YASIR

Malkan Junaidi

Ketika Sitinggil masih aktif dulu, beberapa kali Muhammad Yasir mengirimkan puisi. Saya tak ingat pernah memuatnya. Barangkali memang tak pernah. Seingat saya, puisi-puisi Yasir kala itu meledak-ledak, tak terkontrol dengan baik, membuat saya tak yakin untuk meloloskan.

Meski tak selalu memberi respons konkret, namun diam-diam saya terus mengamati perkembangan estetika perpuisian pemuda ini. Saya melihat, setelah menikah dan terutama setelah menimang anak, puisi-puisi Yasir mengalami penguatan secara signifikan. Rasa cinta yang mendalam terhadap keluarga, saya menduga, menjadi bandul penyeimbang dominasi rasa marahnya terhadap keadaan sosial politik di negeri ini. Puisi-puisi mutakhirnya (2 tahun belakang ini utamanya) bukan lagi merupakan lengkingan khas mahasiswa yang sedang demonstrasi, tapi adalah ungkapan tegas dan menghunjam dari seorang yang telah melakukan banyak meditasi.

Muhammad Yasir adalah satu lagi penyair muda yang sangat patut untuk dicatat. Ia satu dari sedikit penyair Indonesia, apalagi yang muda, yang konsisten menyuarakan derita rakyat kecil dalam puisi-puisinya.

Tulisan ini adalah testimoni (bukan endorsement). Jarang-jarang saya bikin pengakuan terbuka macam ini. Seingat saya, Yasir adalah penyair ketiga dalam 8 tahun terakhir. Sebelumnya adalah Rose Widianingsih dan Eimond Esya. Rose Widianingsih malah karyanya saya bukukan dan terbitkan dengan bantuan beberapa teman di tahun 2014. Ketiga penyair ini memiliki keserupaan: dikenal secara sangat terbatas. Pengakuan demikian adalah satu usaha agar yang bersangkutan dikenal oleh lebih banyak orang.

Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *