Lelaki Ikan: Antara Idealisme dan Konsumerisme

T Agus Khaidir

“Saat satu karya tulis (termasuk di luar sastra) diputuskan untuk dikumpulkan dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, maka seketika itu karya tersebut sudah memiliki kelamin. Begitulah, sebagaimana mahluk yang hidup, tiap bentuk tulisan pun sebenarnya memiliki kelamin. Ada dua kelamin. Yang pertama bernama idealisme, sedangkan kelamin kedua bernama popularitas (popular culture) -yang sangat erat kaitannya dengan konsumerisme.”

DALAM hal sastra, tidak sedikit penulis yang (pada awalnya) dengan gagah mengatakan bahwa kelamin mereka adalah kelamin pertama. Mereka akan tetap bertahan pada idealisme. Sikap ini kemudian lebih sering bergeser ke arah kompromistis. Tentu saja, sebab setiap karya pastilah membutuhkan publikasi. Ia jelas tak efektif apabila hanya beredar di kalangan terbatas.

Sardono W Kusumo, penari yang kini menjadi rektor IKJ, dalam perjalanan ke Kalimantan pada awal tahun 1980-an, tepatnya ketika ia berada di tengah hutan Apo Kayan yang perawan, melihat begitu banyak bunga anggrek. Sardono berkata,” apa gunanya semua keindahan ini jika tidak ada yang menikmatinya.”

Demikian pula dengan karya sastra. Sehebat, seindah dan bahkan seagung apapun karya itu, hanya akan menjadi sebuah upaya yang sia-sia belaka apabila tidak ada yang membacanya. Yang menjadi permasalahan, idealisme para penulis memang lebih sering berseberangan dengan laku konsumerisme, dengan keinginan publik.

Hudan Hidayat, dalam khasanah sastra Indonesia , boleh dikata berada dalam posisi yang agak istimewa. Mengapa dikatakan demikian? Jika tolak ukurnya adalah publikasi, maka Hudan tidak termasuk dalam jajaran penulis garda terdepan. Cukup jarang kita mendapati karya-karyanya termuat di koran-koran nasional maupun daerah. Namun apabila kualitas yang bicara, maka tempat Hudan justru tidak dapat ditempatkan pada kelas rata-rata.

Sejumlah penulis garda terdepan, sebutlah misalnya Kurnia Effendi atau Triyanto Triwikromo, mengakui kualitas karya Hudan berada jauh di atas karya mereka. “Satu hal yang saya kagumi dari Hudan Hidayat adalah ketak-konvensional-an dan idealismenya. Ia konsisten kedua hal itu dalam tulisan-tulisannya,” kata Kurnia.

Seperti Joni Ariadinata, Hudan kelihatannya memang cenderung menahan diri untuk tak terlalu mengekspos karya-karyanya di media massa . Ia lebih banyak berfokus pada pengelolaan jurnal-jurnal sastra. Selama ini, memang dalam jusrnal-jurnal semacam itulah karya idealis dapat diterbitkan secara utuh tanpa mengalami “penyesuaian” dengan selera pasar. Dalam hal penerbitan, buku-buku Hudan pun sebagian besar beredar secara underground.

Karena itu pula cukup banyak yang merasa takjub tatkala mengetahui sekumpulan cerita pendeknya dibukukan oleh penerbit Kompas. Penerbitan yang di negeri terkasih ini sudah terlanjur ditabalkan sebagai penerbitan yang (meminjam istilah di dunia musik) “Major Label”. Dan apa boleh buat, ketakjuban itu makin bertambah besar karena ternyata kumpulan tersebut juga memuat cerpen-cerpen Hudan dari “Keluarga Gila” dan “Orang Sakit“, kumpulan-kumpulan cerpen Hudan terdahulu yang sempat membawa kehebohan dan perdebatan berkepanjangan, bahkan hingga sekarang.

Sampai di sini mencuat pertanyaan, apakah dengan penerbitan ini penerbit Kompas sudah siap untuk menerima sengitan kening dari pembaca yang menjadi pasar potensialnya? Cerpen-cerpen Hudan Hidayat, termasuk karya mutakhirnya yang terkumpul dalam “Lelaki Ikan“, hampir semuanya bukan termasuk karya yang mudah untuk dicerna. Selain dari sisi tematis dan pilihan metafor-metafornya yang memang aneh-aneh, metode penulisannya juga tidak biasa.

Mariana Aminuddin, penulis dan aktivis perempuan yang menuliskan semacam pengantar di buku ini, mengibaratkan gaya bertutur Hudan sebagai gaya nge-rap. Cepat, lugas dan menghadirkan permainan bunyi. Pilihan kata-katanya juga lugas, tidak berbunga-bunga, lebih sering panas menyengat atau nyerempet-nyerempet erotisme.

Khusus menyangkut erotisme ini, bagi mereka yang pertama kali membaca tulisan-tulisan Hudan mungkin akan merasa sangat terperanjat. Betapa tidak, Hudan bisa dengan ringan menuliskan kalimat, atau sekedar kata, yang dalam pemahaman masyarakat secara umum dinilai amat tabu.

Seperti yang ditemukan dalam “Calsberg Kecil“. Hudan tanpa canggung menuturkan, “aku menggigit … mu sampai putus. Tentu kamu akan lucu sekali tanpa … lagi” (Halaman 125. Khusus … dari adalah dari saya. Hudan Hidayat sendiri di sini menempatkan sebuah pilihan kata yang mewakili alat kelamin laki-laki -dan pilihan itu bukan ‘penis’).

Kemudian dalam “Urat Kecil“. Terdapat kalimat dimana teman sang tokoh berdoa dan doanya berbunyi seperti ini: “Ya, Allah, jangan jadikan aku orang yang … kanan … kiri.” (Halaman 116. Kembali … dari saya. Oleh Hudan, pilihan kata untuk melengkapi kalimat ini adalah kata yang mewakili adegan persetubuhan -dan pilihannya memang bukan ‘senggama’).

Hudan Hidayat, bicara soal seks dengan bebas. Ia seakan mengkarnavalkan seks itu, merayakannya dengan terbuka seperti hal itu memang bukan sebuah ritual yang suci dan memiliki rambu-rambu. Namun dalam kemeriahan dan kebebasannya, seks dalam cerpen-cerpen Hudan adalah seks yang muram dan hampir selalu dilatarbelakangi persoalan-persoalan psikologis yang pelik lagi rumit. Hudan memang menguliti perihal seks. Tapi dalam hal ini ia memang tak sekedar menawarkan erotisme, tapi lebih jauh mengajak pembaca untuk menelisik dan mengeksplorasi kekayaan maknanya.

Hudan menolak seks dikurung sebagai praktika individu dibalik selimut. Seks yang menjadi luhur, sakral, konservatif tapi memberi keabsahan pada kemunafikan dan manipulasi. Dalam “Burung Termangu” (halaman 156-161), misalnya. Penerjemahan pemikiran Hudan, seks dapat menjadi tergugat ketika ia berada dalam posisi sebagai penjajah. Seks yang berlangsung tanpa sambutan adalah perkosaan.

Kejutan berikut yang barangkali akan menghantam pembaca yang asing dengan Hudan kelugasannya menghadirkan ajaran-ajaran Ketuhanan. Bukan ajaran Ketuhahan yang “ordinary” tentunya, melainkan yang sudah menjurus pada sufistik, kaji tingkat tinggi. Dalam “Ayat Gelap” kita bisa menemukan kalimat seperti ini: “Dari mana Tuhan itu berasal? Siapa yang menciptakan-Nya? Menurut orangtua dan kakekku, tuhan tidak berasal dari mana-mana. Ada dengan sendirinya. Tidak berbentuk dan tidak berupa. Sudah lama aku mendengar kata-kata ini. Tapi aku tak bertanya apa maknanya. Sampai suatu sore ketika aku berusia 12 tahun, seakan saja pertanyaan itu melompat dari bawah sadarku. … Aku tidak mengerti dan tidak menerima. Bagaimana mungkin. Aku yang dididik dengan pancaindra, tiba-tiba harus memahami Tuhan tidak berasal dari mana-mana?”

Atau kalimat dalam “Nampan Mati“: “Tuhanlah pencipta sandiwara. Tetapi dengan cepat Budiman memotong, kalau Tuhan pencipta sandiwara berarti Dia ikut merencanakan kejahatan. Kalau begitu halnya, demikian pendapat Budiman, lalu siapa penghuni neraka?”

Adakah kejutan-kejutan yang lainnya? Bicara kejutan, buku ini memang penuh kejutan (yang benar-benar mengejutkan). Tidak ada satu pun kisah yang bisa dengan cepat ditebak mau ke mana arahnya. Bahkan sejumlah kisah masih sulit untuk dipahami meski sudah dibaca berulangkali. Matafor-metafor yang aneh, seperti lelaki yang menginginkan dirinya menjadi ikan lantas benar-benar menjadi ikan (“Lelaki ikan“, halaman 5-19), percakapan dengan sebuah kafe (“Kafe dan Salju“, halaman 77-84), pertemanan semu dengan seekor patung singa (“Singa yang Anggun“, halaman 72-76), atau kisah tragis yang bermula dari persoalan halal-tidaknya ayam potong dan berakhir dengan matinya seorang warga negara biasa sebagai tahanan politik (“Nampan Mati“), memang menempatkan cerpen-cerpen Hudan Hidayat sebagai misteri yang menggoda untuk dipecahkan.

Dimuat Harian Analisa, Januari 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *