Didin, Sang Kolektor Terbesar Karya Ajip Rosidi

Sigit Susanto

Tidak banyak aku kenal teman yang fokus mengoleksi karya seorang pengarang dengan sabar dan setia. Setidaknya ada 4 teman yang memang mengumpulkan karya seorang pengarang menjadi passion.

Pertama, Pandu Ganesha almarhum. Ia seorang kolektor karya Karl May di Jakarta. Bahkan ia mendirikan Masyarakat Karl May Indonesia dengan kegiatan diskusi membahas karya-karya Karl May. Tak sampai di situ, bahkan berusaha mendorong menerbitkan karya-karya Karl May dalam bahasa Indonesia.

Kedua, Ubaidilah Muchtar. Ia seorang guru yang getol mengumpulkan karya-karya Multatuli dari berbagai bahasa. Ia mengkhatamkan Max Havelaar setebal 300-an halaman itu dalam waktu 10 bulan. Uniknya ia baca bersama anak-anak di dusun Ciseel, Lebak dalam format Reading Group. Tradisi membaca bersama anak-anak itu berlangsung bertahun-tahun, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Sunda khususnya pada bab Saidjah dan Adinda. Mungkin atas ketekunannya itu kini Ubaidilah Muchtar menjadi Kepala Museum Multatuli di kabupaten Serang.

Ketiga, Didin Tulus. Ia seorang penggemar karya bahasa Sunda khususnya karya dari Ajip Rosidi. Entah apa yang mendorongnya, sehingga ia gila sekali mencarinya. Berkali-kali ia pesan ke aku, jika aku menemukan karya Ajip dalam bahasa Jerman atau Inggris, ia berani bayar.

Keempat, Rama Prabu. Ia dikenal sebagai penyair di Bandung yang pernah study di Yogyakarta. Mungkin Yogyakarta telah menyihirnya hingga mencintai tokoh Taman Dewasa bernama Ki Hajar Dewantoro. Di kalangan dekat Rama Prabu, pasti tahu bahwa ia memang kolektor karya atau buku apapun dari Ki Hajar ini.

Jauh sebelum aku mengenal empat teman di atas, tahun 2006 aku bertandang ke Yayasan James Joyce di Zürich. Di sana aku bertemu orang Swiss bernama Fritz Senn. Ia presiden yayasan tersebut.
Saat itu aku ikuti tawarannya, bahwa sore itu sekitar 3 jam lagi ada kegiatan Reading Group novel Ulysses karya James Joyce. Aku ikut gabung walau belum pernah pegang novelnya. Ternyata di rak buku banyak novel Ulysses dan aku dipinjami sekaligus ditunjukkan, pada halaman berapa sore itu akan dibahas.

Baca novel Ulysses bisa bikin kecanduan, tapi kecanduan intelektual, kata Fritz Senn suatu kali.
Tak terasa pengajian novel, aku menamainya begitu, karena dibaca secara superlelet tiap Selasa sore, aku khatam dalam 3 tahun. Berlanjut ikut lagi baca dari depan lagi, hingga tahun 2019 lalu, genap 13 tahun aku sudah khatam 5 kali. Sebenarnya mulai Novemver 2019 sudah akan baca yang ke enam kali, sayang ada pandemi covid 19, nyaris Reading Group dihentikan.

Membaca biografi Fritz Senn sangat mencengangkan, ternyata karier awalnya ia sebagai seorang tukang memperbaiki air ledeng. Jika ada kran atau saluran air di keluarga rusak, ia lah ahlinya.
Kariernya itu tamat, lantaran ia punya hobi mengoleksi karya-karya James Joyce. Saking banyaknya koleksi itu pernah ada sebuah universitas di Amerika akan memborongnya. Untung ia punya banyak teman yang punya passion sama pada karya James Joyce, maka alih-alih koleksinya dijual, malah mendirikan yayasan sendiri dan koleksi bukunya dijadikan modal utama. Sampai kini koleksi karya Joyce yang dimiliki Yayasan James Joyce di Zürich merupakan yang terbesar di Eropa.

Ia tak hanya menjadi pemandu di dua Reading Group Ulysses pada hari Selasa dan Kamis, juga memandu Reading Group novel mahasulit yakni Finnegans Wake.

Aku sekali gabung di grup baca novel Finnegans Wake ini. Kesanku, ini kelas orang eksentrik, rata-rata pembacanya kakek nenek dengan pakaian yang old fashion dan ada beberapa membaca dengan kaca pembesar. Durasi 1,5 jam hanya membahas 8 baris. Tidak sampai 1 halaman. Masih untung aku ikut Ulysses, durasi 1,5 jam, bisa baca sampai 2-3 halaman.
Bagaimana tidak lelet, kalau tiap diksi dicari history textnya dan berkali-kali membuka buku anotasi, buku-buku sekunder literatur bahkan kamus dan bibel.

Perlahan aku terkena imbasnya, aku menyukai pengarang idolaku, yaitu Franz Kafka. Selama 13 tahun aku baca novel yang sama yaitu Ulysses, maka aku ingin mencari Reading Group karya Franz Kafka, ternyata tak ada.

Oleh sebab itu aku ingat wejangan guruku Fritz Senn yang sudah dianggap sebagai Joycean itu bahwa Translator ist he best reader. Dengan pengetahuan bahasa Jermanku yang pas-pasan, aku beranikan diri menerjemahkan karya Franz Kafka ke dalam bahasa Indonesia. Sampai kini ada 4 karya yang sudah aku terjemahkan; novel Proses, Metamorfosis, Surat untuk Ayah dan Percakapan dengan Kafka.

Perlahan koleksi karya Kafka semakin banyak aku kumpulkan. Tak hanya dalam bahasa Jerman maupun bahasa Inggris, ada bahasa Italia dan Swedia yang aku tak paham, tetapi aku koleksi. Begitulah kecintaan pada idola tak pandang bahasa.

Kembali ke Didin.
Ia mengaku tak hanya mengoleksi namun juga tentu membaca semua karya Ajip itu. Aku dorong Didin supaya mengikuti jejak Reading Group di Zürich, seperti Ubaidilah Muchtar lakukan di Ciseel dengan novel Max Havelaarnya.
Rupanya Didin masih belum punya energi dan waktu membuat Reading Group karya Ajip.

Sebetulnya sayang, sebab aku tabu betul The Power of Reading Group, pembaca akan lebih memahami secara detil, baik isi maupun teknik penulisan.
Karena Didin tidak membuat Reading Group, maka yang sering kudengar ya kisah-kisah saat dia minta tanda tangan Ajip.
Pertama kali ia minta tanda tangan Ajip, Didin hanya menyodorkan beberapa buku. Ajip masih menganggap biasa. Pertemuan selanjutnya, Ajip mulai menandai dan menganggap ia berhadapan dengan orang gila, karena Ajip dipaksa secara halus menandatangani banyak bukunya.

Kisah lain yang kudengar dari Didin, Ajip marah dan melempar tas berisi buku karya Ajip. Didin bingung, kenapa kali ini Ajip menunjukkan perangai beda? Didin baru sadari, ternyata Didin memasukkan buku-buku Ajip dalam tas cangklong bergambar Gus Dur. (Koreksi aku, kalau salah ya Din).

Sebagai pendengar cerita dari Didin, aku mulai menilai, berarti Ajip tidak suka Gus Dur.

Sebetulnya teman-teman menyayangkan, kalau Didin mengoleksi karya Ajip. Semua teman tahu bahwa Ajip ini anti kiri, teman akrabnya taufik Ismail. Teman-teman khawatir, jangan-jangan Didin ikut garis pemikiran Ajip?

Ternyata kekhawatiran itu tumbang, bukan Didin yang terpengaruh Ajip, kebalikannya, Ajip yang terpengaruh Didin. Buktinya, saat Didin memamerkan buku puisi orang-orang Lekra, Ajip tertarik membelinya.

Kabarnya Didin berhasil mengantar Ajip ke Ultimus, kalau tak salah, ia memborong buku-buku kiri.

Bonus Didin dari Ajip, sebelum Ajip meninggal sempat mengundang Didin mengunjungi perpustakaannya di Magelang.

Hitung-hitung Didin berurusan dengan polisi bukan pertama kali ini. Sebelumnya saat Ultimus mengadakan diskusi tema Marxisme, sekelompok ormas menggeruduk dan diskusi dibubarkan. Panitia dan pembicara dibawa polisi. Eh, Didin kala itu tahu ada agenda diskusi, namun boro-boro datang ke acara diskusi, ia isi perut dulu di warung nasi goreng di depan Ultimus. Celakanya, Didin ikut diangkut polisi, dianggap salah satu hadirin di acara itu.

Kapan Didin akan adakan Reading Group karya Ajip Rosidi? Tunggu kasusnya jeratan UU ITE selesai.
***

Zug, 29.09.2020

6 Replies to “Didin, Sang Kolektor Terbesar Karya Ajip Rosidi”

  1. TENTANG BUKU YANG DIBELI OLEH AJIP ROSIDI DARI DIDIN TULUS
    Oleh Dadan Sutisna

    Saya menulis ini, setelah membaca sebuah tulisan yang mengaitkan nama Ajip Rosidi dengan Didin Tulus. Saya perlu meluruskan pernyataan yang menurut saya keliru. Ini demi nama baik Kang Ajip, orang yang paling saya hormati sepanjang hidup.

    Awalnya, saya menerima tautan tulisan yang dimuat sastra-indonesia.com, berjudul “Didin, Sang Kolektor Terbesar Karya Ajip Rosidi”, ditulis oléh Sigit Susanto. Saya kutip beberapa paragraf:

    (Awal kutipan)
    “Sebetulnya teman-teman menyayangkan, kalau Didin mengoleksi karya Ajip. Semua teman tahu bahwa Ajip ini anti kiri, teman akrabnya taufik Ismail. Teman-teman khawatir, jangan-jangan Didin ikut garis pemikiran Ajip?

    Ternyata kekhawatiran itu tumbang, bukan Didin yang terpengaruh Ajip, kebalikannya, Ajip yang terpengaruh Didin. Buktinya, saat Didin memamerkan buku puisi orang-orang Lekra, Ajip tertarik membelinya.

    Kabarnya Didin berhasil mengantar Ajip ke Ultimus, kalau tak salah, ia memborong buku-buku kiri.”

    (Akhir kutipan, selengkapnya bisa dibaca via http://sastra-indonesia.com/2020/09/didin-sang-kolektor-terbesar-karya-ajip-rosidi)

    Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin sosok Ajip Rosidi bisa terpengaruh oleh Didin Tulus, hanya karena membeli beberapa buku? Itu pernyataan versi penulis artikel di atas yang secara sembrono menyimpulkan hasil perbincangan dengan Didin. Dan menurut saya ini sangat keliru.

    Kang Ajip bisa membeli buku apa pun tanpa memandang siapa penulisnya. Kang Ajip memesan buku-buku Lekra bukan hanya kepada Didin. Kang Ajip mengumpulkan buku-buku Lekra bukan lantaran terpengaruh. Kang Ajip bahkan menyimpan banyak manuskrip langka (yang belum diketahui masyarakat) dari penulis-penulis Lekra. Kang Ajip juga menjaga hubungan baik dengan penulis Lekra. Tapi setahu saya, beliau tidak pernah terpengaruh. Banyak buku Kang Ajip yang membahas ini, jadi saya tidak mengulasnya di sini. Tinggal baca saja.

    Saya tidak pernah berkoméntar tentang klaim bahwa Didin merupakan kolektor terbesar karya Ajip Rosidi yang selalu didengungkan selama ini—sekalipun saya belum pernah melihat daftarnya. Namun, dengan adanya pernyataan di atas, saya ingin memperjelas kembali bagaimana sesungguhnya hubungan Didin Tulus dengan Kang Ajip.

    Pada hari Rabu, 18 Désémber 2013, Kang Ajip mengunjungi paméran buku di Universitas Padjadjaran, Jl. Dipatikur. Seperti biasa, meski acara baru akan dimulai pukul 10.00, Kang Ajip sudah berada di lokasi pukul 09.00. Ia kemudian melihat-lihat stan paméran. Di stan Ultimus, Kang Ajip membeli beberapa buku, antara “Puisi dari Penjara” kumpulan sajak S. Anantaguna, “Aku Hadir di Hari Ini” kumpulan sajak Hr. Bandaharo, “Cerita untuk Nancy” kumpulan sajak Mawie Ananta Jonie, “Jelita Senandung Hidup” kumpulan sajak Nurdiana, “Perjalanan Hidupku” karya Yahya Malik Nasution, “Perjalanan Jauh” karya M. Ali Chanafiah, dan lain-lain.

    Waktu itu, Kang Ajip bertanya tentang penjaga stan Ultimus yang seperti mengenal Kang Ajip. Lalu Téh Elin yang ikut mengantar Kang Ajip bilang bahwa ia adalah Didin Tulus, koléktor buku Kang Ajip. Sebelumnya Kang Ajip pernah mendengar nama itu, konon ingin ditraktir oléh Kang Ajip. Waktu itu Didin bilang bahwa sebelumnya ia pernah ditraktir makan bersama yang lainnya, tapi Kang Ajip sudah lupa. Dan karena lupa, Kang Ajip kemudian mengajak Didin ke Pabelan untuk ditraktir di Saung Makan Bu Empat.

    Setahun kemudian, Didin baru bisa berkunjung ke Pabelan. Ia berangkat menumpang mobil Kang Ajip, dan tiba di Pabélan pada hari Sabtu, 22 Novémber 2014. Seperti janji Kang Ajip, Didin kemudian ditraktir di Saung Makan Bu Empat, dengan hidangan sop guramé dan udang bakar madu. Pada percakapan dengan Kang Ajip, Didin bilang bahwa ia punya koléksi 149 judul buku karya Ajip Rosidi, tapi waktu itu belum bisa memberikan daftarnya. Percakapan lainnya mungkin tidak saya tulis di sini. Didin pulang dari Pabélan hari Senin pukul 17.00, menggunakan bis Kramatjati dari terminal Muntilan.

    Pertemuan Didin dengan Kang Ajip lebih sering pada acara-acara tertentu, dan tidak mengobrol panjang. Didin juga pernah beberapa kali datang ke Jl. Garut. Misalnya, pada hari Kamis, 9 Januari 2014, Didin ikut meriung bersama Kang Ajip, Cecep Burdansyah, Dede Mariana (alm), Ériyanti Nurmala Déwi, Prof. Endang Saefullah. Waktu itu, Kang Ajip sedang mengadakan pertemuan bersama Deddy Mizwar. Didin ikut menyaksikan meski tak bersuara.

    Didin juga pernah menemui Kang Ajip pada hari Selasa, 8 Séptémber 2015 di Jl. Garut. Ia datang bersama istri dan anaknya untuk mengantar buku pesanan. Begitulah, pertemuan Didin dengan Kang Ajip sebatas urusan jual-beli buku, dan Kang Ajip melakukannya pada banyak orang. Namun, sepanjang perbincangan saya dengan Kang Ajip, ia tidak pernah menyinggung seputar keterpengaruhan pada buku-buku yang dibeli dari Didin.

    Kang Ajip membeli buku-buku Lekra karena seperti kita tahu, ia adalah pemilik koleksi buku terbanyak yang selalu mengumpulkan buku apa pun di sepanjang hidupnya. Baginya, karya adalah karya, membeli buku adalah kewajiban, tetapi pandangan tentang isi buku merupakan hal lainnya.

    Demikian klarifikasi saya setelah mendapat persetujuan dari salah satu keluarga Kang Ajip.

    Salam literasi.

  2. Didin Tulus sampai hari ini tidak bertanggung jawab dengan novel karya saya yang dijual sama dia. Yang laku ga dibayar, yang ga laku ga diretur-retur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *