toilet

Saut Situmorang

… bahkan di toilet pun ada peraturan, kata bekas guruku di smp dulu.

sebagai tempat berterima kasih, kata guruku itu lagi, kita pantas berterima kasih atas adanya toilet di mana-mana, disamping rumah makan padang tentunya.

ternyata toilet walaupun universal, seperti sigaret, mempunyai karakter budayanya masing-masing. kontekstual. toilet di timur beda dari toilet di barat. toilet di jakarta beda dari toilet di jantung bukit barisan sekitar danau toba. di timur orang pakai air. di hutan orang pakai daun pohon. biasanya daun kopi. atau sungai, kalau sedang tidak kering di musim kemarau. di barat orang pakai kertas, yang juga dipakai untuk buang ingus. alasannya, time is money and paper is the most practical stuff to find and… to carry. tentu saja ada alasan lain yang bersifat etis dan tradisi. kontekstual.

begitulah isi catatan yang aku tulis di kertas toilet garuda dc-10 yang menerbangkanku dari denpasar, bali ke auckland, new zealand. bahkan di garuda yang jelas-jelas timur itu sudah tak ada lagi air. apalagi daun kopi.

manusia adalah mahkluk yang cepat menyesuaikan diri, kata seseorang pada jaman dahulu kala. hanya sayang, dia, maksudku si seseorang pada jaman dahulu kala itu, tidak mengatakan berapa lama pastinya kecepatan menyesuaikan diri itu tadi. itulah sebabnya aku kalang-kabut waktu terdesak harus ke toilet.

bahkan di toilet pun ada peraturan, kata bekas guruku di smp dulu yang sekarang membuatku makin kalang-kabut. kopor pakaianku belum keluar dari kabin pesawat, tapi mual di perutku sudah gawat. juga mual di kepalaku yang kini mulai berkeringat. di dinding dekat pintu keluar tempat pengambilan bagasi tertulis kata “TOILET”, dengan gambar sebuah anak panah menunjuk ke arah kanan di sebelahnya, membuatku sedikit lega. aahhh… cepat-cepat aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke situ, melewati dua orang security yang sedang berdiri mengawasi para penumpang. salah seorang dari mereka, keturunan maori, tersenyum padaku. mungkin dikiranya aku orang maori yang baru pulang liburan dari bali. aku balas senyumannya itu.

toilet itu kosong dan sangat bersih. tak ada sampah berserakan, bahkan tak ada air tergenang di lantai yang mengkilap seperti di negeriku yang jauh itu. tapi perutku makin mual dan kepalaku makin mual. aku pilih yang paling kiri.

di kampungku banyak pohon kopi. di kampungku pun banyak babi. dan babi-babi itu suka sekali berkeliaran di bawah pohon-pohon kopi. karena teknologi toilet orang kampungku belum tahu dan karena sungai letaknya cukup jauh, biasanya aku panjat salah satu pohon kopi itu. sambil termangu-mangu aku pandangi babi-babi yang lagi sibuk di bawahku. mereka itu selalu bertengkar, mirip manusia. luarbiasa ributnya. seperti kebiasaan di mana-mana, yang kuatlah yang berkuasa. babi yang kuat, biasanya yang gemuk dan besar, dengan tenang menghabisi jatahnya. babi yang lemah, biasanya yang kurus dan kecil, menunggu kesempatan si babi kuat tadi lengah. tapi selalu si babi yang lemahlah yang lengah hingga kena seruduk si babi kuat perutnya yang tak berisi apa-apa. dan terdengarlah jerit kesakitannya di antara suara ribut pertengkaran babi-babi yang berebut makanan. survival of the fittest. mirip manusia.

di sini tak ada pohon kopi, tak ada babi. bahkan sampah pun tak ada yang berserakan di lantai yang bersih dan mengkilap. aku masuk ke kamar toilet yang paling kiri. perutku sudah sangat mual. kepalaku pun sudah sangat mual. cepat-cepat aku duduk di seat toilet.

tapi tak ada yang keluar!

astagfirullah, not again!!!

tapi perutku tak mual lagi. kepalaku pun tak mual lagi. kejadian seperti di pesawat garuda tadi terulang kembali. mual di perutku dan mual di kepalaku hilang begitu aku duduk di seat toilet. tapi tak ada yang keluar!

manusia adalah mahkluk yang cepat menyesuaikan diri, kata seseorang pada jaman dahulu kala tadi. tapi, apakah itu kontekstual? maksudku, apakah pendapatnya itu hanya berlaku untuk jaman dahulu kalanya itu saja atau untuk segala jaman? kalau toilet merupakan tempat berterima kasih hingga kita pantas berterima kasih atas keberadaannya di mana-mana, maka benarlah bekas guru smp-ku itu. buktinya, mual di perutku dan mual di kepalaku hilang begitu aku duduk di seat toilet. bukankah aku pantas berterima kasih?

aku teringat security keturunan maori yang tersenyum padaku tadi. mungkin dikiranya aku orang maori yang baru pulang liburan dari bali. aku jadi tersenyum dibuatnya. dia tidak tahu kalau sudah tiga kali mual di perutku dan mual di kepalaku hilang begitu aku duduk di seat toilet walau tak ada yang keluar.

aku amati kertas toilet yang tergulung rapi di sebelah kiriku. warnanya putih dan nampak masih belum dipakai. aku jadi teringat toilet pesawat dc-10 yang menerbangkanku dari denpasar itu, aku jadi teringat air sungai yang mengalir bersih di kampungku, aku jadi teringat pohon-pohon kopi dan babi-babi yang bertengkar di bawahku dulu… tiba-tiba aku ingin jongkok!

tapi keinginanku itu tak jadi kulakukan karena kata-kata bekas guruku di smp dulu…

wellington 1989

[Diambil dari buku kumpulan cerpen Saut Situmorang “Kotbah Hari Minggu” (2015)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *