Djoko Saryono, Professor yang Loyal pada Anak-anak Millenial


Mohammad Rafi Azzamy *

Inilah kisah perjumpaan saya dengan seorang sastrawan, cendikiawan dan pengamat kehidupan. Prof Djoko Saryono namanya, Professor luar biasa yang telah dikenal oleh semesta, Professor yang loyal pada anak-anak millenial. Dan kisah ini saya tulis dengan gaya bahasa puitis, karena inilah kekisah perjumpaan kata sifat dengan kata kerja, selamat menikmati!

Malam melintang membasmi bayang-bayang, matahari telah diganti bulan, langit dan bintang-bintang mulai menganyam keindahan, di dalam rumah mataku menatap jendela yang terletak di atas kepala, sambil menunggu hari esok tiba. Karena esok adalah hari istimewa bagi kepala saya, sebab ia akan dibuka sekaligus dibedah untuk diisi ilmu yang luar biasa.

Yap betul sekali, esok hari dimana Prof Djoko akan mengisi suatu kajian bedah buku tentang pandemi, hari yang amat dinanti. Kapan lagi, “aku” sebagai produsen kata dapat bertemu dengan sosok penerjemah semesta. Malam itu, kepala yang menjadi kediaman mata terus bercahaya, lantaran imajinasi ini terus memproduksi mimpi akan pertemuan esok hari, bertubi mimpi yang kan menjadi kenyataan bertubi-tubi, sampai akhirnya alam milik malam menyuruh diri pulang menuju plosok palung yang dalam, palung sejuta pikiran.

Pagi pun tiba, ia menggosok batang ilalang di depan mata, menebar bayang-bayang hingga berhamburan di atap rumah, Saya siap merajut peristiwa yang puncaknya setelah senja. Seperti biasa, setelah beribadah shubuh, diri melakukan sunnah seduh, dengan seperangkat alat ngopi yang tersedia, menyeduh mimpi kedalam gelas-gelas sepi yang akan menjadi kediaman kopi, rumah imajinasi dikala pagi.

Setelah melakukan sunnah, diri ini menjelma menjadi pena yang menulis kejadian-kejadian di sela-sela masa, menjadikannya suatu tulisan yang diharap bisa mencerahkan umat manusia, juga menjadi warga tetap sosial media, lalu membuat status-status indah.

Tak terasa matahari mulai berani unjuk gigi tepat di atas kepala ini, tapi awan lebih berani, dia dan hujan telah menutupi matahari, rerintikan air membasuh jejalanan, berkumpul jadi genangan kata yang berhamburan di sela-sela kota.

Hujan reda, awan mulai menepi bersamaan dengan datangnya senja, diri ini bergegas bersama Ayah untuk segera menemui sang pujangga penafsir semesta, lokasi acara berada di Rumah Baca Cerdas, Perumahan Permata Jingga, suatu perpustakaan milik Alm. Malik Fadjar mantan Menteri Agama. Sebelum tiba di lokasi, menyempatkan diri beribadah kesekian kalinya, guna mendapati tiket masuk surga di kehidupan selanjutnya.

Menuju lokasi sambil melihat rumah-rumah megah dan membayangkan berkediaman di sana suatu hari baik nan indah nantinya, dan sampai akhirnya saya dan Ayah tiba di lokasi. Sambil menunggu dimulainya acara, kami baca-baca guna membuka jendela dunia, kemudian… Prof Djoko Saryono tiba, lalu diri pun berjumpa dengannya.

Sungguh tak mengira, seorang sastrawan dan cendikiawan besar mau memberikan suguhan pengetahuan malam-malam, dimana kala itu pesertannya berjumlah kira-kira pas-pasan saja. Acara tersebut diisi oleh dua pemateri, yakni Prof Djoko Saryono (Guru Besar UNM) dan Cak Hasnan Bachtiar (Intelektual Muda Muhammadiyah). Ketika acara dimulai, mata ini berbinar, hati ini berdebar, betapa kaya dan serunnya materi yang disampaikan, pun banyak ilmu yang berterbangan.

Ilmu yang terbang tersebut membuat kepala ini terang, sekaligus membasuh hati hingga lapang. Materi bedah buku berjudul “Pandemi dan Kepercayaan” amat-lah seru, pertunjukan kekayaan pikiran gelanggang ilmu pengetahuan itu, membuat beberapa halaman buku saya penuh diseduh oleh ilmu, salah satu perkataan dari Prof Djoko: “Covid-19 memberi suatu pelajaran penting bagi kita. Ternyata manusia lebih takut kepada virus daripada cerita tentang Neraka.”

Acara itu berlangsung lucu serta penuh hikmah, saya sangat terkesima dari wajah Prof Djoko yang amat antusias memberikan materi kepada kami, suatu paparan puitis-filosofis yang dapat menghipotis jiwa dan memanjakan telinga. Cak Hasnan juga tak kalah, salah satu ucapan beliau adalah: “Pandemi ini adalah suatu pesan kehidupan yang disampaikan oleh Alam dan Tuhan.”

Materi terus berlangsung menyelubung, membuat debar kencang di jantung, Saya bisa katakan atau bahwa yang hadir kala itu ialah makhluk yang amat beruntung. Akhirnya sesi tanya jawab tiba, saya tidak ragu acungkan tangan, bertannya soal pertengkaran antara kaum atheis dengan kaum agamis, Prof Djoko-lah yang pertamakali menanggapi.

Beliau menjawab layaknya seorang cendekiawan tulen, jawabannya sangat kaya referensi, dan menunjukkan ketinggian intensitas literasi, ditambah cara penyampaian yang puitis sekali, lugas serta tajam membedah akar permasalahan, sampai kepala, mata, telinga, pula jiwa ini kompaklah terpesona. Dan jawaban Cak Hasnan yang kaya akan pengetahuan, disampaikannya dengan diksi yang mudah dipahami, sampai akhirnya acara kehabisan waktunya.

Selepas acara, kami semua masih lanjut berdiskusi. Dari situ mulai mengerti, bahwa Prof Djoko tak hanya jago bahasa dan puisi, beliau berbicara soal DNA, Manusia, Sains, Teknologi dan lain-lain layaknya sang ahli. Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd ialah representasi dari manusia renaisans modern, yang ahli dalam banyak disiplin pengetahuan.

Selepas diskusi, saya mengajak Prof Djoko untuk berfoto bersama sekaligus memberi produk kopi saya yang masih berumur hitungan hari, saya bilang kalau kopi itu dapat membasmi sepi dimuka bumi, beliau tertawa dan berfoto bersama kopi. Sungguh terharu dan bahagia rasannya, tak kusangka beliau mau mempromosikan kopi saya, ditambah beliau tak berat hati memberikan nomor WA-nya ketika saya minta, sungguh beruntung bisa berjumpa dengan sesosok Professor yang sangat egaliter pada semua manusia.

Inilah kisah pertemuan singkat saya dengan Professor yang loyal pada anak muda Millenial, dan kisah singkat ini ditulis di atap semesta, agar seluruh manusia mengenal sosok manusia dan guru yang amat luar biasa.

Terimakasih telah bersedia untuk membaca, khususnya kepada Prof Djoko Saryono, guru besar alam semesta.


(Mohammad Rafi Azzamy, Djoko Saryono, Hasnan Bachtiar)

28 Nov 2020

NB : Saya agak bingung mau memakai kata “professor” atau “profesor”, saya pakai yang “professor” saja, biar ada unsur Multi-kultural.

*) Seorang Pelajar, IG : @rafiazzamy.ph.d | Cp : 082230246303

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *