Komentar-komentar atas Pameran Tunggal “Superficial Reader” Dedy Sufriadi di Jogja Gallery


Komentar Hendri Yetus Siswono di dinding fb:
“Secara umum tema yang saya angkat ini menyatakan bahwa kita semua adalah pembaca yang dangkal, karena adanya pergeseran literasi dari analog ke digital dalam 10 tahun terakhir,” ujar Dedy kepada Tribun Jogja, (Ini alasan Dedy Sufriadi yang menghancurkan 5 Ton Buku dengan Air di Jogja Gallery), 15/12/2020.
___________
Menghancurkan 5 ton buku untuk menyampaikan ‘katanya’ rasa cinta kepada buku, dan mirisnya perubahan dari buku kertas ke buku digital.
Sedangkan kita tahu, begitu banyak orang dan komunitas TBM yang kekurangan buku bacaan, dan berharap donasi buku-buku. Aku ingat pelajaran yang disampaikan Rendra, dalam kesenian dilarang ‘destruktif’, hanya karena mengejar ‘estetika’. Beliau mencontohkan, ada seniman yang membuat pertunjukan keluar dari gentong yang di dalamnya berisi putih telur. Seniman ini mau menggambarkan bagaimana bayi keluar dari rahim. Dia menggunakan ratusan telur untuk membuat lendir/plasenta pada tubuhnya. Menggunakan ratusan telur hanya untuk mengejar ‘estetika’, sedangkan kita tahu begitu banyak orang miskin yang susah makan. Ini membuat badan misqueen saya meronta-ronta. Ini yg dinamakan destrukrif dalam kesenian. Seniman adalah orang yang menempa dan ditempa dalam disiplin olah tubuh, olah rasa, olah pikir, dan olah batin. Seharusnya Seniman itu orang yang peka terhadap keadaan sekitar, nah di mana rasa kepekaan itu?
Sama seperti pertunjukan seni ‘instalansi’ menghancurkan 5 ton buku, sedang kita tahu banyak saudara-saudara kita, dan taman baca masyarakat yg membutuhkan buku. Aku tidak miris dengan perubahan buku analog ke digital, justru yang membuatku miris penghancuran 5 ton buku kertas. Kembali jiwa miskin saya melolong-lolong membaca lima ton buku dihancurkan. Jadi konsep estetika macam apa yang mau disampaikan Dedy Sufriadi?”
***

Komentar lain di website SI, atau berikut linknya: http://sastra-indonesia.com/2021/02/buku-pun-jadi-bubur/

Komentar Deda Ibrahim:
“Kalau tujuan pameran seni Dedy S. adalah kritik terhadap minat atas buku yang menurun, karena dan kegiatan artifisial melalui teknologi internet, seperti online shopping dan lainnya, mengapa bukan menghancurkan alat elektronik, seperti smartphone? Kritik terhadap gadget lebih mengena, jika memang seperti di atas uraian Dedy.
Kekhawatiran Dedy yang ditumpahkan pada karyanya yang kurang mengena ini, menurut saya, adalah ciri ekspresi seni setengah hati dari Dedy. Dedy sadar kita butuh gadget. Dedy juga sadar dampak buruk dan artifisial dari teknologi internet itu sendiri. Mungkin di alam bawah sadarnya, ada konflik yang dialami Dedy, berkaitan dengan (tidak) menggunakan teknologi internet dan gadget.
Bahasa sederhananya adalah dipakai, makan tuan; dibuang, sayang.”
***

Komentar Chai Siswandi:
“Mau atas nama seni atau apa. Menghancurkan buku itu bangsat!
Meski ada perubahan dari kertas ke digital, kesenjangan literasi di Indonesia itu masih ada, banyak daerah, banyak anak-anak, yang tidak punya akses terhadap buku, ini malah merusak begitu banyak buku. Otak sempit!”
***

Berikut ini beberapa tanggapan Dedy Sufriadi di dinding facebook Hendri Yetus Siswono:

Dedy Sufriadi:
“Terima kasih atas semua kritik dan saran dari teman seniman maupun dari komunitas lain. Saya sdh menjelaskan hal ini di banyak forum dunia maya. Kemaren ada rencana diskusi terbuka pada penutupan pameran. Tetapi sayang sekali terpaksa dibatalkan, karena ada psbb di Jawa dan Bali. Memang karya yg saya buat sangat paradox… saya mengaku pecinta buku, tapi malahan menghancurkan hampir 6 ton buku… buku-buku yg saya hancurkan adalah buku yg saya kumpulkan dari pengepul buku di jogja selama berbulan-bulan. Buku tersebut adalah buku bekas yang akan dikirim ke pabrik untuk didaur ulang… sebagian besar adalah buku pelajaran sekolah yg kurikulumnya sdh kadaluarsa. Dan sebagian lagi buku-buku laporan dll, yg intinya sdh tidak dipakai lagi… buku-buku lain tetap saya pilih, yg masih bisa dibaca dan bermanfaat masih tersimpan di perpustakaan dan gudang saya.”

“Tidak ada maksud sedikit pun untuk melecehkan atau menghina pecinta buku, penerbit, dan komunitas lain. Karya ini dikonsep setahun lalu, melibatkan banyak pihak… mulai dari perencanaan sampai di pameran dikerjakan selama 3 bulan non-stop… semuanya sdh diperhitungan sebab-akibat, pro dan kontra dari pihak lain… tapi percayalah saya tidak akan membuang uang ratusan juta dipamerkan tersebut untuk hal yang sia-sia. Dari awal saya berharap semua pihak banyak yg terketuk hatinya pada persoalan pergeseran literasi ini. Saya sangat senang sekali dengan tanggapan beragam dari teman-teman pecinta buku… ternyata masih banyak teman-teman yg tergugah dengan persoalan ini.”

“Polemik beberapa bulan ini terjadi dikarenakan sebagian teman-teman yg menulis tidak melihat langsung karyanya, akhirnya terjadi bias pembacaan karya.”

“Buku-buku yang belom hancur total masih saya simpan dan rencananya akan dibuat karya instalasi baru.”

“Saya generasi yg dilahirkan dan dibesarkan di generasi serba analog, tapi terjebak juga dengan digitalisasi. Karya yang saya buat tidak mengkritik dunia analog atau digital. Karya tersebut sekedar memaparkan apa yg sedang terjadi sekarang… kita tidak bisa menolak salah satunya. Karena kita juga pemain di dalamnya. Memang betul karya ini sedang memparodikan pola literasi yg bergeser… di satu sisi memang banyak orang yang belum bisa menikmati buku, tetapi dengan digitalisasi justru lebih mudah untuk menjangkau kalangan manapun… tinggal modal internet buku apa pun bisa kita jangkau dan dibaca…
Persoalan polemik kenapa harus menghancurkan buku sampai lima ton, harus kita baca dari sisi yang berbeda. Penghancuran di sini berbeda dengan pembakaran perpustakaan yang dilakukan salah satu pihak, karena tidak sependapat persoalan ke-ilmuan atau pandangan. Penghancuran di sini dilakukan dengan sangat sadar dengan maksud menggelitik alam bawah sadar audiens…
SEMUA ORANG TERIAK LANTANG KETIKA BUKU DIBUAT BUBUR. Tetapi ironisnya pintu perpustakan terbuka lebar, tapi SEPI PENGUNJUNG??? Salahnya dimana??… Ketika anda tidak lagi tertarik membaca buku, kenapa tidak dihancurkan saja supaya tidak menjadi sampah dan berdebu di rak buku perpustakaan??
Tetapi bukan itu inti persoalannya… yang ingin saya sampaikan adalah… ada bahaya yg lebih besar… kalau dulu membaca itu kegiatan “edukatif”… sekarang yg terjadi kegiatan membaca tak lebih dari kegiatan rekreatif… siapapun bisa jadi sumber berita, dan beritanya pun tidak penting-penting amat.. yang penting bisa dibaca sekilas malam hari, besok paginya sdh lupa apa yg di baca…
Gituloh maksudnya.”


Komentar Maduretna Menali:
Hendri, kamu tahulah bagaimana kecintaanku pada buku, melebihi kecintaanku pada kekasihku. Aku juga pecinta seni rupa. Jadi sedih aja, kalau satu dari kedua hal tersebut harus dikorbankan, karena sebuah perasaan yang katanya perasaan cinta.

Komentar Ughy Kidjoe: Sedikit demi sedikit, sejarah dihapus dgn pergeseran budaya yg halus, jika sdh tdk ada yg tertulis blank digital tinggal d reset.
***

Dan saya (Nurel Javissyarqi, pengelola website Sastra-indonesia.com), pendokumentasi komentar-komentar di atas, awalnya ingin membuat catatan soal pameran itu, setelah baca tulisannya Jajang R Kawentar, tetapi sesudah menanyakan kepada Dedy Sufriadi langsung mengenai pamerannya, sepertinya cukup inilah tanggapan dari saya:

Dedy Sufriadi kurang-lebih melalui telepon berkata, ada sekitaran 20-an ribu buku yang dijadikan “bubur” (istilah kurator Jajang R Kawentar, judul tulisannya BUKU PUN JADI BUBUR). Buku-buku yang dijadikan media pameran, kebanyakan lawas alias “tak layak guna,” atau sudah mengalami penyortiran terlebih dulu, memilih mana yang sekiranya layak baca tetap disimpannya sebagaimana pecinta buku (bacaan). Namun Dedy seperti menyesalkan, sebab ada sekitar 20% buku tidak sempat dipilah-pilah olehnya. Terlepas itu semua, biarlah bola lempung ini terus menggelinding, toh Dedy yang kelak merasainya jua. Lalu saya teringat kejadian tahun 1981, yang direkam Agus Dermawan T, di bukunya “Riwayat yang Terlewat,” 111 Cerita Ajaib Dunia Seni, Penerbit Intisari Mediatama, Cetakan I, November 2011, hlm 10 dan 12 (hlm 11, foto Patung karya Sunaryo yang dibakar) berkepala judul “Karya-Karya Seni Yang Dibakar,” sebagaimana berikut dua paragraf di dua halaman tersebut:

“Pada tahun 1981, Semsar Siahaan membuat presentasi seni di kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satu acaranya dijuluki “Oleh-oleh dari Desa” Happening art itu berupa pembakaran seonggok benda yang dibungkus daun pisang sampai jadi arang. Tapi, apa sebenarnya yang dibakar? Ternyata, patung karya Sunaryo yang berjudul “Citra Irian”. Sebuah patung kayu istimewa yang sudah pernah dipamerkan di Jakarta (1977), di Bandung (1977), di Triennale IV New Delhi, India (1978), dan di Pameran Seni Rupa Asia, Fukuoka, Jepang (1978). Kasus “patung obong” ini pun jadi perkara besar. Semsar, kelahiran Medan tahun 1952, lantas diskors perguruannya selama dua tahun.”


“Seperti menebus dosa, beberapa tahun kemudian seniman yang pernah sekolah seni di Beograd, Yugoslavia (sejak 2006 berubah menjadi Serbia) ini melakukan pembakaran atas ratusan karyanya sendiri. Gambar-gambarnya yang dibuat di atas kertas dengan tinta hitam, dibakar di atas tungku dalam sebuah upacara di gedung Gelanggang Olah Raga (GOR), Bandung. Sebelumnya, gambar-gambar yang bagus itu dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada medio Januari 1988 dalam tajuk “Manubilis”, kependekan dari manusia-binatang-iblis. Semsar Siahaan, yang pernah jadi dosen tamu di beberapa negara, meninggal karena serangan jantung di Sanur, Bali, Februari 2005.”
***

Air maupun api, api atau air, memiliki kemarahannya sendiri. Ribuan buku-buku diguyur, ditenggelamkan atau dibakar, ruh daripada ruh buku-buku tetap bersuara, bangkit dari balik kuburnya. Yang kelak menyusup di bawah-bawah sadar penciptaan lain, atau nanti yang 20% lebih, menagih sebuah pertanggungjawaban, sebagai perputaran kepurnaan alur keseimbangan alam. Dan Dedy Sufriadi akan lebih merasai, semua itu di malam-malamnya sebagai hal kesia-siaan ataulah entah… (NJ).
***

Kemudian ini komentar di dinding fb Jajang R Kawentar, yang merujuk pada catatannya:

Saut Situmorang:
“Buku kertas ditinggalkan, dan beralih ke buku digital? Kasih doong (sumber) datanya, jadi awak gak anggap itu cumak ocehan perupa yang sok tau tentang (dunia) buku doang.”

“Hutan hancur kerna penebangan kayu demi kertas? Kasih dong datanya. Kalok kertas untuk kanvas lukisan gimana?”

Teguh Setiawan Pinang:
“Penasaran bagaimana proses konstruksi konsep dari “seni” semacam ini. Apakah seniman menulis konsep itu, sehingga bisa diuji secara kritis? Menurutku, kalau konsepnya sekadar seperti yang diungkapkan itu, eksekusinya terasa dangkal ya. Lebih cenderung asal nyentrik aja sih menurutku. Sekadar cari sensasi.”
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *