LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (2)

Sunu Wasono

Di luar dugaan, Lik Mukidi sanggup begadang semalaman “hanya” untuk mendengarkan pertunjukan wayang dengan lakon “Lenga Tala”. Tak tahulah awak, apa sebab Lik Mukidi bisa sekuat itu. Mungkin karena “sajennya” cukup lengkap sehingga ia betah melek. Bagaimana tidak? Singkong apui rebus yang menjadi kesukaannya tersedia. Di samping itu, ada rondo royal dan utri. Belum kacang goreng dan blanggreng yang juga kesukaannya. Mana minuman yang awak sediakan setermos dan seteko kecil kopi giling, bukan kopi sasetan. Coba bayangkan, apa tak nikmat. Hal-hal itulah barangkali yang membuat Lik Mukidi bisa bertahan melek semalam suntuk. Faktor kecocokan lakon dan dalang boleh jadi ikut mendorong kesanggupan dia untuk lek-lekan, atau barangkali karena Lik Mukidi memang laki-laki perkasa sehingga ketika diajak begadang, ia terlihat tenang-tenang saja. Dan faktanya ia memang sanggup dan kuat melek sampai pagi. Mau apa lagi.

Sejujurnya saat mendengarkan pertunjukan itu awak sempat tertidur, entah berapa lama, di kursi. Namun, karena sebelumnya awak sudah pernah nonton, awak bisa mengimbangi Lik Mukidi saat berdiskusi. Hanya perlu dicatat dan digarisbawahi bahwa Lik Mukidilah yang tetap dominan dalam diskusi itu. Maklum ia memang tipe orang yang tak mau dikalahkan. Tapi kalau berhadapan dengan orang lain, ia tak begitu. Hanya kalau berhadapan dengan awak ia terkesan paling hebat. Pokoknya serba tak mau dikalahkan dalam urusan apa pun. Saking ia tak mau kalah, hampir saja awak kehilangan semangat untuk melanjutkan cerita tentang betis, eh… maksud awak cerita tentang lenga tala ini. Tapi karena awak sudah berjanji untuk melanjutkan, sekarang awak lanjutkan. Apalagi Lik Mukidi telah menitahkan awak untuk melanjutkan.

Baiklah, awak sanggupi titah Lik Mukidi agar cerita tentang lenga tala ini berakhir, juga agar segala sesuatu yang terkait dengan urusan betis dan kutukan terjelaskan di bagian ini sampai tuntas tasss. Namun, sebelum awak mulai bercerita, ada baiknya awak singgung sedikit tentang lakon “Lenga Tala” ini. Ceritanya memang tentang lenga tala, tapi cerita atau peristiwa dalam cerita ini banyak. Mungkin yg terbanyak justru cerita tentang petualangan Bambang Kumbayana alias Durna. Jadi, boleh saja cerita ini diberi judul “Kisah Cinta Durna”, “Kisah Cinta Manusia-Dewa” , atau kalau mau ditekankan aspek “sarunya”, bisa saja judulnya “Mana Bisa Manusia Bercinta dengan Kuda”, dan sebagainya dan sebagainya. Agar tak makin bikin penasaran, awak mulai saja.
***

Di Gajahoya Kota, Destarata memanggil sejumlah tokoh: Gendari, Kunthi, Yama Widura, dan Sengkuni, untuk bersidang. Pokok pembicaraan sidang sebetulnya tentang pusaka lenga tala (minyak tala) warisan Pandu Dewanata. Namun, ketika di awal sidang Destarata menanyakan kabar kesehatan Pandawa serta hubungan para Kurawa dengan Pandawa, sidang langsung memanas sehingga tak langsung bisa membahas pusaka lenga tala. Yama Widura yang pertama kali diminta Destarata untuk bicara melaporkan bahwa para Kurawa selama ini suka bertindak kasar terhadap Pandawa. Sebaliknya, Sengkuni yang didukung Gendari berkata lain. Ia bilang bahwa Pandawalah yang berulah dan tak pernah mau mengalah. Setiap kali timbul masalah di antara Kurawa dan Pandawa, tak pernah tidak, Pandawa penyebabnya. Kurawa senantiasa berbuat baik kepada Pandawa. Sebaliknya, Pandawa selalu jahat terhadap Kurawa.

Untuk memperkuat laporan dan pendapatnya, Sengkuni menyampaikan satu contoh kasus asmara yang mengakibatkan keributan antara Kartamarma dan Arjuna. Ketika Kartamarma dan Arjuna keluar dari istana menuju alun-alun, banyak cewek yang bersuit-suit dan menggoda Arjuna. Namun, terhadap Kartamarma mereka sama sekali tak memberikan perhatian. Saking tak berminatnya, mereka seakan-akan menganggap Kartamarma tak ada. Hal itu menurut Sengkuni tak adil. Seharusnya Arjuna tak boleh ganteng agar Kartamarwa tak kehilangan perhatian dari cewek-cewek. Wajarlah, katanya, bila kemudian Kartamarma marah dan menantang Arjuna berduel. Celakanya, dalam duel itu Kartamarma kalah. Nah, kekalahan Kartamarma itu, menurut Sengkuni, merupakan bukti bahwa Pandawa suka berulah dan tak mau mengalah, sementara Kurawa yang “nuwani” dan mengemong senantiasa mengalah.

Mendengar laporan Sengkuni yang ngaco itu, Kunthi kesal dan hatinya pedih seperti teriris-iris. Ia bukan sekadar membantah, melainkan menolak seratus persen semua yang dikatakan Sengkuni. Dikatakannya bahwa Sengkuni berbohong. Katanya, Kurawa dengan dukungan Sengkunilah yang sering berulah. Dia katakan bahwa Sengkuni telah memutarbalikkan fakta. Pandawa yang senantiasa mengalah dilaporkan sebaliknya. Gendari pun angkat bicara. Ia tak mau anak-anaknya (Kurawa) dan adiknya (Sengkuni) disalahkan. Ia membenarkan semua kata-kata Sengkuni. Sidang pun jadi ramai. Destarata bingung. Namun, dengan kewenangannya, akhirnya ia mengalihkan topik pembicaraan ke topik utama miting, yakni pusaka lenga tala.

Mengawali pembicaraannya, Destarata menceritakan asal-usul pusaka lenga tala. Panjang lebar ia bercerita tentang lenga tala dan detik-detik akhir kematian Pandu. Ia jadi sedih kalau mengenang kematian adiknya. Terlalu panjang kalau harus dikisahkan. Tapi kalau boleh diringkas, begini inti ceritanya. Sebelum meninggal, Pandu (adik Destarata dan ayah Pandawa) menyerahkan pengasuhan Pandawa kepada Destarata. Di samping itu, ia juga menitipkan pusaka lenga tala kepada Destarata dengan pesan agar lenga tala itu diserahkan kepada Pandawa kelak setelah mereka dewasa. Karena Pandawa kini sudah cukup dewasa, Destarata ingin menyerahkan minyak tala itu kepada mereka. Untuk itu, ia minta agar Pandawa dipanggil untuk menghadapnya. Sayang sekali pada waktu itu Pandawa sedang pergi entah ke mana. Maka Destarata menugaskan Sengkuni untuk mencari Pandawa. Sidang pun ditutup dan dibubarkan. (bersambung)
***

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *