Sajak-Sajak Djoko Saryono

WIRID HUJAN DI KEBUN AYAHKU

Begitu berirama dan bernada mistis, musim menjatuhkan butiran-butiran hujan di kebun ayahku. Butiran-butiran itu bagai tasbih indah sedang diwiridkan semesta. Kubayangkan itu sebagai wirid hujan di kebun ayahku — dan dia terguyur mesra wirid hujan itu — karena ayahku terus saja merawat dan menyiangi tanaman cabe dan jeruknya kendati hujan turun makin lebat sore ini. Betapa total dan tulusnya dia mencintai cabe dan jeruk tanamannya hingga membiarkan dirinya di dalam rintik hujan sore ini — dan tak hendak berteduh barang sebentar. Mungkin dia sedang bahagia di dalam wirid hujan — yang menderaskan doa-doa yang bikin cabe dan jeruknya lumayan subur dan mulai berbuah.

Setelah wirid hujan usai, baru ayahku berteduh di gubuk sederhana di situ — mengakhiri kegiatan merawat tanaman cabe dan jeruknya. Di situ dia bercengkerama dengan dua kawannya yang setia menemani saban hari — sambil berdiang kayu bakar dan menyeruput kopi, mereka berbincang tentang berkebun di kota yang lapar ruang terbuka. Itulah aktivitas ayah hari ini — setelah tadi pagi belajar, membaca dan menulis di meja kesayangannya.

2020

SAJAK CINTA

cinta itu, kau tahu,
adalah kabut putih
di langit musim hujan
menjelma bayangan laut
bergelombang dan berkarang
membuat kita karam
jauh ke dasar
mencari kehangatan
seperti Bima tenggelam
di dasar bersua Dewa Ruci
mendapat rahasia sejati hidup

cinta itu, kau tahu,
adalah kabut putih
menerabas hutan
mengirim rasa gigil
kepada daun-daun
dan kita pun
memperkuat kemesraan
biar menyala api kehangatan
seperti para pendaki
menyalakan unggun
buat berdiang
memulihkan gairah kehidupan.

2020

ELEGI

wajahmu
juga namamu

dan telah kulupakan
satu demi satu rayuan
yang ada: hanya hardikan
yang datang: cuma pukulan

(kau menangis?
kutunggu air matamu
tapi yang kulihat darah berjatuhan
menenggelamkan bermacam harapan)

sebelum pergi
memang aku berjanji
dengan kata-kata surgawi
agar kau mengantarkanku suka hati
sampai di sini: tempat tinggi keramat
di mana orang terlihat sebesar bangsat

(“kenapa tega?!”, labrakmu
dan suaramu terbentur pintu
telingaku yang dijaga serdadu
dan mereka segera menangkapmu)

kita bukan lagi kekasih
dan kau cuma angka tak bersih
dan aku bayang tengah bermimpi
masa depan rancanganku sendiri

2020

KEBERANGKATAN

setelah diam-diam
dilembur dan diperbaiki
siang malam dan di hari pakansi

kereta maut itu pun
diberangkatkan
menyeret gerbong-gerbong
tak jelas jumlah dan mutunya
saat
malam begitu berat
dihajar pandemi
dilahap sepi

orang-orang terperanjat
terkesiap
“ohh…betapa nekat!”,
seorang tua bermunajat

teriakan dibalas hujat
kekerasan dirayakan
begitu hikmat
mulut hilang tuah bijak

kereta maut itu pun
melaju dan melaju
entah kemana
menabrak apa saja
keluar rel berkali-kali
masinis tak peduli

aku cuma kelu
termangu
memandang gerbong
koyak moyak berlalu
memandang orang-orang
terkapar ditabrak lokomotif
dikemudikan ugal-ugalan

di negeri apakah aku?
kereta maut itu
melindas pertanyaanku
menabraki rel dari waktu ke waktu

2020

RUMAH

Bagaimana aku bisa menemuimu? Bercakap nasib baik atau buruk dan kau mendengar — mendengarkan suaraku, tentu. Tapi, kau sibuk bercakap sendiri — dengan diri sendiri. Dengan mimpi-mimpi. Mungkin ilusi-ilusi. Mungkin teman-teman sehati. Tentang dunia yang akan kau kakangi — tentang kebaikan hati menurut takaranmu sendiri.

Pintu-pintu rumah. Rumahku. Sudah kau tutup, tanpa melihatku. Begitu rapat. Rapat sekali. Sedang di situ aku telah lama menunggu — kau bukakan pintu. Sedang aku sekian waktu sudah mencari-cari kunci — tak juga kudapati. Di mana kunci? Telah kau buang ke kali atau belum jadi atau sang ahli masih menghaluskan dengan siasat seorang asasin berani mati?

Ketukan tanganku tak berarti. Telah kuketuk pintu berkali-kali. Tapi sunyilah terberi — sepi menghajar, menampar hati. Maka kugedorlah pintu — kudobrak daun pintu, dengan kekuatan baru. Murkalah kau! Murkamu begitu licin ketimbang Sengkuni mengakali Bambang Ekalaya. Meminjam tangan para kurcaci, aku kau pukuli, kau gampar tanpa ingat bahwa kita sesama, bertuhan sama.

2020


______________
Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd, sastrawan sekaligus Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *