DIA YANG SUNYI DARI DOSA: DIALEKTIKA SASTRA, AGAMA, RELIGIUSITAS

Catatan atas Novel 9 Karya A. Syauqi Sumbawi


S. Jai

Menoeroet system karangan zaman sekarang, kalaoe jang ditjeriterakan itoe manoesia, mesti tampaklah disana thabi’at manoesia itoe, perdjoeangannja, bathinnja, perangainya. Dia tidak djahat semata2, karena dia boekan Iblis, dia tidak bisa terbang ke langit, dia tidak soeni dari dosa, karena dia boekan Nabi. Tetapi mentang2 si pemboeat hikajat itoe mentjeriterakan orang jang dihikajatannya itoe berdosa, boekanlah berarti pengarang itoe sendiri jang memboeat dosa itoe. (Hamka)

SUATU ketika pengarang Hamka, yang juga seorang kiai, menerima surat dari seorang ahli bahasa dan roman Balai Poestaka. Tidak disebutkan siapa orang yang dimaksud, sebagaimana dipaparkan si penerima surat; Hamka.  Isi surat tersebut menyatakan tanggapan atas cerita-cerita yang ditulis Hamka. Katanya, “njata sekali djiwa keislamannya, tetapi haloes maknanja.”1)

Salah sebuah novel Hamka yang dimaksud, yang kemudian terbit pada 1938 adalah Di Bawah Lindoengan Ka’bah, dan setahun kemudian terbit Tenggelamnja Kapal van der Wijck. Hamka sendiri cukup bangga dengan karyanya karena Hamka tahu Kantoor Balai Poestaka “tidak soeka menjiarkan tjerita jang terlaloe berbaoe agama.”

Sementara di satu pihak visi mengarang  Hamka sebagai kiai memiliki “maksoed dan toejoean jang tentoe;…mentjari ketinggian boedi pekerti, mengeritik perboeatan atau kedjadian yang pintjang di pemandangan masjarakat dan agama.” Tersebab itulah secara sungguh-sungguh Hamka mengarang dengan menempuh jalan apa yang disebutnya sebagai “kita beroesaha memboeat tjerita yang bagoes, kita beroesaha memilih jalan yang salah.”

Ulrich Kratz yang menelusuri Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX menegaskan novel karya Hamka memenuhi syarat-syarat Balai Pustaka, karena tidak dapat dikategorikan sebagai propaganda2) …..dan tidak tergolong gerbong dalam tradisi sastra ‘liar’ yang dianggap picisan. Tidak dijelaskan secara detil perihal propaganda yang dimaksud, hanya saja hampir bisa diduga hal ini terkait dengan politik kekuasaan kolonial yang diterangkan mesti “selaras dengan politik Belanda dan adakah bahasa itu bahasa Melaju Riau atau tidak.3) Bisa diduga pula mengapa propaganda, dan mengapa agama–Islam? Bahkan sekadar memasukkan kosa kata daerah sekalipun telah lazim amat sulit. Dan hampir bisa diduga, demikian halnya terhadap kosa kata bahasa Arab, suatu misalnya.

Catatan Abdul Hadi WM, pada masanya, sebagaimana di Hindia Belanda (jajahan Belanda), juga India (jajahan Inggris), munculnya gerakan-gerakan pembaruan agama di Asia mendapat “perhatian” khusus pemerintah kolonial. Para pemimpin tarekat, para pemikir seperti Muhammad Iqbal dari Pakistan (1873-1938) disebut-sebut paling berpengaruh dengan gagasan tentang khudi (pribadi, diri) dan ‘isyq (cinta Ilahi).4) Gagasannya dipicu oleh perkembangan filsafat, sains, sastra, dan seni secara keseluruhan dan menyebutnya sebagai pendekatan intelektual, serta keimanan dan cinta.5)

Hamka sukses menyelundupkan jiwa Islam dalam novelnya, sebagai salah sebuah lokomotif novel modern. Di Bawah Lindungan Ka’bah ditulis dalam bentuk singkat dengan gaya bahasa yang sederhana. Kritikus sastra Indonesia, Bakri Siregar beranggapan bahwa ini mungkin terjadi karena Hamka mengikuti gaya penulisan yang diwajibkan Balai Pustaka. Sementara ahli dokumentasi sastra Indonesia, H.B. Jassin mencatat bahwa Hamka memiliki gaya bahasa yang “sederhana, tapi berjiwa.”6)  Bahkan, seperti diakui Hamka sendiri, novelnya yang lain Tenggelamnja Kapal van der Wijck, oleh sebagian pembaca/kritikus disebut-sebut sebagai novel “Ketjabulan.”

Kutipan dan beberapa fakta di atas memperlihatkan bagaimana kepelikan, silang sengkarut, yang masih menarik ditelisik dan dipersoalkan perihal kaitan sastra dan agama dalam sejarah sastra kita. Pendek kata inilah dialektika. Sebuah kosa kata yang di dalamnya inhern adanya kontradiksi, dilemma, paradoks, yang dalam sejarah pemikiran terhitung paling tua sejak Zeno, Socrates, Plato meski tetap aktual dan masih sering dikonfrontasikan dengan demonstrasi itu. Dahulu kala, dahulu sekali konon dialektika dituduh sebagai biang dari memamerkan dosa kesombongan manusia. Yakni, seni yang tidak mengizinkan seseorang—siapapun, pembaca—membiarkan sesuatu hal tidak dipersoalkan. Dalam bahasa kesusastraan; seni untuk mengajukan pertanyaan, menggugat, menyoal, memparodikan, bahkan bermain-main terhadap sesuatu hal kenyataan. Prinsipnya seni untuk menjadikan sesuatu pengetahuan; menjadi masalah. Apapun itu, kita bisa bersetuju dengan Plato bahwa dialektika adalah metode metafisika dan mendatangkan atau untuk menghasilkan pengetahuan tertinggi.

Mari kita mempersoalkan apa yang ada di hadapan kita (karya sastra), yang boleh jadi bagi sebagian orang sesungguhnya bukanlah persoalan. Meski demikian, apapun pendapat mereka kata kuncinya jelas; hal ini adalah problem metafisika.

Karnaval Struktur dan Struktur Karnaval Teks

Atas dasar pikiran di atas, maka terang, dan bisa dibayangkan, Novel 9 (Penerbit: Rumah Semesta Hikmah dan Pustaka Ilalang, April 2020, 300 hal.) karya A. Syauqi Sumbawi, andai diajukan ke Balai Poestaka pada masanya, tentu akan ditolak untuk terbit. Alasannya adalah Islam dan propaganda. Perihal Islam telah diketahui pasti. Namun soal propaganda, meski seringkali dimaknai secara khusus terkait politik dan ideologi, namun secara umum sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) propaganda berarti penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: — biasanya disertai dengan janji yang muluk-muluk. Dalam konteks karya sastra dengan demikian, hal ini cukup melengkapi untuk sementara tidak memastikan perihal kebenaran atau kesalahan, akan tetapi terkait dengan gaya, cara, teknik, dan sudah barangtentu dalam wacana, mitos, episteme, ideologi dan sejenisnya.

Novel 9 karya A. Syauqi Sumbawi dibuka dengan kisah Basri,  ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang tak sengaja menemukan nama Mustafa Ibrahim, seusai membaca beberapa buku tentang sejarah dan revolusi. Nama itu kemudian digunakan sebagai nama penanya, saat menulis artikel di majalah kampus. Judul artikel tersebut,  “Revolusi Dua Arah dalam Sejarah: Pembacaan atas Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim.”

Hanifah, kekasihnya turut membacanya dan kepadanya disampaikannya, Basri berencana menyematkan nama itu untuk (kelak) pada putranya jika Tuhan menghendaki. Sejumlah kisah terungkap dalam lembar-lembar buku ini; kisah Adam ketika hidup di taman surga, kisah Qabil dan Habil, putra Adam yang diceritakan oleh Al-Qur’an.

Maka ketika anak pertamanya lahir dan berkelamin laki-laki, dia pun diberi nama Mustafa Ibrahim. Tak lain, sebagai hasil pembacaan terhadap sejarah Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim.” Mustafa Ibrahim remaja, Ib, putra Basri, ketika remaja menerima harta warisan almarhum ibunya, dari kakeknya. Ib pergi ke pesantren, tempat dia memiliki kedekatan dengan Mila, putrid Abah Dullah, kyai pengasuh pesantren itu.

Cerita selanjutnya tentang mula Mustafa pergi ziarah walisongo menumpang truk pengangkut aspal yang dikemudikan Lik Kusnan—anak tunggal dari?. Tujuan ziarah pertama di Makam R. Rachmattulloh alias Sunan Ampel, yang berdasarkan kisahnya merupakan keponakan Dewi Dewi Dwarawati, salah satu istri Raja Brawijaya. Ampeldenta adalah tempat lahir kader- kader, seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Raden Fatah, dan sebagainya.

Di tempat ini pula Mustafa berjumpa Basri—ayahnya seorang doktor lulusan Amerika yang mengungkap bagaimana Hanifah, istrinya, nyidam air dari sumur peninggalan sunan Ampel ketika hamil bayi Mustafa. Yaitu air, sebagaimana zam-zam di tanah Mekah, mengalir air mengalir bersama cerita dan sejarah. Tepatnya sejarah istri Nabi Ibrahim. Sebagaimana setiap yang berhaji atau umroh mereka selalu membawanya sebagai oleh-oleh.

Perjalanan ziarah Mustafa berikutnya, ke makam Sunan Maulana Malik Ibrahim alias Kakek Bantal. Dikisahkan bagaimana Sunan menghadapi para pelaku ritual minta hujan yang mengorbankan gadis-gadis. Situasi yang serupa dialami Abdullah bin Abdul Muththalib, yang bernazar hendak mengorbankan putranya, Nabi Muhammad Saw, dan kemudian diganti dengan menyembelih seratus ekor unta.

Di tempat ini, Mustafa mengenang Pak Bakrun—guru di sekolah pesantrennya dengan kisah-kisah Qorun, puasa ndaud, puasanya Nabi Daud. Juga kisah Sang Rosul yang tak hendak memilih miskin seperti Ayyub atau kaya sebagai Sulaiman. Nabi hanya ingin yang sehari kenyang dan sehari lapar. Pak Bakrunlah, dalam kenangan Mustafa, yang menyingkap isyarat revolusi kenabian Ibrahim dan Muhammad di sebalik nama Mustafa Ibrahim.  Tak lain pelajaran tentang sabar dan syukur.

Ziarah Mustafa di bukit makam Sunan Giri, Gresik dilatari Syi’ir tanpa waton, yang meski sebenarnya bukan dilantunkan Gus Dur, nyatanya cerita bergerak ke arah usah menelisik pikiran pribumisasi Islam khas Gus Dur. Di sebalik kisah-kisah perjalanan Sunan Giri termasuk pesan sang ayah, Syekh Maulana Ishaq, wawasan tentang laut adalah spirit dari Nusantara. Dalam cerita rakyat, Dewi Sekardadu, ibunya, yang juga putri raja Blambangan, telah menitipkan dia kepada laut untuk mengasuhnya. Kemudian laut membawanya ke hadapan Nyai Ageng Pinanti, yang memberinya nama Joko Samudro.

Dalam kenangan Pak Bahrun pula, Mustafa jadi tahu bahwa tempat yang paling indah untuk bertamasya; Sidratu al-muntaha. Yang tak lain, ingatan tentang peristiwa Isra’ mi’raj. Sebuah perjalanan Nabi Besar dari masjid ke masjid, yang kemudian dilanjutkan melintasi langit kebesaran-Nya. Yakni suatu puncak perjalanan spiritual manusia.

Ketika tiba di area makam Sunan Drajat, Mustafa langsung diingatkan pesan Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe Menehono busono marang wong kang mudo Menehono ngiyub marang wong kang kudanan sebagai suatu tanda perjuangan dakwah Sunan Drajat yang menitikberatkan pada kepedulian sosial yang tinggi, di samping kesalehan individual.

Di tempat ini, perjumpaan Mustafa dengan Mila, mengalirkan jiwa Mustafa untuk mengulik perihal cinta. Teologi  cinta sebagai anugerah Tuhan, Sang Maha Cinta, Pemilik Cinta, dan cinta-Nya tidak pernah berhenti tercurah kepada makhluk-makhluk-Nya, terutama manusia. Cinta Tuhan kepada manusia, dapat dipahami dari keberadaan manusia di muka bumi yang istimewa daripada makhluk-makhluk lain. Dengan berbagai potensi (fitrah), baik fisik maupun spiritual yang sempurna, manusia ditahbiskan sebagai khalifah fi al-ardl Tuhan di muka bumi.

Di tempat ini pula, diungkap sebuah cerita rakyat tentang Raden Qasim, yang diperintah Sunan Ampel untuk melakukan perjalanan kea rah barat melalui laut, namun perahunya menabrak bongkahan karang, lalu diselamatkan seekor ikan talang.  Ketakjuban Mustafa pada Sunan Drajat dan Sunan Ampel, menguatkan spiritnya dalam mencari ilmu, belajar dari hidup dan kehidupan,  melakukan perjalanan, pengembaraan sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Sunan Bonang, yakni perjalanan kesejatian.

Lalu berturut-turut dikisahkan tentang Makdum Ibrahim, alias Sunan Bonang yang seperti saudaranya Raden Qasim diperintah ayahnya, yaitu Sunan Ampel, untuk berdakwah. Juga kisah tentang pertemuannya dengan Brandal Lokajaya, si “perampok budiman” yang kemudian insyaf dan menjadi salah satu murid utama beliau dalam ilmu hakikat. Brandal Lokajaya kelak kemudian hari dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Tak terkecuali kisah laki-laki yang menjelma dari cacing itu, tidak lain yaitu Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar.

Dikisahkan potret perjalanan cinta Sunan Bonang mengingatkannya tentang kisah sufi perempuan, yaitu Rabi’ah al-Adawiyah, yang menghabiskan cintanya untuk Tuhan semata. Meski tanpa keluarga, cinta kepada Tuhan termanifestasikan dengan kasih-sayang kepada seluruh makhluk-Nya di dunia.

Di tempat inilah, Mustafa menegaskan diri bahwa ziarahnya bukanlah ziarah biasa, tetapi sebuah proses yang menjadi bagian dari perjalanan hidup, menjadikan segala yang dijumpainya, sebagai pelajaran untuk lebih mengenali diri sendiri. Begitulah, ziarah selanjutnya makam Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus yang dikenal penggagas gusjigang, bagus, ngaji, dan dagang. Berturut-turut dikisahkan muasal larangan berkorban dengan binatang sapi lantaran masa kecilnya telah disusui sapi. Kisah sapi memberinya pelajaran toleransi, sebagaimana cita-cita Piagam Madinan di zaman nabi. Di tempat ini pula kekaguman Mustafa tak  mengarah pada nabi, wali, tapi juga guru ngaji. Pada kepribadian Pak Bakrun yang asah, asih, dan asuh cerminan nilai-nilai atas konsep diri yang tak lain diajarkan nabi.

Saat berada di makam Sunan Muria, pencipta tembang sinom dan kinanthi, ditelisiklah cerita rakyat pernikahan beliau dengan Dewi Roroyono, putri Sunan Ngerang. Di tempat ini, menguatkan keyakinan bahwa perjalanan ziarah walisongo sebagai latihan sebelum melakukan perjalanan ibadah haji. Sebagai latihan. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental-spiritual. Di bagian ini, Mustafa mengungkapkan diri kesukaan pada sastra, puisi, novel maupun cerpen.

Utamanya pada sejarah sastra dan kebudayaan Arab.  Sejarah menyebutkan bahwa konteks masa turunnya al-Quran berlangsung ketika syair atau sastra menjadi puncak kebudayaan dan para penyair menduduki posisi tinggi dalam budaya dan kehidupan masyarakat Arab. Selain juga member penegasan bagaimana Sunan Kalijaga, merebut simpati dengan memanfaatkan sebesar-besarnya instrumen kesenian seperti gamelan, tembang- tembang, dan wayang, sebagai alat dakwah. Begitu juga upacara tradisi, misalnya perayaan sekaten, grebeg maulud, dan sebagainya.

Meninggalkan lokasi makam Sunan Kalijaga, sambil mengingat kisah perjalanan Raden Patah bersama adiknya Raden Kusen dari Palembang menuju pulau Jawa dan berguru kepada Sunan Ampel.  Ziarah pamungkas yang dikisahkan di novel ini adalah ke makam Syarif Hidayatullah, Sultan Cirebon II. Seperti biasa dengan menelisik sejarah, kisah, dakwah Mustafa kemudian memetik hikmah. Meneguhkan diri pada sebuah ingatan; “Bersama kata-kata kehidupan bergerak. Dan dakwah, tidak lain adalah pelibatan diri dalam historisitas manusia. Karena itu, menulislah!.”

Sastra, Cinta, Ziarah dan Dakwah

Cerita ditutup dengan semacam pengungkapan diri—yang sekaligus menjadi sasmita dan kemudian dibeber paling terkemuka di sampul buku ini yang menjadikan kedua buhul novel ini sama persis;  sembilan adalah ilmu, untuk hidup dengan mendengar, melihat, bersama kata-kata jika perintah pertama, bacalah! maka berikutnya, tulislah! aku ingin menulisnya dalam cinta.

Demi melihat novel 9 lebih dialektik, terkait antara Sastra, Agama dan Religiusitas, mari kita tengok kembali visi sastra Hamka yang dalam “kredo” mengarang romannya demikian benderang, namun Goenawan Mohamad pada tahun 1960an menyebut genre  “sastra keagamaan”  menempatkan agama sekadar sebagai latarbelakang dan bukan pemecah persoalan. Utamanya, disebutnya termasuk “Tenggelamnja Kapal van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka.7)

Tenggelamnja Kapal van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka dengan visi estetik yang dalam tangkapan sejumlah pakar sekadar sederhana (bahasa lain dari sepele), kompromis, dan bukan kapak pemecah persoalan, nyatanya berhasil terbit. Sama-sama berjiwa Islam, katakanlah novel 9 adalah problem solves, propagandis, visi estetis novel ini pun tak kalah terangnya, baik bagi rekonstruksi (dekonstruksi) subjek penulis maupun pembaca. Sebagaimana terungkap di Fragmen 30 dengan mendasari  diri QS. Asy-Syu’ara [26] ayat 224-227.

Sejarah menyebutkan bahwa konteks masa turunnya al-Quran berlangsung ketika syair atau sastra menjadi puncak kebudayaan dan para penyair menduduki posisi tinggi dalam budaya dan kehidupan masyarakat Arab….

…, bisa dipahami bahwa kedudukan penyair pada masyarakat Arab pra-Islam mirip seperti “ulama”. Kata-katanya ibarat “fatwa”….

Dalam perspektif budaya, dapat dijelaskan bahwa hadirnya Islam bersama al-Qur’an adalah untuk memberikan dasar spiritualitas—tauhid—dan menyempunakan kebudayaan masyarakat bersama nilai-nilai spiritualitas dan moralitas yang ada di dalamnya….

Keberadaan al-Qur’an dan hadist yang bernilai sastrawi tinggi, konstruksi bacaan shalawat, diba’iyah, nadzamnadzam, manaqib, pujen, dan sebagainya yang liris dan puitis, serta kitab kuning (terutama akhlaq) yang sarat dengan syair, mengkonfirmasi hal tersebut. Karena itu, bersastra atau berpuisi bagi santri adalah bagian dari khittah budayanya… (Fragmen 30)

Dari halaman buku paling ujung tentang pengarang novel ini terungkap,  penulis adalah jebolan pesantren Al-Ma’ruf Kranggan Lamongan dan pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pendek kata penulis adalah santri. Penulis adalah pegelola Rumah Semesta Hikmah, yang berkonsep rumah baca dan belajar serta kajian agama dan budaya.

Novel ini sunyi sekali dari perbuatan dosa, bahkan dalam kata pun, hampir tiada. Sebaliknya novel ini penuh pembicaraan perihal cinta. Satu-satunya kosa kata ‘dosa’ sepanjang novel yang lebih dari 50 ribu kata, 350 ribu karakter ini adalah pernyataan tokoh Kang Badri sang senior dari protagonis saat di pesantren. “Bagi seorang kekasih, lupa adalah dosa,” katanya.  Sebuah kata yang tak lain sebenarnya demi mengungkap suatu cinta. Potret perjalanan cinta mahabbah dari kisah hidup Sunan Bonang yang mengingatkan pada Rabi’ah al-Adawiyah, sebagaimana kutipan berikut ini;

Bahwa cinta yang dimilikinya telah habis untuk Tuhan saja. Maka, maklumlah jika kabar menyebutkan bahwa keduanya tidak menikah. Tidak berkeluarga dan beranak-pinak. Kendati tak tersisa lagi, cinta kepada Tuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari termanifestasikan dengan kasih-sayang kepada seluruh makhluk-Nya di dunia. Termasuk rerumputan.

Hal terpenting dari kisah hidup Sunan Bonang dan Rabi’ah al-Adawiyah, bahwa kehidupan di dunia adalah perjalanan cinta kepada-Nya. Segala peristiwa yang terjadi dan dialami, tidak lain merupakan ruang-ruang manifestasi cinta kepada Tuhan. (Fragmen 22)

Dapat dikatakan ikhtiar mendedahkan daya tarik, keunikan gagasan secara keseluruhan adalah perihal cinta dalam pengertian teologis. Pilihan pemikiran padanya sebagai bentuk kebaruan dari ide-idenya tersebut jatuh pada konsep ziarah, dengan membangun apa yang disebut strategi cerita perjalanan—sebagai tempat pesan, watak, ideologi, pandangan hidup, filosofi penulis berhumbalang di dalamnya.

Secara teologis, cinta merupakan anugerah Tuhan. Hanya Dia-lah yang Maha Cinta, Pemilik Cinta, dan cinta-Nya tidak pernah berhenti tercurah kepada makhluk-makhluk-Nya, terutama manusia. Cinta Tuhan kepada manusia, dapat dipahami dari keberadaan manusia—meliputi posisi dan perannya—di muka bumi yang istimewa daripada makhluk-makhluk lain. (Fragmen18)

Bahwa ziarah adalah pertemuan waktu dalam diri seseorang, baik dulu, kini, dan nanti. Karena itu, untuk menjadi manusia seutuhnya, salah satu proses pentingnya adalah ziarah, yang tidak lain adalah pertemuan dengan diri sendiri. (Fragmen 19)

“….harus disadari bahwa ziarah yang akan kaulakukan ini bukan perjalanan ziarah biasa, tetapi sebuah proses yang menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. Semua yang kautemui, jadikan sebagai pelajaran untuk lebih mengenali diri sendiri….” (Fragmen 22)

…bahwa perjalanan ziarah walisongo sebagai latihan sebelum melakukan perjalanan ibadah haji..  Tidak hanya fisik, tetapi juga mental- spiritual, pikirnya. (Fragmen 28)

Pada titik ini terang bahwa cerita perjalanan yang dimaksudkan sebagai suatu visi sastra bagi penulis novel ini bukanlah sastra pariwisata, bukan pula sejenis jurnalisme sastrawi. Pengertian jurnalisme sastrawi amat membingungkan karena di dalamnya terkandung contradictio in terminis—peristilahan yang saling bertentangan. Sedangkan dalam sastra Pariwisata tak lain sebetulnya sebagai salah satu alternatif pengembangan  pariwisata  yang  memiliki  kemungkinan  dikembangkan dalam  berbagai  produk  industri  kreatif.8)

Sebagaimana kutipan berikut, memperlihatkan salah sebuah keterangan visi sastra sang pengarang;

Belum waktunya bagi dia berperan dalam kehidupan masyarakat secara luas. Akan tetapi masih dalam episode mencari ilmu. Belajar, terutama dari hidup dan kehidupan itu sendiri. Yah, dia harus melanjutkan perjalanannya. Pengembaraannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Sunan Bonang, yakni perjalanan kesejatian. (Fragmen 19)

Bahwa ziarah adalah pertemuan waktu dalam diri seseorang, baik dulu, kini, dan nanti. Karena itu, untuk menjadi manusia seutuhnya, salah satu proses pentingnya adalah ziarah, yang tidak lain adalah pertemuan dengan diri sendiri. [Fragmen 19]

Sebagaimana Hamka bagi Goenawan Mohamad, pertanyaan yang kita coba telisik dan cari jawabannya; adakah terdapat suatu masalah antara visi, gagasan, ide, konsep estetik yang semula diwacanakan pengarang, mengalami kendala, benturan, kompromis, bahkan kehilangan bentuknya yang kuat sebagai sebuah sastra keagamaan? Ataukah jikapun sebagai suatu ‘pemecah masalah’ pada pengarang novel 9 ini lantas melakukan rekonstruksi/ dekonstruksi, terhadap sastra pada umumnya?

Apapun, novel ini diniatkan sebagai revolusi. Sebagaimana risalah segala kenabian, juga kewalian. Persis judul sebuah artikel yang ditulis tokoh Basri; “Revolusi Dua Arah dalam Sejarah: Pembacaan atas Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim” (Fragmen 1)  Lalu berikrar pada dakwah sebagai manifestonya.  Dengan kata lain, novel ini sekaligus memberi peluang mengajak berdebat kembali perihal sastra, agama, religiusitas sejak dari zaman ke zaman.

…jika risalah Nabi Muhammad secara umum menunjuk pada perubahan masyarakat dari kondisinya yang “jahiliyah” menjadi masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Islam secara universal,…maka sosok Nabi Ibrahim lebih tampak mengarah pada perjuangan pribadi manusia mencapai kemerdekaan hakiki sesuai dengan fitrahnya,…  (Fragmen 1)

“Bersama kata-kata kehidupan bergerak. Dan dakwah, tidak lain adalah pelibatan diri dalam historisitas manusia. Karena itu, menulislah!.” (Fragmen 33)

Identitas, Religiusitas

Selain Tenggelamnja Kapal van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, membaca novel 9 karya Syauqi ini mengingatkan sederet novel dan penulis; Hubbu (Mashuri), Genijora, Mataraisa (Abidah El Khalieqy) Kuil Kencana (Yukio Mishima), The Name of The Rose (Umberto Eco). Terlepas dari sekadar ‘latar belakang’ sastra keagamaan ataukah lebih dari itu, sebagaimana disinyalir Goenawan Mohamad, ternyata ‘latar belakang’ yang dimaksud adalah;  pencarian identitas dan motif di luar kesusastraan; penggolongan, rivalitas antar golongan di dalam masyarakat.9)

Dalam catatannya, sebuah pencarian identitas mengandung pengertian belum membicarakan hal serius. Pun, jika suatu hal pengkhususan pada penulisan lingkungan (keagamaan) adalah suatu kekeliruan.  Identitas, katanya, bersumber pada kepribadian seorang pengarang, dan sikap keluar dari kepribadian ini berupa sikap-hidup, sehingga identitas seorang pengarang tidak hanya ditentukan kepada “apa” yang  (sering) dikisahkannya, tetapi ditentukan”apa dan bagaimana” mengatakannya.

Sedangkan motif di luar sastra, menurutnya tak lain; kehidupan beragama yang terlibat dan memusatkan dirinya dalam rivalitas politik, yang kehilangan sumber-sumber rohaniahnja, juga hilangnya vitalitas kesusastraan karena diletakkan sekadar alat propaganda, termasuk adanya konflik kepentingan.

Lantas apakah itu selepas sastra keagamaan sebagai pemecah persoalan?

Dalam buku Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX yang cetakan pertamanya terbit tahun 2000, tidak mencatatkan nama Kuntowijoyo yang dalam tiga dekade produktivitasnya sangat menakjubkan baik sebagai pengarang maupun pemikir. Dengan kata lain tidak ada pemikiran terpilihnya dalam sejarah sastra. Sejarawan dan sastrawan itu, meski aktif menulis sejak tahun 1970-an dengan magnum opus-nya Khotbah di Atas Bukit, baru mengumumkan Maklumat Sastra Profetik, dalam Majalah Horison, Edisi No. 5 Tahun 2005, sebagai semacam pesan kreatif di penghujung usianya.

Pertanyaannya, apa sebetulnya yang mengejutkan dari laku kreatif Hamka? Apa pula yang baru dari pemikiran sastra keagamaan yang telah ada sebelumnya? Lantas bagaimana kemudian pada diri Kuntowijoyo?

Ternyata simpul dari pemikiran Kuntowijoya ada pada sufisme dan paradigma pikiran Muhammad Iqbal. Sebagaimana pernyataannya;

Etika itu disebut “profetik” karena ingin meniru perbuatan nabi, Sang Prophet. Asal-usulnya begini, Muhammad Iqbal dalam Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam mengutip ungkapan seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra’-Mi’raj. Meskipun Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tapi kembali ke dunia juga untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya.10)

Kuntowijoya membeber keinginan dalam maklumatnya tersebut dalam “sastra ibadah” dan sastra murni. Sastra ibadah adalah sastra. Tidak kurang dan tidak lebih. Sastra yang memiliki kaidah; epistemology strukturalisme transendental, sebagai ibadah dan keterkaitan antar kesadaran. Penjelasannya kuranglebih; sastra yang berdasar kitab suci (Al-Quran) dan diperuntukkan bagi orang beriman. Sastra yang kaffah-utuh diniatkan sebagai ibadah. Sastra yang memiliki keterkaitan hubungan kesadaran ketuhanan dengan kesadaran kemanusiaan.

Cukup terang sudah, berkat kata kunci “semangat kenabian” “jiwa transendental” “sufistik” maka ada baiknya mengutip perbincangan Romo Mangunwijaya perihal agama dan religiusitas yang juga bukan kebetulan bilamana menukil Rabi’ah al-Adawiyah serta Muhammad Iqbal di dalamnya.

Menurutnya, bahwa agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan atau kepada “Dunia Atas” dalam aspeknya yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hokum-hukumnya, serta keseluruhan organisasi tafsir Alkitab dan sebagainya yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan. Sementara religiusitas lebih melihat aspek yang “di dalam lubuk hati,” riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, “du Coeur” dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) kedalaman si pribadi manusia. Dan karena itu pada dasarnya religiusitas lebih bergerak dalam tata paguyuban yang cirinya lebih intim.11)

Sebagaimana dikatakan Mohammad Iqbal: Bahwa di atas fase penghayatan religious dalam arti pemahaman (thought) masihlah ada penghayatan yang lebih tinggi, yakni yang sering disebut mistik.  …pendewasaan yang lebih menuju ke dalam. “pencapaian kepribadian yang merdeka, bukan karena pelepasan diri dari ikatan hukum (agama), melainkan berkat penemuan sumber-sumber terakhir dari hukum di dalam kedalaman hati nuraninya.”

Moralitas Ideal, Kesederhanaan dan Pemberontakan

Lebih dari itu, apabila kita mencermati karnaval struktur dan struktur karnaval teks novel ini, baik penanda di kedua ujung buhul (pada sampul dan akhir novel) yang sama, juga utamanya perihal tema, tokoh, plot cerita yang tanpa struktur konflik atau klimak, maka inilah kiranya salah satu novel yang disebut Kuntowijoyo duapuluh tahun sebelum dirinya memaklumatkan sastra profetik.

Yaitu sastra tipologis, atau sastra dengan tradisi tipologisme. Artinya, tokoh-tokoh dalam sastra yang tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, tetapi merupakan tokoh yang sudah ditertibkan (oleh pengarang).12)

Pokok-pokok pikirannya kuranglebih demikian;

Tradisi tipologisme, personalitas yang mapan, terbentuk sejak kemunculannya. Nyaris tidak ada konflik psikis, sebab semuanya sudah ajeg didudukkan dalam garis, rangka bangun personalitas para tokohnya. Logika perkembangan pribadi pelaku tidak menuruti pertumbuhan kejiwaan yang penuh dengan krisis yang membentuknya, tetapi menurut kemauan pembentukan sebuah kerangka keseluruhan kejadian. Di sini kejadian sebagai akibat dari hubungan antar manusia menjadi lebih penting daripada perkembangan kejiwaan pelaku-pelaku tunggalnya.

Kejadian-kejadian tidak pernah mempengaruhi personalitas. Mengapa? Karena sosiokultur otoritarian; pikiran-pikiran kolektif lebih penting daripada pikiran individual dan kesadaran kolektif lebih diutamakan ketimbang kesadaran perorangan.

Dalam kerangka sosial patrimonial tidak lahir tokoh-tokoh literer dengan personalitas individual, tetapi selalu personalitas kolektif. 138

Sastra di sini bertindak sebagai simbol dari pikiran kolektif tanpa memberi kemerdekaan bagi perkembangan personalitas tokoh-tokohnya. Perwatakan tokoh-tokoh itu menurut pola sebuah karakter sosial, dan bukan karakter-karakter individual. Dengan perkataan lain, pikiran kolektif secara apriori telah menentukan sejumlah tipe ideal bagi tokoh-tokoh cerita, sebagaimana Nampak dalam karakterisasi tokoh-tokoh pewayangan.

Inilah sastra filsafat dan sastra sosial. Bukan sastra psikologis.

Pengarang sebagai pewaris budaya kolektif ia tidak bisa melepaskan diri dari simbolisme bersama….usahanya yang keras untuk menegakkan sendiri norma elitism baru; sementara itu ia terjerat ke dalam etika otoritarian, dan melihat dirinya sendiri sebagai kelompok atas yang mempunyai misi untuk menangani pikiran kolektif, memaksakannya dari atas.

Seperti dalam wayang, tokoh cerita sebenarnya bukan person tunggal, tetapi wakil dari person kolektif, bahkan tokoh dari karya sastra yang paling alienated pun ialah wakil dari kesadaran pengarangnya yang dengan semena mena dilakonkan karena ia tidak mempunya integrasi persoalitas tersendiri. Ia wakil dari pengarangnya yang paling setia, tidak bertanggungjawab kepada kualitas inhern dalam dirinya, tetapi kepada rencana skenario pengarangnya.

Sastra Sosial. Bersifat Dialektis. Komit pada cita-cita sosial. Destruktif; individu memberontak kepada masyarakat dan menjadi korban dari kekejaman masyarakat. Konstruktif; masyarakat benar.

Memang perihal psikologis, cukup debatable, perihal ada tidaknya, cukup atau kurangnya bisa disebut mengandung konflik, terlebih konflik batin pun atau konflik dengan dirinya sendiri turut dipertimbangkan dalam kajian sastra. Namun demikian begitu banyaknya moralitas yang diidealkan, atau idealitas yang menjadi moral tokoh-tokoh dalam novel ini, adanya tipologi itu beralasan.

Berbeda misalnya dengan spiritualitas yang menjadi moral tokoh Mizoguchi dalam novel Kuil Kencana (Pustaka Jaya, 1978). Mizoguchi melakukan perlawanan dan pemberontakan terhadap dirinya sendiri, tepatnya sesuatu paham yang menguasai dirinya sendiri. Sejumlah analisa menyebut sesuatu itu paham keindahan menurut hukum Zen, masyarakat Jepang memiliki konsep estetik yang berakar dari Zen, yaitu wabi-sabi. Sebuah konsep perihal kesederhanaan hidup, kehormatan, dengan menekankan ketenangan dan kekosongan. Kekaguman akan keindahan dan kebesaran daya pukau pada sebuah kuil, berakhir tindakan anarkis pembakaran terhadapnya.

Salah satu potensi yang serupa—perlawanan dan pemberontakan—dalam novel 9 adalah paham kesederhanaan dalam laku ziarah yang berbeda dengan ‘sistem/konvensi’ masyarakat pada umumnya. Tepatnya tak sekadar mengalami perbedaan, melainkan juga pergeseran. Pergeseran oleh banyak sekali kepentingan di sebaliknya. Pendek kata sesuatu yang pada akhirnya sesungguhnya (setidaknya) benih dari perlawanan oleh karena perbedaan dari paradigma dan wacana. Katakan terkait dengan wisata religi. Kendati demikian setiap wacana akan menghasilkan pemberontakannya sendiri, termasuk pemberontakan atas paham kesederhanaan dalam laku ziarah yang menjadi spirit utama pengarang novel ini.

Berikut ini sejumlah moralitas ideal yang sudah barangtentu mengandung banyak potensi konflik, kekacauan (setidaknya secara psikologis) namun demikian sebagai ‘sastra sosial’ dan ‘bersifat dialektis,’—bisa dipersoalkan, ibaratnya pemantik individu untuk melakukan pemberontakan; ada konstruksi kebenaran umum di dalamnya. Baik kebenaran dalam pengertian tekstual-ideologis, maupun kebenaran dalam pengalaman sosiologis-pengetahuan.

Tidak hanya terpilih sebagai utusan Tuhan, keduanya juga merupakan sosok penting dalam sejarah umat manusia. Revolusioner sejati. Sederhananya,.. jika risalah Nabi Muhammad secara umum menunjuk pada perubahan masyarakat dari kondisinya yang “jahiliyah” menjadi masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Islam secara universal, yakni rahmatan lil alamin, terutama karena keberadaannya sebagai penutup para nabi dan rasul, maka sosok Nabi Ibrahim lebih tampak mengarah pada perjuangan pribadi manusia mencapai kemerdekaan hakiki sesuai dengan fitrahnya, (Fragmen 1)

semua agama pun menjadikan pendidikan sebagai sarana pokok dalam sosialisasi dan intensifikasi seluruh ajarannya, agar pemeluknya menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa. (Fragmen 3)

salah satu cara yang paling efektif untuk mendidik masyarakat adalah keteladanan.(Fragmen 4)

Dari situlah, maka diperlukan nilai-nilai teologis yang sakral, terutama nilai-nilai aqidah—tauhid—untuk dijadikan sebagai pondasi. (Fragmen 6)

Humanisme, demikian kira-kira pemahaman Ib terkait dakwah Islam yang dilakukan oleh Kakek Bantal, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw., baik ajarannya maupun cara penyampaiannya. (Fragmen 9)

Dari apa yang diketahuinya tentang Pak Bakrun, Ib mengagumi kesederhanaan sikapnya. Begitu juga arah pembicaraannya yang selalu menampilkan hikmah. Hal inilah yang mengingatkan Ib pada Mbah Mad, kakeknya. Dan yang tak pernah disangka oleh Ib, bahwa Pak Bakrun menjalankan puasa ndaud, yaitu seperti puasanya Nabi Daud, dimana sehari puasa dan sehari berbuka. (Fragmen 10)

Lantas, jawaban apa yang dipilih oleh Nabi Saw?! Intinya, beliau ingin menjadi seorang Nabi yang sehari kenyang dan sehari lapar. Dalam kenyang, seseorang bisa bersyukur kepada Tuhan. Sementara dalam lapar, seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan. Kira-kira, inilah makna yang menurut Ib menjadi ketersambungan antara kisah tersebut dengan riyadlah yang dilakukan oleh Pak Bakrun, yaitu selalu bersyukur kepada-Nya dan berbagi dengan sesama umat manusia.(Fragmen 10)

Bahwa yang namanya hidup, ada puasa juga ada lebaran. Dijalani saja dengan baik.

Ib tahu, kendati terdengar biasa dan sederhana, perkataan sopir berpeci itu sungguh bijak. Yah, ada sabar dan ada syukur. Dan itu semuanya harus dijalani dengan baik, terutama sebagai manifestasi rasa cinta kepada-Nya. (Fragmen 11)

Laut juga yang mengikat kasih sayang dan tanggungjawabnya sebagai guru kepada murid-muridnya yang tersebar di pulau-pulau Nusantara. (Fragmen 14)

Ib hanya ingin perjalanannya kali ini seperti air yang mengalir. Sesuai dengan kata hatinya.(Fragmen 15)

Karena dia pernah mengalami peristiwa spiritual lain yang berhubungan dengan Nabi Saw. Pengalaman yang menjadikannya tidak pernah meragukan keberadaan beliau sebagai utusan-Nya. (Fragmen 16)

Yah, memang tampak sederhana. Akan tetapi, Ib tahu bahwa pesan itu menjangkau seluruh aspek kemanusiaan pada diri manusia, baik yang bersifat religius-filosofis, material-ekonomis, moral-spiritual, maupun sosio-psikologis. Dari kesemuanya, pesan itu mengarahkan agar setiap manusia memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi serta menjaga fitrah kemanusiaan, baik diri sendiri maupun orang lain. (Fragmen 17)

Pada level ini, ketakwaan tidak dapat dipisahkan dari cinta. Bahkan cinta merupakan dasar bagi ketakwaan manusia kepada Tuhan, yang termanifestasikan dalam penunaian perintah dan menjauhi larangan-Nya. (Fragmen 18)

Bahwa ziarah adalah pertemuan waktu dalam diri seseorang, baik dulu, kini, dan nanti. Karena itu, untuk menjadi manusia seutuhnya, salah satu proses pentingnya adalah ziarah, yang tidak lain adalah pertemuan dengan diri sendiri. (Fragmen 19)

“Makanya, kewajiban menuntut ilmu  itu sampai ke liang lahat.” (Fragmen 21)

…hal-hal kecil seperti inilah yang tampaknya menjadikan murid-murid segan dan hormat kepada Pak Bakrun, sekaligus menegaskan kepribadiannya yang asah, asih, dan asuh….

Pak Bakrun ingin menampilkan aspek positif atau gambar ideal yang ada pada murid-muridnya, dimana pada tataran kesadaran tertentu, hal tersebut dapat menjadi arah dalam pembentukan karakternya. (Fragmen 26)

“Bersama kata-kata kehidupan bergerak. Dan dakwah, tidak lain adalah pelibatan diri dalam historisitas manusia. Karena itu, menulislah!” kata Kang Badri. (Fragmen 33)

Karnaval Wacana, Teks, Ideologi, Kekuasaan

Potensi perlawanan itu bagaikan api dalam sekam, yang oleh penulis tidak dikelola, oleh karena api yang lain berkobar dengan merajalela dalam pelbagai titik. Itulah ideologi. Itulah wacana yang bekerja tidak saja dalam narasi-narasi yang dicoba disadarinya, melainkan juga telah menjadi ‘roh’ menjadi bangunan mental pikiran-perasaan semua orang, penulis, pembaca juga sebagian besar konteks yang menghidupi situasi kepenulisan sang pengarang.

Di sebalik ikhtiar pengarang menuliskan karyanya ini, ada yang menguasai ada yang dikuasai ada kekuasaan itu sendiri. Pengarang, juga tokoh-tokoh yang dituliskannya dalam novel 9 adalah representasi dari itu semua. Dengan kata lain, ada teknologi penciptaan; baik sebagai pencipta maupun ciptaannya. Maka jelas, sampai di sini teks adalah problem, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, yang kasar maupun yang halus, yang masif maupun yang emansipatif, yang demokratis maupun yang revolusioner.

Pentingnya mengutip konsep kekuasaan Michel Foucault tak lain adalah guna menyakinkan bahwa narasi, wicara, wacana, mitos, ideologi yang bekerja tidak hadir begitu saja secara alami, ada fabrikasi kuasanya. Kita perlu tahu, menyadari dan mengungkapkannya. Sejarah, katanya; bukan sekadar kajian cermat tentang berbagai peristiwa, melainkan juga suatu silsilah, nalar, kebenaran dan pengetahuan barat. Foucault memperkenalkan suatu pengertian yang mampu memperhitungkan berbagai perubahan dan tranformasi budaya. Itulah yang disebut pengertian episteme, yaitu himpunan berbagai kaidah yang melandasi dan mengatur produksi wacana pada suatu masa tertentu.13)

Kekuasaan menurut konsep Foucault tak mesti berlaku kasar, represif, melainkan juga secara mulus-halus. Inilah wacana; menyebar dan hadir dimana-mana, dalam bentuk apa saja, dimiliki oleh siapa saja. Bukan manusia yang sepenuhnya menentukan wacana—cara manusia membicarakan kenyataan. Bukan pula sepenuhnya menentukan, episteme—cara manusia menangkap, memandang dan memahami kenyataan. Sebaliknya, justru sejarah pengetahuan manusia ditentukan keduanya. Keduanya, adalah pembentuk manusia yang patuh. Keduanya, adalah kuasa kontrol  perilaku manusia.

Pada perilaku manusia kekuasaan bisa dikenali dari akibat-akibatnya, salah satunya yaitu perlawanan terhadap kuasa tersebut. Dalam bukunya Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, Foucault menyebutkan bahwa di mana pun ada kekuasaan, pasti  terdapat perlawanan di dalamnya.  Dalam  terminologi  Foucault kekuasaan   merupakan hasil  dari hubungan hubungan  strategis yang tidak stabil, dimana ketidakstabilan ini merupakan dampak dari adanya perlawanan dalam suatu relasi kuasa. Adanya perlawanan juga merupakan suatu petunjuk bahwa  ada hubungan kuasa yang terjalin.  Kekuasaan dalam terminologi Foucault ini tidak hadir secara fisik, namun dapat dikenali dari akibat-akibatnya, salah satunya yaitu perlawanan terhadap kuasa tersebut.

Berikut ini, sederet kutipan yang tentu saja bisa ditelisik lebih mendalam bagaimana pengaruh wacana terhadap perilaku tokoh, berikut kemungkinan perlawanan terhadapnya dalam novel 9 untuk  mempertontonkan bagaimana karnaval wacana sebagai teks ideologi dan kekuasaan bekerja. Sederet kutipan ini memungkinkan pula untuk menjawab perihal;  ragam hubungan kekuatan, permainan yang dengan jalan perjuangan dan pertarungan tanpa henti mengubah, memperkokoh, memutarbaliknya; berbagai hubungan kekuatan yang saling mendukung sehingga membentuk rangkaian atau sistem, atau sebaliknya, kesenjangan dan kontradiksi yang saling mengucilkan; juga strategi tempat hubungan-hubungan kekuatan itu berdampak.

Basri secara tidak sengaja menemukan nama Mustafa Ibrahim. Waktu itu, dia baru saja selesai membaca beberapa buku tentang sejarah dan revolusi. Tidak hanya terpilih sebagai utusan Tuhan, keduanya juga merupakan sosok penting dalam sejarah umat manusia. Revolusioner sejati.

“Revolusi Dua Arah dalam Sejarah: Pembacaan atas Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim.” (Fragmen 1)

…Kisah Adam ketika hidup di taman surga. Sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an.

Kisah Qabil dan Habil. Kedua putra Adam yang diceritakan oleh al-Qur’an.

Maka ketika anak pertamanya lahir dan berkelamin laki-laki, dia pun diberi nama Mustafa Ibrahim.

hasil pembacaanku terhadap sejarah Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim. (Fragmen 2)

Dari semuanya, salah satu cara yang paling efektif untuk mendidik masyarakat adalah keteladanan. Itulah yang dapat kita lihat dari perjuangan Nabi Muhammad. (Fragmen 4)

Berada di Makam R. Rachmattulloh (Fragmen Sunan Ampel),

Kisah Ali Rahmatullah, yang merupakan keponakan Dewi Dewi Dwarawati, salah satu istri Raja Brawijaya. Secara historis, revolusi dari masyarakat “jahiliyah” menuju masyarakat Islam seperti yang dapat dilihat pada periode Madinah, tidak terjadi secara tiba-tiba,

Dari komunitas Ampeldenta ini kemudian lahir kader- kader, seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Raden Fatah, dan sebagainya, yang tidak hanya dikenal memiliki akhlak mulia, tetapi juga berpengaruh besar dalam penyebaran Islam dan transformasi masyarakat, terutama di Pulau Jawa dan Nusantara pada umumnya. (Fragmen 6)

Delapan belas tahunan yang lalu, ketika hamil muda, Hanifah, istrinya memiliki sebuah permintaan khusus. Ngidam, demikian orang jawa menyebutnya. Bukan dia, tetapi jabang bayi dalam rahimnya itu yang menginginkannya. Dan permintaan khusus itu adalah air dari sumur peninggalan Sunan Ampel. (Fragmen 7)

Air mengalir bersama cerita dan sejarahnya, sehingga memiliki makna khusus, dimana kekuasaan Tuhan terlibat di dalamnya. Misalnya, kisah munculnya air zamzam, yang dalam tradisi Islam dipercaya sebagai jawaban Tuhan atas doa dan usaha Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika mencari air untuk putranya, Ismail. Maka, tidak heran jika setiap kali umat Islam di Indonesia pergi haji atau umrah, mereka selalu membawanya sebagai oleh-oleh. Zam- zam, demikian sebutan khusus dan terdengar istimewa, lantaran kisah dan sejarah yang menyertainya.

Dia tahu tujuan perjalanan berikutnya, yaitu lokasi makam Sunan Maulana Malik Ibrahim. (Fragmen 8)

Kisah, sejarah, dakwah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau kakek bantal

Akan tetapi, hanya satu yang mereka inginkan, yaitu hujan. Dua orang gadis telah dikorbankan untuk itu. Namun, hujan belum juga turun. Isyaratnya pun tidak terlihat. Dan gadis yang tercekal di atas altar itu rencananya akan dijadikan korban yang ketiga.

“Hujan akan turun setelah pengorbanan dilakukan tiga kali!” teriak pemimpin ritual itu. (Fragmen 9)

Ib pernah membaca, bahwa fenomena ritual pengorbanan semacam itu bukan hanya terjadi dalam kehidupan masyarakat di pulau Jawa pada zaman dulu, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat lain di belahan bumi. Bahkan, Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Nabi Saw., diceritakan pernah akan dikorbankan untuk memenuhi nadzar ayahnya. Akan tetapi, hal itu kemudian diganti dengan menyembelih seratus ekor unta. (Fragmen 9)

(Fragmen Mengenang Pak Bakrun—guru di sekolah pesantrennya) Kisah Qorun. Yah, sebagaimana diketahui, pada mulanya Qarun adalah seorang miskin yang taat beribadah dan berdoa kepada Tuhannya. Dia terus bersabar dengan kemiskinan. Akan tetapi, lama-kelamaan dia pun tergoda untuk mendapatkan hidup yang lebih berkecukupan harta. Perlahan kemiskinan menggerus kesabarannya. (Fragmen 10)

Dan yang tak pernah disangka oleh Ib, bahwa Pak Bakrun menjalankan puasa ndaud, yaitu seperti puasanya Nabi Daud, dimana sehari puasa dan sehari berbuka.

Demikianlah, pada suatu hari Nabi Saw., pernah ditanya, apakah beliau ingin menjadi Nabi seperti Ayyub yang miskin dan sakit, atau Nabi seperti Sulaiman yang gagah dan kaya raya?! Barangkali, banyak di antara kita akan memilih seperti Nabi Sulaiman. Dan kalaupun ada, hanya sebagian kecil saja yang bisa menerima seperti Nabi Ayyub.

Lantas, jawaban apa yang dipilih oleh Nabi Saw?! Intinya, beliau ingin menjadi seorang Nabi yang sehari kenyang dan sehari lapar. Dalam kenyang, seseorang bisa bersyukur kepada Tuhan. Sementara dalam lapar, seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan. (Fragmen 10)

Kehidupan dunia hanya sementara. Ibaratnya, hanya mampir untuk minum. Kita harus mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya, dan sebaik-baiknya. Karena perjalanan berikutnya adalah pasti. Kemudian dengan bekal itulah, yakni amal shalih, tempat manusia ditentukan. (Fragmen 12)

Syi’ir tanpa waton,

Pribumisasi Islam menurut Gus Dur

Barangkali di bawah pondasi masjid ini dan makamnya, warna tanahnya sama dengan tanah pemberian Syekh Maulana Ishaq, ayahnya. Ketika mengunjunginya di Pasai, dilanjutkan dengan belajar selama tiga tahun  di sana, akhirnya Sunan Giri disuruh kembali ke Gresik.

“Kelak, jika waktunya telah tiba, carilah tanah yang sama dengan tanah dalam bungkusan ini. Kemudian, dirikanlah sebuah pesantren di situ,” demikian pesan ayahnya. (Fragmen 13)

Analisis spekulatif dari komparasi historis antara Mahapatih Gajahmada dengan Sunan Giri terkait Nusantara.

Yah, jika ikatan Nusantara-nya Mahapatih Gajahmada terbentuk melalui kekuatan politik dan militer, maka Nusantara-nya Sunan Giri dibangun melalui hubungan pendidikan dan keagamaan, intelektual-religius, dengan para santrinya yang berasal dari pulau-pulau di wilayah Nusantara.

Membaca kisah hidupnya, Ib tahu bahwa laut adalah kehidupannya. Dewi Sekardadu, ibunya, yang juga putri raja Blambangan, telah menitipkan dia kepada laut untuk mengasuhnya. Kemudian laut membawanya ke hadapan Nyai Ageng Pinanti, yang memberinya nama Joko Samudro. (Fragmen 14)

“Dalam kehidupan manusia, ada tempat yang paling indah untuk bertamasya. Apakah kalian tahu?”

Menurut Pak Bahrum: Sidratu al-muntaha, demikian nama tempat itu. Dua kata yang tidak hanya membuka kesadaran lain yang besar, tetapi juga mengingatkan Ib tentang peristiwa Isra’ mi’raj Nabi Saw. Perjalanan yang dimulai dari masjid ke masjid, yang kemudian dilanjutkan melintasi langit kebesaran-Nya. Puncak perjalanan spiritual manusia, dimana tabir antara Tuhan dengan hamba-Nya terbuka.

Bahkan saking indahnya, Nabi Saw., pun mengungkapkan perjalanan spiritual itu kepada penduduk Makkah, baik muslim maupun kafir. Yah, percaya atau tidak, inilah ujian keimanan. (Fragmen 16)

Menehono teken marang wong kang wuto Menehono mangan marang wong kang luwe Menehono busono marang wong kang mudo Menehono ngiyub marang wong kang kudanan

Demikian pesan itu tertulis. Ib memahami, bahwa pesan itu memiliki jangkauan makna yang luas, sekaligus menjadi tanda atas perjuangan dakwah Sunan Drajat yang menitikberatkan pada kepedulian sosial yang tinggi, di samping kesalehan individual.

…pesan itu menjangkau seluruh aspek kemanusiaan pada diri manusia, baik yang bersifat religius-filosofis, material-ekonomis, moral-spiritual, maupun sosio-psikologis. Dari kesemuanya, pesan itu mengarahkan agar setiap manusia memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi serta menjaga fitrah kemanusiaan, baik diri sendiri maupun orang lain. (Fragmen 17)

Yah, ‘Lelaki yang datang dari laut’, demikian kesimpulan Ib mengenai kehadiran Sunan Drajat di daerah ini, sebagaimana yang tergambar dari cerita rakyat itu.

Diceritakan, suatu hari Raden Qasim diperintahkan oleh Sunan Ampel, ayahnya, untuk pergi sekaligus mencari tempat tinggal di daerah antara Gresik dan Tuban. Dari pelabuhan Gresik, beliau memulai perjalanannya dengan menumpang perahu yang bertolak ke barat. Dalam perjalanan, tiba-tiba ombak besar menghantam dan menggiring perahu itu hingga terhempas menabrak bongkahan karang. Perahu itu menjadi kepingan-kepingan pecah. Cerita rakyat menyebutkan bahwa seekor ikan talang yang cukup besar kemudian menghampirinya. Dengan menaikkan di atas punggungnya, ikan itu mengantar Raden Qasim tiba di pantai dengan selamat. (Fragmen 19)

Larut dalam suasana, tak terasa Ib melantunkan tembang “Tombo Ati” itu.

Menyelesaikannya, dia tersenyum. Seperti merasakan damai di hatinya.

Sekilas tergambar dalam pikirannya, Sunan Bonang sedang memainkan seperangkat alat musik gamelan ciptaannya, yaitu bonang, yang kemudian dijadikan sebagai nama julukannya.

Makdum Ibrahim, demikian nama Sunan Bonang. Oleh ayahnya, yaitu Sunan Ampel, beliau diperintahkan untuk berdakwah di daerah Tuban dan sekitarnya. Akan tetapi, berbeda dengan ayah dan saudaranya, yaitu Sunan Drajat yang menetap dalam berdakwah, Sunan Bonang kerap melakukan perjalanan dakwah secara berkeliling.

Pada kisah yang pernah dibacanya, Ib tahu, bahwa dalam perjalanan berkeliling ini juga, Sunan Bonang bertemu dengan Brandal Lokajaya. Si “perampok budiman” yang kemudian insyaf dan menjadi salah satu murid utama beliau dalam ilmu hakikat. Brandal Lokajaya yang kemudian berubah menjadi Sunan Kalijaga. (Fragmen 20)

Ib terbangun seketika. Kisah yang pernah dibacanya itu mencuat dalam ingatan. Babad Tanah Jawi menjelaskan kisah seperti yang tergambar dalam mimpinya. Dua laki-laki, guru dan murid itu adalah Sunan Bonang dan Kalijaga. Sedangkan laki-laki yang menjelma dari cacing itu, tidak lain yaitu Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar. (Fragmen 21)

Dalam pandangan Kang Badri, kisah hidup Sunan Bonang adalah potret perjalanan cinta. Pada satu titik, hal tersebut mengingatkannya tentang kisah sufi perempuan, yaitu Rabi’ah al-Adawiyah, dengan konsep mahabbah. Bahwa cinta yang dimilikinya telah habis untuk Tuhan saja. Maka, maklumlah jika kabar menyebutkan bahwa keduanya tidak menikah. Tidak berkeluarga dan beranak-pinak. Kendati tak tersisa lagi, cinta kepada Tuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari termanifestasikan dengan kasih-sayang kepada seluruh makhluk-Nya di dunia. Termasuk rerumputan.

Hal terpenting dari kisah hidup Sunan Bonang dan Rabi’ah al-Adawiyah, bahwa kehidupan di dunia adalah perjalanan cinta kepada-Nya. Segala peristiwa yang terjadi dan dialami, tidak lain merupakan ruang-ruang manifestasi cinta kepada Tuhan. (Fragmen 22)

Berbeda dengan kisah para walisongo sebelumnya, wilayah dakwah Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus adalah sebuah kota, dimana aktivitas perdagangan, kesibukan hidup, heterogenitas dalam masyarakat, menjadi gambaran khas. Hal inilah yang tampaknya mendasari filosofi hidup yang dikembangkan di masyarakat, yaitu gusjigang, singkatan dari bagus, ngaji, dan dagang. (Fragmen 23)

Konon, suatu hari Sunan Kudus pernah membeli sapi dari India yang dibawa oleh para pedagang asing dengan kapal besar. Di halaman rumah dekat masjid, sapi yang diberi nama Kebo Gumarang itu kemudian ditambatkan.

“Saudara-saudara, segenap sanak-kadang yang saya hormati dan cintai. Bersama ini, saya sampaikan kepada saudara semua untuk tidak menyakiti, apalagi menyembelih sapi,” ujar Sunan Kudus. “Karena dulu, saat masih kecil saya hampir mati kehausan. Lalu seekor sapi datang menyusui saya.” (Fragmen 24)

Yah, barangkali memang demikian. Sebagaimana Nabi Saw yang melarang umatnya memanggil orang lain dengan panggilan dan julukan yang buruk. Dan sebaliknya. Begitu juga nama-nama yang baik untuk anak dan cucu. Ib berpikir, bahwa hal itu tidak lain, agar umat manusia melihat cermin diri sendiri yang penuh dengan kebaikan. (Fragmen 26)

Dalam diam menatap bayangan malam, Ib tahu bahwa Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga. Seperti ayahnya, beliau berdakwah dengan cara yang lembut. Dengan hikmah dan tutur kata yang baik. Ngemong, istilah dalam bahasa Jawa, yang berarti melindungi dan membina. (Fragmen 27)

Memikirkan kisah tersebut, Ib teringat satu hadits yang pernah dijelaskan Pak Bakrun di kelas. Rasulullah Saw., bersabda: “Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Pertama, waspadalah kalian terhadap sifat sombong, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam. Kedua, waspadalah kalian terhadap sifat rakus, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Yang ketiga, jagalah dirimu dari sifat dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya8.”

Kisah-kisah terdahulu menyebutkan, bahwa para penguasa dan orang- orang yang sombong lainnya dibinasakan, seperti kisah raja Namrud, raja Fir’aun, Qarun dan sebagainya. (Fragmen 27)

Pada periode sebelumnya, tidak sedikit di antara para elite kerajaan yang “terusir”, mulai membangun pusat kekuasaan baru di wilayah hutan dan pegunungan. Raden Wijaya dengan kerajaan Majapahit di kawasan hutan Tarik. Begitu juga dengan Panembahan Senopati. Bermula dari tanah perdikan yang diberikan oleh Sultan Hadiwijaya dari Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan, ayahnya, Panembahan Senopati merubah alas Mentaok menjadi pusat kekuasaan baru di tanah Jawa, yaitu kerajaan Mataram. (Fragmen 28)

Menurut Ib, apa yang dilakukan oleh Sunan Muria di gunung dan hutan tersebut, yaitu untuk melengkapi perjuangan Sunan Kalijaga, ayahnya, yang setelah pengembaraannya, hidup di ibukota kerajaan Demak, yaitu sebagai konseptor budaya Islam-Jawa. (Fragmen 29)

Jika inti pesan wahyu pertama adalah perintah untuk membaca, yang mana di dalamnya mengarah pada pemahaman dan kesadaran yang melibatkan dimensi spiritualitas dan intelektualitas, maka pesan utama wahyu kedua adalah bergerak dalam proses perubahan di masyarakat.

Memang, umumnya kalangan umat Islam memahami bahwa surat al- Mudatsir ayat satu sampai tujuh tersebut berisi tentang perintah untuk berdakwah. Akan tetapi menurut Pak Bakrun, ayat-ayat di atas lebih menunjuk pada dasar spiritualitas-etik yang harus dipegang oleh seseorang yang berdakwah. Karena itu, penekanan atas keberadaan Nabi Saw dalam kehidupan umatnya adalah uswatun hasanah. Teladan yang baik. Bukan sekadar mauidhah hasanah atau ceramah agama. (Fragmen 32)

Problem Teks, Metafisika, Subjektivitas

Demikianlah, sesungguhnya kesederhanaan itu tidak ada. Dengan demikian pula, mengusung kesederhanaan adalah problem tersendiri. Tepatnya problem teks. Seperti halnya bahasa—atau kata dalam setiap teks cerita mengandung kerumitan tersendiri sekalipun hendak menyingkap kesederhanaan. Ia adalah bahasa, sekaligus pikiran, pengetahuan, emosi, pengalaman batin, nilai-nilai, budaya, juga memuat pergeseran di dalamnya. Seorang pengarang bekerja menyusun dengan tekun pelbagai kemungkinan itu sedemikian rupa sehingga menjadi bagian atau keseluruhan dari apa yang disebut budaya manusia.

Maka dari segala itu jelas berpusar dan berpulang pada manusia—dari keberangkatan, perjalanan, kepulangan. Inilah jihad, kalifah di bumi.

Buhul antara tugas semua khalifah dan bahasa-budaya, apa yang dikatakan filosof Muhammad Iqbal tak terbantahkan; bahwa sumber satu-satunya pengetahuan adalah pengalaman batin. Baru kemudian dua sumber pengetahuan lainnya adalah alam dan sejarah.15) Pun penciptaan dan pemaknaan kembali (hermeneutik/tafsir) selalu terbit atas berbagai perjalanan-peristiwa-situasi terkini dari pengalaman pengarang atas kesadaran maupun bawah kesadarannya. Pertanyaannya kemudian, bertumpu pada ikhwal fase penghayatan religius adalah; adakah selepas pemahaman pikiran (thought) mengalami pendewasaan, pencapaian pribadi yang merdeka, melampaui penghayatan di dalam kedalaman hati nuraninya?

Pendeknya pengalaman batin, penghayatan hati, sesudah pemahaman dunia pikiran, yang surealis pasca realis-konkret, alam metafisis selepas empiris. Singkatnya lagi, melihat aspek “di balik” sesuatu yang sifatnya ontologis empiristis. Di situlah yang konseptual dari yang semula berasal kesadaran akal budi.

Pertanyaan inilah yang perlu disampaikan berulang-ulang, sekalipun dalam setiap tulisan itu sendiri sudah terkandung kemungkinan sifatnya yang multi makna/tafsir/pemahaman. Perihal yang metafisis, yang mistik, yang konseptual, dalam metode dekonstruksi kita mengenalinya dalam apa yang sering disebut metabahasa—‘pemikiran’ paling awal seorang penulis tentang apa yang hendak dituliskannya dalam bentuk-bentuknya. Dalam kosakata yang lebih mudah dipahami adalah pandangan filusuf Henri Bengson yang memandang metafisika “memuat pendekatan intuitif terhadap dunia, yang sanggup mengatasi kecenderungan akal untuk membuat spasialisasi dan menangkap arus perubahan proses temporal.”16)

Maka teranglah, pengarang sebagai sumber pertama konsepsi sebuah karya sastra, tidak saja mempresentasikan bentuk-bentuk makna-makna dari elemen tanda bahasa-semiologi yang sebenarnya (denotasi) melainkan juga kiasan (konotasi), metafora, makna lapis kedua (mitos) bahkan lapis ketiga dan seterusnya (pasca mitos) yang memperkaya kompleksitas-ambiguitas karya ke dalam mana metabahasa makin jauh berjarak dengan kesederhanaan akal pikiran.

Dengan metabahasa bisa dikatakan sebuah karyasastra sebenarnya ada banyak konsep tentang sesuatu. Konsep–pemikiran seseorang–itulah yang dimunculkan oleh pengarang sehingga lahirlah sebuah karya sastra. Ini berarti bahwa konsep tentang sesuatu yang berkaitan dengan maksud dan tujuan si pengarang berkaitan dengan seluruh pengetahuan yang dimilikinya.  Singkatnya satu sisi nilai subjektivitas—yaitu pengarang.

Sementara pada sisi yang lain terkandung nilai subjektivitas pagi pembaca. Nilai subjektivitas inilah yang sangat penting bagi pengetahuan, tepatnya pengetahuan diri sebagaimana terpantik pada pemikiran konseptualnya, juga termasuk di dalamnya bagaimana sosiologi pengetahuan—kesadaran kolektif dari ekpresi/ekternalisasi oleh pengarang dan kemudian ditangkap secara beragam oleh masa pembaca. Ada pembaca biasa, ada pembaca kritis. Ada pembaca-penikmat, ada pembaca berwawasan. Ada pembaca yang demokratis, ada pembaca yang individualistis. Ada pembaca yang mencari bentuk mitos, ada yang pengurai distorsi ideologis, ada pembaca yang memafhumi dan melestarikan ambiguitas.

Beberapa petikan novel 9 berikut ini, menimbang nilai subjektivitas (pengarang) yang sebagai sebuah gaya pada tataran pertama bernada propaganda/opini/khotbah. Tentu saja pada tataran berikutnya terkandung metabahasa; konsep-konsep tertentu dari pengarang di sebalik diksi, denotasi, konotasi, metafora, mitos, ideologi,dan wacana dan lain sebagainya yang  berhumbalang dalam karnaval teks novel ini. Lengkap dengan kuasa/kekuatannya dalam pelbagai pemikiran, perasaan, emosi, empati, kebebasan, kehendak, ketidakinginan tentang sesuatu.

Karena tanpa nama, sebuah esensi dan eksistensi tidak akan bisa dipahami, terutama dalam hubungan di antara manusia. Pada spektrum yang lebih luas, hal tersebut kemudian melahirkan bahasa dalam kehidupan masyarakat serta menjadi tanda atas keberadaan dan keberlangsungannya….

…Sebuah nama berkaitan dengan pengertian dan pemahaman, dimana pada level yang lebih tinggi mengarah pada kesadaran. (Fragmen 2)

Bahkan, semua agama pun menjadikan pendidikan sebagai sarana pokok dalam sosialisasi dan intensifikasi seluruh ajarannya, agar pemeluknya menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa. (Fragmen 3)

Dari semuanya, salah satu cara yang paling efektif untuk mendidik masyarakat adalah keteladanan. Itulah yang dapat kita lihat dari perjuangan Nabi Muhammad. (Fragmen 4)

….Secara historis, revolusi dari masyarakat “jahiliyah” menuju masyarakat Islam seperti yang dapat dilihat pada periode Madinah, tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali oleh perubahan positif dalam kehidupan keluarga, yang kemudian berlanjut pada pembinaan komunitas kecil. Pada proses ini, intensifikasi dan spiritualisasi nilai-nilai Islam menjadi episode penting dalam membentuk generasi Islam yang tangguh, dimana secara jangka panjang diproyeksikan sebagai kader-kader terdepan dalam transformasi masyarakat. (Fragmen 6)

Apa alasan seorang hamba begitu dimulaikan oleh Tuhannya?! Jawabnya, karena takwanya. Lantas, apa yang menyebabkan begitu banyak orang rela mengeluarkan harta, waktu, dan tenaga, untuk berziarah kepada makam orang lain, yang bahkan tidak dikenalnya secara baik, kecuali hanya melalui cerita?! Berdoa untuknya?! Tidak ada yang lain, yaitu karena derajatnya yang mulia, baik di hadapan Tuhan maupun manusia. (Fragmen 7)

Sesungguhnya, tidak ada perbedaan antara air yang satu dengan air yang lain. Semuanya sama, yaitu ciptaan Tuhan. Akan tetapi dalam kehidupan manusia, air mengalir bersama cerita dan sejarahnya, sehingga memiliki makna khusus, dimana kekuasaan Tuhan terlibat di dalamnya. Misalnya, kisah munculnya air zamzam, yang dalam tradisi Islam dipercaya sebagai jawaban Tuhan atas doa dan usaha Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika mencari air untuk putranya, Ismail. (Fragmen 8)

Seluruh ajarannya yang bersumber dari wahyu yang diturunkan kepada para rasul-Nya ditujukan sebagai petunjuk manusia dalam kehidupannya, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, antar manusia, dan alam sekitarnya. Spiritual maupun material. Termasuk dalam mencari solusi atas segala permasalahan, baik yang bersifat individual maupun sosial. Hal ini hanya mungkin berhasil jika agama tidak hanya terkungkung dalam permasalahan keshalihan individual an sich, tetapi juga keshalihan sosial, serta diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat, terutama pada peningkatan taraf hidup mereka. (Fragmen 9)

Karena itu, sebelum revolusi dalam masyarakat dilakukan, seseorang harus melakukan revolusi pada dirinya sendiri. Kalau tidak, maka revolusi sosial akan kehilangan makna kemanusiaannya. Hal inilah yang menjadi alasan Pak Bakrun, sebagaimana juga yang ditunjukkan oleh sejarah perjuangan para Nabi dan Rasul. (Fragmen 10)

Bahwa yang namanya hidup, ada puasa juga ada lebaran. Dijalani saja dengan baik.

Ib tahu, kendati terdengar biasa dan sederhana, perkataan sopir berpeci itu sungguh bijak. Yah, ada sabar dan ada syukur. Dan itu semuanya harus dijalani dengan baik, terutama sebagai manifestasi rasa cinta kepada-Nya. (Fragmen 11)

Kehidupan dunia hanya sementara. Ibaratnya, hanya mampir untuk minum. Kita harus mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya, dan sebaik-baiknya. Karena perjalanan berikutnya adalah pasti. Kemudian dengan bekal itulah, yakni amal shalih, tempat manusia ditentukan.

Begitulah kira-kira inti wasiat khutbah Abah Dullah pada jum’at lalu yang masih diingat oleh Ib. Lantas, apakah makna hidup itu?! (Fragmen 12)

Wawasan Nusantara, demikian konsep yang menjadi tumpuan bagi integrasi Indonesia. Dalam hal ini, laut bukanlah pemisah, melainkan pemersatu pulau-pulau yang ada di dalamnya. Juga masyarakatnya yang berbeda-beda, baik ras, agama, suku, budaya, dan sebagainya, namun tetap satu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, demikian slogan pemersatu bangsa dan negara ini. (Fragmen 14)

“Salah satu tanda kecil keimanan seseorang, yaitu rasa syukur ketika buang hajat. Karena tak jarang di antara manusia yang menganggapnya sebagai penghambat aktivitas. Sesuatu yang mengganggu kesibukannya. Dan sebagainya.” (Fragmen 15)

Berziarah sendiri, tentunya tidak terlalu repot dibandingkan berziarah dengan rombongan. Terutama ruang dan waktu. Seseorang akan lebih mudah untuk mencari tempat bagi dirinya, tanpa memikirkan teman atau rombangannya. Begitu juga seseorang bisa mengatur waktu secara fleksibel. (Fragmen 17)

Khotbah Jum’at yang disimaknya sebentar lalu itu, menarik perhatiannya. “Menuju Takwa”, demikian dia mengarisbawahinya. (Fragmen 19)

Selama ini Ib kerap mendengar pengertian takwa, yang umumnya berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Baru kali ini dia mendapatkan penjelasan makna takwa dalam cakupannya yang lebih luas dan berdimensi batin. Melalui pendekatan kebahasaan, khotib menjabarkan empat huruf hijaiyah yang merangkai kata takwa. Tepatnya taqwa yaitu ta’, qaf, wawu, dan ya’ atau alif bengkok. (Fragmen 19)

….bahwa dalam ziarah itulah, dia mendapatkan sesuatu yang penting dan terus dipegangnya hingga kini. Bahwa ziarah adalah pertemuan waktu dalam diri seseorang, baik dulu, kini, dan nanti. Karena itu, untuk menjadi manusia seutuhnya, salah satu proses pentingnya adalah ziarah, yang tidak lain adalah pertemuan dengan diri sendiri. (Fragmen 19)

Dari keseluruhannya, Ib menganggap bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan, tidak lain adalah ayat untuk dibaca. Direnungkan untuk menjadi pelajaran bagi manusia. Dan satu hal yang dapat dipelajari, bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan aspek lahiriah atau batiniah semata, tetapi perpaduan di antara keduanya. (Fragmen 20)

Keberagaman dalam dunia adalah ruang untuk saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling bekerjasama (ta’awun), dan akhirnya menjadi kesatuan (takaful) yang harmonis dan penuh kasih sayang. Bukankah manusia adalah sama. Diciptakan oleh Dzat yang sama.

Memanusiakan manusia, itulah arah proses kesempurnaan. (Fragmen 23)

Pertautan kata santri dengan lembaga pesantren mengidentifikasi keberadaannya sebagai kalangan yang terlibat dalam sosialisasi ajaran-ajaran Islam yang khas, yaitu sub-kultur pesantren. Begitu pula peran dan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat, yang tidak bisa dipisahkan dari jaringan keilmuan, laku, dan spiritual para kyai atau ulama sebagai pusat sub- kultur tersebut. (Fragmen 24)

Satu hal yang harus digarisbawahi, bahwa mereka menghadapi dan menyikapi perbedaan itu dengan pandangan hikmah dan penuh kasih sayang. (Fragmen 25)

Pada suatu ketika bersama rombongan, para peziarah akan menghadapi suasana pengalaman jasmani atau inderawi yang sama…. Akan tetapi dalam kebersamaan itu, apakah pengalaman spiritual yang dialami juga sama?! Tentu saja, tidak.

Tidak seperti pengalaman jasmani atau inderawi, diperlukan kesiapan dalam pengungkapan pengalaman spiritual. Baik pendengarnya maupun kondisi tempat dan waktunya. Salah-salah, malah akan melahirkan berbagai dugaan pada diri pendengarnya. Juga keragu-raguan dan kesalahpahaman. (Fragmen 26)

Ketika anak manusia merasa ujub dan sombong dengan kekayaannya, kekuasaannya, kepandaiannya, atau lainnya, hal itu disebabkan dia hanya memandang dua cermin, yaitu cermin diri sendiri dan cermin orang-orang yang tampak lebih kecil darinya. (Fragmen 28)

Untuk merebut simpati, instrumen kesenian seperti gamelan, tembang- tembang, dan wayang, dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai alat dakwah. Begitu juga upacara tradisi, misalnya perayaan sekaten, grebeg maulud, dan sebagainya. (Fragmen 31)

Dakwah yang dilakukan oleh Walisongo di Jawa dan para penyebar Islam di Nusantara,…. tidak luput dari persoalan tersebut, yang…. pada gilirannya menegaskan bahwa proses Islamisasi, juga merupakan proses rekonstruksi budaya. Di antara para Walisongo, perjuangan dakwah Sunan Kalijaga lebih memperlihatkan proses tersebut. (Fragmen 31)

Dari membaca hidup dan kehidupan manusia, maka seseorang akan memahami, bahwa terbentang jarak yang lebar antara idealitas dan realitas. Antara harapan dan kenyataan. Pada kondisi ini, upaya mendekatkan jarak di antara keduanya harus menjadi kesadaran manusia, baik personal maupun sosial yaitu dengan lahirnya rasa tanggungjawab dan berperan dalam proses perubahan masyarakat. Dakwah istilahnya. (Fragmen 32)

Membela kemanusiaan merupakan prinsip utama dari jihad. Sementara dakwah, tidak lain adalah upaya mengembalikan pada kemanusiaan, yang mana di dalamnya, keteladanan ibarat cermin yang terus memanggil setiap orang untuk mendekat pada kemanusiaannya. (Fragmen 33)

Pertanyaan Pamungkas Revolusioner-Pemberontak

Menjadi revolusioner sejati, entah dalam pengertian sebagai pemberontak, ataukah setiap revolusioner pada akhir kemudian menjadi pemberontak, tidaklah sederhana. Tidak pula sesederhana jika semua orang menghendaki menjadi nabi, atau meneladani secara utuh iman, tindak-tanduk, perkataan maupun perbuatan seorang nabi, sebagaimana disampaikan Hamka dalam kutipan paling muka.

Seorang revolusioner-pemberontak sudah terkandung didalamnya absurditas—kontradiksi di dalamnya. Demikian pula absurditas revolusioner sejati, pemberontak, maupun nabi bahwa penderitaan itu padanya bersifat individual, namun saat pemberontakan dimulai , penderitaan dilihat sebagai sesuatu penyelamatan kolektif.17) Absurditas yang tak sederhana lainnya adalah, menjadi pemberontak, maka pertama kali pemberontakan harus ditujukan pada dirinya sendiri, keyakinannya sendiri, berhala penuhanan dalam dirinya sendiri, bahkan terhadap tuhannya sendiri pula.

Pengalaman  Nietzsche menunjukkan demikian. Katanya, pemberontak metafisik secara definitive bukanlah seorang atheis, seperti dipikirkan orang selama ini, tetapi tak dapat disangkal bahwa memang ia adalah seorang pengutuk Tuhan. Demikian pula pemberontakan dalam seni (sastra). Camus berujar, seni adalah aktivitas pengagungan dan sekaligus pengingkaran. Sedang Nietzsche berkata, tak ada seniman yang dapat menerima kenyataan.

Sekali lagi ini adalah pemberontakan metafisis. Yang dengan cara berpikir metafisis, idealnya, dibayangkan seseorang dapat memiliki beberapa konsep tentang sesuatu yang mungkin saja diperolehnya melalui pengamatan, kontemplasi atau renungan kritis. Melalui ide atau cara berpikir yang konseptual akan lahir beberapa tulisan atau karya pemikirannya. Pada subjek akan terlihat bahwa subjek memiliki kesadaran diri (self subject) yang dinamis bahkan ambigu. Subjek mampu berpikir kritis, mampu melakukan imaginasi, mampu berpikir dari kesadaran dirinya sendiri hingga ketidaksadaran diri (unconsciousness).

Pertanyaan pamungkasnya adalah; konsep terhadap revolusioer sejati sebagaimana Al-Mustafa dan Ibrahim As. sebagai pembawa nilai-nilai Islam secara universal, dan  perjuangan pribadi manusia mencapai kemerdekaan hakiki, demi ketauladanan, inikah juga metafisis ataukah spiritualitas?  Pertanyaan yang sama juga atas pernyataan Kuntowijoyo ‘meniru perbuatan nabi, Sang Prophet?

Besar harapannya jawaban pertanyaan tersebut tidak datang dari atas, sebagaimana mestinya Kuntowijoyo tak mencari pernyataan-pernyataan temuannya dalam buku-buku diktat dan karya sastra pendahulunya; Mohammad Iqbal. Demikian halnya semestinya, penjelasan-penjelasan M. Syauqi Sumbawi sebagai pengarang novel 9, tidak menelisiknya dari maklumat dan karya-karya Kuntowijoyo. Kuntowijoyo memiliki jawaban dengan menyatakan secara tegas bahwa karya sastranya bersumber dari  kitab suci, sebagai senjata budaya orang beragama.

“Kitab Suci” dan “Senjata orang beragama,” membawa konsekuensi harus menampik tuduhan dirinya telah menyembelih sastra sebagai simbol dengan memakai konsep-konsep, sastra bukan lagi konstruksi imajiner tentang realitas melainkan pemikiran sosial-budaya.19) Kuntowijoyo bersiteguh dengan berjanji mempertahankan karya sastranya diskriptif-naratif.

Sementara ini pada diri A. Syauqi Sumbawi, belum dapat disimpulkan secara menyakinkan, apakah sebenarnya dirinya sedang mengkritik sastra profetik, ataukah malah memperlihatkan alternatif lain berangkat dari tuduhan pada Kuntowijoyo, dengan justru mempertajam konsep-konsep sastranya. Bukan hal yang mustahil karena sampai tulisan ini saya buat, sang pengarang belum menyampaikan kredonya atas novel ini. Bukan mustahil penajaman konsep-konsep sastranya atas nama efektivitas, dakwah, ibadah, yang sebelumnya terang diakui Kuntowijoyo sulit diapresiasi publik, sementara tugas sastranya semakin mendesak: memperluas ruang batin, menggugah kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan. Entahlah. Bukan hal yang mustahil.

Yang jelas, bila dicermati dari dua cara bersastra Kuntowijoyo (dari dalam dan dari bawah), pada karya Syauqi Sumbawi ini ada pergeseran, pergerakan. Utamanya dalam memperlakukan opini, propaganda, khotbah serta posisi subjek tokoh-tokohnya terkait hubungannya dengan subjek pengarang. Syauqi Sumbawi tampaknya mengacaukannya, tidak berusaha disiplin sebagai subjek pengarang ataukah tokoh-tokohnya.

Peristiwa-peristiwa tidak sepenuhnya dipahaminya sebagaimana tokoh-tokohnya memahami dunianya sendiri. Pengarang sengaja banyak sekali campur tangan, baik dalam imajinernya, pikirannya, perbuatannya maupun dalam mereaksi peristiwa-peristiwanya sendiri. Pengarang tak sepenuhnya menjauh atau terlibat dengan tokoh-tokohnya. Dan satu lagi, boleh jadi Syauqi memulainya menulis novelnya berangkat dari teori atau konsep tertentu baru kemudian mempertimbangkan konsistensi, dalam pelukisan, koherensi dengan plot dan tema. Dengan kata lain, tidak memulai dari peristiwa atau hal kecil yang sederhana. Atau mungkin pula pengarang ini memilih menempuh jalan dua-duanya; memulai hal kecil yang remeh temeh, sekaligus membentenginya dengan konsep atau teori besar, lalu menggerakkan kedua-duanya.

Sudah barangtentu ini masih sekadar dugaan. Tak harus bersetuju. Sebagaimana tak mesti bersepakat bila dikatakan novel ini keras-terang dan gamblang beropini, dibandingkan karya yang lembut, tenang mengambang dalam ambigu.

Meski demikian ada baiknya pula kita bersepakat toh dua-duanya tak lain; suatu ideologi, mitos dan wacana.[]

Ngimbang, 18 September 2020

Tabik

Catatan:

1).  Kutipan dan pengakuan Hamka ini diambila dari tulisannya Mengarang Roman, dalam E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000 hal. 68 dan 70.

2). E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer gramedia, 2000 hal. Xxvi

3). Nur St. Sukandar, mantan karyawan Balai Poestaka, dalam tulisannya Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia dalam E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000 hal. 7-8 menerangkan “Gubernenen Hindia Belanda menghendaki supaja buku-buku batjaan jang akan dikeluarkan Balai Pustaka harus mempergunakan bahasa Melaju Riau, bahasa sekolah jang telah ditetapkan dalam tahun 1901.”

4). Lihat  Abdul Hadi WM, Cakrawala Budaya Islam, IRCISod, hal.  139.

5). Lihat  Abdul Hadi WM, Cakrawala Budaya Islam, IRCISod hal.  147. Dalam penjelasan lain, di buku ini dengan didasari dari buku karya Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Abdul Hadi mencatat pentingnya pengalaman dan kesadaran sejarah, disamping eksplorasi pengalaman empiris dan rasional. Lihat hal. 149

6). Pendapat  HB. Jassin ini termaktup dalam  “Hamka, Pengarang Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I. Jakarta: Gramedia, 1985 hlm. 46–53, sedangkan tanggapan  Bakri Siregar, dalam Sedjarah Sastera Indonesia. 1. Jakarta: Akademi Sastera dan Bahasa (1964) yang juga dikutip situs wikiepedia dalam membincang novel tersebut. https://id.wikipedia.org/wiki/Di_Bawah_Lindungan_Ka%27bah_(novel)

7). Lihat tulisan Goenawan Mohamad, Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini, dalam dalam E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000 hal. 549

8). Lihat Novi Anoegrajekti, Djoko Saryono, I Nyoman Darma Putra, Sastra Pariwisata, Penerbit PT Kanisius, 2020 hal. Vii

9). Lihat tulisan Goenawan Mohamad, Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini, dalam dalam E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000 hal. 550

10). Lihat Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik, Diva Press 2019 hal  9; Lihat pula Dr. Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, Tintamas 1982, hal. 123

11). YB. Mangunwijaya, Sastra dan Religiusitas, Penerbit Kanisisus, 1992 hal. 12

12). Lihat Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, Tiara Wacana, 137-142.

13). Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, Gramedia 2000, hal. xii

14). Lihat Michel Foucault, Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, Gramedia 2000, 117

15). Dr. Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam,  Tintamas 1982, 139-140

16). Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia, 2005 hal. 628 ;  Lihat pula Roland Barthes, dalam buku Elemen-Elemen Semiologi, Jalasutra 2012, hal 92. Member penjelasan bahwa Metabahasa adalah sistem yang ranah isinya sudah sendirinya merupakan suatu sistem penandaan; atau dikatakan juga semiotika yang menangani semiotika.

17). Albert Camus, Pemberontak, Bentang 2000, hal. 37

18). Albert Camus, Pemberontak, Bentang 2000, hal. 468

19). Lihat Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik, Diva Press 2019 hal. 27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *