LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (77-83)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (77)

Ketika cerita tentang ‘Lenga Tala’ memasuki adegan penangkapan Gandamana, awak dihubungi Lik Mukidi via telepon. “Halo, di sini Mukidi, di situ siapa?”
“Ah, Lik Mukidi. Biasa saja, Lik. Pakai nanya begitu segala. Ada apa sih, Lik.”
“Jawab aku dulu, situ siapa?”
Awak sebutkan saja nama awak.
“Nah, begitu dong. Teman aku bilang, katanya sekarang lagi musim pembajakan akun dan nomor telepon. Aku kuatir namaku dipakai orang jahat. Aku kuatir juga nama kau dicatut orang tak beres.”
“Tak usah kuatir. Lik Mukidi bukan orang jahat. Lagian apa yang bisa menguntungkan orang lain dari nama Mukidi. Tenang saja, Lik.” Awak berusaha meyakinkan Lik Mukidi.
“Apa kau bilang? Kapan kau tak melecehkan aku. Sombong kali kau. Kaubilang aku tak berguna buat orang lain. Memangnya kau berguna?”
Waduuhh. Celaka. Gimana caranya meredakan kemarahan Lik Mukidi. Aku tak bermaksud begitu. “An..e…ee…an…ee e e…an..”
“Apaan an an. Kau mau bilang anjay, kan? Aku laporkan ke polisi kau. Dipidana baru tahu rasa. Bicara sama orang tua sembarangan. Mau kau kubilang anjay?”

Salah lagi. Kenapa awak jadi susah bicara sama Lik Mukidi akhir-akhir ini. Tak biasanya awak mengucapkan e e e kalau sedang berbicara. Dalam ilmu bahasa, ucapan e e e atau kata ‘daripada’ yang sering diucapkan Pak Harto ketika berpidato tanpa teks disebut bentuk tegun. Kata e e e itu muncul untuk mengisi jeda sebelum pembicara menemukan diksi yang tepat untuk menyampaikan gagasan yang ada di benaknya. Konon secara linguistis begitu. Benar tidaknya awak tak tahu. Kapan-kapan akan awak tanyakan kepada Pak Untung Yuwono atau Pak Totok Suhardiyanto, teman kerja awak yang pakar bahasa itu.

Bicara tentang bentuk tegun, awak hampir tak pernah menggunakan bentuk tegun macam itu dalam komunikasi sehari-hari. Ah, gara-gara itu awak malah dikira Lik Mukidi mau bilang anjay, padahal awak ingin bilang ‘andaikata’.
“Maaf, Lik. Sebetulnya saya mau bilang ‘andaikata’, bukan anjay, Lik. Tapi entahlah, tiba-tiba kosong.”
“Andaikata apa?”
“Andaikata saya diizinkan menjelaskan, saya mau bilang bahwa Lik Mukidi itu bermanfaat buat orang lain. Mana mungkin orang yang bermanfaat bagi orang lain dimanfaatkan orang lain untuk kejahatan. Itu yang ingin saya katakan.”
“Justru itu yang sering terjadi. Logika kau tak jalan.”
“Maksud saya, …”
“Sudah, sudah. Tak usah dijelaskan lagi. Makin kau jelaskan makin tambah tak jelas. Baca buku yang banyak dulu. Nanti kalau sudah baca, baru diskusi sama aku tentang logika. Sekarang kita bicara yang lain saja, yang ringan-ringan.”
Awak tak mau debat kusir dan riibut dengan Lik Mukidi. Awak ikuti saja kemauannya.
“Misalnya, Lik.”
“Misalnya tentang ‘Lenga Tala’, cerita kau yang tak bermutu itu.”
Jleb. Kena lagi awak. “Apa yang akan didiskusikan, Lik?”
“Apa ya. Memang susah membicarakan sesuatu yang tak bermanfaat itu.”
Kembali lagi ke situ. “Kalau begitu, tak usah kita berdiskusi, Lik. Kita kerjakan sesuatu yang bermanfaat saja. Sudah ya Lik
Saya mau…”
“E, jangan cepat ngambek dong,” ujar Lik Mukidi. “Sejujurnya aku ingin tanya, cerita ‘Lenga Tala’-mu itu sampai di mana?”
“Baca saja di fb,” jawab awak rada ketus.
“Rasanya aku kok tidak sedang bicara dengan keponakanku ya.”
“Saya harus bilang apa dan bagaimana, Lik.”
“Katakan saja sudah sampai di adegan atau bagian mana. Bisalah kau bilang untuk aku.”
Kesannya kurang ajar kalau awak masih berketus ria. Awak harus membangun atmosfer percakapan yang komunikatif dan santai.
“Adegan perburuan Gandamana, Lik.”
“Oh, seru itu. Tapi aku kasih masukan ya. Nanti gaya penceritaannya jangan seperti gaya penceritaan penulis cerita silat. Tak usah meniru atau menyaingi SH Mintarja. Pelukisan cerita macam itu cukup sekali saja pada saat kau menceritakan pertarungan Gandamana dengan Kumbayana. Aku tahu kau akan menerapkan estetika seni pedalangan wayang kulit Jawa yang harus ada nges, sem, dan gregetnya seperti yang dikemukakan Sapardi Djoko Damono dalam disertasinya itu kan.”
Agar tak berkepanjangan, awak benarkan saja semua pernyataan Lik Mukidi.
“Tak salah lagi, Lik. Untung Lik Mukidi mengingatkan. Terima kasih, Lik.”
“Itu saja yang ingin aku katakan. Sudah ya. Lanjutkan kisahnya. Asalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Lik Mukidi mengakhiri pembicaraannya. Alhamdulilah. Awak bisa melanjutkan kisah ‘Lenga Tala’ lagi. Bismilah. Niat ingsun meneruskan cerita. Semoga lancar dan selamat. Loncar lancar loncar lancar. Lancar! Sluman slumun slamet. Slamet! Slamet saking kersaning Gusti Allah.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (78)

Ketika bala Kurawa menyerbu Pancalaradya, Gandamana baru saja sampai di rumahnya. Ia sebelumnya dipanggil Raja Drupada, kakak iparnya, untuk membahas situasi keamanan di Pancalaradya. Sudah disepakati bahwa dalam waktu dekat akan diadakan pelatihan bagi para prajurit Pancalaradya. Materi pokoknya adalah teknik beladiri dan strategi tempur. Pelatihnya tak lain adalah Gandamana sendiri. Ia tak jadi bersantai. Rencananya untuk bersantai di taman sambil mendengarkan kicau burung dranjang piaraannya gagal menyusul datangnya seorang prajurit yang melaporkan bahwa bala Kurawa menyerbu Pancalaradya. Tujuannya cuma satu: ingin menangkap Gandamana dalam keadaan hidup (terikat tangannya) untuk dibawa ke Hastina.
“Gawat, Raden. Mereka membawa senjata lengkap,” ujar prajurit yang datang melapor.
“Jangan ikut-ikut. Biarlah aku saja yang menghadapi mereka,” tegas Gandamana. Ia bergegas menuju gerbang kota.

Bala Kurawa yang kelihatannya dipengaruhi minuman keras mulai membuat onar di kota. Mereka merusak rumah-rumah penduduk sambil berteriak-teriak. “Bawa Gandamana kemari. Ia akan kami bawa ke Hastina. Seseorang telah menunggu di sana.” Kartamarma meneriaki penduduk agar tidak melawan kalau ingin selamat. Ketika Gandamana akhirnya muncul di hadapan mereka, semua mengacungkan golok dan siap menyerang.
“Paman Gandamana tak usah melawan. Serahkan kedua tangan Paman biar kami mengikatnya,” kata Dursasana.
“Seseorang yang menjanjikan lenga tala untuk kami telah menunggu kedatangan Paman,” ujar Kartamarma.
“Seseorang itu siapa. Apa perlunya dia mengurusi hidupku.”
“Maaf, tak ada waktu bagi kami untuk menjawab pertanyaan itu. Sekarang menyerah saja. Berikan kedua tangan Paman agar kami segera menyerahkan paman kepadanya.”
Gandamana menjawab enteng saja, “Silakan kalau kalian mampu merangketku.” Gandamana siap merubuhkan siapa pun yang mendekat kepadanya.

Tak butuh waktu lama bagi Gandamana untuk menaklukkan bala Kurawa. Satu demi satu yang maju rubuh terkena pukulan dan tendangan Gandamana.
“Tak dapat lenga tala tak apa-apa. Daripada badan remuk semua lebih baik aku menyingkir,” ujar Dursasana.
“Gandamana dilawan,” Durmagati menimpali.
“Wong edan!” teriak Kartamarma. “Tangan kananku patah.”
“Pee pperse se setan dengan llellenga tala,” Citraksi mengumpat entah kepada siapa.
“Gandamana bukan lawan kita. Betis kananku bengkak dan memar. Ayo kita kembali saja,” ajak Jaka Pitana kepada adik-adiknya. Baru saja mau melangkah, Sengkuni datang.
“Hatiku tak enak. Yang lain bertempur, aku malah ngobrol dengan Durna. Bagaimana? Sukseskah?”
“Paman lihat sendiri bagaimana kondisi tubuh kami,” kata Jaka Pitana.
“Wela kojur. Kenapa kuping Durmagati perung? Kartamarma kok nungging. Sudah kuduga, kalian tak akan mampu melawan Gandamana. Pamanmu yang kuat dan saktinya seribu kali lipat kalian saja tak sanggup, apalagi kalian. Ha ha ha.”
“Apanya yang lucu, Paman? Kami semua sakit, kenapa Paman malah tertawa-tawa. Kalau sudah tahu Gandamana itu kuat dan tak terkalahkan, kenapa Paman mendorong-dorong kami untuk menangkap Gandamana? Kenapa tak melarang dari awal? Kalau sudah begini,” sambil mengelus-elus lututnya, “siapa yang
bertanggung jawab? Orang tua bisanya menjerumuskan,” ujar Dursasana.
“Sabar. Kalau kalian tak kukompori, kapan kalian punya pengalaman tempur? Kata orang bijak, ‘Pengalaman adalah guru terbaik’. Karena selama ini kalian belum punya guru, aku carikan guru lewat pengalaman. Aku sudah tahu bahwa kalian bakal kalah. Tapi lewat kekalahan itu kalian mendapat pelajaran berharga. Bahwa ada yang kupingnya perung, kakinya kecetit, tangannya patah, dengkulnya pindah, itu persoalan kecil. Tinggal cari tukang urut. Di sekitar kampung katanya ada tukang pijat, namanya Mukidi. Bisa kita panggil dia. Sekarang jangan kelamaan. Kita lapor saja ke Durna bahwa kita tak sanggup menangkap Gandamana.”

Sengkuni diikuti bala Kurawa meninggalkan lokasi. Di sebuah tikungan mereka berpapasan dengan Pandawa. “Kalian mau ke mana” tanya Sengkuni.
Puntadewa menjawab, “Hendak menangkap Gandamana.”
“Kalau boleh kubilangi, tak usah diteruskan. Kalian lihat sendiri mereka tak ada yang utuh badannya. Lihat, Kartamarma malah ditandu. Kalian tak akan menang. Bisa-bisa kalian pulang tinggal nama. Kami yang jauh lebih kuat, berpengalaman, dan sakti daripada kalian saja tak sanggup menangkap Gandamana, apalagi kalian?” cegah Sengkuni.
“Waaaaa, Sengkuni jangan bikin kendur semangatku. Aku beda dengan kalian yang terbiasa dimanjakan,” ujar Bima.
“Coba saja. Dikasih tahu orang tua, tak percahya,” tukas Sengkuni kesal.
“Kalau kita tak bisa menangkap Gandamana, lalu bagaimana dengan lenga tala yang dibawa Durna?” tanya Pamadi.
“Kita nego saja. Di gubuk aku sudah ngobrol panjang lebar dengan dia. Kami pada dasarnya cocok. Punya pengalaman dan mimpi yang sama. Karena itu, peluang aku dan Kurawa untuk mendapatkan lenga tala besar sekali. Peluang itu sudah ada di depan mata,” tegas Sengkuni.
“Waaaa. Aku tak mau nego-negoan. Syarat sudah ditetapkan. Harus dilaksanakan. Tak boleh mencla-mencle,” ujar Bima.
“Dibilangi ngeyel. ya sudah,” balas Sengkuni.
“Waaaa, Pambarep, Pamadi, dan Kembar, ayo kita cari Paman
Gandamana. Kita rangket dia.”
Bima berangkat diikuti yang lain.
“Selamat menjemput kematian,” kata Jaka Pitana.
“Selamat menikmati neraka,” Durmagati ikut-ikutan mengejek.
“Sudah. Sudah. Ayo kita menghadap Durna,” ajak sengkuni kepada bala Kurawa.
Mereka kembali, sementara Pandawa mencari Gandamana.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (79)

Gandamana tak bernapsu mengejar bala Kurawa. Ia biarkan mereka berlari meninggalkan kota. Masyarakat masih berkerumun. Mereka membicarakan tingkah polah prajurit Kurawa yang senantiasa meresahkan masyarakat. Mereka bersyukur atas kesigapan prajurit Pancalaradya mengusir bala Kurawa. Gandamana melambaikan tangan sebagai tanda hormat dan kasih sayang raja kepada masyarakat yang berdiri di sepanjang jalan. Sebuah kereta kerajaan yang dikusiri sais istana menjemput Gandamana. Ia bermaksud mengantarkan Gandamana pulang. Namun, belum sempat Gandamana naik ke kereta, Pandawa yang dipimpin Puntadewa menghampirinya. Gandamana memberi kode agar kusir menunggu sejenak.
“Kami yang datang, Paman,” ujar Puntadewa.
“Semoga kalian baik-baik saja,” Gandamana menanggapi. “Tumben kalian datang. Ada apa?”
Pandawa tak ada yang langsung menjawab. Mereka hanya saling melempar pandang. Tak ada yang berinisiatif untuk menjawab pertanyaan Gandamana.
“Kenapa pada diam?” tanya Gandamana.
“Kulup Puntadewa, katakan apa yang terjadi. Kalau kalian kesusahan, barangkali aku bisa membantu.”
Puntadewa tak juga lekas bicara. Ia malah terisak. “Waaaaa, Paman Gandamana. Kami sedang bersedih hati. Tolonglah kami,” ujar Bima.

Diutarakanlah panjang lebar apa yang menjadi kesusahan Pandawa. Sejak mereka dipanggil Destarata hingga dilemparkannya lenga tala oleh Destarata diceritakan Bima. Juga munculnya laki-laki misterius yang mengaku diri pengembara kleyang kabur kanginan.
“‘O, jadi kalian diminta menangkapku dan menyerahkannya kepada laki-laki misterius itu. Itu mudah. Tak usah pada menangis. Sekarang juga ikatlah tanganku dan hadapkan aku kepadanya,” kata Gandamana.
“Tapi Paman. Bagaimana kami bisa melakukan itu,” kata Pamadi.
“Kalian harus bisa.”
“Tapi…”
“Tak apa-apa, Puntadewa. Lakukan saja. Anggap saja ini adalah penebusan dosa atas kekhilafanku di masa lalu yang tak menghormati wibawa dan kuasa raja. Waktu itu tanpa izin Kakangmas Pandu lebih dulu, aku menggelandang keluar Sengkuni yang telah memfitnahku. Hatiku terbakar ketika aku dituduh berkhianat. Sama sekali tak terbetik niat sedikit pun di hatiku untuk menggulingkan kedudukan Kakangmas Pandu sebagai raja. Sengkuni tega memfitnahku hanya untuk mendapatkan jabatan patih.”
Gandamana terdiam lama. Ia berusaha menahan emosinya. “Ah, sudahlah. Tak usah kukorek lagi luka lama. Biarlah yang terjadi pada waktu itu menjadi bagian dari sejarah hidupku. Tak usah kulanjutkan ceritanya. Kakangmas Destarata pasti sudah membeberkan semuanya kepada kalian.”
“Waaaaa. Benar, Paman. Semua yang diceritakan Paman Gandamana sudah aku dengar dari Wa Adipati Destarata. Sekarang apa yang bisa kami lakukan. Aku bingung, Paman.”
“Tidak usah bingung. Sekarang ikat tanganku dan bawa aku ke orang itu,” perintah Gandamana.
Setelah diserang keraguan atas apa yang akan dilakukannya dan digempur bujukan Gandamana agar Pandawa mengikat tangannya, Bima akhirnya mengambil tambang dan merangket kedua tangan Gandamana.
“Maafkan kami, Paman,” ujar Puntadewa.
“Tak perlu minta maaf. Apa yang kalian lakukan sudah benar. Tak usah cemas. Aku akan baik-baik saja. Percayalah,” kata Gandamana.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (80)

Atas perintah Gandamana, kusir istana membawa pergi Gandamana dan Pandawa. Peristiwa itu disaksikan masyarakat yang baru saja bersyukur dan berterima kasih atas keberhasilan Gandamana mengusir Kurawa. Kepergian Gandamana tak pelak membuat kehebohan masyarakat Pancalaradya. Dari mulut ke mulut tersebarlah kabar bahwa Gandamana diculik Pandawa. “Gandamana diculik Pandawa. Gandamana diculik Pandawa.” Demikian kabar yang tersiar luas di masyarakat.

Pancalaradya geger. Tak pelak, kabar itu sampai juga di istana. Prabu Drupada pun mengadakan pertemuan mendadak. Semua petinggi istana dipanggil. Setelah mendengarkan laporan dan testimoni dari berbagai pihak dan kalangan, disimpulkan bahwa Gandamana berada dalam bahaya. Karena itu, harus diadakan aksi penyelamatan. Prabu Drupada memimpin langsung aksi tersebut. Diikuti wadyabala Pancalaradya, Prabu Drupada bertolak ke Hastina.

Sementara Prabu Drupada memimpin pasukannya menuju Hastina, Gandamana dan Pandawa yang melaju dengan kereta hampir sampai di alun-alun Hastina. Sepanjang perjalanan Gandamana meyakinkan Pandawa bahwa dirinya akan baik-baik saja. Banyak petuah disampaikan Gandamana kepada Pandawa. Inti nasihatnya adalah agar Pandawa sabar dan tabah dalam menerima cobaan hidup. Ke depan, Pandawa masih akan menghadapi banyak permasalahan terutama terkait dengan tabiat dan ulah Sengkuni serta Kurawa. Untuk itu, Pandawa harus waspada dan lebih berhati-hati. Tipu daya dan lidah Sengkuni sangat berbahaya. Ia tak akan pernah berhenti untuk mencelakakan Pandawa. Dengan berbagai cara, ia akan menyingkirkan Pandawa dari Hastina. Mulut dan lidahnya akan senantiasa menebarkan kebencian demi enyahnya Pandawa dari bumi Hastina. Ia tak segan-segan untuk memutarbalikkan fakta demi mencapai tujuan yang diinginkan. Menghadapi Sengkuni dan Kurawa tak cukup hanya bermodalkan kekuatan fisik, tapi juga kekuatan pikiran. Takhta dan kuasa di Hastina harus jatuh ke tangan Pandawa. Puntadewa dan adik-adiknya menyimak nasihat Gandamana. Bagaimana pengabdian Gandamana sampai terusirnya dia dari Hastina diceritakan seutuhnya oleh Gandamana. “Sengkunilah biang keladi kebusukan dan kekisruhan di Hastina. Hubungan Hastina dengan Pringgadani retak dan kian parah karena ulah Sengkuni. Ia tak memedulikan keselamatan kerajaan. Satu saja yang ada di benaknya pada waktu itu: bagaimana ia bisa menjadi patih. Dengan jabatan itu, ia akan berusaha sekuat tenaga, dengan menghalalkan cara apa pun, agar Hastina jatuh ke tangan Kurawa,” ujar Gandamana.

Tanpa terasa Gandamana dan Pandawa telah tiba di alun-alun Hastina. Di sana sudah ada Sengkuni dan Kurawa. Di tengah-tengah mereka ada Durna yang menjadi pusat perhatian semua orang. Sengkuni dan Jaka Pitana mewakili Kurawa melaporkan apa yang mereka alami.
“Intinya kami tak sanggup memenuhi permintaan sampeyan. Gandamana terlalu kuat untuk kami tundukkan. Lihat sendiri keadaan prajurit Kurawa. Kaki Kartamarma masih bengkak, betis Jaka Pitana memar, kuping Durmagati perung. Saking parahnya, lalat-lalat mengerubungi boroknya. Mungkin anak itu juga kopokan (congekan) sehingga bau. Sekarang terserah bagaimana sampeyan.” Begitu rangkuman dan kesimpulan Sengkuni yang didasarkan atas pengalaman di lapangan, serta pengakuan dan pengalaman para Kurawa.
“Apakah sampeyan sudah mencoba kekuatan Gandamana?” Tanya Durna kepada Sengkuni.
“Sejujurnya, sejak peristiwa itu aku tak berani lagi mendekati Gandamana. Aku masih trauma. Dengan imbalan dan iming-iming apa pun, aku emoh menghadapi manusia jelek macam Gandamana itu.”
“O, singkat kata, sampeyan sudah kapok.”
“Begitulah. Sekarang apik-apikan aten saja. Lenga tala sampeyan serahkan saja ke Kurawa. Untuk apa juga pusaka itu sampeyan pegang. Ingin minta ganti apa sampeyan kami penuhi asal bukan minta tubuh Gandanana. Tubuh yang lain boleh. Sampeyan mau yang putih memplak dan seksi, tersedia. Mau yang lemu ginuk-ginuk, ada. Mau yang semampai, disiapkan. Mau yang setengah tua tapi masih agresif, juga ada. Mau yang kemayu dan manja, disediakan. Pokoknya mau yang bagaimana saja, kami usahakan dan sediakan.” Sengkuni terus saja membujuk Durna.
“Tidak bisa. Tak semudah dan semurah itu aku. Akan kalian sogok apa pun, aku tak mau. Ini prinsip. Ini harga mati. Aku tak mau menjilat ludah sendiri. Kalau Kurawa tak bisa, masih ada Pandawa. Aku belum mendapat laporan dari Pandawa. Lihat, siapa yang datang. Lihat siapa yang tangannya terikat itu. Ayo, semua mata kalian dibuka lebar-lebar. Lihat mereka. Oh Dewa, akhirnya aku bisa menuntaskan dendamku. Gandamana jangan sambat, hari ini kamu akan mati di tangan Kumbayana. Hari ini hari pembalasanku. Kamu akan kukirim ke neraka,” ujar Durna.

Tinggal beberapa langkah lagi, Gandamana yang terikat tangannya dan Pandawa akan sampai di hadapan Durna. Sengkuni setengah melongo. Mereka terpana. Mereka hampir tak percaya, tapi juga tak habis pikir kenapa Pandawa bisa merangket Gandamana. “Pasti ada yang salah ini,” begitu gumam Jaka Pitana. “Pandawa dengan lenga tala yang akan diperolehnya benar-benar menjadi ancaman nyata bagi Kurawa,” ujar Sengkuni pada diri sendiri. “Tapi awas. Sengkuni tak akan berhenti sampai di sini. Lihat apa yang akan kulakukan nanti,” gumamnya pada diri sendiri.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (81)

Tiba di hadapan Durna dan Kurawa, rombongan Pandawa berhenti. Tidak pakai basa-basi, Bima langsung menyerahkan Gandamana kepada Durna. “Waaaa, aku mewakili Pandawa menyerahkan Paman Gandamana kepadamu. Sekarang mana lenga talanya,” ujar Bima.
“Lenga tala segera akan kuserahkan kepadamu
Tak usah kuatir.”
“Nanti dulu,” sela Sengkuni. Jangan buru-buru. Dirundingkan dulu.”
“Apa yang mesti dirundingkan?” Durna balik bertanya.
“Ya lenga tala itu. Bagaimanapun kami sudah berusaha. Masak tidak keciptatan. Kami harus mendapat bagian. Lihat, kaki mereka,” sambil menunjuk kaki Kartamarma dan Jaka Pitana, “masih diperban, bukan? Bahkan ada yang belum bisa berjalan. Usaha kami harus diperhitungkan,” kata Sengkuni.
“Tidak ada urusan. Sejak awal aku sudah bilang, barang siapa bisa menyerahkan bedes elek Gandamana dalam keadaan terikat tangannya berhak mendapatkan lenga tala. Apa kurang jelas kata-kataku.”
“Walah kojur. Celaka tiga belas. Kurawa cuma dapat sakit. Semua ini gara-gara kamu,” sambil menuding Gandamana. “Rasakan ini.” Sengkuni menempeleng Gandamana.
“Stop. Siapa yang suruh memukul manusia jelek ini,” sambil menunjuk Gandamana. “Lha yang berhak saja belum memukul, berani-beraninya kamu memukul,” semprot Durna kepada Sengkuni. “Kalau aku sudah…”
Plak plak plak. Durna menampar pipi kanan-kiri Gandamana, “begini, baru orang lain boleh memukul.”
“O, begitu. Berarti sekarang boleh aku menghajarnya,” ujar Sengkuni. Tanpa menunggu jawaban Durna, Sengkuni menghajar Gandamana. Lebih dari sepuluh pukulan dilayangkan ke wajah Gandamana. “Kamu telah membuat tubuhku rusak tak karuan, sampai susah aku mencari perempuan yang mau sama aku. Padahal ketika aku masih tampan, sebelum kamu rusak, perempuan banyak yang tergila-gila padaku. Sekarang boro-boro banyak. Satu pun tak ada yang mau.”
“Bohong. Paman di mana-mana punya simpanan. Tiap malam apel ke wetan kali,” bantah Dursasana.
“Dur, jangan buka rahasia begitulah.”

Tanpa menghiraukan kata-kata Dursasana, Sengkuni kembali melepaskan kekesalannya kepada Gandamana. “Sekarang kamu rasakan balasanku. Terimalah ini.” Sengkuni melompat dan menyarangkan tendangan ke perut Gandamana yang diam saja. Gares (tulang kaki kering) kanan-kiri Sengkuni diayunkan ke tubuh Gandamana. Kali ini Gandamana memiringkan badannya. Siku kanan dan kirinya beradu dengan gares Sengkuni. Krak krak krak krak. Terdengar Sengkuni mengaduh karena kesakitan. Saking kesalnya, ia menyerang Gandamana dengan sikunya. Maksudnya siku itu akan diarahkan ke uluhati Gandamana, tapi Gandamana yang masih dalam keadaan terikat tangannya itu melakukan gerak refleks dengan mengangkat kakinya. Dan siku Sengkuni pun beradu dengan lutut Gandamana “Aduoohh! Teriak Sengkuni yang langsung menjatuhkan diri.

Perhatian untuk sementara justru beralih ke Sengkuni yang terkulai. “Bagaimana ini?” kata Dursasana. “Yang dipukul tidak apa-apa, malah yang mukul kesakitan. Paman, sakit Paman?”
“Gundulmu itu, Dur. Sudah jelas sakit begini, masih ditanya,” balas Sengkuni.
“Ha ha ha. Kirain Paman pura-pura,” timpal Durmagati.
“Jelas sakit begini, dibilang pura-pura. Dasar bocah amleng.”
Jaka Pitana pun ikut angkat bicara, “Aku mohon Paman istirahat dulu.”
“Kenapa urusannya jadi bergeser ke Sengkuni. Bagaimana ini? Durna mulai bicara.
“Maafkan,” Sengkuni menanggapi Durna. “Kita kan senasib. Tubuh kita sama-sama dibikin rusak sama iblis Gandamana itu. Aku ingin melampiaskan dendamku padanya. Tapi kenapa malah jadi begini. Tanganku bengkak, garesku gosong. Aduh, jangan-jangan tulang keringku patah. Di tubuh bedes itu ada bajanya kali. Aduhhh, sakit. Dur, Dursasana, nanti malam panggil Mukidi. Gak kuat aku. Aduuhhh.”

Semua perhatian masih tertuju kepada Sengkuni. Dursasana langsung merespon, “Mukidi yang mana, Paman. Mukidi akik, Mukidi tukang jala ikan, Mukidi jaga tirta, Mukidi bandar dadu, Mukidi Tayub, Mukidi Blantik, atau Mukidi tukang ngibul yang suka makan rondo royal dan ke mana-mana bawa puisi itu. Yang mana, Paman?”
“Kurang asem kamu, Dur. Ngerjain orang tua. Mukidi tukang urut malah gak kausebut itu bagaimana?”
“Tak ada, Paman.”
“Itu yang rumahnya dekat kuburan. Dia itu Mukidi tukang urut. Sudah jangan banyak bicara. Aduohhh.”
“Hei, bala Kurawa, urus pamanmu itu. Sekarang aku akan mengurus manusia yang satu ini.”
“Urusan lenga tala bagaimana?” tanya Bima.
Durna mengambil bejana isi lenga tala dari kampluknya, lalu menyerahkannya kepada Bima seraya berkata, “Ini lenga talamu. Terima dan simpan baik-baik.”
Bima menerima dan langsung menyerahkan ke Puntadewa.
“Untuk sementara, urusan kita selesai,” ujar Durna. “Sekarang dengarkan aku, Gandamana. Mustahil kamu lupa peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saatnya kini bagiku mempermalukan kamu. Sebelum kamu kukirim ke neraka jahanam, kuberi kesempatan kamu bicara. Hayo, katakan apa yang hendak kaukatakan.”
Gandamana bergeming. Ia masih terdiam.
“Kenapa kamu diam. Kamu punya mulut. Kenapa tidak kaugunakan untuk bicara? Kamu menyesali tindakanmu di masa lalu atau tidak? Katakan, aku ingin mendengar.”
“Aku menjalani hidup ini dengan lurus. Tak pernah aku berbohong atau berpura-pura. Kalau sesuatu benar akan kukatakan benar. Sebaliknya, kalau salah kukatakan salah. Pikiranku tak pernah bengkok. Aku jujur kepada siapa saja,” ujar Gandamana.
“Pandai juga kamu bicara. Sekarang katakan dengan jujur, kamu merasa salah atau tidak kepadaku.”

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (82)

Gandamana bukannya menjawab pertanyaan Durna, tapi justru balik bertanya. “Pertanyaan yang sama kusampaikan juga kepadamu. Kamu merasa bersalah tidak?”
“Kenapa malah balik bertanya. Ayo, tunjukkan kesalahanku apa atau di mana?”
“Kamu membuat aku jadi pesakitan begini. Apa itu bukan suatu pelecehan. Apa itu bukan perendahan martabat manusia. Apa itu bukan kesalahan dan dosa?”
“Kalau kamu masih waras, kuberi tahu. Ini namanya karma. Siapa menanam, bakal menuai. Tak ada asap kalau tak ada api. Apa yang terjadi sekarang adalah buah dari apa yang kautanam sebelumnya. Mengerti?”
“Kalau memang itu dalilnya, apa yang terjadi pada kamu waktu itu, juga bagian dari karma. Coba kau ingat-ingat lagi, sebelum tubuhmu kubuat ringsek, apa yang telah kamu perbuat terhadap orang lain. Apa masa mudamu dulu baik-baik saja. Karena kamu menyuruhku jujur, kuharap kamu juga mau dan berani jujur,” ujar Gandamana.
Kata-kata Gandamana membuat Durna mengingat-ingat apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Tiba-tiba adegan kekerasan yang dilakukannya hadir di benaknya. Ia seperti mendengar rintihan seseorang yang minta ampun. Wajah memelas orang itu terlukis betul di benaknya. Orang itu tak lain adalah pemuda yang pernah dibantainya hanya karena ia tak mau menepi ketika dirinya memacu kudanya. Ia pun seperti mendengar suara patih kerajaan Atas Angin yang menyuruhnya untuk menghentikan kekerasan yang dilakukannya, tapi kemarahannya malah makin menjadi-jadi. Teringat pada semua itu, kemarahan Durna menjadi sedikit reda. Ia menyesali tindakannya. Ia tak ingin menorehkan noda lagi di langit jiwanya.
“Ya, setelah aku berkilas balik, aku teringat pada masa-masa badungku dulu.
Ternyata aku dulu juga pernah menyiksa seseorang,” kata Durna. “Ah, kenapa jadi begini,” katanya lagi.
“Tak ada manusia yang sempurna. Meskipun tak ada niat melukai, pada titik tertentu, dalam situasi dan kondisi tertentu, orang bisa berbuat sesuatu berdasarkan nalurinya. Tindakannya bertentangan dengan nilai-nilai moral yang menjadi pegangan hidup dalam kehidupan sehari-harinya. Tak ada niat sedikit pun padaku saat itu untuk mengubah wajah tampanmu menjadi begini jelek. Tapi karena waktu itu kamu sesumbar, pamer kesaktian, dan susah sekali diberi tahu, aku jadi gelap mata. Kebetulan juga pada waktu itu aku lagi suntuk karena baru saja dipecat Kakangmas Pandu. Dan biang keladi kekacuan di Hastina hingga aku dicopot dari jabatanku sebagai patih tidak lain adalah Sengkuni. Karena itu, Sengkuni kupermak tubuhnya hingga remuk. Gara-gara itu Kakangmas Pandu marah dan aku tak boleh lagi menginjak bumi Hastina. Aku pun dengan sedih kembali ke Pancalaradya. Di sana aku bertemu kamu yang adigang adigung adiguna. Sikap dan gayamu yang sok jagoan itu menjadi pemicu kemarahanku. Aku pun seperti mendapat kesempatan untuk melampiaskan kesuntukanku meskipun sebelumnya aku tak punya niat sedikit pun untuk melakukannya. Karena itulah, tubuhmu kubanting, tanganmu kutelikung, dan matamu kuculek sehingga kau berubah menjadi buruk rupa begini.”

Penjelasan Gandamana yang gamblang, apa adanya, dan mendetil itu justru membuat amarah Durna yang semula sudah berangsur-angsur reda itu kini kembali bangkit lagi. Kata “jelek” ,”buruk” ,”sok jagoan,” dan kata-kata negatif lain yang terlontar dari mulut Gandamana membuat Durna naik pitam. “Sekarang aku tahu makna di balik tindakanmu yang kasar dan rusuh itu. Kau bilang aku adigang adigung adiguna. Dari mana kau tahu aku punya watak macam itu. Kita sebelumnya tak pernah bertemu. Kita belum kenal. Kenapa kamu bisa menilai aku. Nyata bahwa semua yang kaukatakan itu hanyalah pembenaran atas kelakuanmu yang tak benar itu. Aku tak bisa menerima. Sampai sekarang aku masih sakit hati. Kesewenang-wenangan harus dibalas kesewenang-wenangan. Kekejaman harus dibalas kekejaman. Utang malu dibayar malu. Sekarang rasakan ini.”

Durna menganiaya Gandamana sepuasnya tanpa perlawanan, tanpa ada yang bisa dan berani mencegahnya. Semua berkesimpulan bahwa pertikaian Durna dengan Gandamana adalah persoalan pribadi. Mereka tak bisa mencampuri urusan pribadi itu. Pandawa harus menyaksikan semuanya dengan perasaan sedih. Sebaliknya, Kurawa bersorak sorai. “Hajar terus. Hajar terus. Hajar terus!” Durna makin kesetanan. Dikerahkannya segenap kekuatan yang ada pada dirinya untuk menghajar Gandamana. Namun, Gandamana tak mengaduh. Tak ada bekas luka sedikit pun di wajah dan tubuhnya. Ia tampak tegar dan tenang, bahkan malah tersenyum-senyum. Melihat reaksi Gandamana yang setengah mengejek itu, Durna kian kalap. Apalagi setelah Sengkuni mengomandoi Kurawa untuk terus beryel-yel. “Ha-bi-si. Ha-bi-si! Ha-bi-si!” Begitu teriak Sengkuni dan Kurawa.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (83)

Yel yel Kurawa makin lama makin keras dan membentuk nada dan irama yang teratur, Ha-bi-si, ha-bi-si ha-bi-si.” Citraksa mengambil tambur untuk mengiringi yel yel Kurawa. Alun-alun pun semakin ramai. Sorak-sorai kian membahana. Tempo yel yel semakin cepat, semakin cepat. Para Kurawa mengepalkan tangan mereka dan mengangkatnya. Mereka membentuk lingkaran dan mengelilingi Gandamana yang dipukuli tiada henti. Kebencian dan kebengisan terpancar di wajah mereka. Semua itu membuat Durna semakin kalap dan kesetanan. Pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan terus dilayangkan ke wajah dan tubuh Gandamana. Namun, anehnya tak ada tanda-tanda luka pada tubuh Gandamana. Ia justru terlihat makin bugar. Kenyataan itu justru membuat Kurawa miris. “Ini manusia atau lelembut. Dihajar segitu kuatnya malah mentheles,” batin Sengkuni. Durna lama-lama kecapekan sendiri. Namun, ia terus saja memukul dan menendang.

Sementara itu, Sengkuni membangkitkan lagi yel yel Kurawa yang gemanya sedikit melemah karena sosok yang dihajar tak juga lebur. Mereka seperti kehilangan gairah dan kepercayaan diri. Tanggap terhadap keadaan, Sengkuni menggantikan yel-yelnya dengan “Tu-suk. Tu-suk. Tusuk.” Sengkuni tahu bahwa Durna mempunyai pusaka cundhamanik. Kalau Gandamana dipukul dan ditendang tidak sakit, malah terkesan mengejek, kini sudah waktunya ia dikirim ke neraka dengan pusaka. Begitulah yang terpikir Sengkuni. Karena itu, ia harus bisa memprovokasi Durna agar memanfaatkan pusakanya untuk menghabisi musuh bebuyutannya itu. “Ayo Kurawa, teriakkan terus tusuk tusuk agar Durna menggunakan senjatanya. Kalian bantu menuntaskan balas dendam Paman. Pastikan Gandamana sirna hari ini juga. Tusuk. Tusuk. Tusuk.” Teriakan dan yel yel Sengkuni diikuti para Kurawa: “Tusuk. Tusak. Tusuk.”

Dari kejauhan yel yel itu tertangkap jelas oleh pendengaran Prabu Drupada. Ia sungguh mengkhawatirkan keselamatan Gandamana. Ia minta kepada kusirnya untuk mempercepat jalannya kereta. Tak peduli dengan semak belukar, kusir menerabas jalan agar cepat sampai di alun-alun. Debu mengepul sepanjang jalan yang dilalui kereta kerajaan Pancalaradya itu. Saking cepatnya, kereta seakan terbang. Begitu masuk kota, laju kereta bertambah cepat. Orang-orang yang sedang jalan atau menunggang kuda langsung menepi. Tiba di ujung alun-alun, Drupada masih menyaksikan bagaimana Durna menganiaya Gandamana. Dalam jarak kurang dari sepuluh depa Drupada meloncat dari keretanya sambil berteriak “Tunggu!” Dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan Durna yang tengah mengayunkan pusaka andalannya, Cundhamanik, ke arah Gandamana. Tap! Dengan cepat tangan Durna ditangkap Drupada. Katanya, “Eling Kakangmas. Kakangmas kini bukan Kumbayana lagi. Kakangmas sekarang Durna.”
“Siapa kamu? Berani-beraninya menahan aku. Tidak usah ikut campur urusan orang lain. Aku ingin bedhes ini merasakan keampuhan Cundhomanik. Aku ingin tahu apa dia masih bisa senyam-senyum. Kuhajar sampai tangan dan kakiku memar, dia malah senyam-senyum. Dia masih seperti dulu: suka mengejekku. Sekarang dia harus mati di tanganku. Siapa kamu?”
“Kakang Durna lupa atau pangling? Aku Drupada.”
Durna masih belum tahu siapa yang dihadapinya.
“Simpan pusakamu, Kakang. Perhatikan. Aku Sucitra, teman seperguruanmu.”
“Oh, Sucitro. Adhiku, Di.” Durna merangkul Drupada. Keduanya larut dalam keharuan. Kurawa terbengong-bengong. Juga Pandawa. Semua terdiam. Tak ada yang berani bicara, termasuk Gandamana.
Setelah Durna dan Drupada melepaskan rangkulan, keduanya terlibat percakapan yang akrab. “Relakan aku melepas tali yang mengikat Gandamana.”
Tanpa menunggu persetujuan Durna, Drupada melepaskan tali yang mengikat tangan Gandamana.
“Kumohon Kakang tidak merasa aku ajari. Aku hanya ingin mengingatkan apa yang telah diajarkan guru kita.”
“Katakan, apa itu?” Balas Durna singkat.
“Pantang bagi seorang ksatria menganiaya lawan yang sudah tak berdaya.”
“Oh iya. Aku khilaf.”
“Apalagi kalau sampai membunuh. Sungguh itu aib besar. Dunia bukan saja menertawakan, tapi juga mengutuknya.”
“Oh, untung kamu datang. Kalau kamu telat sebentar saja, aku benar-benar kehilangan marwahku sebagai ksatria. Terima kasih. Kamu telah menyelamatkanku,” ujar Durna.
“Mumpung kita bertemu, ayo kita selesaikan apa-apa yang masih mengganjal di hati. Katakan apa yang masih harus kita klarifikasi agar ke depan hubungan kita tetap dan bahkan makin baik.” (Bersambung)

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (77-83)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *