LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90-96)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90)

Andaikata mereka tidak meributkan dan memperebutkan lenga tala, mungkin ide penyelenggaraan sayembara itu tak ada. Karena Kurawa, terutama Sengkuni dan Jaka Pitana, serta Pandawa sama-sama mengklaim bahwa mereka berhak atas kepemilikan lenga tala, aku jadi bingung. Di tengah kebingungan itu aku teringat pada ulah Gandamana. Dari situlah aku punya gagasan untuk membuat sayembara. Aku seperti mendapat jalan untuk membalas dendam. Hambar sudah tapa ngrameku.”

“Tentu Kakang bisa mengambil hikmahnya.”

“Ya, aku sekarang tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Kuakui saja bahwa semua yang terjadi karena kesalahanku. Bagaimanapun, aku kurang hati-hati. Dengan kata lain, akulah sumber kesalahan itu. Andaikata aku tidak grusa-grusu, tapa ngrameku lulus,” ujar Durna.

“Baik, Kakang. Lebih berhati-hati dan tidak grusa-grusu, itu kata kuncinya, Kakang Durna.” Drupada menanggapi pengakuan Durna.

“Akan senantiasa kuingat prinsip itu. Sekarang setelah semua kita diskusikan, selanjutnya apa yang harus kulakukan?” tanya Durna.

“Apakah Kakang Durna punya rencana khusus?”

“Tidak ada. Hanya aku sekarang lagi bimbang. Aku sudah sekian lama mengembara, meninggalkan orang-orang yang kucintai. Anak dan istri kutinggalkan untuk mencari ilmu. Apakah hidupku harus begini terus. Begitu egoistiknya aku. Terpikir di benakku bahwa setelah tapa ngrame selesai, aku ingin menengok Haswatama dan Kerpi yang mengasuhnya. Tapi entah kenapa, rasanya secara mental aku belum siap meskipun aku tahu Kerpi telah lama menanti kepulanganku.”

“Kalau belum siap, tak usah dipaksakan. Namun, kukira kurang tepat dan kurang bijak kalau Kakang Durna, maaf, masih melanjutkan pengembaraan. Kukira sudah waktunya pengembaraan itu dicukupkan sampai di sini saja dulu. Sudah waktunya sekarang dilakukan pengembaraan secara batin dan intelektual saja,” ujar Drupada.

“Pakai istilah biasa saja. Aku tidak paham dengan istilah yang kaupakai itu. Konkretnya, aku harus bagaimana. Apa yang harus kukerjakan, Drupada?

“Kakang Durna punya ilmu dan keahlian. Saatnya kini ilmu dan keahlian itu dibagikan. Dengan berbagi lmu itulah intelektualitas Kakang mengembara. Kakang menetap di suatu tempat, mendirikan perguruan di situ, lalu dari situ pulalah ilmu Kakang dibagikan kepada siapa saja yang datang untuk berguru.”

“Bagaimana caranya?” tanya Durna.

“Seperti yang sudah kukatakan, Kakang Durna sudah waktunya madeg pandhita.”

“Weladalah. Muridnya siapa. Tempatnya di mana pula,” ujar Durna.

“Kalau berkenan, kami ingin berguru pada Bapa Durna,” ujar Puntadewa mewakili adik-adiknya.

“Weladalah, keduluan. Dari tadi aku ingin bilang bahwa Kurawa siap menjadi murid Durna. Harap dicatat bahwa Kurawa lebih dulu punya niat berguru pada Durna daripada Pandawa. Hei, Puntadewa, kalian jangan menyerobot begitu ya. Kami tak apa-apa tak dapat lenga tala asal diterima sebagai murid Durna. Begini saja, kalian dapat lenga tala, kami mendapat Durna. Singkat kata, Pandawa jangan ikut-ikut berguru pada Durna. Kukira pikiranku ini cukup adil,” kata Sengkuni.

“Bagaimana Kakang Durna. Semua berebut menjadi murid Kakang Durna. Apa itu tak cukup kuat untuk meyakinkan bahwa Kakang Durna sudah layak, sudah siap, dan sudah waktunya jadi pandhita? Tunggu apa lagi, Kakang?” Drupada berusaha lebih meyakinkan Durna lagi.

“Baiklah. Namun, aku ini gelandangan. Aku harus membangun padepokan di mana?”

Drupada langsung menjawab Durna dengan tawaran konkret. “Tak apa Kakang jadi gelandangan, asal bukan gelandangan politik seperti Sengkuni,” ujar Drupada.

Sengkuni yang disentil hanya tersenyum dan manggut-manggut.

“Iya, tapi soal tempatnya bagaimana?”

“Jangan khawatir, aku serahkan bumi Sokalima kepada Kakang Durna. Bangunlah Padepokan di tempat itu,” tegas Drupada.

“Adiku, Di. Mulia sekali kamu. Tapi pikirkan dan renungkan kembali. Benar Sokalima akan kauserahkan kepadaku?”

“Kakang, sabda pandhita ratu tan kena wola-wali. Raja harus ber budi bawa laksana. Sekali diucapkan harus dilaksanakan. Raja tak boleh mencla-mencle, harus konsisten. Tak boleh pagi tempe sore kedelai. Aku tak akan mencederai ucapanku sendiri.”

“Terima kasih. Semoga kebaikanmu mendapat balasan setimpal dari Dewata.”

“Bagaimana dengan Kurawa? Bala Kurawa sejak awal ingin sekali jadi murid Durna. Kuharap Pandawa tak usah diterima sebagai murid karena bisanya cuma ikut-ikutan Kurawa. Tolong Pandawa ditolak saja. Aku jaminannya,” ujar Sengkuni.

“Baru mau mendaftar, kamu sudah mau mengatur. Mana ada murid mengatur guru. Sontoloyo, kamu. Aku tak mau diatur-atur,” ujar Durna.

“Baik. Baik. Tapi ingat, Kurawa sudah duluan. Mereka harus mendapat ilmu lebih banyak daripada Pandawa. Kuharap usul ini diterima,” pinta Sengkuni.

“Enak saja kaubicara. Semua kuterima sebagai murid, tapi sekali lagi, jangan kamu mengatur aku,” balas Durna.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (91)

Sengkuni tak patah semangat. Ia tetap mencari cara agar Kurawa mendapat perhatian Durna. Sekali lagi dipengaruhilah Durna agar menjauhi Pandawa.

“Jangan salah paham. Aku bukannya mau mengatur atau mendikte, tapi hanya ingin mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya. Pandawa itu anak-anak yatim. Hidupnya keleleran dan hanya menumpang di Hastina. Mereka tidak punya apa-apa. Tak mungkin mereka dapat memberikan fasilitas untuk sampeyan. Mengurusi hidupnya sendiri saja sudah susah. Bagaimana mau memberikan perhatian pada orang lain? Mereka hanya mengandalkan pada remah-remah dan sisa-sisa makanan kami untuk hidup mereka. Pokoknya hidupnya serba susah. Orang yang hidupnya teramat susah pasti tak bisa mencerna pelajaran dari gurunya. Keadaan mereka berbeda sekali dengan keadaan anak-anak Kurawa, keponakanku itu. Kehidupan Kurawa jelas lebih sejahtera dan serba kecukupan. Mereka tidur di atas kasur empuk. Makanan tiap hari mereka lengkap dan bergizi. Mau makan apa tinggal bilang, tinggal panggil pelayan.Tak perlu bergerak karena pelayan akan menservis segalanya,” ujar Sengkuni. “Jadi, keponakankulah yang pantas jadi murid sampeyan. Kalau sampeyan tak mau susah, jauhi Pandawa.”

“Aku mau susah,” jawab Durna singkat.

Cep klakep. Mulut Sengkuni bagai terkunci. Durna melanjutkan kata-katanya, “Siapa saja boleh menjadi muridku, tak pandang bulu. Yang hidupnya susah, yang hidupnya mewah, si anak yatim, si anak sah maupun si anak haram jadah boleh berguru kepadaku. Semua berhak menuntut ilmu. Semua berhak mendapatkan ilmu.”

Sengkuni nggrememeng (meracau) sendiri,
“Dibilangi baik-baik dan benar-benar tak mau mendengar. Diajak hidup enak malah menolak. Ya sudah.”

“Sudahlah, Paman,” ujar Jaka Pitana. “Aku dan adik-adik ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Masak seratus orang kalah dengan lima orang yang tak punya masa depan.”

Bima mulai terpancing. “Aku tak mau banyak bicara. Kita buktikan saja siapa yang terbaik nanti,” ujarnya. “Semua wejangan dan perintah guru akan kulaksanakan,” imbuhnya.

“Demikian juga aku,” Pamadi menimpali. Puntadewa dan Si Kembar pun bilang bahwa mereka siap berguru kepada Durna.

Mendengar Pabdawa buka suara, Jaka Pitana gusar. Mulutnya bergetam-getam. Drupada yang tanggap terhadap keadaan langsung mencairkan suasana. “Kukira sudah jelas sikap Kakang Durna. Buat apa otot-ototan. Sekarang lebih baik pada mempersiapkan diri menjadi murid. Kakang Durna, karema semua sudah jelas, aku dan Dimas Gandamana pamit. Panclaradya tak boleh lama-lama ditinggalkan.”

“Silakan. Moga kalian selamat sampai di tujuan,” kata Durna.

Sepeninggal Drupada, Durna menegaskan sikapnya. “Sekarang kalian sudah tahu bagaimana sikapku. Pandawa dan Kurawa kuterima sebagai muridku.”

Semua mengucapkan terima kasih. Durna menambahkan satu hal. “Aku harap kalian memanggilku Bapa. Kuharap juga mulai sekarang karena kalian sudah menjadi muridku, kalian harus mau melindungi aku kalau terjadi apa-apa padaku. Sanggup?”

Semua menjawab sanggup. “Selanjutnya aku ingin membangun padepokan di Sokalima. Kalian bilang pada rajamu agar pembangunan padepokan ini tidak menjadi masalah di kelak kemudian hari. Drupada sudah memberi lampu hijau. Kuharap pihak Hastina pun demikian. Ingat, kalian bantu dan jaga aku,” ujar Durna.

Sengkuni tak mau kehilangan momentum. Diajaklah Durna ke Gajahoya untuk dihadapkan dan diperkenalkan pada Destarata.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (92)

Di Kadipaten Gajahoya Destarata menerima Durna yang diantarkan Sengkuni dan Kurawa. Oleh Sengkuni Pandawa tidak diperkenankan masuk. Sengkuni melaporkan apa yang terjadi setelah Lenga Tala dilemparkan Destarata. Laporan yang disampaikan Sengkuni memang sudah sesuai dengan kaidah pelaporan peristiwa, yaitu 4 W + 1H. Hanya bumbu laporannya terlalu banyak. Di samping itu, ada informasi yang dimanipulasi sehingga objektivitas laporannya tidak dijamin. Dikatakannya bahwa Pandawa telah berbuat curang sehingga Lenga Tala jatuh ke tangan mereka.

“Seharusnya Lenga Tala itu menjadi milik Kurawa, tetapi karena Pandawa curang, Lenga Tala berada di tangan Pandawa,” ujar Sengkuni.

“Bentuk kecurangannya seperti apa? Kenapa kamu sebagai sosok yang dituakan tidak bisa mengingatkan?” Destarata balik mempertanyakan peran Sengkuni.

“Tak kurang-kurang nasihat yang kuberikan, tetapi dasar Pandawa, nasihatku masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Anak kalau kurang didikan memang begitu. Maklum anak yatim.”

“Bisa kamu sebutkan di mana kecurangan Pandawa.” tanya Destarata.

“Pokoknya curang.”

“Bisa diperjelas, Sengkuni.”

“Apa harus kukatakan, Kakang Adipati?”

“Katakan sejujurnya agar aku yakin sebelum kujatuhkan hukuman kepada Pandawa.”

Mendengar kata “hukuman”, Sengkuni girang sekali. Ia menjawab pertanyaan Destarata dengan penuh semangat. “Memang Pandawa harus dihukum berat. Kira-kira hukumannya….”

“Sebentaar, sebentar,” sela Durna. “Izinkan aku ikut bicara,” imbuhnya.

“Loh, ini siapa? Rasanya aku belum pernah mendengar suara ini. Apa aku sudah kehilangan kepekaan,” ujar Destarata.

“Yang barusan bicara itu Begawan Durna.”

“Siapa dia? Kenapa tidak kamu perkenalkan dari tadi, Sengkuni.”

“Maaf, lupa, Kakang Adipati,” kilah Sengkuni.

“Iya, tidak jadi apa. Tapi tolong katakan Begawan Durna itu siapa? Kalau ada kata begawan di depan namanya, berarti dia seorang pendeta. Lalu pendeta dari mana? Katakan Sengkuni,” desak Destarata.

“Memang dia seorang pendeta dari Atas Angin. Dialah yang berhasil mengambil Lenga Tala dari sumur tua. Dia menguasai ilmu memainkan senjata karena telah berguru pada Ramaparasu.”

“O, begitu. selamat datang di Gajahoya, Begawan Durna.”

“Terima kasih. Maafkan aku yang telah lancang ini. Belum diminta bicara sudah bicara tanpa permisi kepada sinuhun. Aku terdorong bicara karena ada kata-kata Sengkuni yang tidak benar. Aku ingin meluruskan bahwa Pandawa tidak berbuat curang,” kata Durna.

“Soal keberanianmu bicara sebelum kuminta bicara tidak apa-apa. Kumaafkan. Tapi soal kecurangan itu, aku ingin tahu lebih banyak. Mana yang benar, kata-kata Sengkuni atau kata-kata Begawan Durna,” ujar Destarata.

“Bisa saya tambahkan informasi, Kaa….”

“Sengkuni,” potong Destarata. “Aku belum minta kamu bicara. Biarlah aku bicara dulu dengan Begawan Durna. Jangan sekali-sekali kausela pembicaraanku dengan Begawan Durna.”

“Baiklah. Celaka tiga belas,” gumam Sengkuni.

“Begawan Durna, bisakah diceritakan bagaimana kejadian yang sesungguhnya agar aku bisa menjatuhkan sangsi yang tepat kepada Pandawa.”

“Maafkan sinuhun. Hamba tidak mau berdusta. Pandawa sama sekali tidak melakukan kecurangan seperti yang dikatalan patih Sinuhun. Nyatanya merekalah yang berhasil memenuhi permintaan Hamba. Pandawalah yang membawa Gandamana ke hadapanku.”

“Sengkuni, apakah anak-anakku sudah berusaha memenuhi permintaan Begawan Durna.”

“Di situ masalahnya. Anak-anak Paduka memang tak membawa Gandamana, tapi bukan berarti mereka tak mampu. Ketika mereka akan menanngkap Gandamana, Pandawa sudah mendahului. Kalau cuma menangkap Gandamana, tak masalah bagi Kurawa. Pasti mereka bisa. Seratus orang menangkap satu orang. pastilah bisa. Sayang kesempatan itu telah dirampas Pandawa. Itulah sebabnya kukatakan bahwa Pandawa curang. Jelas ini tak adil. Begitu kejadian yang sesungguhnya, Kakang Adipati.” Sengkuni mengakhiri pengaduannya.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (93)

Mendengar paparan Sengkuni yang dianggapnya tak sesuai dengan kenyataan, Durna memberanikan diri merespon dengan terlebih dulu minta izin kepada Destarata. “Maafkan Sinuhun, kalau diizinkan, hamba ingin meluruskan laporan Patih Sengkuni sebelum Sinuhun menanggapinya.”

“Silakan, Begawan Durna.”

“Terima kasih, Sinuhun,” ujar Durna. Lalu, kepada Sengkuni ia berkata, “Patih Sengkuni, peristiwa tertawannya Gandamana oleh Pandawa belum lama, bukan? Masih segar dalam ingatanku bagaimana Pandawa menyerahkan Gandamana kepadaku. Sebelum Pandawa datang kepadaku, bukankah andika dan Kurawa datang kepadaku dan melaporkan bahwa Kurawa tidak sanggup menangkap Gandamana? Bukankah bala Kurawa mengalami cedera, bahkan sebagian dari mereka sekarang masih mendapat perawatan di Sangkal Putung. Kenapa fakta itu sampeyan putarbalikkan? Sampeyan katakan Pandawa telah berlaku curang. Di mana kecurangan mereka? Apakah keberhasilan mereka itu yang sampeyan maksudkan kecurangan? Maaf, aku tak bisa membenarkan laporan sampeyan kepada Sinuhun.”

“Oh, buat aku tak apa-apa Begawan Durna tak bisa menerima laporanku. Aku tidak melaporkan kejadian itu kepada Begawan Durna, tetapi kepada Kakang Adipati Destarata.”

“Iya, tapi telingaku mendengar laporanmu dan aku tahu kejadiannya tidak seperti itu. Bagaimana aku bisa diam?”

“Mudah. Ditutup saja telinga sampeyan,” jawab Sengkuni ketus.

“Sudah. Sudah. Aku sudah bisa menyimpulkan. Anak-anakku tidak berhasil mendapatkan lenga tala. Tak usah kauingkari dengan kebohonganmu itu, Sengkuni. Lenga tala memang harus jatuh ke tangan Pandawa sesuai dengan pesan Pandu kepadaku sebelum ia meninggal dunia. Kalau memang bukan haknya, mau direbut dengan cara apa pun tidak akan berhasil. Biar saja pusaka itu jatuh ke tangan Pandawa karena mereka memang berhak mendapatkannya.”

“Sebetulnya Kurawa berhak juga mendapatkan. Kakang Adipati sekian lama menyimpan pusaka itu. Mestinya berhak atas sebagian barang itu. Menjaga sekian lama tanpa mendapat imbalan mana bisa disebut adil. Itu curang,” ujar Sengkuni.

“Sengkuni, aku tidak merasa dicurangi. Aku tetap tak paham dengan pengertian curang menurut pikiranmu itu. Dulu, sebelum lenga tala kulemparkan jauh-jauh, kau bercerita kepadaku bahwa dalam kehidupan sehari-hari Pandawa senantiasa mencurangi Kurawa. Kamu memberikan contoh bagaimana Pamadi mencurangi Kartamarma. Ketika keduanya keluar bersama-sama dari istana dan menapak di alun-alun, Pamadi digoda banyak gadis, sementara Kartamarma tak mendapat perhatian dari gadis-gadis yang berkerumun di sekitar alun-alun. Tak ada seorang gadis pun yang tertarik kepada Kartamarma. Atas kejadian itu, kamu melaporkan bahwa Pamadi telah berbuat curang. Menurutmu, seharusnya Pamadi tidak digoda gadis, sedangkan Kartamarma seharusnya digoda, minimal disuitin gadis. Kamu menganggap ini semua sebagai bentuk kecurangan. Siapa pun yang nalarnya waras, akan menyangkal pikiran sesatmu itu. Bagiku jelas, lenga tala memang menjadi milik Pandawa.”

Diam. Sejenak tak ada yang bersuara. Kata-kata Destarata seakan-akan mengunci mulut sekian orang yang hadir dalam pertemuan itu. Sengkuni berusaha menanggapi kata-kata Destarata, tapi seperti ada kekuatan yang menahannya. Kata-kata yang hendak diucapkannya membangkang. Semua alat ucap Sengkuni seperti kelu. Sengkuni mendadak blangkemen (tak bisa berbicara). Durna dirasuki rasa sungkan, sementara Jaka Pitana takut berbicara. Gendari yang biasanya selalu membela adiknya, Sengkuni, juga kehilangan daya untuk berbicara. Semua menunggu sabda Destarata. Dalam situasi macam itu, tiba-tiba Kunthi beserta anak-anaknya (Pandawa) datang.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (94)

“Aku mendengar sesuatu. Sepertinya ada yang datang. Siapa yang datang, Gendari?”

“Kunthi dan putra-putranya, Sinuhun.”

“Aku dan anak-anak, Kakang Adipati,” ujar Kunthi.

“Syukurlah. Moga kalian sehat semua. Kedatanganmu membawa berita apa?”

“Pertama, aku ingin protes.”

“Protes kepada siapa karena apa?”

“Kenapa anak-anakku tidak boleh masuk. Apa salah mereka?”

“Aku tidak pernah melarang. Pandawa sudah kuanggap anak-anakku sendiri. Bagaimana mungkin aku melarang mereka berada di sini? Pasti ada yang berulah ini.”

“Tanpa tedeng aling-aling kusebutkan saja siapa yang berulah. Tak ada lain kecuali Sengkuni, Kakang Adipati.”

“Ah, Sengkuni lagi Sengkuni lagi. Hei Sengkuni, kenapa kaularang Pandawa masuk?”

“Ini mengada-ada. Siapa yang melarang? Aku hanya bilang untuk sementara Pandawa tak usah ikut masuk. Bukan melarang.”

“Kenapa kau katakan begitu? Apa dasarnya?” Tanya Destarata.

“Untuk apa mereka masuk? Tak ada kepentingan dan urgensinya. Lebih baik mereka di luar saja,” tegas Sengkuni.

“Lalu Sengkuni masuk untuk apa?” Balas Kunthi.

“Kalau aku menghadap Sinuhun, jelas ada kepentingannya. Pertama, jelek-jelek aku ini patih. Masak patih menghadap rajanya dipertanyakan. Kedua, aku ingin melaporkan bahwa Kurawa tak mendapat lenga tala karena ada yang curang. Ketiga, aku ingin memperkenalkan Resi Durna. Keempat aku ingin melaporkan bahwa Kurawa telah mendaftarkan diri sebagai murid Resi Durna. Nah, semua penting dan mendesak untuk disampaikan sebelum ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dengan, misalnya, mengatakan yang bukan-bukan tentang Kurawa. Sekarang aku balik bertanya, Pandawa masuk ke sini untuk apa. Mereka kan cuma keponakan yang dititipkan bapaknya kepada kakaknya. Keberadaan mereka di sini boleh dikatakan ada tapi tak menggenapi, tak ada pun tak mengurangi. Bukankah begitu, Jaka Pitana?”

“Betul sekali, Paman.”

“Jadi, …”

“Cukup, Sengkuni!” Bentak Destarata.

“Kunthi, protesmu kuterima. Kamu sudah mendengar sendiri kata-kata Sengkuni. Aku tidak melarang Pandawa menghadapku. Itu ulah Sengkuni.”

“Batobat tobat tobat. Kenapa selalu Sengkuni yang disalahkan. Apa yang dikatakannya tentu berdasar. Laporannya tentang lenga tala kukira benar. Ada saksinya. Jaka Pitana ke mana pun selalu bersama Sengkuni. Tentu dia tahu apa yang terjadi. Kenapa tidak ditanya dulu. Kenapa Sinuhun langsung menyalahkan. Jelas ini tidak adil. Sinuhun tidak bijaksana,” ujar Gendari.
“Kamu selalu membela adikmu. Apa kamu tadi tidak mendengar bantahan Resi Durna ketika Sengkuni lapor kepadaku. Jangan asal membela kalau tak tahu faktanya,” ujar Destarata.

“Kunthi, apa lagi yang ingin kausampaikan?”

“Aku hanya ingin meluruskan laporan bohong itu agar Kakang Adipati tidak membuat kesalahan. Kudengar Kakang ingin menjatuhkan hukuman kepada Pandawa.”

“Aku tak segegabah itu. Keterangan dari Resi Durna bagiku cukup untuk mengambil keputusan. Aku tidak akan menjatuhkan hukuman kepada Pandawa.”

“Syukurlah,” kata Kunthi.

“Masih adakah yang ingin kausampaikan?”

“Aku hanya ingin mohon kepada Resi Durna untuk menerima anak-anakku sebagai muridnya.”
“Bagaimana Resi Durna? Kuharap Kurawa juga diterima sebagai murid.”

Sengkuni pun menyela. “Kurawa sudah resmi jadi muridnya. Tapi kalau Pandawa aku tak tahu. Kelihatannya Resi Durna enggan menerimanya. Maklum, Pandawa tak punya modal apa-apa. Bonek. Banda nekat. Ha ha ha.”

“Sengkuni, apa perlu kuremas kepalamu dengan lebur seketiku?” Ujar Destarata.

“Ampun, Sinuhun. Maaf seribu maaf. Hamba hanya bercanda,” ujar Sengkuni ketakutan.

“Izinkan aku bicara, Sinuhun.”

“Silakan Resi Durna.”

“Sudah kukatakan dari awal, siapa pun boleh menjadi muridku asal bersungguh-sungguh.”

“Waaaa, aku sungguh-sungguh,” ujar Bima yang dari tadi menahan diri untuk tak bicara. Puntadewa, Pamadi, dan si kembar pun mengungkapkan keinginan senada.

Sengkuni memberi kode ke Jaka Pitana untuk ikut bicara.

“Kanjeng Rama, ananda juga ingin berguru. Semua Kurawa ingin menjadi murid Bapa Durna,” tegas Jaka Pitana.

“Untuk menjadi murid Resi Durna, apa ada persyaratan khusus?” Tanya Kunthi.

“Selain sungguh-sungguh, murid harus sanggup menjaga kehormatan guru. Itu saja,” ujar Durna.

Di tengah percakapan, tiba-tiba di luar ada suara gaduh. Tak lama kemudia, Kartamarma yang kakinya belum sepenuhnya sembuh masuk. Dari wajahnya terlihat ia sedang cemas. “Kanjeng Rama, ketiwasan. Hastina kedatangan musuh. Mereka menuduh Hastina menculik dan menyembunyikan Resi Durna.”

“Weladalah. Bagaimana ini? Kurawa dan Pandawa, kembalikan mereka,” perintah Destarata.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (95)

Pagi-pagi sudah ada yang menelepon awak. Siapa lagi kalau bukan Lik Mukidi. Tidak apa-apa sih, cuma gayanya itu lho: jijay, padahal awak sudah mengingatkan dia. Begini awak bilang, “Lik, kalau menelepon saya, biasa saja. Tidak usah digaya-gayakan macam orang yang belum kenal saja.” Apa jawab dia? “Suka-suka akulah. Kau tak usah sok ngatur. Sontoloyo.”

Coba, siapa yang tak kesal. Dibilangi baik-baik jawabnya macam itu. Kalau dipikir-pikir, yang sontoloyo itu dia. Kalau awak bilang sontoloyo juga kepadanya, tak enak kan? Masak paman dan keponakan saling menyontoloyokan. Aneh kan? Tapi nyatanya memang begitu. Dia bilang sontoloyo kepada awak dan awak pun melakukannya. Bedanya, dia mengujarkannya, sementara awak hanya membatin, cukup mengucapkan di dalam hati. Ujung-ujungnya awaklah yang mengalami tekanan batin. Betapa tidak, lewat pembicaraan telepon, pagi-pagi awak sudah disemprot. Persoalannya sepele: awak memakai masker yang tak sesuai dengan selera dia pada saat awak ikut kerja bakti di lingkungan awak kemarin. Awak pun menyesal, kenapa awak kirim foto kepadanya. Awak cuma ingin kasih kabar bahwa awak proaktif, ikut membersihkan lingkungan. Tak awak duga bahwa masker yang ia persoalkan. Untung tadi tak lama ia bicara sehingga awak tak lama pula menderita. Cuma yang jadi persoalan, dia mau menelepon awak lagi. Katanya dia mau menanyakan–mungkin lebih tepat dibilang mempertanyakan–cerita “Lenga Tala.” Bagi awak, ini pertanda bahwa akan ada masalah. Tapi tak apa-apa. Insha Allah awak siap menghadapinya.

Sudah awak tunggu sekian lama, tapi kenapa Lik Mukidi belum juga menelepon. Ada apa ya? Jangan-jangan…

Kring. “Halo. Selamat pagi. Di sini Mukidi. Salam sejahtera untuk kita. Salam kebajikan. Namo budaya.”

Coba, apa gak gedeg. Di awal pembicaraannya saja sudah seperti itu. Bagaimana selanjutnya?

“Halo. Apakah suaraku terdengar dengan jelas?

Halo. Di sini Mukidi. Aku ingin memastikan bahwa suaraku terdengar jelas di situ. Halo!”

“Sangat jelas, Lik.”

Begitu awak bilang jelas, Lik Mukidi terus nerocos bicara. Awak tak sanggup mengeremnya. Tapi karena awak harus mengantar anak ke stasiun, terpaksa awak stop.

“Maaf, Lik. Saya harus mengantar cucumu ke stasiun.” Telepon awak tutup. Lalu awak melaju ke stasiun Depok lama.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (96)

Sebelum menutup cerita Lenga Tala, awak ingin menyelesaikan urusan awak dengan Lik Mukidi. Terakhir awak sengaja permisi untuk mengakhiri pembicaraan di telepon karena awak mesti menjemput anak ke stasiun. Pasti masih ada hal yang ingin dia sampaikan selain masalah masker yang awak gunakan. Hanya yang menjadi masalah bagaimana awak harus bicara dengan dia. Kalau awak telepon, awak khawatir Lik Mukidi tak berkenan. Maklum, biasanya pada malam hari Lik Mukidi semadi untuk tujuan tertentu. Kalau awak minta tolong Bulik Mukidi, rasanya tak enak. Pada jam begini biasanya Bulik nonton sinetron. Kalau tidak, pasti menikmati drakor. Tentu akan terganggu kalau awak mintai tolong. Lah… lagi nguda rasa Lik Mukidi malah menelepon awak. Kebetulan sekali. Ya wis.

“Halo. Di sini Mukidi. Salam sejahtera untuk kita. Salam kebajikan. Namo budaya.”

“Halo, Lik. Tumben malam begini menelepon,” kata awak basa-basi.

“Bukan kebetulanlah. Waktu aku semadi, kulihat wajah kau. Pasti kau ingin bicara dengan aku, tapi tak enak.”

Nah, yang begini ini yang bikin awak takut. Dia bisa membaca pikiran awak. Itulah sebabnya awak tak berani membantah dan menyinggung perasaan Lik Mukidi. Sejujurnya awak takut kuwalat.

“Benar, Lik. Hebat. Terawangan Lik Mukidi tepat.”

“Oke. Ada masalah apa? Pasti tentang cerita itu.”

“Tepat sekali. Tapi saya ingin bertanya dulu tentang masker. Apakah masih ada yang hendak Lik Mukidi katakan tentang masker yang saya gunakan sewaktu kerja bakti,” tanya awak.

“Oh tidak. Aku hanya ingin bilang kepada kau bahwa kalau memakai masker, pilihlah masker yang baik. Tes dulu dengan cara meniup api di lilin saat masker digunakan. Jika bisa tertiup dan mati, masker itu tak bagus. Itu saja.”

“Saya sudah tahu tentang itu, Lik. Jadi, tujuan Lik Mukidi menelepon saya hanya untuk mengingatkan saya tentang masker yang baik ya, Lik.”

“Kau mau bilang bahwa apa yang aku katakan tak berguna. Begitu cara kau menghornati orang tua. Sombong kali kau,” sergah Lik Mukidi.

Waduuuhh. Salah lagi awak. “Maaf Lik. Saya tidak bermaksud begitu.”

“Bah. Tak usah mengelak kau. Katakan saja iya. Aku sudah terbiasa dibeginikan dari dulu. Orang macam kau tak puas kalau tak merendahkan.”

“Sekali lagi, saya minta maaf, Lik. Saya yang salah.” Kalau tidak cepat direm, bisa merembet ke mana-mana.

“Nah, begitu. Lebih baik mengaku salah daripada mengajak berbantah sebab kau pulak yang akan kalah. Aku baru lanjut ke persoalan berikutnya. Begitu kan?”

Moga-moga tak konslet lagi. “Iya, Lik. Selanjutnya tentang apa, Lik?”

“Tentang ‘Lenga Tala” kau itu.”

“Ada saran dan masukan?”

“Cerita kau kelewat menyimpang dari cerita sesungguhnya. Kau perbaikilah itu.”

Awak tak mau berdebat terlalu jauh dengan Lik Mukidi. Ini peringatan yang kesekian kalinya. Mungkin Lik Mukidi kurang nyaman dengan munculnya tokoh Mukidi di cerita “Lenga Tala” di samping memang keberatan dengan pengembangan cerita awak yang ke mana-mana. Karena itu, awak tak memancing dia untuk bicara lagi.

“Baik, Lik. Nanti kalau akan dibukukan, saya revisi total.”

“Nah, itu keputusan yang baik.”

“Masih ada lagi, Lik?”

“Ada. Lanjutkan cerita kau itu sampai selesai. Asalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Lik Mukidi menutup telepon.
***

Bersambung…

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (90-96)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *