TEMBANG MACAPAT

Djoko Saryono *

Pada dasarnya sampai pertengahan Abad XIX susastra Jawa tertulis dalam genre puisi, bukan gancaran atau jarwan (prosa fiksi) seperti cerkak. Macapat merupakan salah satu genre atau jenis puisi Jawa selain kakawin, kidung, dan geguritan. Istilah macapat sering dilekati (didahului) dengan istilah tembang sehingga lazim digunakan istilah tembang macapat, yang mencerminkan puisi Jawa bergenre tembang macapat dihajatkan untuk dilisankan dan dilagukan atau dinyanyikan karena tembang bisa bermakna puisi dan lagu.

Tidak mengherankan, tembang macapat memiliki atau mengandung anasir musikalitas yang sangat tinggi, bahkan kuat sekali, yang sering disebut metrum atau versifikasi. Kekayaan dan keragaman musikalitas tembang macapat menjadikannya dapat disebut sebagai musik puitis pada satu sisi dan pada sisi lain dapat disebut sebagai puisi musikal.

Tembang macapat sebagai puisi musikal atau musik puitis, yang mengandung anasir kekayaan dan keragaman musikalitas amat tinggi, memuat isi beraneka ragam atau bermacam-macam dalam arti luas dan beragam. Pendek kata, apa saja dapat menjadi isi tembang macapat: bisa moralitas, etika, falsafah, dan spiritualitas dengan segala rincian dan dimensinya.

Hal tersebut dapat menimbulkan dua macam pemahaman atas tembang macapat. Pertama, pada satu sisi, anasir musikal dan pertunjukan tembang macapat dianggap sangat penting. Kedua, pada sisi lain, anasir isi dipandang jauh lebih penting daripada anasir musikal dan pertunjukan. Behrend mencatat adanya kenyataan bahwa …tembang terutama dipahami sebagai bunyi, dan bukan sebagai arti verbal dan bahwa puisi Jawa benar-benar bunyi adalah arti. Namun, kata Behrend lebih lanjut, gagasan anasir musikal dan pertunjukan pada tembang macapat jauh lebih penting ketimbang anasir kesastraan dan penceritaannya mengandung cacat hakiki.

Menurut hasil kajian Behrend, teks-teks tembang macapat penuh dengan nasihat agar keindahan bunyi teks jangan dikisruhkan dengan isinya atau dibiarkan menutupinya. Behrend memberi contoh, pujangga Yasadipura dalam Serat Panitisastra memberikan peringatan dalam kedua bait terakhir sebagai berikut://… aywa selang surup//denya nampani/sasyaning sastra/aywa katungkul ing/uni kalawan lagu//…Janganlah keliru//Bila kau berusaha mengerti/isi buku ini/janganlah terlena/oleh suara dan lagunya//.

Dalam Serat Jatiswara dinyatakan sebagai berikut://poma poma wong amaca hiki/haja sira katungkuling tembang/helingenn ujar sun mangke/pan sastrane puniku/kirang wuwuh sastra sunn iki/yen wuwuh kiranggenna/yen kirang puniku/den wuwuhhna punika/poma poma haja katungkul ing gending/helinggenna punika//Wanti-wantiku kepada orang yang membaca ini/janganlah kau terlena oleh tembang/ingatlah perkataanku ini/sebenarnya bukuku ini/kurang dan sekaligus berlebih/apa yang berlebih/hilangkanlah/apa yang kurang/tambahkanlah/yang penting janganlah terlena oleh gending/ingat-ingatlah hal ini//. Hal ini menunjukkan bahwa di samping ada pandangan bahwa bunyi sangat penting dalam tembang macapat, isi tembang macapat jauh lebih penting.

Dalam perjalanan sejarahnya tembang macapat tersebar luas melintasi geokultural dan sosiokultural Jawa selain tersebar ke berbagai gugusan subkultural Jawa. Tak mengherankan, tembang macapat kita jumpai pula dalam budaya Madura, Bali, dan Sasak. Malah dapat dikatakan bahwa Jawa, Bali, Madura, dan Sasak membentuk sebuah jaringan budaya atau minimal jaringan tembang macapat. Itu sebabnya, dapat kita mengatakan adanya macapat Jawa, macapat Madura, macapat Bali, dan macapat Sasak (dari sisi geokultural) di samping bisa juga mengatakan adanya macapat Jogya, macapat Solo, macapat Malangan, dan lain-lain (dari sisi subkultur Jawa).

Hal tersebut menunjukkan bahwa tembang macapat memiliki ketersebaran luas, popularitas dan keberterimaan yang tinggi di kalangan masyarakat, dan ruang kehidupan leluasa. Gejala ketersebaran macapat ini menarik dikaji, misalnya jaringan tembang macapat, transformasi tembang macapat, dan geografi puitika tembang macapat.
***

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *