REVOLUSI RASIONALITAS


Sunlie Thomas Alexander *

SANGGUAN Jintong–si blasteran yang manja, penakut, dan kecanduan menyusu itu, putra bungsu dan satu-satunya Sangguan Lu, hasil perselingkuhannya dengan seorang pastor bule dalam novel Mo Yan, “Big Breasts And Wide Hips”–akhirnya menjadi pemilik toko pakaian dalam wanita ‘Kuda Bertanduk’ berkat bantuan keponakannya Sima Liang setelah Pemerintah Republik Rakyat China menggulirkan reformasi ekonomi pada tahun 1978 di bawah kebijakan Deng Xiaoping.

Semenjak itu, kita tahu, perekonomian China yang dulu terisolosi pun perlahan kian terbuka dan tumbuh 10% rata-rata per tahun.
***

KOMUNISME memang telah menyediakan fondasi spirit lain yang diperlukan China Baru 1949 untuk memanajemeni kembali negara raksasa dengan jumlah penduduk separuh dari populasi bumi itu—yang telah muak dengan perang saudara, rasa lapar, korupsi, ketimpangan sosial, kesewenang-wenangan dan penghisapan, juga kekuasaan takhayul sisa dua milenial jaman feodal.

Setelah ribuan tahun, China juga membutuhkan nasionalisme baru yang setiap orang (dari mereka yang paling miskin-papa sampai yang bengis) merasa memilikinya. Yang tak tergapai lagi oleh ideologi Sanmin Zhuyi yang perlahan keropos oleh perangai angkuh sang Generalissimo Chiang Kai-sek dan ketamakan para pengikutnya.

Fondasi spirit itu—Marxisme dan Leninisme, yang dipelajari Mao sejak belia di antara kegemarannya menekuni puisi-puisi Tiongkok klasik—kemudian diterjemahkannya ulang dalam pengorganisasian para petani miskin di tanah-tanah tandus China utara. Hasilnya Maoisme—sebuah jalan baru yang tak mudah demi merebut kembali harga diri bangsa yang mendefinisikan dirinya sebagai pusat alam semesta.

Toh, ada fondasi lain yang telah dibangun jauh sebelum itu, yang juga mendasari nasib China hari ini sebagai naga yang terbangun dari tidur panjang. Yang diakui setiap waktu oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai bandul jam perubahan, terlepas dari perseteruan mereka dengan Kuo Ming Tang yang pelan-pelan membusuk pasca Perang Dunia II.

Dan fondasi itu adalah rasionalitas; yang lahir dari pemenungan seorang anak Hakka di Selatan.

Anak ini—yang punya kebiasaan sebentar-sebentar melihat jam saku dengan gelisah, seolah waktu sudah mepet—menyelesaikan pendidikan dokter bedahnya di sekolah medis Barat di Hong Kong. Ia terluka oleh ejekan Barat dan Jepang bahwa negaranya adalah pesakitan dari Asia Timur. Namun ia pulalah yang mengumpamakan China seperti pengidap kanker akut. Dan kanker itu, menurutnya, mestilah segera dibedah dengan pisau rasionalitas: Geming (Revolusi).

Kita tahu kemudian, anak-anak muda Tongmeng Hui menjadi para martil pertama dari gelombang kebangkitan ini (ditembak, dipancung, dilemparkan ke laut dan sungai) sebelum Pemberontakan Wuchang akhirnya berhasil mendirikan “Pemerintahan Militer Hubei Republik China pada 11 Oktober 1911. Itu adalah kemenangan pertama yang mengawali Revolusi Xinhai sejak pasukan-pasukan kecil di Guangdong yang kekurangan amunisi dan konon juga tak punya jenderal lapangan cukup cakap melancarkan serangan pertama mereka di kota Guangzhou pada musim semi 1895.

Lalu dana revolusi pun mengalir masuk semakin deras dari berbagai penjuru bumi dari mereka (beserta keturunannya) yang terpaksa meninggal “rumah” untuk mencari pengharapan lebih baik di negeri-negeri orang.

Karena itu, seperti kata dokter Sun Yat-sen, anak Hakka yang gelisah itu: “Hoakiau adalah ibunda revolusi.”

Di seluruh dunia, kaum China Perantauan dan China Peranakan telah beramai-ramai berderma untuk rasionalitas itu, sebuah harapan yang baru—agar bangsa Tiongkok bisa menegakkan kepala di Timur; bisa punya bank, pabrik-pabrik, tambang, dan jalan kereta api sendiri.
***

AH, ada rasa haru dan bangga yang cukup kentara, yang terdengar dari suara kakek dan ayahku dulu setiapkali mengisahkan revolusi ini. Getarannya terasa betul, kadang hingga terbatuk-batuk kecil lantaran terlampau bersemangat. Dan di kemudian hari aku baru tahu: Pram, sastrawan Indonesia, pun sempat menyinggung peristiwa besar tersebut dengan ketakjuban dalam tetralogi Pulau Buru.

1900. Sebelas tahun sebelum Dinasti Qing (tahta monarki korup penuh mitos dan takhayul yang telah tegak lebih dari 400 tahun itu) diturunkan secara damai oleh gerakan rasionalitas ini, di Batavia ibukota Hindia Belanda, Tiong Hoa Hwee Koan didirikan oleh para penyokong revolusi. Sistem pendidikannya mengadopsi Barat tapi tak mengacuhkan konfusianisme. Bahasa pengantarnya Mandarin, dengan bahasa Inggris ditekankan sebagai bahasa kedua. Tak ada pelajaran bahasa Belanda, sehingga sang Gubernur Jenderal Hindia seperti kebakaran jembut dan bergegas merancang Hollandsche-Chineesche School (HCS) agar Yang Mulia Ratu tidaklah kehilangan wibawa sekaligus kawulanya yang bermata sipit.

THHK adalah sebuah upaya keras Tionghoa Hindia Belanda untuk mengejar ketinggalan dari Barat dan Jepang di negeri asing. Dan ayahku merupakan lulusan sekolah ini pada penghujung 1950an, di THHK cabang Belinyu yang didirikan pada tahun 1908. Cambukannya pun cukup terasa olehku sampai sekarang: aku dididik dengan pendekatan rasionalitas yang ketat olehnya.

Sehingga argumen logis dan pembuktian empiris pun seyogianya menjadi tuntutan bagi masa kecil dan remajaku di Bangka, pulau yang syahdan (menurut legenda setempat) pertama kali didiami oleh tujuh leluhur Urang Lom (puak Melayu Laut) setelah mengikat perjanjian gaib dengan para lelembut di Gunung Pelawan itu.

Tentu saja aku mesti berterima kasih kepada didikan ayahku yang cenderung keras. Kendati terkadang aku merasa rasionalitas, nalar yang dingin ini, telah membuat diriku sulit mengembangkan sisi spiritualitas. Membuatku gagap bahkan dalam berdoa.

Padahal semestinya aku juga bisa belajar banyak dari ragam praktek spiritual yang dilakoni keluarga ibuku, kaum peranakan campuran yang lebih mempercayai mantera dewa China ketimbang jarum suntik, yang selalu mewanti-wanti agar tidak kencing di sembarang tempat di hutan dan jangan minum kopi di gelasmu apabila tak nampak bayang wajahmu di permukaan gelas…
***

NAMUN rasionalitas memang selalu terbukti lebih akurat. Ia bukan saja berhasil menjatuhkan tahta takhayul Qing lalu kediktatoran Chiang yang sama korup di masa silam, tetapi juga berhasil mengantar China Baru memasuki awal abad ini sebagai negara super power, tatkala Uni Soyvet hanyalah kenangan pahit yang coba dijajakan kepada para turis dalam bentuk-bentuk souvenir di Moskow.

Ketika komunisme ala Mao mulai mandek dengan gagasan utopis yang lebih banyak mendatangkan penderitaan baru ketimbang kemajuan berarti, Deng Xiaoping si kancil—yang mengingatkanku pada Syahrir—membuka Shenzen lalu sejumlah kawasan lain sebagai wilayah perindustrian bebas pajak bagi investor asing.

Hasilnya, lapangan kerja pun terbuka lebar dan tenaga buruh terserap. Tetapi, seperti halnya buruh-buruh penambangan timah yang didatangkan besar-besaran ke Bangka pada abad ke-19 oleh pemerintah Hindia Belanda, itu adalah buruh-buruh terampil yang tak melulu tukang rakit.

Sembari bekerja, mereka pun menjadi pembelajar yang ulet. Sains dan teknologi tinggi pun terus-menerus diserap lalu diterapkan kembali dalam pabrik-pabrik yang dibangun sendiri.

Jepang meniru Barat, tetapi China memodifikasinya. Kita bisa menemukan itu dalam wujud pesawat tempur siluman, rudal yang sanggup menjangkau New York, kapal induk canggih, pesawat ulang alik, dan Huawei dengan teknologi 5G yang bikin Paman Trump susah berak. Semuanya dengan biaya produksi yang lebih rendah daripada buatan USA atau Jepang.

Dan imbasnya di lapangan ekonomi, menurut laporan Bloomberg Economics, tidak ada satu negara pun yang dapat meniru China dalam mentransformasi ekonominya.

Berawal dari mainan anak-anak lalu peralatan elektronik dan motor murah cepat rusak agar bisa dijual cepat, industri China kemudian merajai pasar smartphone dunia berkat teknologi yang mereka adopsi dan modifikasi. Akibatnya, China pun dijuluki sebagai pabriknya dunia.

Lihat saja Xiaomi sebagai disruptors di pasar ponsel pintar. Perusahaan ponsel dengan kapitalisasi pasar mencapai lebih dari HK$ 200 miliar itu kini memiliki pangsa pasar global sebesar 9% di bawah Samsung, Huawei dan Apple.

Tak hanya Xiaomi, China juga punya raksasa teknologi lain seperti perusahaan social networking bernama Tencent dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai HK$ 3,11 triliun dan perusahaan e-commerce bentukan Jack Ma, Alibaba yang mencatatkan rekor IPO terbesar dengan meraup dana US$ 25 miliar.

Dan seraya itu, mereka pun kian menguatkan diri di bidang politik dan militer.

Karena itu, tidaklah mengherankanku apabila saat memasuki berbagai mall besar di Belanda pada musim gugur dua tahun lalu, yang kutemukan adalah barang-barang made in China terpajang di hampir seluruh etalase dan gantungan, mulai dari kaos kaki, sepatu, jaket, sweater, hingga jam tangan dan peralatan mandi. Sampai-sampai Tari, pacarku ketika itu, memprotes: “Masa’ Abang jauh-jauh ke Belanda beliin aku oleh-oleh sepatu buatan China sih?”

Gaige Kaifang —ya, Reformasi Perekonomian, ungkapan ini masihlah kerap kudengar tatkala berkunjung ke sejumlah kota dan desa di Guangdong, September 2019 silam. Orang-orang masih mengenang kupon jatah makan pada masa-masa lapar sembari bersyukur. Kini kepemilikan lahan secara terbatas diijinkan, pun usaha individual dengan pengawasan yang luwes dan pajak progresif telah menjadi ikhwal kebijakan lumrah, hampir seluruh warga negara punya pekerjaan, anak-anak muda lulusan perguruan tinggi bermobil bagus ke tempat kerja, orang tua dan pensiunan pun tak perlu lagi mencemaskan hari tuanya, apartemen mewah dan pusat pertokoan modern terus dibangun menggantikan rumah-rumah semi permanen yang tak berair-listrik dan pasar kumuh.

“Kalau kamu tidak punya cukup uang untuk membangun rumah, pemerintah bakal membantumu,” kuingat kata Pak Zhang, mantan guru kelahiran Kalimantan yang pulang ke Tiongkok bersama orangtuanya kala berumur 13 tahun di era anti-China merebak luas di Indonesia pada 1960an, ketika ia menemani kami jalan-jalan menelusuri kota Kaiping.

Komunisme ala Mao merintis jalan bagi China Baru 1949 untuk memanajemeni penduduk yang jumlahnya separuh dari populasi bumi, serta melawan kebobrokan sistem kapitalistik culas yang merajalela semasa pemerintahan Kuo Ming Tang juga takhayul dan mitos jaman feodal yang terus bercokol dalam tradisi. Revolusi Kebudayaan yang kaku, picik, dan berdarah-darah memang pernah menjadi “sebuah usaha lain untuk menebas jalur” yang keliru seperti halnya ide Lompatan Jauh Ke Depan. Tetapi itu juga sudah lama berlalu.

“Indonesia bisa saja seperti Tiongkok sekarang jika mau berusaha keras dan berpikir logis,” ujar Pak Zhou, mantan anggota Tentara Pembebasan Rakyat yang pernah menjabat chief editor sebuah harian bisnis terbesar di Hong Kong itu kepadaku dalam kereta cepat saat kami bertolak meninggalkan Mainland untuk kembali ke Hong Kong.

Tetapi entah kenapa aku merasa begitu sangsi dan kala itu hanya bisa menyeringai sinis. Betapa tidak. Di negeri yang terus-menerus diteror oleh arwah komunis dari masa silam dan menganggap perlawanan terhadap kapitalisme merupakan suatu kejahatan ini, orang-orang bahkan masih percaya bahwa penguapan air menjadi hujan hanyalah teori kaum kafir yang bakal membahayakan keimanan!

Maka jangan heran jika ada tetanggamu yang bertanya dengan lantang, “Anda lebih takut kepada Allah atau virus Corona?”

Lantas bagaimana dengan kebijakan pemerintah Rezim Orang Baik-nya yang konon banyak mendapatkan kepercayaan luar negeri itu?

Maaf, lagi-lagi entah kenapa aku merasa seperti melihat lagi senyum manis anak desa bernama Generalissimo Soeharto di balik senyum malu-malu sang Pakde yang syahdan selalu tulus itu.

Tentu, jangan lupa pula pada kumisnya Luhut![]

Yogyakarta, May Day 2020.

____________________
Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung 7 Juni 1977, sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Dikenal melalui karya-karyanya; cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, Detik Sport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Buku terbarunya kumpulan esai, “Dari Belinyu ke Jalan Lain Ke Rumbuk Randu” Penerbit Gambang, 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *