CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (4)

: Genealogi Sosial

Djoko Saryono

Citra perempuan-perempuan Indonesia dari golongan menengah-atas juga terpan-car dan tampil di dalam teks novel-novel Indonesia. Perempuan-perempuan dari golongan menengah-atas ini adalah para perempuan yang mengenyam pendidikan relatif tinggi, secara ekonomis tidak berkekurangan, secara sosial-kultural relatif terpandang, dan secara genealogis memiliki garis keturunan dengan orang terpandang.

Perempuan-perempuan dari golongan menengah-atas seperti ini dicitrakan antara lain di dalam teks novel Sitti Nurbaya, Burung-burung Manyar, dan Burung-burung Rantau. Dalam Sitti Nurbaya, citra perempuan dari golongan menengah-atas ini tampak pada diri tokoh Putri Rubiah. Dia adalah perempuan keturunan bangsawan, mengagungkan etik kebangsawanan, dan yang secara sosial relatif terpandang.

Kemudian dalam Burung-burung Manyar, citra perempuan dari golongan menegah-atas ini terepresentasi dalam diri tokoh Atik (Larasati) dan Bu Antana. Atik, anak pasangan Pak Antana dan Bu Antana, mengenyam pendidikan tinggi hingga doktor, menduduki jabatan penting di sebuah departemen luar negeri, dan memiliki kesadaran sekaligus daya hidup mandiri. Ada pun Bu Antana adalah perempuan yang masih ningrat Mangkunegaran, mengenyam pendidikan tinggi, dan bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang relatif penting.

Selanjutnya, dalam teks novel Burung-burung Rantau, citra perempuan dari golongan menengah atas ini terepresentasi dalam keluarga Letnan Jenderal Wiranto terutama Yuniati, Anggraini, dan Marineti Dianwidhi. Yuaniti — istri Wiranto dan ibu Anggraini dan Neti — secara geneologis masih tergolong ningrat Jawa, secara sosial relatif terpandang, dan secara ekonomis tidak berkekurangan apapun. Anggra ini adalah perempuan karier yang bergerak di sektor bisnis, secara ekonomis tidak berkekurangan suatu apapun (malah bisa disebut kaya raya), dan memiliki mobilitas fisikal yang luar biasa, sedangkan Marinetti adalah perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi (dia sarjana antropologi), memiliki kesadaran sekaligus daya hidup mandiri, dan bekerja sebagai pekerja sosial yang menyantuni orang-orang yang bertempat tinggal di kampung kumuh.

Dibandingkan dengan citra perempuan dari golongan bawah, citra perempuan dari golongan menengah dan menengah atas jauh lebih banyak dan menonjol di dalam teks novel-novel Indonesia. Dengan kata lain, teks novel-novel Indonesia – baik novel yang terbit sebelum perang mau-pun novel yang terbit sesudah perang – merepresentasikan citra perempuan dari golongan menengah dan menengah-atas secara kuat dan menonjol.

Dari situlah dapat dikatakan bahwa novel-novel Indonesia sebelum perang dan saat perang kemerdekaan justru lebih banyak, kuat, dan menonjol merepresentasikan perempuan-perempuan dari golongan menengah dan menengah atas daripada perempuan-perempuan dari golongan bawah. Teks novel Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, dan Belenggu, misalnya, pada dasarnya merepresentasikan perempuan golongan menengah dan menengah-atas sehingga novel-novel tersebut tampak memancarkan dan menampilkan visi, vision du monde, golongan menengah dan menengah-atas.

Sementara itu, novel-novel Indonesia sesudah perang kemerdekaan di samping melanjutkan tradisi novel-novel sebelum perang ,yaitu merepresentasikan perempuan golongan menengah dan menengah-atas, juga lebih banyak dan kuat merepresentasikan perempuan golongan bawah – baik yang menjadi tokoh utama maupun tokoh bawahan. Oleh sebab itu, novel-novel Indonesia sesudah perang dapat dikatakan memancarkan dan menampilkan visi, vision du monde, perempuan dari berbagai golongan sosial secara lebih berimbang, setidaknya lebih bervariasi.

Bersambung…

One Reply to “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *