MONOLOG ATAWA EKACAKAP

: MASIH TERKAIT DENGAN CERITA TENTANG PAK SAPARDI DJOKO DAMONO

Sunu Wasono *

Saya masih ingat peristiwanya, latar tempatnya, dan tokohnya, tapi tak ingat persis latar waktunya atau kapan terjadinya. Tapi yang jelas peristiwanya terjadi semasa Pak Sapardi Djoko Damono (Pak SDD) menjabat Pudek I pada tahun 1990-an. Latar peristiwanya atau kejadiannya di kampus FIBUI dan kediaman Pak SDD di Jalan Kalimantan, Depok. Suatu hari FIBUI mengadakan seminar sastra. Saya lupa temanya apa. Seingat saya, ketika Pak SDD menjabat sebagai Pudek 1, sering diadakan seminar di FIBUI. Ada seminar Sastra Modern, Seminar Sastra dan Wanita, Seminar Sastra Bandingan, Seminar Romantisisme, Seminar Sastra dan Filsafat, Seminar Sosiolinguistik, dan entah seminar apa lagi. Dari makalah seminar itu diambillah sejumlah makalah untuk dimuat di majalah “Lembar Sastra” (sebelum ada jurnal “Wacana”) milik FIBUI, seingat saya.

Seperti biasa, pada menit-menit terakhir sebelum hari H, biasanya kerja panitia meningkat. Pada waktu itu, sehari sebelum seminar, kami menggandakan dan menjilid/menstaples makalah. Kegiatan dipusatkan di gedung 2. Yang terlibat kegiatan selain panitia juga tenaga pengganda dari divisi percetakan.

Seingat saya selain punya mesin cetak, FIB juga punya mesin stensil yang dioperasikan dengan tangan. Orang yang paling tahu dan hafal tentang “kelakuan” mesin stensil adalah Pak Djiman. Dalam hal ini, bolehlah ia disebut “pawang” mesin stensil. Pak Djiman tipe orang yang tak banyak bicara. Sehari-hari berkacamata bulat, berambut gondrong, dan suka menggunakan pakaian mekanik warna biru tua. Saya pernah dibilangi senior bahwa Pak Djiman itu seorang prof penyendiri yang baik hati. Saya percaya karena faktanya Pak Djiman hampir tak pernah berkumpul atau ikut nongkrong di kantin. Mahasiswa yang menjadi pengelola buletin himpunan jurusan niscaya tahu dan kenal baik dengan beliau karena umumnya mereka pernah dibantu Pak Djiman.

Ketika beliau saya panggil prof pada saat saya minta tolong, reaksinya biasa-biasa saja. Dia tidak menunjukkan ekspresi kaget, senang, atau membantah. Dia jarang bicara. Sesekali saja tersenyum. Belakangan saya baru tahu bahwa prof itu singkatan profesional, bukan profesor. Pak Djiman memang profesional di bidang penggandaan yang menggunakan mesin stensil. Diktat buku-buku ajar di FSUI, antara lain diktat mata kuliah Bahasa Indonesia I, Bahasa Indonesia II, Retorika A, Retorika B, dan Perkembangan Masyarakat dan Kesenian Indonesia (yang diampu Pak Sapardi Djoko Damono dkk), diperbanyak dengan mesin stensil. Petugas yang mengerjakan adalah Pak Djiman. Dialah yang paling tahu seberapa banyak tinta yang digunakan untuk mencetak sekian eksemplar makalah. Pada waktu itu mesin fotokopi belum populer. Kalaupun ada, ongkosnya masih tergolong mahal, apalagi untuk ukuran mahasiswa.

Oh ya, Pak Djiman juga orang yang bertanggung jawab atas kelancaran pemutaran film di Teater Rawamangun kalau kebetulan Senat FSUI sedang memutar film untuk menghimpun dana kegiatan. Kembali ke soal seminar. Seingat saya, ketika FSUI (lalu berubah menjadi FIBUI) pindah ke Depok, peran Pak Djiman sudah diganti orang lain yang tentunya mendapat “ilmu” dari Pak Djiman. FIB sudah punya mesin cetak, tapi mesin stensilnya masih dipakai, terutama untuk menggandakan soal ujian mata kuliah yang pesertanya banyak. Untuk kegiatan P4 bagi mahasiswa baru dan kegiatan seminar dibutuhkan mesin cetak. Pada saat itulah teman-teman di bagian percetakan dan penggandaan makalah sangat sibuk. Karena makalah yang digandakan banyak dan–seperti biasa–datangnya/diserahkannya di hari-hari terakhir, panitia dan teman-teman yang bertugas di percetakan harus kerja lembur. Meja panjang dan meja lebar di gedung 2 (di lantai 2 sekarang disekat-sekat, dulu terbuka) penuh tumpukan kertas yang masih harus diberi sampul dan distaples. Pak SDD sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam kegiatan seminar ikut “nongkrongi” (menunggui) kami yang jekrak-jekrek menstaples makalah. Kami kerja penuh semangat, apalagi setelah nasi bungkus (entah dari warteg mana) datang.

Di saat-saat lagi kerja sambil guyon, seorang Satpam menghampiri Pak SDD. Ia melaporkan bahwa ada telepon dari rumah untuk Pak SDD. Di telepon Pak SDD hanya bicara sebentar. Selesai telepon, ia menghampiri saya agar saya ikut. Kepada yang masih bekerja, ia berpesan untuk tetap bekerja sampai selesai. Katanya ia akan pergi sebentar dan akan kembali ke kampus. Sampai di luar Pak SDD bilang bahwa rumahnya kemasukan “orang gila”. Saya diminta menemani Pak SDD pulang. Untuk menghadapi kemungkinan buruk, kami mengajak seorang satpam. Saya pilih Pak Parman karena tubuhnya kekar. Di sepanjang perjalanan kampus-jalan Kalimantan kami mendiskusikan bagaimana menangani masalah tamu misterius itu. Usul saya agar melibatkan polisi ditolak Pak SDD. “Kita lihat dulu fakta di lapangan seperti apa. Kan ada Mas Parman dan kamu. Katanya kamu jago silat. Mestinya bisa membereskan,” kata Pak SDD. Meski tak terlihat tegang dan terus berusaha mengajak kami bercanda, Pak SDD tak bisa menyembunyikan kekuatirannya.

Sebelum tiba di lokasi, Pak SDD menghentikan kendaraannya. Kami kembali mengatur strategi. Disepakati setelah sampai di pelengkung rumah, sebelum masuk garasi, klakson mobil dibunyikan keras dan agak lama untuk memberi kode yang berada di dalam bahwa Pak SDD sudah datang. Suasana mencekam yang sebelumnya terbayang ternyata terbukti. Sampai di depan rumah Pak SDD suasana mencekam terasa sekali sebab seluruh lampu di rumah Pak SDD dimatikan. Tak ada suara apa pun kecuali suara mesin mobil, klakson, dan suara orang yang sedang melakukan ekacakap alias monolog. Tokoh tak dikenal itu terus bicara sendiri. Kadang gaya bicaranya seperti orang sedang membaca puisi. Kadang suaranya mirip dialog dalam pertunjukan drama. Rupanya Bu SDD tahu bahwa Pak SDD sudah datang. Maka dinyalakanlah lampu: byarrr. Pemandangan jadi terang. Pak SDD turun dari mobil. Saya sudah siap menggunakan jurus yang mematikan bila terjadi sesuatu. Mas Parman siap juga dengan pentungan di tangan. Orang yang sedang monolog itu berhenti dan menjemput Pak SDD.

“Haaaaah. Mas!” teriaknya.
Pak SDD masih tertegun dan waswas. Tak lama kemudian, “Oh….kamu to. Kirain siapa,” kata Pak SDD. Suasana sedikit cair. Monolog pun berubah menjadi dialog. Kemudian keadaan berangsur-angsur normal. Saya dan Mas Parman duduk di teras, menjauh dari Pak SDD yang sedang berbincang dengan teman lamanya. Kami tak menguatirkan keselamatan Pak SDD karena keduanya sudah terlihat asyik ngobrol. Mereka tak lama ngobrol karena Pak SDD minta maaf kepada tamunya dan menyatakan ingin kembali ke kampus guna merampungkan pekerjaan, khususnya menyusun lembar-lembar makalah dan menstaplesnya. Tamunya bisa memahami kesibukan Pak SDD.

Akhirnya, tamu “istimewa” Pak SDD ikut dalam kendaraan kami. Di pertigaan lampu merah, ujung jalan Komodo, ia turun untuk melanjutkan perjalanan pulang. Konon ia akan membeli obat untuk anaknya yang sakit. Entah berapa ratus ribu yang diberikan Pak SDD kepada tamu “istimewa” tersebut, saya tak tahu. Saya tak pernah menanyakan hal itu kepada Pak SDD. Setelah ia turun dari mobil, saya memberanikan diri bertanya kepada Pak SDD tentang tamu tersebut. Jawaban Pak SDD singkat: teman lama. Saya kejar dengan satu pertanyaan lagi untuk mengetahui namanya. Pak SDD hanya bilang bahwa dia adalah Chairil Anwar-nya semasa Pak SDD kuliah di Jogja dulu. Luaama setelah peristiwa itu berlalu, saya yang masih penasaran dan kepo bertanya lagi pada Pak SDD tentang nasib teman lamanya itu, Pak SDD bilang bahwa teman lamanya itu sudah hidup sejahtera. Alhamdulilah.
***

_______________
*) Sunu Wasono lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *