MEMERIKSA DIRI

Djoko Saryono *

Benarkah kehidupan dan kebudayaan kita sekarang sudah dipandu oleh intelektulitas atau akal pikiran/gagasan/nalar di samping pengetahuan atau ilmu? Tentu, secara serempak kita menjawab: sudah!

Mungkin memang kita telah dicapai kegemilangan ilmu, teknologi, dan ekonomi yang “beribu akal pikiran atau nalar”. Tetapi, mengapa kehidupan dan kebudayaan kita masih dipenuhi oleh rupa-rupa fundamentalisme, ekstremisme, radikalisme, terorisme, sektarianisme, rasisme, etnosentrisme, sadisme, kekerasan, ketimpangan kemakmuran, dan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan – yang tampak menafikan keberadaan dan peran nalar dan ilmu?

Demikian juga mengapa paranormal, peramal, ahli nujum, astrolog, penghipnotis, dukun, “dunia lelembut”, “iming-iming sulapan”, dan seje-nisnya makin hari justru makin marak, naik daun, populer, dan menguasai hidup kita (sampai mengalahkan ilmuwan dan agamawan) – yang men-cerminkan tersingkirnya akal pikiran (sehat) dan pengetahuan?. Pendek kata, kalau nalar dan pengetahuan (ilmu) menjadi nakhoda hidup kita, mengapa justru sekarang merajalela masalah kritis yang harus diselesaikan dan dijawab dengan akal (nalar) dan pengetahuan?; mengapa justru makin menghilang kejernihan dan ketajaman bernalar dan berilmu?

Selain itu, benarkah kehidupan dan kebudayaan kita sekarang sudah dipandu oleh hati nurani atau jiwa kita? Tentu, kita juga serempak menjawab sudah sambil mengunjukkan sekian banyak argumentasi dan bukti! Tapi, mengapa kehidupan dan kebudayaan kita makin dikuasai oleh sikap dan perilaku saling curiga, saling membenci, saling berpandangan negatif, saling menutup diri (eksklusif), saling tidak mempercayai, saling tuduh, saling mau menang sendiri, saling merasa benar sendiri, dan saling “monohok kawan seiring” – yang mencerminkan tergusurnya keberadaan hati atau jiwa kita?

Mengapa pula egoisme, narsisisme, rasisme, hedonisme, permisifisme, banalisme, libidonisme atau erotisme, tipu-muslihat, amoralitas, dan sejenisnya makin hari makin marak dan mengendalikan hidup kita? Mengapa stres, stroke, disorientasi, skizofrenia, dan megalomania serta kehampaan hidup makin meroket dan banyak terjadi di samping makin laris para ahli terapi jiwa atau para pemandu hati nurani (termasuk buku-buku panduan terapi jiwa atau penyembuhan hati zulmani)?

Demikian juga mengapa gosip, “rumor”, kasak-kusuk, omong kosong, kabar palsu, info dusta, dan kabar angin makin marak luar biasa, naik daun, dan mewarnai hidup kita di samping tayangan infotainment alias gosip dan kabar angin selalu menempati rating tertinggi – yang semuanya menggambarkan tiada berfungsinya hati nurani atau jiwa kita? Pendek kata, kalau hati nurani atau jiwa sudah memimpin hidup kita, mengapa sekarang justru makin meruyak kekosongan jiwa, kebengisan, kekejaman, kecongkakan, dan berbagai bentuk ketakmanusiawian dalam kehidupan dan kebudayaan kita?; mengapa semakin menghilang-langka rasa kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan?

Jangan-jangan sampai setakat ini kehidupan dan kebudayaan kita memang belum dipandu oleh akal pikiran (nalar) yang sehat, pengetahuan (ilmu) yang tepat, dan hati nurani (jiwa) yang maslahat. Jangan-jangan akal pikiran, ilmu, dan hati kita selama ini telah menikung atau menyimpang dari jalan sebenarnya – bukannya mendukung, melainkan malah menelikung kemerdekaan dan kelangsungan hidup manusia. Bahkan, jangan-jangan akal pikiran, pengetahuan, dan hati nurani kita sudah pingsan atau paling tidak kita usir dari segenap lapangan kehidupan dan kebudayaan kita – dan dengan demikian kita sepenuhnya dikuasai dan dikendalikan oleh hasrat, nafsu, dan mimpi-mimpi semata.

Bukankah Robin Baker sudah menulis buku Sains yang Sesat (2004), J.W.M. Verhar menulis buku Akal yang Sakit (2002), Erich Fromm menulis buku Masyarakat yang Sakit (Sehat) (1993), dan beratus-ratus buku terapi kejiwaan telah ditulis? Apapun jawaban kita, gejala kontradiktif dan paradoksal tersebut menunjukkan bahwa intelektualitas, rasionalitas, spiritualitas (spirit=jiwa, semangat), dan imajinasi kita sedang bermasalah atau kurang fungsional-konstruktif bagi kehidupan dan kebudayaan kita.

Sebagai manusia, kita tampaknya sedang menyaksikan, mengalami dan malah merayakan ketumpulan, kedangkalan, dan kerapuhan serta kekeruhan daya intelek, rasional, spiritual, dan imaji. Hal ini berarti, insan intelektual, rasional, spiritual, dan imajinatif kita sekarang justru menjadi bagian dari masalah, bukan penyelesai masalah dalam kehidupan dan kebudayaan kita. Padahal keempatnya merupakan “empat sekawan” (empat serangkai) yang diperlukan bagi kemerdekaan dan kelangsungan hidup manusia yang aman dan selamat bersama. Mungkin kita perlu memeriksanya kembali, bahkan (bila perlu) menatanya kembali.

21 Juni 2020

______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *