Didin Tulus yang Tulus Mencintai Buku


Sigit Susanto

Ia ada di sampingku, di sebuah kamar lantai 2 rumah milik Cak Yusri Fajar di Malang. Itu terjadi 2 tahun silam usai bincang buku di kafe, Universitas Malang. Sejatinya aku mengenal Didin pertama tahun 2006 di acara diskusi Perpustakaan dan toko buku di emperan markas Ultimus di Bandung. Saat itu ia bertanya, bagaimana cara mendirikan perpustakaan, kalau hanya punya buku 20 buah? Aku jawab, mudah saja, bawalah buku-buku itu dengan sepeda ke alun-alun dan baca di sana, nanti kan ada orang lain ikut baca dan itu sudah bisa disebut perpustakaan. Rupanya pertemanan itu berlanjut secara alami, hanya satu kuncinya: BUKU. Tiap aku ke Bandung, pasti bertemu Didin, bahkan ia antar aku ke Palasari mencari buku bekas. Tahun 2008, ia naik buku menuju Bali, kok naik buku? Memang dia di sepanjang jalan ikut bazaar buku dan hasilnya untuk ongkos ke Bali. Ia pun pernah menerbitkan buku dari catatan bincang santai teman-teman Indonesia di Swiss, berjudul: Sepotong Indonesia di Negeri Alpen. Didin kini sedang dirundung duka, celotehannya di facebook berujung dipanggil polisi. Aku yakin, ia hanya mengkritik proyek yang mewajibkan anaknya membeli buku dari sekolah. Sebagai orang pencinta buku, penerbit buku, kolektor karya Ajip Rosidi terlengkap, pasti tidak tega dengan sistem itu. Semoga Goethe di pantheon sana mendukungmu, ia tulis Sastra dan Kebenaran (Dichtung und Wahrheit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *