BULDAN DENGAN TIGA BUKAN


Andrenaline Katarsis

Dalam keadaan tidak punya uang, saya menanyakan harga sebuah buku yang diunggah akun penjual buku di Facebook. Harganya 100 ribu. Cukup mahal untuk sebuah buku di saat sedang kere tapi hasrat membeli buku kian tak terbendung. Seperti ada campur tangan semesta, tidak lama saya menerima pesan Whatsapp. Dari Papi Buldan: “Tak usah beli. Tak kasih saja. Sip to yoo”. Saya pun sumringah. “Siapa lagi yang pantas dikasih?” tanyanya menyusul. Lalu saya sebutkan dua nama untuk saya beri buku. “Oke nanti tak kirim 3,” balasnya. Dan tiga hari kemudian saya pun menerima buntelan berisi 3 eksemplar buku ‘Buldan dengan Tiga Bukan’ karya Dorothea Rosa Herliany.

Bagi Buldanul Khuri (selanjutnya saya tulis Papi Buldan saja) buku itu penting dan menerbitkan buku semacam ibadah. Sama penting dan sakralnya ketika Papi Buldan mengudap aneka kuliner Nusantara. Ada kepuasan batin dan nilai estetik di sana. Bersama Bentang, Papi Buldan ada. Kisah kehidupan Papi Buldan pun membentang sampai jauh, selama 25 tahun tak kenal letih terus menerbitkan buku.

Akhir tahun 1980an, penerbit mapan cenderung untuk menghindari menerbitkan buku-buku jenis humaniora atau sastra. Katanya selalu merugi. Ada pun satu-dua buku sastra yang terpaksa diterbitkan penerbit mapan, itu tak lain hanya sebuah ‘pencitraan’ dan biasanya diterbitkan dengan bantuan subsidi. Padahal menurut Papi Buldan, buku sastra adalah bagian yang bisa memperkaya jiwa.

Tahun 1992. Di Yogyakarta justru lahir sebuah penerbit kecil tetapi sentralistik. Penerbit yang secara sadar menerbitkan buku-buku filsafat, budaya dan sastra! Bentang Intervisi Utama nama penerbit itu, yang selanjutnya menjadi Bentang Budaya. Berbekal semangat dan kecintaan pada buku, Papi Buldan dengan dibantu tiga temannya, kemudian menjadi sosok yang berada di balik nama penerbit yang buku-bukunya kemudian sering diresensi di koran-koran nasional dan majalah kawentar.

Terinspirasi dari buku-buku terbitan Pustaka Jaya tahun 70an, salah satu ciri khas dan manifestasi atas buku-buku Bentang Budaya yang menjadi obsesi dan ikon Papi Buldan adalah perwajahan sampul buku dan desain kover yang mengawinkan seni rupa, lukisan, tipografi, huruf sehingga menghasilkan tampilan buku yang terlihat perbawa, nyeni dan berbeda dibanding sampul-sampul buku kebanyakan. Bandingkan dengan buku-buku terbitan tahun 80an yang mengandalkan sampul dan tipografi huruf yang begitu-begitu saja.

“Buku adalah karya seni rupa dan karya intelektual. Karena itu, isinya harus bagus, kovernya harus bagus. Kalau isinya sudah bagus, kovernya tak bagus, waduh, buku kok jelek. Sebagai karya seni rupa, buku harus tampil menarik. Itu artinya menghargai pembaca yang membeli buku,” begitu kata Papi Buldan. Bentang pun terus menggelinding dengan menerbitkan buku-buku idealis, berat dan aneh-aneh.

Sempat Kaya Raya dan Bangkrut

Seiring putaran waktu yang bergegas, kerja keras dan ide-ide nyeni Papi Buldan ternyata bisa menghapus kutukan jika menerbitkan buku sastra itu kerap merugi. Roda nasib segendang sepenarian dengan takdir sejarah justru menjadikan Papi Buldan kaya raya: uang melimpah, punya tiga rumah dan tiga mobil. Dari mana kekayaan itu datang? Tentu tidak jatuh dari langit, melainkan dari berkah jatuhnya Orde Suharto.

Pasca reformasi 1998 adalah tahun booming buku-buku ‘kiri’. Ketika penerbit-penerbit satu angkatan Bentang yang lain melahirkan Lenin, Marx, Mao, Karno, Tan Malaka, Luxemburg, Njoto, Papi Buldan tidak ikut-ikutan menerbitkan buku kiri, melainkan melahirkan Gibran.

Berkat gelontoran dana dari sebuah lembaga donor, buku ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’ pun dicetak dan diterbitan. Buku yang konon menginspirasi dan selalu dikepit penyanyi Nazriel ‘Ariel’ Irham ketika menulis lirik lagu bersama bandnya Peterpan itu, total oplah cetak ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’ sebanyak 16 ribu eksemplar setelah 6 kali cetak ulang. Gibran laris manis tanjung kimpul. Menyusul kemudian judul-judul karya Khalil Gibran yang lain (Kematian Sebuah Bangsa, Yesus Anak Manusia, Suara Sang Guru dan lain-lain) diterbitkan dengan desain sampul yang ciamik dan collectable.

Dari buku Gibran itulah yang membuat Papi Buldan bergelimang uang. Aduhai, bahkan Papi Buldan sempat naik haji bersama istri. Dolan-dolan ke Singapura dan Mesir. Bahkan menghadiri Frankfurt Book Fair di Jerman dengan uang sendiri. “Gampang sekali mendapatkan uang pada masa-masa itu. Dan saat saya terlihat banyak uang, banyak juga yang datang menawarkan uangnya untuk saya kelola,” katanya. Klop sudah. Papi Buldan ketiban Dewi (Lestari) keberuntungan: Bagai banjir, uang mengalir begitu saja.

Rupanya segala kemewahan materi Papi Buldan tidak berumur panjang. Hanya sepuluh tahun saja Papi Buldan mencicipi menjadi orang tajir, sebab setelahnya Papi Buldan ambruk. Ketiga rumah dan mobil-mobilnya dijual untuk membayar utang-piutang. Tagihan debt-collector. Distributor tidak membayar. Ada kerjasama yang dikhianati. Ada faktor manajamen yang ngawur. Papi Buldan dan keluarganya terpaksa harus tinggal di rumah penginapan di Sleman. Papi Buldan boleh jadi masygul dan nelangsa. Betapa puitik derita hidup bersama buku.

Bentang di ujung tanduk. Papi Buldan jatuh miskin. Itu belum seberapa. Ada satu hal yang membuat Papi Buldan membatin: buku-buku dokumentasi terbitannya berpindah tangan karena dijual karyawannya tanpa sepengetahuan Papi Buldan. “Saya boleh bangkrut secara ekonomi tapi tidak secara spirit,” ungkapnya mantap.

Memetik Hikmah Kebangkrutan

Dunia (buku) terus melesat ke depan, tapi Papi Buldan tidak terjerembab pada kubangan nostalgia masalalu nan jaya. Ia justru bersyukur karena keaadaan yang memungkinkannya untuk terus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Predikat ‘tiga bukan’ bahwa Papi Buldan bukan pebisnis, bukan intelek dan bukan seniman justru memacunya untuk semakin liat, bekerja keras dan tetap ngeyel menerbitkan buku. Ada hawa panas yang menguar dari tubuhnya ketika mendapatkan naskah baru, tangannya gemetar karena ingin segera merancang desain sampulnya.

Bersama penerbit barunya, Mata Bangsa, setiap usai solat subuh, Papi Buldan mulai bekerja, membaca, mengoreksi, mengedit dan menyiapkan rancangan sampul buku yang akan diterbitkannya. Jika naskah berikut sampul rancangannya sudah oke, Papi Buldan sendiri yang mengantarkannya ke percetakan untuk dicetak.

Jika dulu ia mampu mencetak belasan ribu eksemplar, kini dengan cukup mencetak 300 eksemplar saja sudah cukup dan membahagiakan. Ketika naskahnya sudah masuk percetakan, Papi Buldan tinggal duduk manis di warung kopi dan mengiklankannya di Facebook-nya. Ya sudah, biarkan saja. Mengalir saja, laku syukur nggak laku ya nggak apa-apa. Santai. Seperti irama gendhing Jawa yang mengalun pelan. Let it be…

Sebagai pekerja keras dan single fighter, Papi Buldan tidak menjadi autis dan asyik bekerja sendiri sampai suntuk dan nglangut. Ia tetap menyediakan waktunya untuk dolan dan berkumpul bersama teman-temannya. Menjalani hidup dengan santai dan ritmis: pagi hari makan soto, siang jajan dawet ayu, sorenya ngopi di angkringan. Sudah, cuma itu saja. Yang penting sehat dan bahagia.

13 Nov 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *