Warna Proses Kreatif Menulis, Nezar Patria

Wawancara di grup facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia

Nezar Patria, kelahiran Sigli, Nanggroe Aceh Darussalam 5 Oktober 1970, seorang wartawan, aktivis, dan penyair. Sekarang menjabat pemred The Jakarta Post; sejak tahun 2016, bergabung di koran berbahasa Inggris tersebut untuk platform digital, lalu awal 2018 ditugaskan memimpin versi cetaknya. Sebelumnya, wartawan di Majalah Berita Mingguan Tempo (1999-2008), tercatat salah satu pendiri portal VIVA.co.id (2008-2014), dan redaktur pelaksana. Tahun 2014-2016, jadi wakil pemimpin redaksi CNN Indonesia (Digital).

Karya jurnalistik investigasinya pernah memenangkan Tolerance Prize dari International Federation of Journalist (IFJ) bekerja sama European Council, Manila 2004. Jadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2008-2011, dan terpilih sebagai Anggota Dewan Pers, dua periode (2013-2019). Alumni Fakultas Filsafat UGM (lulus 1997), mendapat gelar M.Sc dari The London School of Economics (LSE), Inggris, untuk Studi Politik dan Sejarah Internasional, tahun 2008.

Selain organisasi jurnalis, kerap terlibat di berbagai riset politik. Akrab tema politik sejak masa mahasiswa, terutama aktif dalam gerakan mahasiswa pro demokrasi awal 1990-an hingga Reformasi 1998. Di masa itu sebagai Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sebuah organisasi mahasiswa yang masuk daftar hitam rezim Orde Baru. Di dunia riset, kini tercatat selaku Dewan Redaksi di Jurnal Prisma, diterbitkan LP3ES. Pernah menjadi periset paruh waktu di International Crisis Group (ICG) Asia Tenggara (2004-2012).

Bersama Tia Setiadi, tahun 2017 mendirikan Circa di Yogyakarta; penerbit indie yang aktif menerbitkan buku fiksi dan non-fiksi bertema seputar jurnalisme, sastra, dan filsafat. Buku terbarunya sendiri ada dua; yang non-fiksi bertajuk “Keputusan Sulit Adnan Ganto” (Circa, 2017, ditulis bersama almarhum Rusdi Mathari), sebuah biografi seorang bankir yang jadi penasehat ekonomi bagi tujuh menteri pertahanan RI. Buku kedua, sehimpun puisinya yang dimuat Harian Kompas dan Koran Tempo, diterbitkan Diva Press, berjudul “Di Kedai Teh Ah Mei” (2018).
***

Nurel Javissyarqi: “Sebagai pemantik awalan saya bertanya Mas Nezar Patria, 1. Sejauh perjalanan yang sampean tempuh, apakah sebelumnya sudah pernah ‘nyemplung’ di dunia sastra, barangkali saat SMA atau jauh sebelum itu? 2. Menurut sampean, apakah kata-kata yang telah tergurat, sangat mempengaruhi kehidupan sang penulisnya? 3. Adakah hubungan rasa senyawa di antara kata dengan darah-daging perjuangan? Jikalau ada, seperti apakah pergumulannya, dan bagaimana menentukan waktu yang tepat, agar kata-kata tidak buyar dari ruhaniah maknanya, meski melewati rentang waktu peristiwa, dst…”

(I)
Nezar Patria: “Saya mengenal sastra saat duduk di bangku SMP. Bagian sekolah yang menarik perhatian saya ialah perpustakaan. Saya bisa menghabiskan jam waktu istirahat saya di ruang baca, menikmati berbagai macam bacaan, dan terutama yang mengasyikan adalah membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka dan Pustaka Jaya. Saya membaca cerita klasik sastra Indonesia, dari Salah Asuhan, sampai karya A.A. Navis. Saya juga membaca sejumlah karya sastra terjemahan dari pengarang seperti Victor Hugo, Alexander Dumas, Dickens, dan Karl May.”

“Selain itu, di masa SMP, saya menggemari cerita di Majalah Kawanku dan Hai. Saya punya kebiasaan nongkrong di kedai loper koran di dekat sekolah, di pinggir pasar Peunayong, Banda Aceh. Si pemilik kedai seorang mahasiswa, dan ayah saya waktu itu berlangganan harian Kompas kepadanya. Karena harian terbitan Jakarta itu tiba siang hari di kota saya, maka sambil menunggu koran tiba, saya punya kesempatan membaca koleksi majalah dan komik di kedai itu.”

“Pemiliknya tak keberatan, dia malah senang, karena kadang saya membantunya menjaga kedai itu, kalau dia ada urusan lain, dan harus meninggalkan kedai selama dua sampai tiga jam. Pada saat itulah, saya masuk ke dunia cerita, entah membaca cerpen di majalah, koran mingguan, atau komik. Saya menikmati komik Indonesia, dari Hasjmi (Gundala), Wid NS, sampai dengan komik silat seperti serial Panji Tengkorak. Di rumah, saya juga punya koleksi lengkap komik Mahabrata, Bratayudha, dan Parikesit karya R.A. Kosasih.”

“Tetapi yang cukup mengesankan, buku-buku cerita di perpustakaan itu. Di sana saya mengenal lebih banyak puisi Charil Anwar, W.S. Rendra, Wing Kardjo, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, dan Linus Suryadi AG (terutama berkat Linus yang menjadi editor seri antologi puisi Indonesia modern, Tonggak, saya mengenal lebih banyak puisi karya penyair berbagai daerah). Pendeknya, saya berburu aneka buku terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, dan penerbit lainnya, baik puisi maupun prosa.”

“Dunia bacaan saya kemudian meluas sewaktu SMA. Saya mulai menggemari seri Sherlock Holmes dari Sir Conan Doyle, lalu membaca roman karya Mochtar Lubis, terutama Jalan Tak Ada Ujung serta Harimau-Harimau. Saya juga membaca Nikolai Gogol “Jiwa-Jiwa Mati”, lalu Dostoevsky “Kejahatan dan Hukuman”, Arthur Koestler “Darknest at Noon”, Orwell “Animal Farm”, Herman Hesse ”Siddharta”, Yukio Mishima “Kuil Kencana”, dan lain-lain. Kemudian, secara tak sengaja saya menemukan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (PAT) di rak buku paman saya. Buku itu kelihatan disimpannya hati-hati, dan dia mengatakan kepada saya, buku itu terlarang, jadi tak boleh sembarangan. Saya membacanya dengan antusias, masuk ke dalam imajinasi masa kolonial, dan frustasi mencari sekuel selanjutnya. Kelak ketika berkuliah di Yogyakarta, saya baru mendapatkan Tetralogi PAT secara lengkap. Di masa mahasiswa, saya beruntung bisa mambaca lebih banyak lagi, karena akses yang lebih luas, juga pergaulan antar kawan mahasiswa yang punya minat sastra, politik, sejarah, dan filsafat.”

“Saya mulai menulis puisi sejak SMA, tapi tak pernah mengirimkannya ke media manapun. Saya merasa puisi lebih cocok, lebih ekspresif dan bisa membahasakan apa yang berdentang di jagad batin. Sewaktu mahasiswa, saya masih menulis beberapa puisi, dan hanya dimuat di antologi terbitan perkumpulan mahasiswa. Setelah bekerja sebagai wartawan, saya kian sering menulis features, dan itu artinya lebih banyak bergulat dengan penulisan non-fiksi, tapi punya kedekatan dengan prosa. Baru setelah beberapa waktu belakangan, kembali lagi menulis puisi.”

(II)
Nezar Patria: “Ini maksudnya kata-kata yang ditumpahkan ke dalam karya seperti prosa dan puisi ya? Mungkin, setiap individu punya pengalaman berbeda. Saya hanya bisa menulis puisi, jika menemukan ‘momen puitik’. Momen itu bisa terjadi dengan tiba-tiba, misalnya lagi melihat selembar kartu pos, lalu teringat seseorang dan pengalaman bersamanya. Atau sedang sendirian di bus kota, atau berhenti di sebuah halte yang kosong, dan melihat sebuah botol kosong di bangku halte. Semua itu pemantik-pemantik di dunia obyektif, yang kemudian mempengaruhi dunia subyektif saya dengan beragam pengalaman yang mengendap di alam bawah sadar.”

“Rangsangan dari dunia obyektif itu memancing bawah sadar bekerja, lalu semua isi bagasi pengalaman keluar dalam bentuk kata-kata, yang membentuk imaji, bunyi, dan makna yang diwakilinya. Kata-kata bisa keluar begitu saja tanpa bisa ditahan, dan kemudian baru saya menyusunnya, agar memenuhi kaidah puisi. Kadang kala saya terkejut dengan hasilnya, kata-kata bisa bergerak dengan ajaib, menajamkan apa yang saya rasakan, atau bahkan melompat keluar memberikan horizon baru, dan juga makna baru. Misalnya ketika saya melihat sepotong gambar tentang seorang tawanan yang akan dieksekusi di Suriah. Saya terenyuh, mungkin karena saya pernah punya pengalaman yang sama. Sepotong gambar itu menggugah saya dengan ‘momen puitik’, dan lantas saya menuliskannya jadi puisi. Demikian sejumlah puisi lahir dengan berbagai macam perjumpaan antara realitas obyektif dan dunia obyektif saya. Dari sini, saya kira puisi lahir dengan sedikit banyaknya dipengaruhi oleh latar belakang subyektif si penyair; penghayatannya atas peristiwa, luka dialaminya, kebahagiaan yang dipetiknya, dan juga kemarahan.”

Nurel Javissyarqi: “Maaf Mas Nezar Patria, kalau pertanyaan kedua di atas, atau kata-kata saya tersebut sulit ditangkap maksudnya. Bahasa lainnya begini: Apakah karya yang sudah tercipta, misalkan puisi yang telah jadi, kelak, atau nantinya, bisa menentukan arah takdir sang penulisnya, dapat ‘menujum’ masa depan pengarangnya, atau menjelma sorot cahaya terang atas keyakinan-keyakinan lebih besar, dari masa awal ciptaan itu sebelumnya, (mungkin pertanyaan ini tidak logis, tapi dapatlah dinamai istilah lain), yakni, apakah karya yang telah terjadi itu, bisa mempengaruhi jawaban maupun menentukan pilihan atas persoalan si penyair di masa depannya, contoh kitab-kitab suci mempengaruhi umat yang mempercayai atau meyakininya, tentu dengan kadar lebih rendah bobotnya, dibandingkan kitab suci…. (jadi, pertanyaan saya bukanlah kata ‘dipengaruhi,’ tapi dengan kata ‘mempengaruhi’). Namun begitu, jawaban sampean tetap menjadi masukan berharga bagi saya, matur suwon sanget…”

Nezar Patria: “Saya tidak tahu, apakah puisi bisa sedahsyat itu meramal masa depan penyairnya, mungkin satu dua puisi yang diciptakan seorang penyair pada masa lalu, tiba-tiba dirasakan cocok dengan situasinya sekarang. Tapi saya kira itu kebetulan saja. Puisi mungkin punya efek magis dan mistis, tapi tentu ia bukan berfungsi seperti kitab suci yang dipercayai untuk memandu jalannya kehidupan. Banyak kebetulan yang ditemukan sebagai sebuah post-factum, bukan sebuah ramalan. Puisi merekam apa yang terjadi di jagad batin penyair dalam mencerap dunianya, dan karena sublimasi atas realitas, maka puisi terasa awet melintasi ruang dan waktu. Kita baca puisi Chairil di tahun 1940-an, dan mungkin masih bisa merasakan semangat yang sama di zaman sekarang.”

Nurel Javissyarqi: “Terima kasih atas jawabannya Mas Nezar Patria, mungkin nanti bisa dilanjut dengan yang lain, suwon…”

Nezar Patria: “Sami-sami.”

(III)
Nezar Patria: “Saya rasa ini juga berbeda di antara para penyair atau penulis, tergantung seberapa jauh dia terlibat, dan berjarak dengan peristiwa atau pengalaman. Ada penyair yang punya simpati kuat atas perjuangan rakyat, entah di negeri sendiri atau di belahan dunia lain. Dia tergerak oleh rasa empati, dan merasa menjadi bagian dari perjuangan itu. Puisi yang lahir bisa jadi sangat kuat, tapi kita masih bisa merasakan jarak penyair dengan dunia yang ditulisnya. Namun ada juga penyair yang terlibat dalam dinamika pergerakan itu, menjadi bagian organik, dan karya-karyanya tampak orisinil menjadi bagian dari apa yang ditulisnya. Kita bisa membaca dunia orang pinggiran, dan cita-citanya untuk kehidupan lebih baik, dari puisi Wiji Thukul misalnya. Kita bisa merasakan bagaimana hasrat cinta Pablo Neruda bertemu dengan pengalaman pribadi perjuangannya, dan juga metafora yang kuat dari solidaritasnya untuk kebebasan orang-orang teraniaya. Pengalaman itu saya kira, bahan baku yang tak habis-habisnya, dia masuk ke bawah sadar si penyair, dia bisa bangkit kapan saja ‘momen puitik’ datang memanggilnya.”
***

(IV)
Cak Bono: “Mas Nezar Patria, berkenaan dengan wabah covid-19 ini. Sepertinya, pasca pandemi ini, produksi, konsumsi, dan distribusi dari teks, baik sastra maupun jurnalistik, akan menemukan new normalnya masing-masing. Jika demikian, kira-kira seperti apa roadmapnya? Seberapa cepat, dan sejauh mana pergeserannya? Apakah akan terjadi disrupsi?”

Nezar Patria: “Dunia belajar banyak dari pandemi ini, setidaknya mengakui, bahwa pencapaian peradaban manusia saat ini, ternyata masih rentan dengan serangan wabah. Betapapun, pencapaian teknologi Abad 21, masih mungkin membuat manusia berinteraksi via platform digital, dan terhubung lewat internet. Hal ini mungkin tak dialami oleh generasi awal Abad 20, saat Spanish Flu merebak pada 1918, dan merenggut nyawa lebih 50 juta jiwa. Bakal ada kesadaran baru post-covid-19, bahwa kita harus menerima koeksistensi hidup bersama ancaman wabah, dan karenanya kerja sama antar bangsa menjadi semakin penting. Kita lihat sebelum wabah menerjang, dunia sedang melakukan tata ulang dengan munculnya nasionalisme sempit di sejumlah negara di Eropa, dan konservatisme di AS. Perang Dagang China-AS, salah satu manifestasinya. Setelah covid-19, mungkin kita akan bertemu dengan new normal, bahwa kerentanan peradaban manusia di tengah wabah harus diatasi dengan kerja sama antar bangsa. Bahwa dunia informasi digital berjasa tetap menjaga interaksi manusia meskipun dalam isolasi, yakni kesehatan menjadi agenda prioritas agar bisa selamat, hubungan eksploitatif manusia atas alam harus ditinjau ulang, yaitu kerawanan pangan bisa mengancam, dan sama beratnya dengan ancaman virus. Tentu saja sastra juga jurnalisme akan berubah, pusat-pusat informasi lebih menyebar, dan komunitas-komunitas mengambil peran masing-masing dalam jejaring global. Meskipun begitu, platform digital semisal FB dan Google, tetap bermain sebagai pelaku utama, dan mendefiniskan mana yang penting atau tidaknya di dalam soal distribusi informasi melalui rezim algoritma. Dalam hal ini, media-media harus mencari ekosistem tersendiri, yang lebih independen dari platform raksasa. Kita belum tahu apa yang terjadi di depan, tetapi jelas pengalaman paruh pertama tahun 2020 ini, akan berpengaruh pada perkembangan dunia ke depan.”

Cak Bono: “Komprehensip, dan tidak muluk-muluk. Yang menarik, tentang mewaspadai juga mengantisipasi Dominasi Rezim Algoritma, pemain Big data yang sudah mapan. Ini akan menjadi hal yang patut dicermati, terutama berkaitan dengan otoritas regional gaya lama, yang mungkin masih cenderung bermain pada wilayah statusquo, tetapi, diluar dunia maya. Kebutuhan untuk hidup, senyatanya sandang, pangan, dan papan adalah tantangan paling berat. Kira-kira sejauh mana kontribusi dunia digital jejaring global dalam hal memproduksi ketahanan sandang, pangan, papan dalam situasi new normal ini. Sementara untuk distribusi, sepertinya akan sangat membantu, terutama dengan mudahnya koneksi antara supplier dan konsumen. Selanjutnya, sejauh mana pola konsumsi masyarakat terhadap produksi ‘teks,’ baik jurnalistik maupun sastra? Menanggapi bahwa komunitas dibawah rejim algoritma, yang meskipun bebas akan terbatasi atau dibatasi juga oleh (mungkin) diskursus setingan pemilik modal. Terima kasih atas pencerahannya yang bernas dan lugas.”

Nezar Patria: “Sama-sama Mas.”

(V)
Wawan Eko Yulianto: “Bang Nezar Patria, kalau ada titik dalam hidup yang membuat abang bisa menulis dengan lancar dan nyaman, serta tidak ada takut sama sekali, ketika dibutuhkan untuk menulis, kapan itu? Makasih.”

Nezar Patria: “Kalau sedang mendapat letikan ide, dan mungkin juga disebabkan oleh sesuatu yang emosional. Kadang kita menulisnya dengan jemari tangan gemetar, menahan luapan perasaan.”

(VI)
Andrenaline Katarsis: “Satu buku karya Mas Nezar Patria yang saya suntuki waktu zaman kuliah dulu, tentang ‘Hegemoni Antonio Gramsci’ penerbit Pustaka Pelajar kalau ndak salah. Sungkem untuk buku itu, Mas…”

Nurel Javissyarqi: “Matur suwon sanget Mas Andrenaline Katarsis sudah mampir…”

Nezar Patria: “Andrenaline Katarsis, Terima kasih Mas, sudah mau membaca buku itu.”
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *