CERDAS BAHASA DAN SENI

Djoko Saryono *

/1/
Psikologi pendidikan terutama psikologi pembelajaran berkembang sangat pesat. Pelbagai temuan, pandangan, konsep, teori, pendekatan, dan strategi baru tentang pembelajaran dan hal-hal yang terkait dengan pembelajaran dikemukakan dan dipublikasikan oleh pakar psikologi pembelajaran. Hubungan antara otak dan pembelajaran, gaya belajar siswa (baca: pembelajar), dan kecerdasan manusia merupakan beberapa temuan empiris yang sangat penting yang [mulai] mengubah pandangan, konsep, teori, pendekatan, dan strategi pembelajaran.

Sebagai contoh, pandangan dan teori tentang kecerdasan emosi, kecerdasan adversitas, kecerdasan spiritual, dan terutama kecerdasan majemuk terbukti telah menggoyahkan atau meruntuhkan keyakinan kita mengenai kecerdasan intelektual – yang kita anggap segala-galanya. Demikian juga pendekatan dan atau strategi pembelajaran [dan pengajaran] kuantum, pembelajaran dipercepat, pembelajaran investigatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran [dan pengajaran] kontekstual telah memudarkan berbagai pendekatan dan strategi behavioristis. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa telah terjadi suatu revolusi pembelajaran [ada sebuah buku pembelajaran yang berjudul Revolusi Pembelajaran!].

/2/
Dalam revolusi pembelajaran ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para tenaga kependidikan, pengambil kebijakan pendidikan [terutama pembelajaran], dan pelaksana pendidikan. Pertama,temuan dan pandangan baru tentang hubungan otak dengan pembelajaran. Kedua, pandangan dan teori baru tentang kecerdasan manusia. Ketiga, pendekatan dan strategi baru pembelajaran.

Temuan dan pandangan baru tentang hubungan otak dengan pembelajaran menyatakan bahwa pembelajaran sangat ditentukan oleh kondisi otak manusia. Pembelajaran menggunakan kedua belah otak manusia [otak belahan kiri dan otak belahan kanan]. Pembelajaran harus melibatkan seluruh lapisan otak [otak reptil, otak limbik, dan neokorteks]. Selanjutnya, kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kenyamanan dan kebugaran kondisi otak manusia. Lebih jauh, pembelajaran harus mengembangkan semua kecerdasan manusia.

Temuan, pandangan, dan teori baru tentang kecerdasan manusia menunjukkan bahwa kecerdasan bukan berkenaan dengan aspek intelektual atau kognitif manusia saja. Kecerdasan manusia berkenaan dengan berbagai dimensi psikologis manusi. Kecerdasan manusia bermacam-macam, di antaranya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan adversitas, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan majemuk; semua kecerdasan manusia perlu dikembangkan dalam pembelajaran.

Pendekatan dan strategi baru [dalam] pembelajaran menyatakan bahwa pembelajaran harus bertumpu pada siswa [gaya belajar siswa], bermakna bagi siswa, kontekstual bagi kebutuhan siswa, dan harus berlangsung secara aktif, nyaman, senang, dan gembira. Pendekatan dan strategi pembelajaran mutakhir tampak selalu mempertimbangkan hal-hal tersebut.

/3/
Baik dalam temuan dan pandangan baru mengenai hubungan otak dengan pembelajaran, temuan dan teori baru tentang kecerdasan manusia maupun pendekatan dan strategi pembelajaran mutakhir, bahasa [bahasa apapun!] selalu hadir dan mengambil peranan. Status bahasa dalam tiga hal tersebut berubah-ubah dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, status bahasa hanya sebagai unsur yang terdapat dalam fungsi-fungsi otak yang bekerja dalam proses pembelajaran, kemudian status bahasa sebagai unsur kecerdasan manusia, dan kemudian status bahasa [mengalami peningkatan] sebagai suatu kecerdasan [baca: kecerdasan bahasa, verbal/linguistic inteligence].

Sebagai contoh, dalam pandangan lama tentang hubungan otak dengan pembelajaran, bahasa dipandang hanya berurusan dengan otak belahan kiri. Sekarang bahasa dipandang berurusan dengan otak belahan kiri dan otak belahan kanan; bahasa menentukan kerja otak dalam proses belajar. Dalam teori kecerdasan intelektual (IQ), bahasa dipandang sebagai unsur utama kecerdasan selain logika dan matematika. Dalam teori kecerdasan emosi bahasa [dalam hal ini keterampilan berbahasa] dipandang sebagai satu unsur utama kecerdasan selain ketahanan emosi, kendali perasaan, dan lain-lain.

Selanjutnya, dalam teori kecerdasan adversitas, bahasa dipandang sebagai salah satu unsur kreatif dan produktif manusia yang menentukan ketahanan dan kemantapan diri seseorang untuk mengubah hambatan menjadi peluang. Kemudian dalam kecerdasan spiritual, bahasa dipandang sebagai katalisator sekaligus penentu makna dan pemaknaan hidup manusia. Lebih lanjut, dalam kecerdasan majemuk, bahasa telah dipandang sebagai salah satu kecerdasan [ingat: bukan sekadar keterampilan atau kecakapan!] selain kecerdasan logis-matematis, gambar-keruangan (spasial), kinestetik-tubuh, musikal, intrapribadi, antarpribadi, naturalis, dan eksistensial [spiritual].

Lebih jauh, dalam pembelajaran kuantum, pembelajaran dipercepat [akseleratif], dan pembelajaran kontekstual, bahasa [baca:kecakapan bebahasa] diperlakukan sebagai salah satu unsur penting yang dapat mendukung keberhasilan belajar. Ini semua menunjukkan bahwa bahasa, kecakapan bahasa, dan kecerdasan bahasa merupakan hal penting dalam pembelajaran karena keberadaan, kedudukan, peran, dan fungsinya yang strategis dalam proses dan hasil pembelajaran.

Dalam pembelajaran dengan menggunakan teori kecerdasan majemuk, kecerdasan bahasa berhubungan secara tak terpisahkan dengan delapan kecerdasan lain. Karena itu, kecerdasan bahasa dapat dijadikan jalan untuk meningkatkan delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan logis-matematis, tubuh-kinestetis, gambar-keruangan, musikal, intrapribadi, antar-pribadi, naturalis, dan spiritual. Sementara itu, dalam pembelajaran kuantum dan pembelajaran dipercepat [akseleratif], kecakapan berbahasa dapat dijadikan komponen utama strategi pencapaian hasil yang optimal dan efektif.

Dalam pelbagai pandangan baru tentang pembelajaran malah acap dinyatakan bahwa kecakapan berbahasa merupakan terapi [wahana penyembuhan] pelbagai penyakit pikiran dan hati. Ini semua menunjukkan bahwa kecakapan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara merupakan wujud kecerdasan manusia selain menentukan kualitas kecerdasan dan pikiran manusia. Oleh karena itu, kecerdasan bahasa yang dapat berupa kecakapan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis perlu memperoleh perhatian dalam pembelajaran apa pun – bukan semata pembelajaran bahasa.
***

______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *