Amsal Merah Marah

Saut Situmorang

“berikanlah kepada kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar
dan kepada Allah
apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”

tapi bagaimana
kalau kaisar itu bukan kaisar
dan menganggap dirinya sama dengan Allah?

orang orang kurus
yang bayangannya juga kurus
menengadahkan tangan mereka
ke langit
dengan desah napas tertahan

doa doa melambung ke udara
bagai ribuan balon kosong menghambur ke cakrawala
mengetuk ngetuk pintu langit
menggetarkan awan awan yang kering hujan

“sampai kapankah kami
mesti terus memberi
kering tulang kami
susut perut kami
sementara bumi sudah lama tak akrab lagi?”

di laut
sebuah pedal sepeda
tersangkut di celah karang
bau keringat mengerubunginya
bagai lalat lalat di tumpukan sampah di kota

orang orang kurus
dengan bayangan kurus
masih mengangkat tangan mereka
wajah wajah suram tergores kering airmata

“berikanlah kepada kaisar…”

ya burung tak bernama
yang mengerti bahasa cakrawala
terdengarkah detak jantung kami yang lemah
dari atas sana? adakah…?

padi tumbuh tapi layu jadi debu
keringat mengalir kering jadi debu
angin musim cuma membawa hujan debu
dalam tidur pun mimpi kami
tak bisa lari dari debu, debu, debu…
tapi di kota kota
yang cuma penuh serdadu serdadu tak berwajah
suara asing itu tak henti henti menyiksa

“berikanlah kepada kaisar…”

orang orang kurus
bernasib kurus, sekarang tak sabar lagi
dengan langit.
bagai kerbau luka napas mereka mendengus – kota kota membara
terbakar hangus
di mata mereka yang merah marah!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *