TENTANG BUKU YANG DIBELI OLEH AJIP ROSIDI DARI DIDIN TULUS

Dadan Sutisna

Saya menulis ini, setelah membaca sebuah tulisan yang mengaitkan nama Ajip Rosidi dengan Didin Tulus. Saya perlu meluruskan pernyataan yang menurut saya keliru. Ini demi nama baik Kang Ajip, orang yang paling saya hormati sepanjang hidup.

Awalnya, saya menerima tautan tulisan yang dimuat sastra-indonesia.com, berjudul “Didin, Sang Kolektor Terbesar Karya Ajip Rosidi”, ditulis oléh Sigit Susanto. Saya kutip beberapa paragraf:

(Awal kutipan)
“Sebetulnya teman-teman menyayangkan, kalau Didin mengoleksi karya Ajip. Semua teman tahu bahwa Ajip ini anti kiri, teman akrabnya taufik Ismail. Teman-teman khawatir, jangan-jangan Didin ikut garis pemikiran Ajip?

Ternyata kekhawatiran itu tumbang, bukan Didin yang terpengaruh Ajip, kebalikannya, Ajip yang terpengaruh Didin. Buktinya, saat Didin memamerkan buku puisi orang-orang Lekra, Ajip tertarik membelinya.

Kabarnya Didin berhasil mengantar Ajip ke Ultimus, kalau tak salah, ia memborong buku-buku kiri.”

(Akhir kutipan, selengkapnya bisa dibaca via https://sastra-indonesia.com/2020/09/didin-sang-kolektor-terbesar-karya-ajip-rosidi/)

Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin sosok Ajip Rosidi bisa terpengaruh oleh Didin Tulus, hanya karena membeli beberapa buku? Itu pernyataan versi penulis artikel di atas yang secara sembrono menyimpulkan hasil perbincangan dengan Didin. Dan menurut saya ini sangat keliru.

Kang Ajip bisa membeli buku apa pun tanpa memandang siapa penulisnya. Kang Ajip memesan buku-buku Lekra bukan hanya kepada Didin. Kang Ajip mengumpulkan buku-buku Lekra bukan lantaran terpengaruh. Kang Ajip bahkan menyimpan banyak manuskrip langka (yang belum diketahui masyarakat) dari penulis-penulis Lekra. Kang Ajip juga menjaga hubungan baik dengan penulis Lekra. Tapi setahu saya, beliau tidak pernah terpengaruh. Banyak buku Kang Ajip yang membahas ini, jadi saya tidak mengulasnya di sini. Tinggal baca saja.

Saya tidak pernah berkoméntar tentang klaim bahwa Didin merupakan kolektor terbesar karya Ajip Rosidi yang selalu didengungkan selama ini—sekalipun saya belum pernah melihat daftarnya. Namun, dengan adanya pernyataan di atas, saya ingin memperjelas kembali bagaimana sesungguhnya hubungan Didin Tulus dengan Kang Ajip.

Pada hari Rabu, 18 Désémber 2013, Kang Ajip mengunjungi paméran buku di Universitas Padjadjaran, Jl. Dipatikur. Seperti biasa, meski acara baru akan dimulai pukul 10.00, Kang Ajip sudah berada di lokasi pukul 09.00. Ia kemudian melihat-lihat stan paméran. Di stan Ultimus, Kang Ajip membeli beberapa buku, antara “Puisi dari Penjara” kumpulan sajak S. Anantaguna, “Aku Hadir di Hari Ini” kumpulan sajak Hr. Bandaharo, “Cerita untuk Nancy” kumpulan sajak Mawie Ananta Jonie, “Jelita Senandung Hidup” kumpulan sajak Nurdiana, “Perjalanan Hidupku” karya Yahya Malik Nasution, “Perjalanan Jauh” karya M. Ali Chanafiah, dan lain-lain.

Waktu itu, Kang Ajip bertanya tentang penjaga stan Ultimus yang seperti mengenal Kang Ajip. Lalu Téh Elin yang ikut mengantar Kang Ajip bilang bahwa ia adalah Didin Tulus, koléktor buku Kang Ajip. Sebelumnya Kang Ajip pernah mendengar nama itu, konon ingin ditraktir oléh Kang Ajip. Waktu itu Didin bilang bahwa sebelumnya ia pernah ditraktir makan bersama yang lainnya, tapi Kang Ajip sudah lupa. Dan karena lupa, Kang Ajip kemudian mengajak Didin ke Pabelan untuk ditraktir di Saung Makan Bu Empat.

Setahun kemudian, Didin baru bisa berkunjung ke Pabelan. Ia berangkat menumpang mobil Kang Ajip, dan tiba di Pabélan pada hari Sabtu, 22 Novémber 2014. Seperti janji Kang Ajip, Didin kemudian ditraktir di Saung Makan Bu Empat, dengan hidangan sop guramé dan udang bakar madu. Pada percakapan dengan Kang Ajip, Didin bilang bahwa ia punya koléksi 149 judul buku karya Ajip Rosidi, tapi waktu itu belum bisa memberikan daftarnya. Percakapan lainnya mungkin tidak saya tulis di sini. Didin pulang dari Pabélan hari Senin pukul 17.00, menggunakan bis Kramatjati dari terminal Muntilan.

Pertemuan Didin dengan Kang Ajip lebih sering pada acara-acara tertentu, dan tidak mengobrol panjang. Didin juga pernah beberapa kali datang ke Jl. Garut. Misalnya, pada hari Kamis, 9 Januari 2014, Didin ikut meriung bersama Kang Ajip, Cecep Burdansyah, Dede Mariana (alm), Ériyanti Nurmala Déwi, Prof. Endang Saefullah. Waktu itu, Kang Ajip sedang mengadakan pertemuan bersama Deddy Mizwar. Didin ikut menyaksikan meski tak bersuara.

Didin juga pernah menemui Kang Ajip pada hari Selasa, 8 Séptémber 2015 di Jl. Garut. Ia datang bersama istri dan anaknya untuk mengantar buku pesanan. Begitulah, pertemuan Didin dengan Kang Ajip sebatas urusan jual-beli buku, dan Kang Ajip melakukannya pada banyak orang. Namun, sepanjang perbincangan saya dengan Kang Ajip, ia tidak pernah menyinggung seputar keterpengaruhan pada buku-buku yang dibeli dari Didin.

Kang Ajip membeli buku-buku Lekra karena seperti kita tahu, ia adalah pemilik koleksi buku terbanyak yang selalu mengumpulkan buku apa pun di sepanjang hidupnya. Baginya, karya adalah karya, membeli buku adalah kewajiban, tetapi pandangan tentang isi buku merupakan hal lainnya.

Demikian klarifikasi saya setelah mendapat persetujuan dari salah satu keluarga Kang Ajip.

Salam literasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *