KUALAT: MASIH CERITA SEPUTAR PAK SAPARDI DJOKO DAMONO


Sunu Wasono *

Suatu kali kami diundang rapat di Pusat Bahasa, Rawamangun. Karena cuma rapat, kami bisa pulang agak siang. Setelah rapat, seperti biasa, masih ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman dari Pusat Bahasa. Setengah empat sore kami pulang menuju Depok. Sepanjang perjalanan kami isi dengan ngobrol meskipun di Pusat Bahasa sudah ngobrol. Memasuki Kalibata topik obrolan saya alihkan ke soal duren. Waktu itu lagi musim duren dan di daerah Kalibata banyak dijual duren, entah dari mana datangnya duren-duren itu. Kabarnya duren-duren itu didatangkan dari Lampung dan Palembang.

Saya ceritakan kepada Pak SDD (kami di kampus sering memanggil begitu kalau tidak sedang berbicara atau berhadapan langsung) tentang Prof. Dr. Ayat Rohaedi (Mang Ayat)–semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya–yang suka mengajak saya mencari duren ke Sawangan. Maka obrolan pun bergulir. Dalam obrolan itu saya tekankan bahwa Mang Ayat kalau beli duren gak kira-kira. Sudah makan di tempat, masih membawa pulang pula. Tak sadar saya bahwa sebetulnya saya mengajak Pak SDD ngrasani Mang Ayat. Sejujurnya saya ajak Pak SDD ngobrol tentang duren agar dia tertarik sehingga membeli. Kalau ia membeli, pastilah saya kebagian. Dalam konteks sekarang “siasat” macam itu bolehlah disebut siasat Mukidi. Rupanya Pak SDD tanggap sasmita. Alhasil, Pak SDD menepikan mobilnya. “Yo wis, ayo tuku,” katanya. Alhamdulilah, kesampaian juga, kata saya dalam hati. Kami turun membawa tas masing-masing, lalu menyeberang. Posisi pedagang berada di trotoar seberang jalan.

Pedagang mempersilakan kami mencicipi duren yang sebagian sudah dibuka. Dengan jari telunjuk kami mencoba rasa duren yang disodorkan pedagang. Pedagang mengambil sebagian isi duren dengan ujung pisau, lalu kami mengambilnya dan memakannya. Setelah mencoba rasanya, akhirnya Pak SDD membeli beberapa, tidak banyak. Kami angkut ke mobil duren-duren itu. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan kami “ngrasani” (tentu saja sambil tertawa-tawa) Mang Ayat yang suka duren dan teman sejawat, Pak Yoesoev, yang tidak suka duren. Sekadar info, Pak Yoesoev itu kalau mencium baru duren langsung limbung. Sebaliknya, Mang Ayat doyan sekali duren, bahkan tingkatnya, menurut saya, sudah sampai pada taraf kranjingan sama duren. Pernah pada saat saya diajak mudik ke kampungnya di Jatiwangi, yang Mang Ayat cari di perjalanan adalah duren, benter (ikan wader goreng), ampas kecap, dan sate.

Tak terasa kami sudah memasuki jalan Kalimantan. Dalam hitungan detik, sampailah kami di kediaman Pak SDD. Namun, betapa kagetnya saya ketika menurunkan duren dari mobil. Tas saya tidak ada di atas jok mobil. Waduh. Sial, kata saya dalam hati. Rupanya saat mencoba rasa (mencicipi) dan memilih duren yang akan dibeli, saya lupa pada tas yang saya lepaskan dari pundak saya.

“Lhoh, piye to,” kata Pak SDD. Tak pakai pikir panjang, saya langsung kembali ke Kalibata untuk mengambil tas. Maklum, tas itu masih baru, hadiah dari teman (orang Korea) yang kuliah di FIBUI. Mana di dalamnya ada buku dan kamus. Karena itu, saya harus mengambilnya. Jarak Depok-Kalibata tak bisa dibilang dekat. Di dalam bus Miniarta cokelat saya “nggleges” sendiri. Memaki sekaligus menertawakan diri sendiri yang pengung. “Dasar pengung” (meminjam istilah yang dipakai Pak SDD kalau lagi bercerita tentang seseorang yang perilakunya konyol), maki saya pada diri sendiri. Nasib nasib!

Tiba di lokasi tas sudah diamankan abangnya. Situasi di Kalibata makin ramai. Orang yang datang hendak membeli duren makin banyak. Dijelaskan oleh abang tukang duren bahwa dirinya tak tahu kalau tas saya tertinggal. Saya hanya mengiyakan saja. Setelah itu, saya bilang terima kasih dan buru-buru pamit. Sebuah mikrolet jurusan Kampung Melayu-Pasar Minggu membawa saya ke terminal Pasar Minggu. Selanjutnya, dari sana dengan miniarta cokelat saya pulang ke Depok.

Malamnya saya bertandang ke rumah Pak SDD. Saat saya menapak teras, Pak SDD membuka pintu dan terbahak-bahak.

“Itu akibatnya kalau ngrasani orang. Kualat.”

Sambil menunjuk ke arah duren, Pak SDD bilang, “Kuwi bageanmu.” Malam itu satu buah duren saya makan sendiri di hadapan Pak SDD yang masih terheran-heran dengan peristiwa sore sebelumnya.
***

Keterangan gambar: Sunu Wasono bersama Sapardi Djoko Damono, foto dari Yenny S Wasono.
_______________
*) Sunu Wasono lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *