Ketika Ibu Menangis

Mario F. Lawi
Pos Kupang, 27 Sep 2010

Satu
USIAKU belum genap sepuluh tahun ketika Ayah meninggal dunia karena serangan jantung. Ria masih menyusu pada Ibu. Dan, setiap hari raya keagamaan -baik Natal maupun Paskah- dan hari ulang tahun Ayah, Ibu selalu masuk ke kamar lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam.

Ketika Ria sudah mulai belajar berjalan, Ibu suka meninggalkannya bermain denganku ketika Ibu masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Saat itu, aku tak tahu apa yang Ibu lakukan di dalam kamar yang terkunci. Mungkin Ibu sedang menyusui Ria.

Saat Ayah masih hidup pun, Ibu seringkali melakukan hal yang sama. Keadaan itu sangat kumaklumi. Sebelum Ria dikandung hingga dilahirkan, bahkan jauh sebelum aku mulai mengerti keadaan rumah, tangan Ayah kerap mendarat di wajah dan tubuh Ibu, sesekali diselingi tendangan yang dijawab Ibu hanya dengan teriakan dan airmata.

Sesudah itu, Ibu akan berlari ke dalam kamar dan mengunci pintunya, sedangkan Ayah menggedor pintunya dari luar dalam keadaan marah. Karena takut ketahuan Ayah, biasanya aku bersembunyi di celah sofa sambil melihat pertengkaran yang kerap mewarnai hari-hari di rumah kami.

Ayah yang masih marah kemudian melampiaskan kemarahannya pada barang-barang apa saja yang ada di dekatnya lalu pergi meninggalkan rumah. Nyaris tak ada lagi yang tersisa di ruang tamu. Semuanya tinggal puing yang sekarat menceritakan tragedi di rumah kami.

Sesekali, ketika Ayah kebetulan tak berada di rumah usai bertengkar dengan Ibu, Ibu memanggilku ke kamar lalu mendekapku hangat. Menciumi kepalaku sambil menangis, melumuri rambutku dengan airmatanya.

Aku tak berani bertanya. Dan Ibu hanya menangis tanpa suara. Terisak pelan seperti orang yang kehilangan pita suara. Aku hanya dapat menghiburnya semampuku sebab saat itu, berhitung hingga seratus pun aku belum mampu.

Tapi aku mulai berjanji, jika aku sudah menjadi orang yang berhasil, yang tak lagi mengemis dari uang jerih payah mereka, tak akan lagi kubiarkan Ayah memukuli Ibu. Akan kuseka setiap airmata yang menetes dari mata Ibu walaupun jika aku harus menyeka airmata itu dengan nyawaku.

Tapi, belum sempat kutepati janjiku, Ayah lebih dulu pergi dihantam serangan jantung. Meninggalkan Ibu, Ria, aku dan sepotong janjiku pada Ibu yang mungkin tak perlu kutepati. Jika Ayah pergi, siapa lagi yang dapat membuat Ibu terluka dan menangis?

Dua
Saat aku duduk di kelas 5 bangku Sekolah Dasar, aku perlahan mulai mengerti mengapa Ibu masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sesekali Ibu memintaku bermain bersama Ria yang mulai rajin menanyakan benda-benda di sekitarnya dan kerap menyebutkannya kembali dengan lidah cadelnya ketika aku menjawab pertanyaannya. Aku tertawa ketika Ria mulai belajar bicara.

Hampir semua kata sudah mampu diucapkannya meski dengan terbata. Ada beberapa yang homofon bila diucapkannya. Misalnya kata `Kelapa’ dan `Mengapa’ selalu Ria ucapkan dengan `Tepapa’.

Sekali pernah Ria menerobos masuk ke kamar Ibu saat Ibu lupa mengunci pintu. Saat itu, aku baru pulang dari paroki setelah menyelesaikan latihan Drama Jumat Agung. Hari itu Ibu tak pergi ke kantor. Paroki hanya berjarak puluhan meter dari rumah kami dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Aku diberi peran sebagai anak seorang Romawi yang kebetulan berada di Jalan Salib. Hari itu Jumat Prapaskah yang Pertama. SD kami diberi tanggungan membawakan Drama Jumat Agung dalam perayaan Jumat Agung nanti bersama SMP dan SMA yang sama-sama bernaung di dalam yayasan Mater Dei.

Kuucapkan selamat siang ketika memasuki rumah. Mungkin Ibu tak mendengarnya. Aku berjalan ke ruang makan. Kulihat Ibu mengusap airmatanya ketika Ria berjalan tertatih dengan kaki mungilnya mendekatinya.

“Tepapa, Bu?” Ria menanyakan keadaan Ibu sambil terbata.
Ibu mengerti. Tapi Ibu tak menjawabnya. Kulihat Ibu kemudian mengusap airmatanya lagi.

Aku melihatnya dari ruang makan. Aku melihat semuanya.
Ibu lalu mendudukkan Ria di pangkuannya lalu menciumi Ria perlahan, seperti yang pernah dilakukan Ibu padaku. Melumuri kepala Ria dengan airmatanya yang masih tersisa di pipinya.

Aku pun beranjak ke kamarku untuk berganti pakaian. Di luar kudengar suara Ani memanggilku, mengajakku ke rumahnya untuk bermain boneka Barbie yang baru dibelikan ayahnya minggu lalu. Ibu juga mendengarnya.

“Novi, latihannya sudah selesai?” tanya Ibu dari kamarnya.

“Sudah, Bu,” kujawab.

“Makan dulu,” Ibu memintaku.

“Iya, Bu.” Kututup pintu lemari pakaianku.
Kuajak Ani masuk untuk makan dan menemaniku. Ani menolaknya. Ia memilih kembali ke rumahnya untuk menunggu kedatanganku. Aku kembali ke ruang makan.

Ibu keluar dari kamarnya sambil menggendong Ria yang sudah terlelap di pelukannya. Mata Ibu memerah. Aku tak berani bertanya.

Aku hanya masih belum memahami, mengapa Ibu masih menangis. Padahal Ayah tak mampu memukulinya lagi.

Tiga
Tangis Ibu tak lagi sesering dulu. Ibu sudah mampu sedikit melupakan alasannya untuk menangis. Alasan yang hingga kini masih kabur dalam bayanganku. Meski sesekali masih kulihat Ibu menangis pada saat Paskah ataupun Natal.

Ibu sebetulnya tak perlu tenggelam dalam kesendiriannya jika saja ia mengijinkan orang lain masuk dalam kehidupannya. Ibu masih terlihat cantik. Banyak teman kantornya yang tertarik pada Ibu. Tapi Ibu ingin membesarkan kami sendiri.

Alasan itulah yang membuat Ibu setia dalam kesendiriannya membesarkan kami. Ria sudah mulai duduk di kelas 1 bangku Sekolah Dasar. Aku sudah kelas 3 SMP. Ujian sebentar lagi.

Tapi sebelum ujian, aku akan merayakan Paskah yang kelima bersama Ibu dan Ria tanpa kehadiran Ayah.
Seperti perayaan-perayaan Paskah yang sebelumnya, seminggu sebelum hari raya Paskah, setiap hari, kami selalu mengunjungi makam Ayah dan memasang lilin.

Maka pada Pekan Suci kali ini pun hal yang sama kami lakukan. Rerampaian telah Ibu siapkan. Tepat setelah misa Minggu Palma, kami berangkat ke pekuburan.

Sengat matahari mencapai puncak ketika kami mencapai makam Ayah. Rerampaian Ibu taburkan. Sebatang lilin Ibu berikan masing-masing kepada Ria dan aku. Ibu menyalakannya lalu meminta kami meletakkannya di kepala makam, tepat di bawah nisan yang bertuliskan nama lengkap Ayah.

Kami mulai berdoa. Ibu yang membukanya dengan Tanda Salib. Kemudian hening. Mungkin Ibu memberikan kami kesempatan untuk mendoakan Ayah dengan hati kami masing-masing. Tapi terdengar lagi tangisan Ibu. Tangisan yang biasa kami dengar hanya di dalam kamar Ibu.

“Hati Ibu belum ikhlas mendoakan ayah kalian, Nak. Ibu belum bisa memaafkannya!” Ibu meraih aku dan Ria ke dalam rangkulannya.

Ria ikut menangis. Kutatap wajah Ibu dalam diam. Sehebat itukah dendam? Kuraih saputanganku untuk menyeka airmata Ibu. Tapi mendadak pandanganku kabur oleh airmata. Tanganku seketika beku. Dalam remang airmata yang mulai menggenangi kelopak mataku, masih kulihat Ibu menangis.
***

*) Mario F. Lawi, seorang penulis dan penyair Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya tentu akrab di telinga para penikmat sastra di NTT. Mario lahir di Kupang, 18 Februari 1991. Ia dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, bidang Sastra Puisi tahun 2014. Buku kumpulan puisinya, Ekaristi (2014) dikukuhkan sebagai buku sastra puisi terbaik 2014 dan ia diganjar Academia Award 2014 kategori Literatur. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, pada 19 Februari 2011. Komunitas ini bergerak di bidang penulisan esai, puisi, cerpen, dan resensi buku. Setahun kemudian, pada 12 Mei 2012, komunitas ini menerbitkan Jurnal Sastra Santarang dan Mario menjadi Pemimpin Redaksi pada jurnal yang terbit rutin setiap bulan ini. Tiga buku puisi Mario adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015). Esai Mario F. Lawi yang sedang Anda baca ini telah dipublikasikan di Harian Timor Express, Minggu 9 Maret 2014.
https://kupang.tribunnews.com/2010/09/27/ketika-ibu-menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *