IJEN BONDOWOSO


Masuki M. Astro

“Ngupahi” (istilah di Madura yang maknanya memberi hadiah) pada anak-anak di masa tidak boleh kemana-mana. Dua remajaku, sejak sebelum Ramadhan sudah pulang dari pondok dan kemudian lebih banyak di rumah. Kebetulan, tempat-tempat wisata di Bondowoso mulai dibuka, setelah beberapa bulan ditutup karena pandemi COVID-19. Kemarin, Ahad (12/7) kami berangkat menjelajahi daerah-daerah ketinggian di Bondowoso, di wilayah Kecamatan Ijen (dulu bernama Sempol). Masya Allah, indahnya ciptaan Allah. Meskipun jalanya naik turun melewati gundukan batu-batu, hingga tangan kemeng menahan setir, akhirnya terbayar lunas dengan ketakjuban memandangi indahnya alam.

Jalurnya memang hanya bisa dilalui roda dua. Tujuan pertama ke puncak Megasari. Di tempat pemberangkatan olahraga paralayang ini, kami bisa menikmati alam wilayah Ijen di bawah sana. Cukup beberapa saat di Megasari, kami naik lagi melewati perkebunan kopi di Blawan. Melewati lokasi pemandian air panas, kami masih naik lagi ke Kaligedang dan kemudian petualangan dimulai saat melewati jalanan tak beraspal, penuh debu, kadang batu-batu. Ada beberapa yang jatuh dari motor, termasuk si Embun Pagi dan istri. Maklum, kami menggunakan motor standar, yang mestinya lebih pas menggunakan motor jenis trail. Sekitar 10 menit sebelum nyampai di Taman Galuh, wilayah di sebelah Kawah Ijen yang dikenal ke mancanegara dengan fenomena api birunya, beberapa rombongan sudah enggan melanjutkan perjalanan. Saya, istri dan anak-anak maksa terus naik. Dan, memang lelah itu terbayar. Masya Allah, pemandangan bukit dengan lapisan rumput hijau ditingkahi kelebatan awan putih membawa kami seolah-olah melihat gambar yang biasa dijadikan wallpaper.

Meskipun penuh takjub, tapi kami satu suara, bahwa tidak mau lagi pergi ke tempat itu untuk kedua kali, jika kondisi jalannya masih seperti itu. Untuk “ngupahi” badan yang letih dan yang jelas penuh debu, terakhir kami mampir di pemandian air panas di Blawan. Kami merendam diri beberapa lama. Habis maghrib kami pulang dan ngeri-ngeri sedap juga menembus hutan lebat yang konon banyak menghadirkan cerita-cerita mistis bagi mereka yang melintasi wilayah itu.


***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *