Sastra Kita: Manifesto Kreatif Menulis

MAKAR: Malam Apresiasi Karya


Muhammad Yasir

Alangkah ironis apabila peradaban dewasa yang digadang-gadang menjadi tonggak kemajuan kehidupan pada sekte sosial, ekonomi, dan politik secara sengaja mengindahkan Sastra Kita atau mengumumkan anggapan bahwa Sastra Kita tidak memiliki relasi kuasa atas cita-cita abstrak itu. Atau bahkan, mengklasifikasikan bahwa Sastra Kita “hanyalah(?)” salah satu dunia yang bolak-balik bicara tentang imajinasi, kreatifitas, dan profit-non-kualitas karya belaka. Jika demikian, maka (lebih baik) kita yang menahbiskan diri terlibat dalam Sastra Kita dengan komitmen individu bersama-sama membunuh identitas dalam Sastra Kita. Apakah kita memiliki keberanian itu? Sebagai bangsa terjajah, tentu kita menyukai pertimbangan-pertimbangan liris atau diam dan hanyut dalam arus.

Ada dua akar Sastra Kita hingga menjadi sedemikian menyedihkan ini, yaitu tidak terbendungnya kanonisasi terhadap seseorang yang memiliki relasi kuasa dengan kepentingan politik praktis dan melahirkan pembodohan sejarah Sastra Kita yang kemudian diamini sebagai sesuatu mukjizat terbarukan (red. Denny JA (saja, yang lain menyusul)) dan dekadennya mutu dan pola pendidikan Sastra Kita di universitas-universitas impoten—yang mengganti Fakultas Sastra menjadi Fakultas Budaya–menyebabkan sarjana-sasrjana Sastra Kita tidak memiliki komitmen dan sikap politik yang jelas dalam menjalankan fungsinya sebagai sarjana Sastra Kita. Faktanya, mereka lebih menyukai menulis hal-hal yang tidak perlu digawat-gawatkan seperti “hujan yang selalu gugur ke bumi” atau “mengupas buah apel dengan cinta” atau mereka lebih menyukai membaca quote-syindrome di media kapitalistik.

Kondisi demikian membuat Kreatif Menulis yang merupakan fokus mewadahi kamerad-kamerad yang sejatinya memiliki keinginan belajar menulis dan mengetahui Sastra Kita secara jujur dan apa adanya tanpa perlu menanamkan dalam kepala kamerad-kamerad ini estetika dan poetica, karena pengalaman historis mereka dalam menjalani kehidupan, mengamati persoalan, menekankan diri melihat suatu masalah, dan marah ketika penindasan menjadi pilihan untuk melanggengkan kekuasaan-lah yang menjadi tonggak mereka dalam berkarya.

Daripada itu, Kreatif Menulis memberikan nafas panjang kepada kamerad-kamerad yang tergabung di dalamnya agar memahami fungsi dirinya sebagai individu (manusia) maupun penulis yang jelas. Artinya, Kreatif Menulis tidak hanya menjadi ruang belaka, tetapi jauh lebih dalam dan kritis lagi, yakni penggerak permanen dalam proses kreatif kamerad-kamerad. Kemudian, ke depan, Kreatif Menulis pada angkatan ke-10 akan menyelenggarakan kongres pembentuk lembaga kebudayaan progresif yang berfokus untuk menggantikan peran dan fungsi lembaga kesenian (bukan kebudayaan) daerah yang memilih pasif dan lebih suka menjadi parasite dalam lingkaran setan kekuasaan tanpa memiliki keberanian untuk bicara bahwa kebijakan-kebijakan yang dilahirkan semata-mata menguntungkan subversifitas pemerintah dan penguatan kapitalisme.

Catatan merah untuk kita bersama bahwa Kreatif Menulis yang dilahirkan di Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) pada hari Minggu, 8 November 2020 dengan 10 orang kamerad-kamerad intelektual bukan merupakan milik individu dan terafiliasi partai politik kelas bandit maupun mahasiswa. Karenanya, komitmen dalam tubuh Kreatif Menulis tidak bisa diklaim atau dikontaminasi kepentingan siapa pun dan lembaga mana pun. Demikianlah saudara-saudara sekalian.

Sampit, 16 Desember 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *