MENANAM DI KEBUN-TUAN
Seperti sebuah mimpi tak selesai
Disergap pagi malampun hadir lagi
Malah bergelimang silang menyilang
Membentuk lorong gelap sangat
Satu pohon bernama entah
Rerantingan tinggal tersisa
Tak berair tak bercahaya
Betapa kering menghisap
Seperti menanam serabuk tak cukup
Segunduk tanah menguap meretak
Ditimpa hujanpun tak mengatup
Di kebun-tuan siapa sanggup berdaya
2020
LAGU KENANGA
Sepi malam ini suara burung
menggariskan jeritnya pada hening
Sedemikian senyap cahaya lampu jalan
Sepi malam ini firasat gelap
bergulir dari kelopak kenanga singgah
merayapi rerantingnya memudarkan
wanginya timbulkan gundah
Ruh melangkah perlahan lalu terbang
Singgah dibulan, sendiri perih
Sepi malam ini suara mati
Bagi siapa geriap kehidupan
Maut belum lagi tentukan
kepastian
2020
JINGGA
Sesiang tadi hari berupa jingga
Mungking sedang gundah
Ataukah tak ada sapa melintas
Warnanya sungguh pucat menanti
Dimenit kesekian suara azan kumandang
Selaksa senyap bergulir berganti
Ah, jingga kau isi seharian dengan sendu
Dengan meregang rupa seperti kelopak
Bunga mawar tak hendak mau luruh
Sampai azan usai aku menyantap puding
Berupa jingga pula, tak lupa doa doa
Lalu penghabisan, membasuh semua tubuh
Agar tak berupa jingga
2020
HADIAH DARI PACAR
Pacarku bernama Siti, parasnya polos
Hatinya pelontos, seringkali bicara los
Suatu hari dia bilang padaku
“Mustinya, hari ini Mas membawakanku
resoles kesukaanku, karena aku ngidam”
Karena kepolosannya, setiap keinginan
yang tidak kesampean, ia selalu dengan
enteng mengatakannya
Suatu harinya lagi, aku membawakan
dia resoles yang disukainya, tanpa
berkata apapa kuletakkan makanan
itu diatas meja didepan dia duduk,
menatapnya sekilas dia berkata
: “Aku sudah tidak ngidam, anak kita
sudah besar, mustinya berikan dia mimpi
yang bisa didekapnya sepanjang
perjalannya menuju wujud”
2020
MENGIRANGIRA SUARA
(dari ruang sempit)
Suara mengabarkan apa lagi
Setelah kemarin pisau dan angin
Berdesir dalam benak bertumpuk
Menancap pada dinding prasangka
Tak satupun tepat tancap
Baik angin maupun pisau
Sama sama hilang pukang
Menyusup lagi entah dimana
Segerombolan satu genggam angin
Segerombolan dua genggam pisau
Saling mendoa, saling mengumpat
Suara mengabarkan apa lagi
Esok, bahkan lusa
2019
Dody Yan Masfa, lahir di Surabaya 15 Juni 1965, menulis puisi adalah kegemarannya sejak remaja, sebagai ngudo roso, katarsis, dan meneliti diri sendiri sejauh mana ia memiliki kepekaan rasa keindahan tentang bahasa tulisan. Prestasi karya bukan menjadi prioritas bagi dirinya. Menekuni teater sejak usia muda, sampai sekarang aktifitas itu menyeretnya untuk terus menulis. Dody adalah aktor dan sutradara teater Tobong. No Kontak: 085732439089 email : dodyyanmasfa@gmail.com