PUISI ADALAH ENERGI

Mengingat Pelopor Puisi Baru Jepang, Takamura Kotaro (1883-1956)


Mashuri *

Pepatah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ sangat tepat menggambarkan sosok Takamura Kotaro. Kiprah dan dunia yang digelutinya nyaris menapaktilasi sang ayah. Istilah Jawanya: kacang ora ninggal lanjaran.

Siapakah doi tersebut? Takamura Kotaro dikenal sebagai bapak puisi kontemporer Jepang. Selain pelopor puisi anyar, ia juga pelopor seni patung modern di Jepang —ia lebih suka dianggap sebagai pematung daripada penyair. Ayahnya, Takamura Koun, dikenal sebagai pematung terkemuka, tentu sebagai penyair juga.

Kotaro lahir di Tokyo, 13 Maret 1883 dan wafat juga di Tokyo, 2 April 1956. Buku puisi pertamanya berjudul “Dotei” dirilis tahun 1914. Setelah itu, terbit beberapa buku lainnya. Adapun buku puisinya “Chiekosho”, rilis tahun 1941 adalah rekaman cinta sang penyair pada isterinya Naganuma Chieko. Perempuan jelita itu dinikahi sang penyair tepat pada tahun terbit buku puisi pertamanya. Sayangnya, si isteri kemudian gila, lalu bunuh diri pada 1938. Dengan demikian buku “Chiekosho” adalah monumen cinta sang penyair.

Doi dipandang sebagai penyair modern Jepang yang paling mewakili kesadaran Jepang. Wawasan estetikanya berakar pada budaya dan pandangan hidup Jepang. Meski demikian, wawasan estetikanya dipandang sebelah mata oleh sarjana Barat. Namun kedudukannya sebagai penyair dalam sastra Jepang demikian penting dan istimewa. Pasalnya, dia adalah penyair pertama Jepang yang dengan gigih menentang naturalisme dan tidak menyukai imajisme. Baginya, kodrat puisi lebih dari sekadar fotografi. Puisi adalah energi.

“Esensi puisi tidak terletak pada makna yang dikandungnya, walaupun makna tetap penting dalam puisi, tetapi pada ungkapan-ungkapannya yang mampu mengalirkan semacam tenaga listrik dari dalam dirinya,” kira-kira begitulah salah satu pandangannya ihwal puisi. Selain itu, beberapa pandangannya tentang puisi sangat maknyus.

Sarjana Barat tidak begitu mengapresiasi sajak-sajak Kotaro karena dianggap kurang kaya imajinasi. Memang, pada umumnya, sajak-sajaknya terkesan pelit imajinasi dan begitu bersahaja —ciri yang berakar pada sastra lama Jepang. Namun, kritikus Jepang menilai sajak-sajaknya sangat berbobot, memiliki kesegaran dan merintis jalan pembaharuan.

“Memang terdapat perbedaan mendasar antara sajak saya dan sajak modern Barat. Saya mengagumi kebudayaan dan sastra Barat tetapi saya tidak dapat mengikuti jalannya dan menirunya begitu saja,” demikianlah wawasan puitika Takamura Kotaro.

Menjelang akhir hayat, di tengah munculnya berbagai kelompok penyair, gerakan, dan aliran sastra di Jepang pasca-Perang Dunia II, si doi mengambil posisi netral sambil memandang kebangkitan kembali puisi Jepang di atas jejak kekalahan perang dan realitas hidup yang getir.

Berikut ini contoh nukilan sajak Takamura Kotaro, yang dikutip dari kumpulan puisi Jepang, “Kehancuran dan Kebangunan” (diterjemahkan oleh Abdul Hadi, WM., 1987, hal. 44–45), berjudul “Berdua di Bawah Pohon”.

Itulah gunung Adatara
yang berkilauan adalah sungai Abukuma

Duduk seperti ini, mengucap sepatah kata,
Aku merasa pikiranku setengah lelap dalam tidur
hanya hembusan cemara dari masa lampau bertiup
menerbitkan kehijauan

Dalam pemandangan yang luas di awal musim dingin ini
Diam-diam aku terbakar, menggenggam tanganmu–
biarlah tak kusembunyikan rasa riang ini
dari awan putih yang memandang ke bawah

Pohon mur menjulang dari jiwamu
Oh ke kedalaman cinta yang bagaimana kau bawa aku
Harapan selama sepuluh tahun, musim-musim yang
kita jalani bersama

turun padamu hanya dalam ketakterhinggaan wanita
Asap apa yang mengepul dalam ketakterhinggan itu,
apa yang membersihkan aku dari keinginan,
siapa yang menyirami hidupku yang sulit dengan
kemudaan

Mengelak seperti roh jahat, digenggamnya
perubahan yang tak henti-henti.
***

Demikianlah. Kapan-kapan sajak utuhnya, disambung lagi.

On Siwalanpanji, 2018–2021


Ilustrasi foto: penyair dan karya patungnya.
Sumber rujukan: “Kehancuran dan Kebangunan, Kumpulan Puisi Jepang”, diterbitkan Pantja Simpati Jakarta, 1987, (dihimpun dan diterjemahkan Abdul Hadi W.M.) dan sumber lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *