Era Digital, Sastra pada Era Digital, dan Spesies Sastra Digital (2)

: ZAMAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT SAINS DAN TEKNOLOGI
Djoko Saryono

Mengapa dunia kita menjadi sedemikian tak pasti, tak terduga, tampak semrawut, dan mendua sehingga sulit kita gambarkan dan rumuskan? Itu karena dinamika perubahan luar biasa dahsyat, datang dari sembarang arah, dan juga melesat ke sembarang arah. Ringkas kata, dunia kita — kebudayaan dan peradaban manusia — sedang mengalami tsunami perubahan yang sangat besar dan luar biasa — tengah mengalami transformasi fundamental.

Transformasi fundamental yang dahsyat itu dihela oleh perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi. Dengan kata lain, sains dan teknologi harus diakui menjadi determinan (faktor penentu atau pendorong) transformasi fundamental dan dahsyat kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan dan peradaban manusia dalam pengertian umum sedang bertransformasi secara fundamental dengan dipimpin oleh hikmat sains dan teknologi.

Paling tidak ada 5 bidang sains dan teknologi yang menjadi pendorong atau pemicu utama transformasi fundamental yang dahsyat dan luar biasa. Lima bidang itu boleh dibilang berkembang dan maju begitu pesat berkat ledakan kreativitas, yang melahirkan invensi-invensi dan inovasi-inovasi. Ledakan kreativitas, invensi, dan/atau inovasi (1) ilmu kealaman dasar, (2) bioteknologi, (3) teknologi informasi dan komunikasi, (4) teknologi transportasi, dan (5) teknologi digital harus dicatat telah mendisrupsi dan merevolusi sendi-sendi kebudayaan dan peradaban. Kelima bidang tersebut juga saling berkelindan, berinterseksi, dan berinfusi mempercepat dan memperlanjut transformasi mendasar sendi kebudayaan dan peradaban.

Di antara lima bidang sains dan teknologi tersebut, harus diakui bidang teknologi digital bukan hanya berkembang maju luar biasa pesat-cepat, namun juga berdampak nyata paling kuat dalam kehidupan kita — berdampak konkret pada kebudayaan dan peradaban. Dengan kata lain, teknologi digital berkembang eksplosif dan revolusioner menciptakan (apa yang sering disebut) revolusi digital. Revolusi digital bukan hanya mengalihmediakan dan mengalihwahanakan, tapi juga memperluas dan mengubah lanskap dan ruang kebudayaan dan peradaban.

Lanskap dan ruang kebudayaan dan peradaban tak hanya yang alamiah dan konvensional, tapi juga yang virtual dan digital. Di sinilah terjadi perluasan dan penambahan lanskap dan ruang kebudayaan. Sekadar contoh, augmented reality telah menambah realitas alamiah di dalam sendi-sendi kebudayaan kita. Demikian juga, terutama juga karena didorong pandemi korona, digitalitas dan virtualitas telah menjadi alternatif ‘tanah air’ kebudayaan — setidaknya memperluas ‘tanah air atau dunia’ kebudayaan kita. Kecanduan dan keriuhan kita ber-zoom, meet, dan sejenisnya saat pandemi korona meruyak, telah mempertegas perluasan dan perubahan ‘tanah air’ kebudayaan.

Selain itu, revolusi digital juga mengubah, memperluas, dan memperkompleks lapisan kebudayaan. Lapisan-lapisan simbolik, sosial, dan material kebudayaan telah didisrupsi atau diubah oleh digitalitas dan virtualitas. Pikiran digital, pola pikir digital, dan nilai digital — sebagai contoh — merupakan penambahan realitas simbolik kebudayaan kita. Interaksi virtual, komunikasi virtual, etika digital, dan komunitas digital merupakan realitas sosial yang memperkaya lapisan sosial kebudayaan kita. Platform digital, ekonomi digital, teknologi keuangan, dan kantor digital — sekadar contoh — merupakan lapisan-baru material kebudayaan kita.

Itulah sebabnya, dapat kita katakan bahwa kita sedang berhadapan dengan dan memasuki kebudayaan baru, yaitu kebudayaan digital (digital culture). Hadirnya kebudayaan digital tak berarti dan tak harus diartikan kebudayaan sebelumnya hilang atau diganti. Sejarah telah mengajarkan kearifan kepada kita bahwa galaksi atau semestaan hidup manusia tak hanya berisi satu corak atau lapis kebudayaan. Berkembangnya kebudayaan naskah tidak serta-merta menghancurkan kebudayaan lisan. Begitu juga hadirnya kebudayaan cetak atau literati tak menggusur kebudayaan lisan dan naskah. Di sinilah kita perlu memahami bahwa hadirnya kebudayaan digital tak serta-merta menghancurkan kebudayaan sebelumnya. Memang, mungkin saja menggerus, memoles, dan memperluas kebudayaan sebelumnya. Apa pun konsekuensinya, yang jelas kita sedang memasuki era digital dengan penanda eksistensinya alam digital dan kebudayaan digital.

Bersambung…

2 Replies to “Era Digital, Sastra pada Era Digital, dan Spesies Sastra Digital (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *