CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (1)

Djoko Saryono

Citra (image) adalah gambar atau gambaran mental. Secara teknis, citra berarti gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu. Sesuatu di sini dapat berupa manusia, masyarakat, organisasi, barang, dan lain-lain. Sebagai contoh, citra barang-barang konsumtif adalah gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang barang-barang kon¬sumtif, antara lain busana, kosmetika, dan penganan (snack) di pusat jajanan (food centre). Citra tentang adibusana, sebagai contoh lain, merupakan gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang – misalnya, golongan menengah atas – tentang pakaian-pakaian atau model-model pakaian yang dianggap luhur, adiluhur, dan tidak ada duanya.

Atas dasar hal itu, citra manusia berarti gambar atau gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang manusia. Orang Barat (Eropa) khususnya para kolonialis atau orientalis, misalnya, memiliki citra tentang masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa yang malas bekerja atau mengidap kemalasan. Dalam gambaran mental orang Barat, masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa adalah orang-orang yang tidak dapat diajak maju seperti orang Barat. Demikian juga pada umumnya orang Barat modern memiliki citra tentang Islam atau agama Islam yang fundamentalis, teroris, dan “senantiasa membuat onar dunia”. Sebaliknya, pada umumnya orang Islam atau Timur pun memiliki citra tentang orang Barat yang agresif, sekularistis-ateis, “kafir”, dan “serakah” (Huntington, 1993). Ini menunjukkan bahwa citra merupakan bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia. Dengan demikian, citra tentang manusia menjadi bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia tentang manusia lain.

Tidak mengherankan, seseorang atau sekelompok orang selalu berusaha membangun atau membentuk citra dirinya dan manusia lain. Untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain dipergunakan berbagai unsur atau bidang. Pendidikan, pekerjaan, kepribadian, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan gaya hidup merupakan unsur penting yang lazim dipergunakan untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain. Misalnya, citra perempuan yang modern, maju, dan tidak rendah diri (inferior) selalu ditandai oleh pendidikan yang tinggi, pekerjaan di sektor publik, berkepribadian mandiri, berkedudukan setara dengan laki-laki di dalam rumah tangga, kebebasan bergaul dengan orang lain, dan gaya penampilan yang selalu mutakhir dan kekinian (trendy dan up to date). Demikian juga citra tentang laki-laki yang menjadi idaman perempuan ditandai oleh kegagahan, kejantanan, keperkasaan, dan kelengkapan lahiriah yang serba mutakhir [serba trendy dan up to date]. Jadi, bangunan citra manusia itu ditegakkan berdasarkan unsur-unsur yang selalu dipandang penting sebagai penopang keberadaan manusia. Lantas bangunan citra ini dianggap sebagai penanda keberadaan manusia yang dapat difungsikan untuk pemandu, rujukan, tolok ukur ucapan, tindakan, dan perilaku manusia.

Citra manusia tersebut dibangun atau dibentuk dalam seluruh subsistem budaya. Dengan kata lain, pencitraan manusia dilakukan melalui subsistem budaya. Bukan hanya subsistem sosial dan material saja yang dipakai untuk membangun atau membentuk citra manusia, melainkan juga subsistem mental-kognitif atau lambang yang terlekati makna dan nilai. Sistem sosial dan sistem material budaya memang lazim dipakai sebagai wahana pembangunan atau pembentukan citra manusia. Hal ini terlihat dalam kehidupan keluarga dan kehidupan sosial serta kepemilikan harta benda. Akan tetapi, sistem mental-kognitif atau lambang budaya juga menjadi wahana pembentukan citra manusia yang sangat penting walaupun sampai sekarang masih jarang diperhitungkan oleh pengkajian-pengkajian keperempuanan atau teori gender. Hal ini bisa dilihat dalam candi, patung, kesenian, teks, dan sastra. Sudah sejak lama candi, patung, kesenian, teks, dan sastra menjadi wahana pembentukan citra manusia. Rilief candi Borobudur, patung Ken Dedes, teks keilmuan, dan sastra Melayu, misalnya, selalu menampilkan citra tertentu tentang manusia karena semuanya selalu dijadikan wahana pembentukan citra manusia.

Semenjak dahulu sampai sekarang, sastra telah menjadi salah satu wahana penting pembentukan citra manusia sekaligus teks citra manusia. Dikatakan demikian karena sastra telah menjadi gelanggang pencurahan kondisi-kondisi manusiawi atau representasi ruang publik terutama bagi sastrawan . Oleh karena itu, sastra senantiasa memancarkan dan menampilkan citra manusia. Madame Bovary (Flaurbert), Keindahan dan Kepiluan (Yasunari Kawabata), Mahabharata (Viyasa), Ramayana (Walmiki), dan lain-lain senantiasa memancarkan dan menampilkan citra tertentu tentang manusia baik citra positif maupun citra negatif. Salah satu yang secara kuat dan menonjol telah dipancarkan dan ditampilkan oleh sastra ialah citra perempuan. Banyak sekali teks wacana sastra yang ada di dunia ini yang secara kuat dan menonjol memancarkan dan menampilkan citra perempuan. Teks-teks sastra klasik (lokal) Indonesia, misalnya Roro Mendut, Bangsacara-Ragapadmi, Jayaprana-Layonsari, Kaba Malin Kundang, Serat Panitisastra, dan Serat Waraiswara, secara kuat dan menonjol memancarkan dan menampilkan citra tertentu tentang perempuan di dalam konteks dan dialektika budaya lokal Indonesia. Hal ini menandakan bahwa teks-teks klasik (lokal) Indonesia menjadi wahana dan wujud ekspresi, eksternalisasi, dan integrasi hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan tentang perempuan Indonesia.

Bersambung…

One Reply to “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *