhamdulillah, luar biasa. Bako dinyatakan men­jadi satu di antara Tiga Peme­nang Utama. Disusun menu­rut abjad, Tiga Pemenang Utama itu adalah Bako (Dar­­man Moenir, Padang), Hara­pan Hadiah Harapan (Nas­jah Djamin, Yog­yakar­ta), Olenka (Budi Darma, Sura­baya). Ada lima Peme­nang Harapan: Den Bagus (Sudar­moko, Surabaya), Dicari Hari yang Cerah (E. Noh­bi, Jakar­ta), Ketika Lam­pu Berwarna Merah (Ham­sad Rangkuti, Jakar­ta), Merdeka (Putu Wijaya, Ja­karta), dan Panggil Aku Sa­kai(Ediruslan Pe Aman­ri­za, Pekanbaru). Nas­kah ma­suk 25, hanya 23 yang me­­menuhi syarat. Dewan Ju­ri: Ali Audah, Sapardi Djo­ko Damono, Dami N. To­da, Toeti Heraty Noerha­di.

Merayakan kemenangan Bako, A.A. Navis menjamu saya dan keluarga makan bersama di sebuah rumah makan terkenal “Serba Nik­mat” di Kota Padang. Ja­muan itu dihadiri oleh Gu­ber­nur Sumatera Barat, Wa­li­kota Padang, beberapa Guru Besar, sastrawan, bu­da­yawan, dan seniman terke­muka, berjumlah sekitar 40 orang. Semasa Navis hidup, tradisi merayakan keme­nangan itu berlanjut.

Ajip Rosidi dari PT Pus­ta­ka Jaya menyurat, penerbit yang dia pimpin dan asuh sedia menerbitkan Bako. Saya terlambung! Pustaka Jaya mau menerbitkan?! Tetapi ada syarat, kalau boleh, judul diubah: Keluar­ga Ayah atau apa. Saya galau. Bukankah saya sama sekali belum punya naskah sastra yang terbit menjadi buku? Tiba-tiba ada tawaran luar biasa. Namun, setelah saya pikir, judul tidak usah di­ubah, dan biarlah Bako be­lum terbit. Pada hemat saya, pada diksi bako ada sistem dan sekaligus kebaruan. Pa­da akhirnya tawaran untuk menerbitkan Bako itu datang dari PN Balai Pustaka. De­ngan acc Redaktur Sastra Soetjipto, Soebagio Sastro­wardojo, Abdul Hadi W.M., dan Hamid Jabbar, saya menanda-tangani kontrak penerbitan dengan BP. Para redaktur menjelaskan, di sana-sini ada penyuntingan, dan saya setuju. Dari sinilah saya tahu dan kemudian belajar banyak teknik pe­nyun­tingan naskah. Pada cetak pertama, Bako terbit 5.000 eksemplar, dan saya menerima wesel royalti pe­ner­bitan. Biarpun tidak ba­nyak, alangkah enak mem­beri makan bini dan anak-anak dengan honor karya sas­tra. Syukran. Sampai 2013, Bako sudah tujuh kali dicetak BP (termasuk dua kali untuk naskah elek­tronik). Pada akhir 2012, Dewan Kesenian Jakarta pun melakukan digitalisasi terhadap Bako.
***

BAKO mengan­tar­kan saya ke mana-mana di Indonesia, di Asean, bahkan
ke International Writing Program di Iowa City, Ame­rika Serikat, 1988. Di kantor Kedutaan Besar AS di Mer­deka Selatan, Jakarta, saya mengetahui, bahwa ke IWP saya ternyata direkomendasi oleh Wisran Hadi, Taufiq Ismail, Satyagraha Hoerip, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Mochtar Lubis, Peggy R. Sunday.

Rekomendasi Taufiq Ismail dan Mas Oyik (sapaan akrab Satyagraha Hoerip) sangat didengar oleh USIS dan IWP. Sebelum berangkat ke AS, saya menerima “materi” berharga dari Goenawan Mohamad dan Ikranagara untuk, kalau-kalau, PEN Club New York bertanya mengapa buku-buku Pra­moedya Ananta Toer (pada masa itu) dilarang beredar di Indonesia.

Diskusi tentang Pram memang berlangsung di New York. Di AS, peserta diajak keliling ke 13 Negara Bagian, Pantai Timur, Pan­tai Barat, dan Amerika Te­ngah, Sante Fee. Sungguh-sungguh, sepuluh tahun se­be­lum itu, 1978, Wisran Hadi yang sedang mengikuti IWP menyurati saya, dan menyuruh saya membeli koper dan baju panas untuk juga terbang ke AS. Mungkin WH melucu, atau melagak, entahlah, tetapi itu memang terjadi: saya ke AS, diun­dang sebagai seorang sastra­wan Indonesia. Kecuali un­tuk fiskal, tidak serupiah pun saya menggunakan uang dari Sawah Tangah, kampung-halaman saya. Dan sepulang saya dari AS, dengan sedikit gegar budaya, istri saya ber­tanya: apa rumah kita bisa direhabilitasi?

Melalui Bako pula saya berkenalan dengan beberapa calon sarjana S1, S2, S3 di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luarnegeri. Mereka bertanya tentang dan mengenai (novel) Bako. Bahkan dari Universitas Udaya, Bali, saya menerima pertanyaan yang semua di­mu­lai dengan kata apa, sia­pa, mengapa, bilamana dan bagaimana. Apabila semua pertanyaan itu saya jawab, maka sebuah skripsi pun rampung.

Kembali ke RMI, saya masih mengikuti biarpun mungkin tidak secermat dulu. Sesungguhnya saya pernah diminta untuk mem­beri ulasan (terutama sajak dan cerpen), teta­pi saya kha­wa­tir­ tidak mampu menjaga ke­­sinambungan. Padahal inilah yang pernah dita­warkan Abrar Yusra ketika kami sama bermar­kas, sama mengajar, di RP INS Kayu Tanam. Menurut Abrar Yus­ra, saya suka mem­baca dan punya potensi untuk menu­lis kritik sastra. Pula, biar­pun (pada masa itu) ada H.B. Jassin, M.S. Huta­galung, S. Boen Oe­mar­jati, Mursal Esten, Luk­man Ali, Rustandi Kartaku­su­ma, te­ta­pi kriti­kus sastra Indonesia masih sangat se­dikit. Pen­dapat Abrar Yusra menarik per­hatian, dan saya ber­bicara dan mengulas sajak-sajak Rusli Marzuki Saria dan Abrar Yusra da­lam dis­kusi sastra di Pusat Kesenian Padang. Paling menarik, kedua tulisan itu kemudian dimuatKompas (1975 dan 1976). Namun menulis kri­tik sastra itu tidak selalu saya lanjutkan. Saya ingin menu­lis cipta sastra kreatif. Na­mun, sung­guh-sungguh, ti­dak mudah.

Biarpun demikian kritik terhadap karya-karya sendiri senantiasa saya lakukan, sampai kini, dan entah sam­pai kapan. Pengalaman dari Bako yang disunting Redak­tur Sastra Balai Pustaka mengajari saya untuk me­nyun­ting puisi, cerpen, no­vel, esai dan tulisan sendiri, berkali-kali. Saya mengu­payakan agar tulisan saya tidak (perlu) disunting lagi. Itu terjadi pada novel-novel saya Dendang (BP, 1988, mengantarkan saya untuk menerima Hadiah Sastra 1992 dari Pemerintah Repu­blik Indnesia) dan Aku Ke­luar­gaku Tetanggaku (BP, 1993, Meraih Hadiahn II Sayembara Novel Kartini 1986), Andika Cahaya (Akar­ Indonesia, 2012), dan novel-novel yang belum ter­bit, termasuk novel yang terakhir, Paco-paco (2012). Novel-novel terbit itu tidak mengalami penyuntingan, kecuali oleh saya sendiri. Satu tanda titik, tanda koma, tanda seru, satu diksi, frasa, kalimat, satu alinea, bab, saya perhitungkan dengan cermat. Judul! Ini yang tidak kalah penting, perlu diper­tanggungjawabkan. Jangan sebagai akibat rayuan pasar atau penerbit lalu pengarang mau saja mengubah dan mengganti judul.

Paling mengesankan, ingin saya sebut, adalah ketika Wiswan Hadi minta saya untuk membaca naskah no­vel Tamu pada 1992. Ti­dak sam­pai sa­tu ha­­ri satu ma­lam, nas­kah­­ itu (175 ha­­la­man kuarto satu se­te­ngah spasi) rampung saya baca. Tetapi, celaka, hampir setiap alinea, setiap hala­man, setiap bab, nakah novel per­tama Wisran Hadi itu saya corat-coret, dengan tinta merah lagi. Itu memang kerja pe­nyuntingan yang “ganas” tetapi bukan dengan kema­rahan. Guru dan saha­bat saya itu tidak keberatan, bahkan berterima kasih, dengan tam­­­­­­­b­ahan: ko ndak bahonor do,­ Man (ini tidak punya ho­nor, Man). Saya terpingkal. Ta­­mu ke­mudian dimuat ber­­­­­­­sam­bung di Repu­blika, 1994) dan diterbitkan Pus­taka Uta­ma Grafiti, 1996. Bah­kan dino­batkan jadi bu­ku terbaik. Dan, ke­mu­dian, beberapa nas­kah Wisran Hadi (bukan lakon) saya sunting. Ter­akhir saya me­nyun­ting novel Per­siden Wis­ran Hadi (Ung­gu­lan Lomba Roman DKJ 2010,­ diter­bitkan Ben­tang, 2013).

Penyutingan saya laku­kan terhadap sejumlah nas­kah buku dari Singgalang melalui Khairul Jasmi dan dari Zaili Asril (lebih-ku­rang 800 halaman) yang mengimbali dengan hono­rarium relatif memadai. Saya tidak meminta, tetapi doa untuk menolak rezeki memang belum diayatkan. Saya pun menyunting nas­kah-naskah buku yang ditu­lis oleh Buya Bagindo Leter, novel Nelson Alwi, naskah tulisan Sjamsir Roust, cerita rakyat Yulizal Yunus, dan secara lisan saya pernah berdiskusi dengan Syari­fuddin Arifin mengenai naskah kumpulan puisi Ma­ling Kondang. Dan saya pun, Mahabesar (ini ejaan yang baku) Allah SWT, saya di­ajak oleh Kementerian Aga­ma RI bekerja sama dengan IAIN Imam Bonjol Padang, 2012-2014, untuk mem­validasi terjemahan Kitab Suci Alquran dari bahasa Indonesia ke bahasa Mi­nang­kabau.

Ada bahkan banyak nas­kah yang tidak sempat saya baca dan sunting. Selain waktu yang terbatas, saya beranggapan, naskah-nas­kah itu lebih baik disunting oleh orang lain. Saya bukan me­nga­nggap, naskah-nas­kah itu populer atau bagai­mana.

Terakhir, Juli 2015, Eddy Pranata PNP minta saya un­tuk memberi catatan sam­pul belakang terhadap kum­pu­lan puisi Bila Jasad­ku Kauma­­sukkan ke Liang Kubur (Shell Jagat Tempu­rung, 2015). Saya minta semua puisi, hampir lima ra­tus (judul), dikirim dan saya ba­ca sebelum saya putuskan mem­­berikan tes­ti­moni, en­dor­­sement, atau apa pun na­ma­nya. Sesung­guhnya sa­ya ­ter­masuk orang yang tidak su­ka penggunaan catatan ku­lit belakang. Saya percaya, nas­kah yang baik, puisi yang ba­­gus, novel bermutu, ber­bi­­c­ara lang­sung dengan para pem­baca, tanpa perantara. Tan­pa pe­nga­kuan saya, Eddy Pra­nata PNP sah jadi pe­nyair.

Dan tulisan-tulisan saya untuk surat kabar dan maja­lah rata-rata lolos sensor, tanpa penyuntingan. Namun bukan tidak pernah, terjadi penyuntingan dan men­da­tan­g­kan kelucuan. Saya me­nu­lis diksi melesat, sebagai contoh, tetapi oleh redaktur diubah menjadi meleset. Andai hendak mengubah, mengapa tidak bertanya me­la­lui surat-e atau melalui pesan singkat. Itulah yang saya apresiasi pada Nasrul Azwar ketika masih jadir Redaktur Seni Budaya Ha­luan: hanya untuk satu kata, dia mau dan tidak malu bertanya. Dan ada pula nas­kah “bagus” yang saya kirim ke surat kabar Padang tetapi, tanpa kabar berita, tulisan itu tidak dimuat. Tetapi saya terlambung setelah artikel itu dimuat Kompas, tanpa perubahan satu titik koma pun. Pernah pula naskah saya kirim ke Horison, dito­lak. Tetapi naskah yang sama dimuat di Kalam.

Penggunaan kata ubah dalam berbahasa, sebagai contoh, yang bila diimbuh menjadi mengubah, beru­bah, perubahan, pengu­ba­han, perlu diperhatikan se­ca­ra saksama sehingga tidak tersua lagi kata berobah, perobahan, pengobahan. Akar kata ubah bukan ru­bah (nama binatang), robah (ti­dak ada pada Ka­mus Besar Bahasa Indo­nesia). Begitu pula untuk diksi mele­tak­kan, bukan mele­takan, me­­ngon­trak­kan, bu­kan me­ngon­tra­kan. Risalah “Di Bukittinggi kambing makan kelereng” atau “ke lereng” perlu dipa­hami. “Salat boleh di lang­gar” (di sebagai kata depan) atau “dilanggar” (di sebagai awa­lan) harus dikua­sai se­ca­ra jeli. Saya ingin menga­takan, setiap penulis perlu khatam memakai EYD. Be­lum lagi dinamika bahasa yang mele­sat luar biasa cepat. Feno­mena keal­paan berba­hasa secara baku, baik dan benar tersua ham­pir di enam pu­luh buku sastra oleh penga­rang-pe­nga­rang Su­matera Barat yang terbit selama satu dasa­war­sa ter­akhir. Peng­gunaan judul, penyampaian alinea per­tama (cerpen atau novel), atau bait pertama (dari pui­si) belum mengun­dang mi­nat untuk melan­jutkan pem­­­ba­caan. Padahal judul dan ali­nena pertama (bait per­ta­ma) sela­lu punya magnit he­bat agar karya itu dibaca sam­pai ta­mat. Saya memak­sa­kan diri untuk mem­baca se­bagian besar buku itu tetapi mele­lahkan! Peng­gunaan kredo puitika lisen­tia saja tidak cukup mem­bela.
***

SAYA juga meman­dang “aneh” seba­gian para peng­gu­na bahasa Indone­sia pada akhir abad lampau dan awal abad ini cenderung keinggris-inggrisan. Ini persis-meniru gaya kearab-ara­ban atau kebelanda-belan­daan di zaman kolonial. Banyak sekali papan nama, merek dagang, di Jakarta, dan juga mulai mewabah di Kota Padang, menggunakan bahasa asing.

Di Taman Ismail Marzuki, dalam fo­rum resmi, saya melayani seorang sastrawati yang ke­ing­gris-inggiran itu dengan benar-benar menanggapi pembicaraan dalam bahasa Inggris. Forum itu ditaja dalam bahasa Indonesia. Terlihat si sastrawati gugup, muka dan telinga memerah, dan diam, mungkin jengkel. Bagaimana nasib bahasa Indonesia apabila sastrawan dan sastrawati sudah tigak lagi menghargai bahasa Indo­ne­sia?

Saya tidak mengerti me­nga­pa rumah sakit harus menggunakan diksi hospital seperti Semen Padang Hos­pital? Keinggris-inggrisan? Ya, tetapi lucu dan fatal. Di RS Semen Padang, saya pernah bertanya dengan bahasa Inggris yang standar dan sangat sopan kepada dua petugas satpam? Malang sekali, mereka bengong, tidak mengerti pertanyaan saya. Ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepa­da tiga resepsionis, mereka tersenyum dan menjawab dalam bahasa Indonesia. Mereka mengerti, mungkin tidak mau melayani saya yang sok Inggris. Pertanyaan sesungguhnya adalah, apa­kah di RS itu semua orang harus menggunakan bahasa Inggris? Tidakkah sebutan Rumah Sakit Semen Padang lebih akrab, membang­ga­kan? Kalau ingin inter­nasio­nal juga, dahulukan teks bahasa Indonesia, sehingga nama itu menjadi Rumah Sakit Semen Padang – Se­men Padang Hospital.

Banyak contoh lain. Per­ta­nyaan mendasar, kalau bukan anak-anak bangsa Indonesia, siapa lagi yang harus merayakan peng­gu­naan bahasa Indonesia? Bang­sa Indonesia, bukan? Bagaimana membayar utang generasi sekarang dan men­da­tang terhadap upaya hebat M. Yamin dan kawan-kawan yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928? Bagaimana kalau ba­ha­sa kebangsaan kita bahasa Jawa, atau satu di antara lebih daripada 500 bahasa daerah yang ada di Indo­nesia? Tidakkah terpi­kir­kan, negara tetangga Malay­sia, Singapura, Filipina, masih sering berdegus dan berkonflik dalam urusan bahasa nasional mereka?

Lebih daripada sekadar penguasaan bahasa dan “pen­cip­taan” bahasa, masalah sikap sastra, sikap budaya, menjadi tidak terhindarkan. Saul Bellow (sastrawan Ame­­­rika Serikat kelahiran Kanada, peraih Hadiah No­bel Sastra 1976), pernah menyatakan, bahwa kehi­dupan itu penuh godaan. Mau menjadi penulis popu­ler, oportunis, kagadang-gadangan, atau apa?

“Untuk siapa Anda me­nu­lis?” demikian perta­nya­an dilontarkan kepada Na­dine Gordimer, penulis terkemuka Afrika Selatan, peraih hadiah Nobel Sastra 1991. Pertanyaan ini memi­liki banyak turunan: dari manakah karakter dalam fiksi muncul? Apakah penu­lis harus berpijak pada rea­litas terdekat, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsa, ikut serta menen­tukan arus perubahan kon­disi­ sosial masyarakat? Apa­kah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revo­lusi?

Apakah karya dan cipta sastra memang memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah me­nga­lami ketidakadilan, ke­prihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sum­bangan apa yang wajib diberikan sastrawan pada manusia?

Dalam pidato penye­rahan Hadiah Nobel Sastra 1991 di Stockholm, Writing and Being, Nadine yang wa­fat dalam usia 90 tahun menegaskan pendirian, tugas seorang penulis adalah me­nyua­rakan pembelaan terha­dap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun. Hal itu tecermin dalam karya-karyanya.

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan,” ujar Gabriel García Márquez, peraih Hadiah Nobel Sas­tra 1982, satu kali, “tetapi kita harus memperjuangkan agar bisa menikmati de­ngan la­yak.” Kini, Gabo, de­mi­kian sastrawan asal Kolum­bia ini akrab di­pang­gil, dicintai banyak orang kar­ya-karya besarnya di­baca dan dike­nang, bu­kan hanya selama seratus ta­hun, tetapi untuk selama-la­ma­nya.­ (Te­ri­ma kasih saya kepada Gus tf Sakai yang me­ngi­rimi saya ter­jemahan novel Mar­quez Seratus Tahun Ke­sunyian.)

“Mengapa Anda menu­lis? Mengapa Anda membe­rikan waktu anda untuk aktivitas yang aneh dan ti­dak jelas ini?” Orhan Pamuk, saat menerima Hadiah No­bel Sastra 2006, menjawab: “Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan sepanjang karir menulis sa­ya.” Pamuk sering membe­rikan jawaban berbeda … Kadang sastrawan besar asal Turki ini berkata: “Saya tidak tahu kenapa saya menu­lis, tetapi yang pasti itu membuat saya merasa lebih baik. Saya harap Anda juga merasakan hal yang sama ketika membaca karya saya. Kadang juga saya berkata bahwa saya merasa marah, itulah, kenapa saya menulis. Dorongan untuk menulis, sebagian besar adalah kare­na ingin menyendiri dalam ruangan.”

Dan seorang penulis be­sar yang pernah dimiliki Rusia adalah Boris Leoni­dovich Pasternak. Karya novel epik Pastenak sangat terkenal, Dr. Zhivago, meng­gambarkan tragedi di sepu­tar masa terakhir Kekai­saran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet. Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, “un­tuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontem­porer dan di bidang tradisi epik Rusia.” Pemerintah Uni Soviet, yang sangat ti­dak senang dengan peng­gambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme, memaksa Pasternak meno­lak penghargaan itu dan me­nge­luarkan Pasternak dari Persatuan Penulis Uni So­viet. Walaupun tidak diki­rim ke pembuangan, semua ter­bitan karya dan terje­ma­han Pasternak tertunda hing­ga membuat dirinya kere.

Tidak ada orang India yang tidak mengenal Rabin­dranath Tagore, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Be­ngali. Tagore orang Asia pertama yang mendapat Anu­­gerah Nobel Sastra, lebih dari seabad yang lalu, 1913. Memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, tidak hanya di India, tetapi juga meluas hingga ke Eropa. Banyak karya-karya sastra Tagore diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di Indo­nesia, Rabindranath Tagore diabadikan di salah satu ruas jalan di Kota Surakarta. Pandangan Tagore soal pen­di­dikan ternyata meme­nga­ruhi tokoh nasional, ter­masuk Ki Hajar Dewantara.

Saya juga ingin menyebut seorang sastrawan paling jenius yang pernah lahir pada abad ke-20: Ernest Miller Hemingway. Karya He­ming­way yang paling feno­menal adalah trilogi besar, terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent dan The Sea in Being (pada 1952 terbit dengan judul The Old Man and the Sea). No­vel Lelaki Tua dan Laut ini diindonesiakan secara bagus oleh Sapardi Djoko Damo­no. Juga ada penerjemah lain, dan saya beberapa kali membaca teks asli The Old Man and the Sea.

Kisah hidup Hemingway paling dikenang adalah na­sib sial yang selalu mendera. Dia pernah mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan pesawat terbang secara ber­tu­rutan. Luka-luka itu sangat serius, bahu kanan, lengan dan kaki kiri terkilir, ia mengalami gegar otak pa­rah, untuk sementara waktu kehilangan daya penglihatan mata kiri (daya pendengaran di telinga kiri juga tergang­gu), mengalami kelumpuhan tulang belakang, remuk, liver, ginjal, serta mengalami luka bakar pada tingkat pertama di wajah, kedua lengan dan kakinya. Dalam kecelakaan kebakaran se­mak, membuat ia menga­lami luka bakar pada tingkat kedua pada kedua kaki, dada, bibir, tangan kiri dan bagian atas lengan kanannya. Pada 2 Juli 1961 dia me­nem­bak kepalanya sendiri dan langsung tewas.

Dan seorang penerima Hadiah Nobel Sastra paling kontroversial adalah Sir Winston Leonard Spencer Churchill. Mantan Perdana Menteri era Perang Dunia kedua ini dianugerai Hadiah Nobel Sastra untuk kepa­karannya dalam penulisan riwayat dan sejarah dan juga kepintaran berucap memer­tahankan nilai kemanusiaan yang tinggi pada 1953. Pada­hal dialah sang arsitek pen­da­ratan dan penyerangan Gallipoli di Dardanella wak­­tu Perang Dunia Perta­ma yang menewaskan ham­pir seperempat juta nyawa prajurit. Churchill sangat menentang kemerdekaan India ketika masih dijajah Inggris. Namun berkat pe­rang melawan Hitler bersa­ma sekutu abadi, Amerika, membuat nama Churchill melambung tinggi, hingga tulisan itu diganjar Hadiah Nobel Sastra.

Pada akhirnya saya perlu angkat topi dan menyam­paikan salut kepada Dr. Wa­n­nofri Samry, M.Hum., Drs. Dasril Ahmad, Yurnal­di, Syarifuddin Arifin, Yul­fian Azrial, Edy M.N.S. Soe­manto, dan Saudara-sau­dara yang sudah memung­kinkan peristiwa Silatu­rahmi Sastra­wan Sumatera Barat 2015 ini terselenggara. (Iven ini konon sudah diran­cang sejak 2012, 2013 yang lalu.) Lalu, mungkinkah iven seperti ini diseleng­garakan secara ber­kala? Tidak usah terlalu formal dan kaku, apa mung­kin pa­ni­tia mengakomodasi seba­gian keperluan sastra­wan daerah ini yang sudah sejak lama jalan sendiri-sendiri. Mungkinkah kepada sastra­wan diberikan kesem­patan berbuat dan menulis secara kreatif tanpa terbebani oleh keperluan rutin yang sering membebani? Mung­kinkah karya-karya mereka diter­bitkan dalam bentuk buku? Apa tidak perlu sastra­wan berprestasi diberi peng­har­gaan? Dan, pada masa datang apakah ada donatur, mae­se­nas sastra, seperti pada saat ini diberikan oleh Emma Yohanna. Dulu, di Kota Pa­dang, ada maesenas sastra Roestam Anwar, Boestami. H. Basril Djabar, kini, masih ti­dak berpikir lama untuk membantu aktivitas sastra. Lalu tahun-tahun menda­tang, siapa? Adakah suara ini dide­ngar oleh Peme­rin­tah Dae­rah Kota, Kabu­paten, Pro­vinsi dan Repu­blik Indo­nesia?

Terima ka­sih.

*) Sastrawan
https://budisansblog.blogspot.com/2015/09/orasi-sastra-kesaksian-personal.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *