Puisi-Puisi Wahyu Hidayat

YANG MENGHAMBA PADA PENGAKUAN

/1/
Seseorang menulis sajak
dan bermain kata-kata untuk dirinya sendiri.

Di waktu malam
saat orang-orang terlelap, ia berjalan
ke tebing-tebing curam.

Perihal sepi yang mencuat
dari jurang-jurang
ditulisnya sebagai kemurungan.

Pejam dan diam
sendiri yang menjelma keramaian.

Ia menikmati seluruh sunyi
sambil berharap:
kelak namanya tertulis pada lembar koran
pada sejarah yang digaungkan pekerja kesenian.

Di malam lalim
sajaknya tumbuh serupa sulur anggur
atau alang-alang atau tumbuhan liar
yang subur dan ranum.

Kesepian abadi
dirasakannya seperti martir yang berdesak
mengguling ketakadilan dan tabiat barbar.

Ia terbayang rambut rendra
yang terbakar puisinya
atau tatapan sapardi yang tenang
seperti Yang Fana adalah Waktu.

Kita abadi, katanya.

Bulan menghitam dan setangkai bunga
jatuh ke permukaan telaga.
Kepada orang-orang
ia enggan berkisah tentang raja-raja
atau awan-awan.

Berkeriaplah suara subuh
pada sebentang telinga dan selimut tua.

/2/
Orang itu masih bermimpi:
kelak potretnya terpampang pada reklame
di sudut gang atau pusat kota
berikut potongan sajak yang ia tulis
sebagai ketaatannya pada sunyi
pada sepi.

/3/
Angka-angka pergi ke musim lain
seseorang yang masih menulis puisi dan bermimpi:
ditinggalkan dan dilupakan

… tanpa pengakuan.

Jember, 2019

API DAN KAYU

Kau dan aku adalah nyala api dan susunan kayu
Kita berdua bertemu tanpa terduga pada sebuah tungku

Seseorang menyulutmu atas diriku
Saat pantat panci tengah sedia dan telah menunggu

Aku merelakan seluruh bagian dariku tunai
Bahkan jikapun nanti tubuhku lerai dan cerai

Pada saat aku terbengkalai dan engkau menyala
Aku mulai membayangkan kematian benar-benar tiba

Mungkin dari seluruh tabiatmu yang meniadakan
Masih ada sekecil nurani untuk menyelamatkan

Sehingga pada saat aku tengah mulai membuyar
Engkau sesekali padam

Tapi seseorang menyulutmu kembali
Sehingga kehendakmu akan tak pernah abadi

Maka bayarlah seluruh tubuhku
Dengan nyalamu yang paling biru

Sebab nanti saat aku telah jadi arang
Engkau pun padam

Dan kita berdua pun saling meniadakan
Sebagai budi, meski seringkali diabaikan.

Jember, 2019

PADA SETIPIS JEDA

Pada setipis jeda antara pejam dan jaga
berangkatlah kereta
ke kota lain
ke tujuan lain.

Yang pergi masih membawa seisi rumah
ke dalam gerbong-gerbong
ke dalam tas
ke dalam ransel.

Dan pundakmu yang dingin
nyaris runtuh.

Pada setipis jeda antara pejam dan jaga
rindu tumbuh
hijau
dan perdu.

Wajah ibu
berkabut;
berbilang kenangan
mengalir
kekal dan baka.
Seperti tak punya cuaca.
Seperti pula tak punya waktu.

Dan matamu
lebam dan biru.

Hari-hari
tumbuh bangunan-dan-kekuasaan
politik yang gaduh
desir-desir harapan dan penyambutan
tepuk tangan juga dendam.

Tapi, pada setipis jeda antara
pejam dan jaga;
tubuh ibu
terbaring
menunggu.

Jember, 2019

*) Wahyu Hidayat, lahir di Banyuwangi 28 Oktober 1995. Pendiri Komunitas Tulis Graps, dan bergiat di Komunitas Tobong Karya. Beberapa kali mendapat penghargaan, di antaranya: Juara 2 Radar News Competition, Juara 3 lomba cipta puisi Dewan Kesenian Blambangan, masuk 20 besar sayembara manuskrip puisi Dewan Kesenian Jawa Timur, dan Juara 2 lomba cipta puisi 7 kota (Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan) yang diadakan Universitas Jember (UNEJ). Puisi-puisinya termuat di koran, majalah dan antologi: Banyuwangi dalam Langgam, Merangkai Damai, Sastrawan Jilid III, Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa, Puisi Sakkarepmu, Balada Tanah Takat. Kumpulan puisi pertamanya, Kesaksian Musim (2016). Santri Darussalam Blokagung. Dapat berkomunikasi melalui Facebook: Wahyu Lebaran atau Instagram: @wahyulebaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *