Empat Puisi Annapurna

1883

1883,
tahun ketika Krakatau meruntuhkan kaldera
ruah amarah
Selat Sunda merah jingga

masih di Bumiku,
balai kolonial bersabda:

“bahwa ia satu dengan setiap yang lain”

orang putih berkumpul
propaganda menumpur wayang jawa
Priyayi pun girang dalam ceramah-ceramah

sementara laut itu pasang
manusia jadi sampah
karam dan terombang-ambing dididera ombak

Di Madras bersulang-sulang
melihat negriku bersukat nasionalis
yang sibuk merapal mantra
lalu nyenyak di loji-loji

di atas dipan tua kayu bengkirai
iblis dan klan nusantara serumpun
menelan bait-bait kitab suci,
seperti Khomenei
menenggak tuba dan madu dalam satu cawan
hingga habis

Baruga, 30 Agustus 2020

Kau, aku, dan sebuah pertemuan

Di kafe tua
aku memesan Balada Ikarus Prusia dan minuman klasik
suara biduanita di meja hidangan
dan hawa dingin yang menusuk-nusuk ke dalam cangkir kopi

di seberang
kitab sufi dan gawai di mejamu mengacau kesadaran
binar senyum malu-malu
dan kita saling melempar tanya
sambil memunguti sisa-sisa senja

tanpa sebuah perkenalan
ada rindu yang menunggu di pintu
seperti aku sedang memasuki dimensi mistis
dan mencari kesucian jiwa
dari cawan anggurmu

dering gawai beradu nada tegukan
sepi terpecah
menyimpan tanda tanya besar
bagai perang dingin di sudut-sudut kota Berlin
yang menyusun misteri

kita akhiri malam cukup sepandangan
sebelum pagi tiba
ketika waktu masih menyimpan sunyi
sudut kafe pada seperdua malam
Kau, aku, dan pertemuan singkat ini

28 Agustus 2020

Malam Itu

Makan malam di tanah air
dua kopi di mejaku
termangu

makanan belum datang
di depanku dongeng-dongeng berceceran di lantai

Kita menikmati kopi
sambil mengunyah sejarah negeri

“Hari ini tiga Teroris ditembak mati”

kulacino menghina kita
yang percaya pada koran-koran pagi

Pelayan kafe yang belia memecah obrolan
dua potong daging asap di nampan

“Silahkan dimakan”

Hei… berapa usiamu, Nak?
umurku sudah lenyap di jalan-jalan
ketika Ayah Ibuku mengutuk pancasila dan burung garuda

7 Agustus 2020

Elegi Kemarau

Kemarau yang tak berhenti membujuk diamnya hujan-hujan
pada periode petang tanah kering
kecoklatan
mengukir jejak-jejak tandus

yang kudengar adalah percakapan senja
sore ini dan aroma keringatmu
luruh jadi gerimis
menghapus jejak angin ranggas

di sini semestaku, semestamu, semesta kita
menunggu doa berjatuhan
pada lengan hutan-hutan
yang bermimpi dan menemukanku terlantar dedar

kulihat kamu begitu bergairah
fantasi dan filosofi liar
yang menunggu awan hujan
lamat-lamat menjadi kekal

udara menghablur
pada batas ruang langit dan bumi
walau gerimis kecil sesekali
tanpa hujan deras, dan kita
sedang menanti ajal pada batu-batu

31 Agustus 2020

Annapurna, perempuan kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara. Lulusan Akademi Pelayaran yang hobi ngemil, ngopi, dan baca buku. Seorang ibu dengan dua anak yang membayangkan suatu saat memiliki perpustakaan pribadi, dan menjadi penyair.

Leave a Reply

Bahasa »