PULAU-PULAU KECAMATAN YANG MENAKJUBKAN, NAMA-NAMA YANG MENGGETARKAN


(Pulau Penyengat)

Raudal Tanjung Banua
Riau Pos, 2009 **

NAMA ibarat samudera, begitulah aku berpikir, saat mengeja nama-nama, bukan dari buku-buku murahan tentang nama-nama indah, tapi dari sebuah peta di garis edar matahari, yang mencantumkan nama ribuan pulau, jauh tak terjangkau. Setiap satu nama kulafalkan, setiap itu pula aku terhantar ke tengah samudera atau laut tak bertepi, bagai lumba-lumba atau paus buta, aku kepayang dimabuk kata-kata, tentang air, Tanah Air, gugusan pulau dan bangsa-bangsa…

Pada waktu lain, kubaca sebuah buku, lama tak tersentuh, di perpustakaan kecilku di Yogya. Buku yang memuat hal-ihwal pemekaran Daerah Tingkat II di wilayah Riau Daratan dan Riau Kepulauan itu mencantumkan ratusan nama pulau yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Tak terduga, karena untuk satu kecamatan saja ada puluhan pulau banyaknya. Membacanya, atau lebih tepat mengejanya, aku bagai seseorang yang tengah menyiapkan dayung dan perahu di sebuah dermaga di tepi laut yang tenang, menyambutku berlayar!*

Saat itulah, pulau-pulau kecil dalam lingkup kecamatan serta-merta membuatku sadar betapa berharganya tanah dan air kita di tengah semesta. Lalu bersama nama-namanya yang menggetarkan, anganku berlayar, pulau demi pulau.

O, Kawan, tak usah dulu bicara Maluku, Talaud, Kepulauan Seribu, Wakatobi, Laut Sawu, Tarakan, apalagi Indonesia secara keseluruhan untuk menyadari betapa luasnya samudera kita, alangkah banyak nama dan betapa menakjubkannya pulau-pulau, gugusan pulau dan segala yang melintasinya.

Cukup melihatnya dari satu kecamatan ke kecamatan lain di wilayah Riau Kepulauan saja—tempat di mana aku terpukau—kau akan masuk ke pusaran nama-nama yang mungkin sudah terlupa, kini dibangkitkan; imajinasimu akan menjelajah setiap wilayah yang belum pernah tersentuh, terra-cognita, sampai kau temukan daratan baru, kesadaran baru, tentang bermaknanya setiap nama yang terberi atau diberikan. Sebab, setiap satu nama kauucapkan, setiap itu pula kau bakal terdampar ke pulau-pulau ajaib dan menakjubkan, tempat yang belum sepenuhnya dikenal, bahkan belum sempat kaubayangkan.

Maka, dalam kesempatan ini, rasanya akan sia-sia aku banyak berkata-kata, sebab lidahku bagai tercecap air laut yang kian menambah haus. Baiknya, kukutip satu-persatu, sebagaimana aslinya, nama-nama pulau dalam buku yang kudapatkan di perpustakaan kecilku itu. Bacalah dengan menghayati kebesaran Tanah Airmu, maka aku percaya tak hanya air mata, juga kata-kata, akan berjuang sendiri merumuskan dirinya: menjadi karang, menjadi samudera, kapal-kapal, daratan kelabu, tiang perahu; menjadi bahasa, menjadi cerita, harapan, cita-cita, dengan segala ucapan dan doa…
***

Inilah nama-nama pulau di Kecamatan Belakang Padang, Kepulauan Riau—siapkan anganmu berlayar dan hitung sendiri jumlahnya: Pulau Belakang Padang, Pulau Sambu, Pulau Dendang, Pulau Lengkana, Pulau Meriam, Pulau Tolop, Pulau Suwe, Pulau Air Manis, Pulau Jagung, Pulau Sekilak, Pulau Leroi, Pulau Layang Besar, Pulau Tapung, Pulau Suba, Pulau Nirup, Pulau Mercan Besar, Pulau Sarang, Pulau Semaku, Pulau Serapat, Pulau Negeri, Pulau Penyalang, Pulau Bertam, Pulau Lingke, Pulau Padi, Pulau Bakau, Pulau Pemping, Pulau Labum Besar, Pulau Labum Kecil, Pulau Kasu, Pulau Batu Ampar, Pulau Lumba, Pulau Sei Cudung, Pulau Pelangi, Pulau Ketapeh, Pulau Katung, Pulau Buntung, Pulau Tandut, Pulau Panjang, Pulau Sali, Pulau Kepala Jeri, Pulau Ladang, Pulau Pecung, Pulau Dandan, Pulau Cumin, Pulau Semukir, Pulau Sano, Pulau Bayan, Pulau Paloi Kecil, Pulau Paloi Besar, Pulau Terong, Pulau Teluk Bakau, Pulau Telan, Pulau Ketumbar, Pulau Kepala Gading dan Pulau Geranting…

Jika lelah, istirahatlah sebentar di Kecamatan Sekupang, sambil memandang pulau-pulaunya yang tidak begitu banyak, tapi pasti tak kalah menggetarkan: Pulau Dangas, Pulau Janda Berhias, Pulau Seraya, Pulau Kapur, Pulau Teluk Dalam, Pulau Cicit dan Pulau Bokor.

Setelah itu, berlayarlah di kawasan Kecamatan Pulau Bulang, pulau-pulaunya puluhan, membuat siapa pun bakal mabuk kepayang—bukan oleh gelombang: Pulau Bulan, Pulau Bulan Lintang, Pulau Tanjung Kubu, Pulau Bulan Kiban, Pulau Jallo, Pulau Buluh, Pulau Teluk Sepaku, Pulau Boyan, Pulau Tengah, Pulau Bulat, Pulau Temoyong, Pulau Nipis, Pulau Rinjing, Pulau Kemudi, Pulau Biawak Besar, Pulau Ladi, Pulau Resam Bakau, Pulau Resam Laut, Pulau Tinju, Pulau Aweng, Pulau Selat Nenek, Pulau Pual, Pulau Malang Hitam, Pulau Luing Bendera, Pulau Luing Sempal, Pulau Luing Lamat, Pulau Luing Singkek, Pulau Tong, Pulau Mengkadah, Pulau Culik, Pulau Kundur, Pulau Labu, Pulau Dongsi, Pulau Lembu, Pulau Pugam, Pulau Orang Mati, Pulau Kuyung, Pulau Limau Kecil, Pulau Limau Besar, Pulau Air, Pulau Tengah, Pulau Kayo Besar, Pulau Darat Depan, Pulau Belakang Sidi, Pulau Kura Besar, Pulau Kura Kecil, Pulau Lingkur, Pulau Bedara, Pulau Jona, Pulau Setokok, Pulau Babi, Pulau Nipah, Pulau Asah Besar, Pulau Asah Kecil, Pulau Bakau, Pulau Pontianak, Pulau Air Rasa, Pulau Awi, Pulau Burik, Pulau Tonton, Pulau Akar, Pulau Ranca, Pulau Panjang, Pulau Panjang Raut, Pulau Sekikir, Pulau Penjahit Layar, Pulau Bukit dan Pulau Koloh.

Di Kecamatan Nongsa, ada belasan pulau yang membuat kita makin percaya betapa menakjubkan pulau-pulau kecil itu—yang saat disusuri ternyata sebutan kecil kadang tidak tepat untuknya. Mari, masuklah: Pulau Semaku, Pulau Nongsa, Pulau Traling, Pulau Sakerah, Pulau Meregah, Pulau Limau Kuras, Pulau Kasem, Pulau Ngenang, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Kila, Pulau Moi-moi, Pulau Bakau, Pulau Matang, Pulau Todat, Pulau Kubang, Pulau Raja, Pulau Lapang dan Pulau Gondo.

Dan layarkan pula segenap anganan kita di kawasan Kecamatan Galang, ke tengah delapan puluhan pulau yang bernama, dan entah berapa puluh lagi yang mungkin tak bernama. Semuanya akan membuatmu betul-betul ingin merumuskan makna Tanah Air dalam keluasan semesta.

Inilah pulau-pulaunya, wahai Tuan dan Puan—hikmati setiap alun gelombang, muasal dan makna tiap nama, jangan Tuan hendak menepi, jangan Puan keburu bosan, sebab inilah kawasan yang memberi tempat pada angan, imajinasi, mimpi-mimpi: Pulau Rempang, Pulau Panjang, Pulau Kinun, Pulau Cemara, Pulau Subang Mas, Pulau Air Raja, Pulau Galang, Pulau Galang Baru, Pulau Karas Besar, Pulau Tanjung Dahan, Pulau Sembur, Pulau Batu Belobang, Pulau Labun, Pulau Ngual, Pulau Anak Petong I, Pulau Anak Petong II, Pulau Petong, Pulau Abang Besar, Pulau Abang Kecil, Pulau Rano, Pulau Sepitu, Pulau Pengelap, Pulau Tunjuk, Pulau Combon, Pulau Mencaras, Pulau Borek, Pulau Buku, Pulau Wil, Pulau Mekapur, Pulau Kera, Pulau Lenggok, Pulau Perantum, Pulau Mabok, Pulau Peredas, Pulau Nibung, Pulau Dahan, Pulau Korek Busung, Pulau Nanga, Pulau Mubut Pulau Darat, Pulau Korek Darat, Pulau Bantal, Pulau Jebimbing, Pulau Batu Licin, Pulau Gedung Melan, Pulau Bukit Penyambung, Pulau Matianak, Pulau Penekeh, Pulau Dapur Tiga, Pulau Karas Kecil, Pulau Mubat, Pulau Semokot, Pulau Melur Besar, Pulau Melur Sedang, Pulau Melur Kecil, Pulau Bentang atau Pulau Gana, Pulau Belibis, Pulau Pupun, Pulau Samak, Pulau Tok, Pulau Maria, Pulau Malini, Pulau Biatu, Pulau Dedap, Pulau Pengayoh, Pulau Penyambungan Besar, Pulau Penyambungan Kecil, Pulau Nyiur, Pulau Mantinge, Pulau Ratanohran, Pulau Jakloa, Pulau Jung, Pulau Singgayang, Pulau Mariam, Pulau Udik, Pulau Kerambu Cawan Satu, Pulau Kerambu Cawan Dua, Pulau Kerambu Cawan Tiga, Pulau Penunggal, Pulau Hantu Satu, Pulau Hantu Dua, Pulau Hantu Tiga, Pulau Pempu dan Pulau Penyantai.
***

Demikianlah, dalam pelayaran ini kita menjadi seseorang yang rasanya baru tahu bahwa ada berpuluh, beratus, bahkan beribu pulau yang tak tersentuh. Aneh, tiba-tiba aku teringat sejumlah negara kecil kepulauan, seperti Palau, Fiji dan Nauru di timur, Maladewa dan Syichilles di barat, juga Taiwan dan Hongkong di utara, pun Kepulauan Karibia di Amerika Tengah.

Tentu tak ketinggalan Singapura yang tidak jauh dari pulau-pulau Riau yang tadi kita susuri, terpisah Selat Tebrau yang hanya seujung kaki. Kubayangkan, berapa negara yang bisa didapat hanya dalam satu kawasan, cukup di lingkup pulau-pulau kecamatan? Berapa Singapura, berapa Nauru dan berapa Maladewa yang kita punya? Hu!

Meski tentu saja tidak sesederhana itu: pulau kita banyak, Tuan, puluhan ribu, besar kecil tak terbayangkan, sebagian tak cukup kata memberinya nama, Puan, namun berapa puluh tahun semuanya ditinggalkan Singapura yang membangun kota, pelabuhan, impian dan harapannya hanya di atas sekeping pulau karang—yang tidak lebih besar daripada Batam, Bintan atau Belakang Padang dengan puluhan pulau lain yang tak terbilang?

Entah berapa abad, berapa Penyengat lewat, berapa Daik, berapa Tumasik, berapa pasir keruk bisa membuat kita terusik, bangkit, lalu masuk ke jagad impian baru: pulau-pulau yang dekat dari jangkauan, sedekat harapan dalam pelayaran—kini mestinya tak sebatas angan….

/Rumahlebah Yogyakarta, 2009


(Pulau-pulau kecil di sekitar Batam, dipotret dari pesawat udara Batam-Surabaya)


(Bekas kapal-kapal kayu pengungsi Vietnam Selatan di Pulau Galang)


(Bekas rumah pengungsi manusia perahu Vietnam Selatan, dibangun UNHCR di Pulau Galang, dekat Batam)

Catatan:
* Buku dimaksud berjudul Napak Tilas Terbentuknya Kabupaten Rokan Hulu, Tim Penulis Nurzena, Engki Prima Putra dan Syamsul Bahri Samin (Pemda Rohul, 2007). Meskipun bicara Rokan Hulu, di dalamnya juga disinggung kabupaten lain di Riau/Kepri. Nama-nama pulau disalin sepeti aslinya dari buku tersebut.

** Dan masuk dalam buku Cerpen Pilihan Riau Pos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *