Puisi-Puisi Sahaya Santayana

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 1

kulepaskan silam di pantai ini
dari kesukaan dan apapun lamunan
berdebur-debur dalam pilu hatiku
yang tak pernah berucap dari jauh

aku termenung membaca kabar
kau dikhitbah samudra seiya-sehidup
merobek kulitku menghunus usiaku
menyatu dengan pasir dan batu-batu

puisiku tumpah di ujung tepi tanah
basah sepenuh kuyup dekapi amarah
berdenyut badan melontarkan teriakan

meski kau tak minta pergi ini dituliskan
turutilah kemauan ombak dan angin
sampai perahumu berlabuh pada maut

Pangandaran, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 2

aku pamit dari hadapanmu
membawa puisi yang ditulis lama
satu-satunya kupunya ada namamu
kujaga di dalam ruang hatiku

aku mengambil jalan sunyi
bukit-bukit sepi tanpa penghuni
pun tanpamu aku tersesat dan samar
menempuh kerelaan-kerelaan

serupa menceritakan nasib sendiri
biarkanlah aku dalam keadaan ini
kaupun paham ke mana puisi ini

sebab penyair harus menahan berat
ingin pada hati dan ketidakberuntungan
yang menyatu di penerimaan hidupnya

Bukit Kacapi, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 3

kertas-kertas melayang di udara
tak pernah tentu bentuk-bentuknya
begitupun hatiku yang tersingkir
tak pernah lagi kuberpaling kembali

begitupun kita yang telah ditentukan
akupun terlalu banyak menghitung
tuntutan hidup bertubi tekanan
tak ada waktu mendampingi hari

aku butuh di dekatmu meski sekali
bayang-bayang begitu menyayat
kalbuku yang perih bersulam rindu

ragamu tertanam di tanah hidupku
yang selalu menyemai tanpa ucap
disirami gerimis dan restu hujan

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 4

musim-musim terus datang bergulir
cerita belum sempat kita abadikan
namun detakmu berdetak di jantungku
yang mengalir jauh sejauh alir waktu

tak ada lagi yang bisa ditahan
selain situasi selalu berubah warna
telanjur tercetak di lembaran hari
dan diriku yang tak tentu pikiran

sebagai penyair patah pengharapannya
berkali-kali jadi jurang kesalahpahaman
tertawa di depan menangis di belakang

aku teguh walau belati menancap dada
serupa memegang utuh kata-katamu
meski kebahagiaan begitu dengki

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 5

medan-medan kulalui tanpa ucap
kesedihan melintasi jurang-jurang
di jalan setapak berlumpur lunta
pelan-pelan mulai meninggalkanmu

langkahku terhenti di bukit kesekian
menyaksikan senja benamkan sinarnya
tergantikan sunyi samar pandang
di mana bahasaku jadi lain bunyinya

aku tak mendengar sahut keinginan
menggema murni di tebing-tebing
menitipkan belaian cemasmu padaku

hanya pebukitan yang berbaris
membentuk jalur-jalur penyesalan
memanggul air mata dan akal buntu

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 6

kususuri malam tanpa lentera
menyerahkan diri pada hutan gelap
yang lebat meraba-raba langkahku
merasakan perasaan yang bertalu-talu

di pedalaman tak berujung
aku menahan luka lebam perjalanan
meresap di pakaianku yang lusuh
sepanjang jalan kesia-siaanku

tak ada penghuni untuk bertanya
menempatkan tenang istirahat sejenak
aku seakan ingin berlindung di hatimu

berulangkali kudapati jebakan-jebakan
segala macam timpaan memar
pincang tak bertopang

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 7

rute tanpa nama banyak kulewati
kian hari kering mulutku tak basah
apapun menahan termasuk keteguhan
mengalir hingga ke sungai kepercayaan

kurenangi badan tanpa hambatan
merelakan hati dihanyut arus deras
pantang ke pinggir tepian dangkal
dan harapan tersangkut di batu-batu

menyayat-nyayat dalam dagingku
bersama pelarian-pelarian yang bisu
berpacu dengan perih air mataku

menyatu di sepanjang bait gelombang
regas di ujung muara lepas ke lautan
hilang tenggelam ke palung kedukaan

Sagara Anakan, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 8

aku terkulai di bawah matahari
terdampar di selintang pulau sepi
ombak telah mengantarkan karamku
melihat kesendirian diri sendiri

di badanku melekat butir pasir
sengatan panas dan basah keringatku
semakin gamang dalam kesakitan
sejak berhari tempuh pelayaran

kau yang sanggup menyelamatkanku
kapal tak satupun lewat berlabuh
pada hitam legam apa adanya ragaku

bahasa-bahasa sinyal dari kayu
kubakar jadi asap yang memanggilmu
sampai tak bersisa jadi tiupan debu

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 9

aku menahan lapar pada apapun
getaran tak bisa kusembunyikan
di pertemuan yang tak pernah ucap
kata-kata dibungkam keramaian

pernah sekali waktu kuhampirimu
sehabis tirai-tirai gerimis turun
di seluas utuh lapangan silamku
sengaja rahasia dan kaupun tahu

kugariskan puisi tetapi tak mengena
memohon serunduknya rambut
meratap sesungguh mata mengharap

aku tergeletak menanggung air mata
basah sepenuh sedih di garis tangan
adalah rontaan-rontaan dalam hatiku

Tasikmalaya, 2020.

DI SEKUJUR SURAT TERAKHIRKU 10

kutulis namamu sekali lagi
sebelum berangkat dipisah musim
sebuah kejujuran murni kepadamu
masih bersarang di dalam hatiku

kusebut namamu sekali lagi
sebab kau telah mengunci rapat
sehingga dilarangnya aku masuk
makin tersayatlah derita tulisanku

biarlah tuhan jadi penentu jalan
juga kaupun tak dapat mengubah
begitu malang puisi kubuat kaubacakan

pergantungan hatiku yang terakhir
lepaslah sudah yang memadu lalu-lalu
kukubur telak rasa dalam di batinku

Tasikmalaya, 2020.


Sahaya Santayana, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Desember 1995, menulis sejak 2014 di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan menetap di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dan bekerja sebagai jurnalis di gemamitra.com Tasikmalaya, puisi-puisinya banyak dimuat di beberapa media cetak dan online yang tersebar di seluruh Indonesia juga antologi puisi bersama baik Nasional maupun Internasional. Email : sahaya.santayana@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *