Teori Evolusi Perlu Diakomodir dalam Agama, Kenapa Tidak?

Muhammad Muhibbuddin *

Jika Tuhan adalah Mahakasih dan penuh kebajikan, kenapa banyak terjadi kekejaman dan penderitaan di dalam kehidupan? Jika Tuhan adalah Mahamengetahui (omniscient) dan Mahakuasa (omnipotent), kenapa ada banyak kejahatan? Di manakah kekuasaan dan kasih Tuhan ketika ada seorang ibu atau anak-anak polos tak berdosa mati kelaparan atau menjadi korban perang? Apakah Tuhan tidak tahu dan tidak mampu menolong ibu dan anak-anak malang itu atau Dia memang sengaja membiarkan mereka dalam penderitaan?

Persoalan-persoalan tersebut menunjukkan bahwa agama (teologi) menghadapi problem nyata dan serius ketika hendak meneguhkan Tuhan sebagai wujud yang penuh kebajikan (benevolent), cinta (love), dan kasih (mercy). Ada semacam kontradiksi ketika Tuhan dipersepsikan sedemikian rupa sebagai “Yang Baik”, bahkan sebagai sumber segala kebaikan, tetapi dalam kenyataannya terjadi beragam kejahatan.

Realitas kejahatan melahirkan apa yang disebut dengan Theodicy: membela atau mempertahankan kebajikan dan kemahakuasaan Tuhan terkait terjadinya kejahatan. Problem theodicy ini di antaranya secara lugas diungkapkan David Hume dalam Dialogues Concerning Natural Religion, Ed.N.K.Smith, (Oxford: Oxford University Press, 1935:244): “Apakah Tuhan hendak mencegah kejahatan tetapi tidak mampu? Jika demikian, maka dia tidak berkuasa. Atau dia mampu tetapi tidak berkehendak? Jika demikian, dia jahat. Atau dia mampu dan juga berkehendak? Jika demikian, lantas dari mana datangnya kejahatan?”

Dalam wacana teologi klasik paling tidak ada tiga jenis kejahatan: (1) kejahatan moral yang bersumber dari prilaku manusia yang dalam bahasa agama disebut dosa, (2) segala bentuk rasa sakit dan penderitaan baik fisik maupun psikis yang dialami oleh manusia, dan (3) bencana alam.

Untuk dua jenis kejahatan pertama, agama masih bisa mengatasi problem theodicy. Salah satu jawaban agama (teologi) untuk mengatasi problem theodicy tersebut adalah konsep free will (kehendak bebas). Dengan kehendak bebasnya, manusia memungkinkan untuk memilih. Karenanya, segala kejahatan dan penderitaan yang menimpa manusia pada prinsipnya disebabkan oleh kehendak bebas manusia. Perang, aksi saling membunuh, dan tindakan saling menyakiti lainnya merupakan konsekuensi dari kehendak bebas. Kejahatan dan penderitaan lahir karena manusia memang memilih untuk saling menyakiti. Jika manusia memilih untuk saling berbuat baik, maka pilihannya itu akan meminimalisir kejahatan dan meringankan beban penderitaan. Dengan jawaban seperti ini, nilai baik Tuhan masih bisa dipertahankan, meskipun argumentasi itu mengandung kelemahan, misalnya, apakah “free will itu benar-benar ada dalam diri manusia? Para ilmuwan yang determinisitik semacam Einstein atau Harari menganggap kehendak bebas tak lebih dari mitos.

Selanjutnya, agama akan kalang kabut ketika dihadapkan pada jenis kejahatan ketiga: bencana alam. Free will tidak bisa menjawab berbagai jenis kejahatan yang muncul secara alami, seperti seseorang yang lahir dalam keadaan cacat atau organ-organnya tidak sempurna; spesies-spesies parasit dan beragam jenis mikro organisme yang membunuh jutaan manusia; predator macam singa atau srigala yang memakan mangsanya hidup-hidup; tsunami yang melululantakkan kota; gempa bumi yang memakan banyak korban dan berbagai bentuk kejahatan alam lainnya. Kehidupan di alam raya diliputi oleh beragam kekejaman, kebengisan, dan ketidaksempurnaan. Dari mana asal semua kejahatan alamiah ini? Apakah ini memang yang dikehendaki Tuhan? Kalau memang benar, betapa kejam dan beringasnya Tuhan, bukan?

Evolusi Sebagai Jawaban

Ada kebuntuan theodicy dengan hadirnya beragam ketidaksempurnaan, kejahatan dan kecacatan di alam semesta, sebab kejahatan alamiah ini justru paradoks dengan gambaran Tuhan sebagai Yang Mahabaik dan Mahakuasa. Atas dasar itulah, agama perlu mengakomodir teori evolusi guna mengatasi problem theodicy tersebut. Alih-alih memposisikannya sebagai musuh, teori evolusi sejatinya justru menjadi mitra bagi agama. Salah seorang teolog Kristen, Arthur Peacocke, menyebutnya sebagai “disguised friend” (sahabat tersembunyi) bagi agama.

Penjelasan tentang teori evolusi sebagai jawaban atas kebuntuan theodicy itu salah satunya dilontarkan oleh Francisco J. Ayala dalam bukunya, Darwin’s Gift: to Science and Religion (Washington D.C: Joseph Henry Press, 2007). Dalam bukunya ini, ketika mereflekesikan alam semesta yang diliputi beragam malapetaka, kejahatan, ketidaksempurnaan, penderitaan, bencana dan kematian, Ayala menyatakan: “Saya bergidik ngeri untuk berpikir bahwa orang-orang beragama diam-diam akan menghubungkan bencana ini dengan rancangan Tuhan yang cacat. Saya lebih melihatnya sebagai akibat pola yang janggal dari proses evolusi. (Sebab), Tuhan yang ada dalam wahyu dan keimanan adalah Tuhan yang Mahacinta, Mahakasih dan Mahabijaksana”. (Ayala, 2007: x1).

Dengan mengakomodir teori evolusi ke dalam agama, maka peristiwa-peristiwa kejahatan, bencana, malapetaka dan ketidaksempurnaan lainnya yang ada di alam semesta tidak perlu dihubungkan secara langsung kepada Tuhan, melainkan lebih sebagai hasil dari proses evolusi yang berjalan berdasarkan hukum alam. Salah satu karakter evolusi adalah ketidaksempurnaan. Hal ini berbeda dengan konsep penciptaan (Creation) dalam agama yang meneguhkan kesempurnaan atas Kreasi Tuhan. Argumen Creationisme yang menetapkan kesempurnaan Tuhan dalam mencipta ini jelas bertentangan dengan kenyataan, sebab dalam faktanya banyak sekali terjadi ketidaksempurnaan.

Ketidaksempurnaan ini misalnya dicontohkan oleh Ayala bahwa kanal vagina perempuan sesungguhnya terlalu kecil sebagai jalan kelahiran bayi. Maka, wajar banyak bayi yang mati selama kelahiran atau ibunya harus menjalani operasi Caesar. Contoh lain yang diberikan Ayala adalah kenapa lengan dan kaki manusia, yang mempunyai fungsi berbeda, tersusun atas materi yang sama, tulang yang sama, otot yang sama dan syaraf-syaraf yang semuanya tersusun dalam bentuk yang rata-rata sama?. Padahal kita bisa bikin analogi, dalam pembuatan mobil misalnya, komponen mobil yang menjalankan fungsi berbeda, dibuat dari bahan-bahan yang berbeda. Misalnya karburator yang berfungsi untuk mencampurkan bahan bakar kendaraan tidak mungkin dibuat dari materi yang sama dengan roda. Tapi lengan dan kaki manusia yang menjalankan fungsi berbeda, berasal dari bahan material yang sama. Jika memang ini Kreasi Tuhan, muncullah sebuah pertanyaan lucu: apakah Tuhan kekurangan bahan material untuk membuat lengan dan kaki manusia sehingga Dia menggunakan bahan yang sama?

Masih banyak contoh ketidaksempurnaan dalam organ tubuh kita. Kalau Tuhan dianggap sebagai pencipta langsung atas organ-organ tersebut melalui rancangan yang sempurna, bagaimana ketidaksempurnaan dan kecacatan itu muncul? Lalu apakah kita akan menyalahkan Tuhan? Kita tidak perlu menyalahkan Tuhan jika kita menerima teori evolusi. Teori evolusi bisa menjelaskan secara detail beragam ketidaksempurnaan, kecacatan dan kekurangan yang terjadi di alam semesta, termasuk kenapa lengan dan kaki manusia terbuat dari bahan yang sama? Kenapa kanal vagina perempuan yang menjadi jalan keluarnya bayi itu sempit? Kenapa sebuah organ tertentu tidak berfungsi? dan sebagainya.

Evolusi, kata Ayala, bekerja merespons kebutuhan organisme melalui seleksi alam, bukan dengan rancangan yang serba sempurna, melainkan melalui perbaikan gradual dengan memodifikasi secara pelan struktur yang ada. Evolusi juga menghasilkan semacam “rancangan”, sebagai akibat dari seleksi alam ketika mendorong terjadinya adaptasi.

Maka, teori evolusi, dengan metode penjelasannya yang sangat akurat dan teruji terhadap peristiwa-peristiwa alamiah yang diliputi beragam ketidaksempurnaan, malapetaka, kekejaman atau yang dalam bahasa teologi disebut dengan kejahatan, sebenarnya sangat dibutuhkan oleh agama, terutama untuk mengatasi problem-problem theodicy.

Teori evolusi juga menawarkan kerangka pemahaman ilmiah untuk membaca berbagai peristiwa alam dan sosial dalam kehidupan: jangan buru-buru menghubungkan berbagai peristiwa alam dan sosial kepada Tuhan. Misalnya gunung meletus menunjukkan Tuhan sedang marah, kelaparan dan kemiskinan melanda karena Tuhan sedang memberikan hukuman dan sebagainya. Berbagai kejahatan dan malapetaka yang sifatnya natural dan sosial seperti itu, dalam kerangka ilmiah, seharusnya dianalisa berdasarkan sebab-musababnya yang imanen, bukan transenden apalagi supranatural, melalui penyelidikan terhadap berjalannya sistem alam dan struktur sosial.
***

*) Muhammad Muhibbuddin penulis lepas tinggal di Krapyak, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *