APIK TENAN: ANEKDOT DI SEPUTAR PERESMIAN HISKI


Sunu Wasono *

Rasanya belum lengkap tulisan saya tentang peran Pak Sapardi Djoko Damono (Pak SDD) di HISKI kalau tak disertai anekdot ini. TKP-nya di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Rawamangun. Pagi itu Mas Slamet Riyadi Ali terlihat gelisah. Sebentar-sebentar membetulkan kepala gespernya yang beringsut/bergeser ke kiri. Keringat mengucur di dahinya. Ia dikerumuni sejumlah orang yang beberapa di antaranya beberapa jam sebelumnya–pagi-pagi sebelum peserta datang–sudah bertemu dengan saya. Pada saat bertemu dengan saya, mereka menanyakan banyak hal, mulai dari siapa saja yang akan datang pada acara seminar, dari mana saja, berapa ratus jumlahnya, acaranya apa saja, sampai siapa yang menjadi penanggung jawabnya. Semua pertanyaan saya jawab semampu saya. Mereka mengaku “wartawan”.

Saya boleh dibilang datang paling awal karena dua hari sebelum acara dimulai sudah menginap di wisma Pusat Bahasa bersama Kang Hamidi (almarhum) dan Mas Endo Senggono. Pak SDD-lah yang menugasi kami. Waktu itu saya dan Kang Hamidi serta beberapa mahasiswa (UU–sekarang redaktur bahasa Tempo, M Samodra Harapan, dan Wawan) sudah kos di belakang rumah Pak SDD. Pak SDD mengajak kami (saya dan Kang Hamidi) ke Pusat Bahasa untuk meninjau lokasi. Sorenya Pak SDD pulang, sedangkan kami menginap di Pusat Bahasa.

Kenapa kami harus menginap sebelum acara dimulai? Pak SDD dapat info bahwa akan ada beberapa peserta dari daerah, kalau tak salah dari Makassar–yang akan datang lebih awal. Mereka datang lebih awal karena harus menyesuaikan keberangkatannya dengan jadwal keberangkatan kapal laut. Waktu itu kondisi transportasi belum semudah sekarang. Kami ditugaskan untuk mengurus peserta yang datang lebih awal. Benar saja, malamnya ada beberapa peserta datang. Ternyata ada juga peserta dari Padang (Ibu Adriyati Amir) yang datang pada malam itu. Besoknya ada peserta yang datang dari Purworejo. Saya lupa namanya, tapi menyimak ceritanya. Beliau menggeluti bidang bahasa dan sastra Inggris. Kedatangannya di Pusat Bahasa selain untuk mengikuti Munas dan Pilnas, juga ingin bertemu dengan teman-temannya yang pernah sama-sama mengikuti penataran sastra di Wisma Argamulya, Tugu, Puncak yang diselenggarakan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kembali ke soal “wartawan”. Acara Munas dan Pilnas HISKI itu, khususnya pada hari pertama, rupanya menarik perhatian wartawan. Di antara wartawan yang datang, ada sejumlah wartawan yang mengelilingi Mas Slamet Riyadi Ali. Saya tidak tahu kenapa Mas Slamet yang dikerubungi, padahal ada juga yang lain, seperti Pak Rozak, Pak Utjen, dan Pak Sitanggang. Mungkin dalam kepanitiaan, Mas Slamet berperan sebagai Humas. Mungkin. Tapi terlepas dari soal itu, penampilan Mas Slamet memang keren dan meyakinkan. Ia menggunakan dasi, berjas pula. Rambut disisir rapi.

Agaknya kegelisahan Mas Slamet ada sangkut-pautnya dengan “wartawan” itu. Hal itu terbukti ketika tiba-tiba Mas Slamet menghampiri saya. “Nu, piye iki?”
“Ada apa, Mas?” jawab saya.
“Wartawannya minta amplop.”
Batin saya, kenapa ada orang minta amplop saja gelisah. “Ambilin saja ke dalam, Mas. Masak Pusat Bahasa gak punya amplop sih. Berapa butuhnya? Kalau tak ada, saya belikan di toko Bhakti.”
“Astagfirullah. Uang. Uang, bukan amplop. Bisa bantu gak?”
“Mas, saya di sini kan cuma bala dhupak. Bisa bantu apa. Kalau menggandakan makalah, saya bisa.”

Akhirnya dia kembali ke orang-orang yang mengerumuninya. Entah apa yang dikatakannya, tahu-tahu mereka menghampiri saya. Waduh, mau bilang apa saya. Akhirnya, saya anjurkan mereka langsung menemui Pak SDD. Salah seorang di antara mereka bertanya yg namanya Sapardi Djoko Damono itu yang mana. Alamak, jelas mereka wartawan gadungan. Kalau mengikuti acara pembukaan dengan baik, mestinya tahu. Pantas ketika sebelumnya saya tanya wartawan dari media apa, mereka cuma bilang “ada”. Wartawan tak tahu Sapardi? Bagaimana mungkin?

Setelah saya tunjukkan, akhirnya, mereka menghampiri Pak SDD. Mungkin dikira akan mewawancarainya. Pak SDD mencari posisi yang agak jauh dari peserta yang lagi rehat. Saya berusaha nguping. Diam-diam mendekati. Tiba-tiba Pak SDD bilang, “Kalian itu bagaimana. Seharusnya kalian membantu kami, bukan malah minta. Kalian tahu HISKI itu singkatan apa? Kalau belum tahu, saya kasih tahu. HISKI itu singkatan Himpunan Sarjana Kere Indonesia.”
Selesai mengucapkan itu, Pak SDD bergegas kembali ke ruang pertemuan. Saya lihat wajahnya agak merah. “Wartawan” itu pun bubar.

Beberapa hari kemudian, saya bertandang ke rumah Pak SDD. Saya katakan kepadaPak SDD bahwa saya yang menganjurkan beberapa “wartawan” itu untuk mewawancarai Pak SDD.
Meledaklah tawa Pak SDD. “Sontoloyo. Ngemis kok ke kere. Ha ha ha. Apik tenan.”
Malam itu kami ngobrol tentang macam-macam. Pak SDD terlihat gembira dan puas atas keberhasilan acara HISKI di Pusat Bahasa.
***

_______________
*) Sunu Wasono lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *